Ketum ASPEKPIR: B30 Untungkan Petani, Ada Kepentingan Asing Dibalik Kampanye Negatif

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia menyatakan program biodiesel 30% atau B30 berdampak positif untuk menjaga stabilitas harga TBS petani. Setiyono, Ketua Umum DPP ASPEKPIR Indonesia mengatakan program B30 yang dicanangkan pemerintah sangat bagus bagi penyerapan  konsumsi CPO dalam negeri.

“Dengan B30, bagi  kami petani plasma sangat membantu untuk menjual TBS ke perusahaan inti dengan harga terjamin. Pola plasma PIR sudah diatur, selama ini untuk harga tidak ada persoalan karena kita sudah bermitra dengan perusahaan inti,” ujarnya kepada sawitindonesia.com dalam sambungan telepon, Jumat (25 September 2020).

Ia menyayangkan maraknya kampanye negatif kepada program B30 terutama mengaitkan dampak B30 kepada petani. Sebab, tidak benar apabila dikatakan B30 merugikan petani dan tidak menguntungkan. “ Saya sangat tidak setuju (kampanye negatif B30). Kalau pemerintah punya program yang baik kita harus dukung sekecil apapun kebijakan itu pasti ada untuk rakyat jadi kalau ada LSM yang selalu kampanye negatif itu  harus dipertanyakan sebetulnya dia membela bangsa Indonesia atau  membela kepentingan Eropa alias Asing,” tegasnya.

Menurutnya, petani sangat mengapresiasi  upaya pemerintah dengan program B30 sangat mendongkrak konsumsi CPO dalam negeri. Seperti kita ketahui, produksi CPO saat ini sudah mencapai 40 juta ton, dengan adanya program mandatori B30 sangat bagus karena bisa mendongkrak harga TBS dari petani.

“Saya berpendapat dengan adanya jaminan harga CPO maka petani akan merasakan dampak positifnya. Lain halnya, jika ada penumpukan CPO di tangki-tangki secara otomatis petani akan terkena imbasnya, pabrik tidak membeli TBS dari petani. Disinilah pentingnya B30,” paparnya.

Dikatakan Setiyono, program mandatori B30, B40 hingga B100 haruslah didukung. Tetapi yang perlu ditekankan petani harus bisa memahami posisinya, yang selama ini terjadi banyak yang tidak paham posisinya sehingga menambah runyamnya permasalahan yang dihadapi perkelapasawitan.

Berdasarkan data Kementerian ESDM RI, Hingga pertengahan tahun 2020 tercatat penyerapan biodiesel telah mencapai 4,36 juta kilo Liter (kL) atau sudah mencapai sekitar 68% dibanding angka penyerapan sepanjang tahun 2019.

“Pandemi ditengarai sedikit memperlambat penyerapan biodiesel akibat penurunan serapan sektor transportasi, namun Pemerintah optimis di akhir tahun penyerapan FAME lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebagai dampak implementasi B-30,” ujar Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta,

 

Sumber: Sawitindonesia.com