,

Lika-liku 109 Tahun Sawit Indonesia

Pekanbaru, Gatra.com – Catatan Kementerian Pertanian itu masih tergolong baru, masih di tahun ini. Bahwa ternyata, luas kebun kelapa sawit di Indonesia sudah mencapai 16,38 juta hektar.

Oleh luasan itu, tiga tahun lalu, Elaeis Guinensiss ini menorehkan rekor tertingginya menyumbang devisa ke Negara, $US22,9 miliar atau setara dengan R320 triliun!

Di kawasan Serpong Provinsi Banten Kamis pekan lalu, dalam Forum Group Discussion (FGD) “Outlook Industri Kelapa Sawit Indonesia” bikinan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Fadhil Hasan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengurai kalau prognosa produksi Crude Palm Oil (CPO) Nasional tahun ini mencapai angka 45 juta metrik ton.

Masih pada prognosa di tahun yang sama, ekpor biodiesel, CPO, Refined, Laurik dan lain-lain, kalau ditotal sudah mencapai 31,7 juta metrik ton.

Angka ini masih akan merangkak naik lantaran pada prognosa tahun depan yang dibikin Fadhil, produksi CPO plus Palm Kernel Oil (PKO) akan berada di angka 52,3 juta metrik ton. Ekspor 36,4 juta metrik ton.

Meski bergumul dengan sederet tantangan internal dan eksternal, mulai dari ketidakpastian berusaha akibat ego sektoral dan tantangan operasional dalam budidaya, industri sawit kata Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun, terus meningkat. Sederet terobosan dan inovasi seperti refine and unmodified oli, energi, hingga oleochemical terus berkembang.

Peraturan Menteri Keuangan nomor 11/2011 kata Derom telah mendorong hilirisasi. Ini terlihat dari kapasitas refinary yang di tahun 2011 masih 46 juta ton membengkak menjadi 65 juta ton 8 tahun kemudian.

Di bidang energi runut Derom, salah satu terobosan yang saat ini menjadi perhatian adalah Katalis Merah Putih. “Katalis merah-putih ini merubah sawit menjadi biohidrokarbon, menjadi asupan Kilang Biohidrokarbon untuk menghasilkan Diesel Bio H dan juga Bensin Bio H,” kata lelaki 80 tahun ini kepada Gatra.com, Selasa (17/11).

Lantas, produk minyak sawit spesifikasi baru bernama Industrial Vegetable Oil (IVO) sudah nongol pula. Adalah teman sekampus Derom, Sahat Sinaga dan kawan-kawan yang menggeber itu.

Biodiesel yang mulai dikembangkan pada tahun 2006 dengan bauran B-5 juga mengalami peningkatan signifikan. “Dengan meningkatnya kualitas Fatty Acid Methyl Esters (FAME), kita sudah bisa masuk ke bauran B-30,” kata alumnus Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Saat ini, kapasitas Biodiesel Indonesia kata Derom sudah mencapai 11,5 kilo liter per tahun. Kapasitas ini masih akan bertambah sekitar 600 kilo liter per tahun lantaran investasi di industri FAME, masih terus tumbuh.

Industri oleochemical. Delapan tahun terakhir, industri ini sangat pesat, baik kapasitas maupun jumlah produsen. “Tahun 2011, baru 5 perusahaan yang bergerak di industri ini dengan kapasitas total 2,3 juta ton. Sekarang, jumlah perusahaan sudah 21 dengan produksi sekitar 11,3 juta ton,” Derom merinci.

Pesatnya industri itu kata Derom tak lepas dari insentif investasi yang diberikan oleh pemerintah sejak 8 tahun silam. Maka tak heran, sekitar 85 produk sudah dihasilkan oleh industri ini.

Dari urain di atas, siapapun akan bilang kalau kelapa sawit memang moncer. Meski Indonesia sedang dihadang pandemi, industri kelapa sawit nyaris tak terganggu.”Delapan tahun terakhir sawit sudah berada pada posisi kontributor terbesar,” Derom memastikan.

Industri sawit, baik perkebunan dan industri hilirnya telah menyerap tenaga kerja yang sangat besar. Industri sawit ini telah berdampak kepada sekitar 25-30 juta jiwa orang Indonesia. “Tak ada yang bisa memungkiri kedigdayaan itu,” ujar Derom.

Secara keseluruhan kata Derom, industri sawit masih menjadi andalan untuk penopang perekonomian Indonesia. Industri ini juga mampu menjadi daya tarik bagi investor baik dalam maupun luar negeri.

Pada masa depan kata Derom, tantangan yang dihadapi oleh industri sawit makin berat dan bervariasi. Enggak hanya urusan lingkungan, tapi juga mutu sawit untuk makanan. “Kontaminasi 3-MCPD yang ditetapkan oleh Uni Eropa sebesar 2,5 ppm harus kita selesaikan dengan riset yang mendalam dan juga teknologi yang canggih,” pinta Derom.

Itu tantangan ke depan. Namun yang sedang terjadi juga masih banyak. Sebab sampai sekarang, tanaman asal Mauritius Afrika ini, masih terus direcoki oleh negara Eropa maupun Amerika.

Sawit tidak sehat, merusak hutan, melanggar Hak Azazi Manusia (HAM), masih menjadi isu seksi, tentu bagi pembenci sawit di dua benua tadi.

Di dalam negeri, klaim kawasan hutan masih persoalan pokok petani kelapa sawit swadaya. Sementara 41% (6,72 juta hektar) dari 16,38 juta hektar total luas kebun kelapa sawit di Indonesia, tadi, adalah milik petani.

“Saya senang, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) sangat gigih menyelesaikan kebun petani yang bermasalah dengan klaim kawasan hutan itu dan kami berterima kasih, Ibu Siti Nurbaya Bakar (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan) yang menyambut baik Ketum dan Sekjen Apkasindo saat menyampaikan permasalahan petani. Komitmen dan pemahaman Ibu Menteri sangat kami hargai,” katanya.

Besok, deretan persoalan dan tantangan terkait sawit itu, bakal menjadi warna pada peringatan Hari Sawit Nasional (HSN) ke-109 yang akan digelar secara virtual yang dipusatkan di Jakarta.

Tiga tahun lalu acara serupa digelar di kantor dan halaman Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), di kawasan jalan Brigjen Katamso 51, Medan, Sumatera Utara (Sumut).

“Tiga tahun lalu itu kali pertama pengurus DMSI bersama sejumlah pemangku kepentingan industri sawit menggelar peringatan Hari Sawit Nasional,” ujar Derom.

Soal HSN ke-109 tadi, Derom menyebut kalau usia itu berdasarkan komersialisasi kelapa sawit pertama di Nusantara yang jatuh pada tanggal 18 November 1911.

Waktu itu, Adrien Hallet, pendiri Societe Financiere des Caouchoucs atau SOCFIN, menyulap lahan seluas 2600 hektar menjadi kebunan sawit di Sei Liput, Pulau Raja dan Deli Muda. Dia dibantu karibnya, M. Bunge.

Sambil mengurusi kebunnya, Adrien juga membantu temannya, Henry Fauconnier, yang membikin kebun kelapa sawit di Tennamaram dekat Rantau Panjang, Malaysia.

“Begitulah ceritanya. Walau tantangan berat soal sawit ini ada di depan mata, saya yakin dengan penelitian yang didukung oleh BPDP-KS dan kemampuan perusahaan-perusahaan menerapkan teknologi canggih, semua itu bisa kita atasi demi menjaga industri sawit masa depan tetap jaya,” ujarnya.

 

Sumber: Gatra.com