Minyak sawit berkontribusi 50 persen pendapatan PTPN VIII

Minyak sawit berkontribusi 50 persen pendapatan PTPN VIII

 

Produksi kelapa sawit yang diolah menjadi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berkontribusi 50 persen terhadap pendapatan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII dari berbagai komoditas perkebunan yang dikelola.
Kepala Bagian Operasional PTPN VIII Budi HT mengatakan di Sukabumi, Jawa Barat, Senin, sawit merupakan komoditas yang menjadi tulang punggung perseroan di kala pendapatan dari komoditas perkebunan lainnya tidak begitu signifikan.

“Sawit itu di PTPN VIII merupakan backbone, sampai saat ini sudah ada 21 ribu hektar,” kata Budi.

General Manager Wilayah Satu PTPN VIII M Irwan Maulana mengungkapkan kebun sawit PTPN VIII saat ini mampu memproduksi 800 – 900 ton TBS per harinya. Sedangkan untuk ekstraksi CPO dari TBS sudah mencapai 22 persen.

PTPN VIII memiliki tujuh wilayah perkebunankelapa sawityang berada di Banten dan Jawa Barat. Di wilayah satu terdapat Kebun Kertajaya, Bodongdatar, Cisalak Baru, Cikasungka, dan Sukamaju yang kesemuanya berada di wilayah Provinsi Banten dan Sukabumi Jawa Barat. Sementara kebun sawit di wilayah dua berada di Jawa Barat yakni Kebun Tambaksari dan Panglejar.

PTPN VIII juga memiliki dua pabrikkelapa sawituntuk mengolah dari tandan buah segar (TBS) menjadi CPO. Pabrik tersebut berada di Kertajaya dan Cikasungka.

Selain kelapa sawit, PTPN VIII juga mengelola perkebunan karet dan teh. Sebagian lahan perkebunankelapa sawitdi Sukabumi juga merupakan konversi dari perkebunan teh dan karet.

Irwan memaparkan produktivitas kebun sawit di Pulau Jawa berbeda dengan hasil panen sawit di Sumatera dari sisi kuantitas dikarenakan kondisi curah hujan dan kontur tanah. Dia mengungkapkan kebunkelapa sawitdi Pulau Jawa hanya bisa menghasilkan 60-70 persen dari produktivitas optimum.

Untuk menghasilkan buah secara maksimal, pohonkelapa sawitmembutuhkan curah hujan setiap harinya sekitar 6 mililiter. Sedangkan Pulau Jawa yang letak geografisnya tidak berada di dekat garis khatulistiwa menyebabkan adanya musim kemarau sehingga curah hujan yang kurang untuk pohon kelapa sawit.

“Curah hujan yang merata sepanjang tahun inilah di Jawa kita tidak bisa dapatkan. Karena kita berada di bawah lintang selatan bukan khatulistiwa,” kata dia.

 

Sumber: Antaranews.com