,

NASIB CPO KALA BADAI COVID-19 MELANDA INDIA

 

Gelombang penyebaran virus Covid-19 di India yang kian meluas serta temuan varian baru dikhawatirkan bakal menganggu ekonomi terutama perdagangan Negeri Bollywood.

India menjadi salah satu negara utama tujuan ekspor produk minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan turunannya. Bersama dengan Malaysia, Indonesia menjadi pemasok utama komoditas itu ke Negeri Bollywood.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan ekspor komoditas kelapa sawit pada 2020 mencapai 4,69 juta ton dengan nilai US$3,05 miliar. India menjadi pasar terbesar setelah China yang pada 2020 mengimpor 5,64 juta ton minyak sawit dari Indonesia.

Kinerja perdagangan India pada Maret 2021 sejatinya menunjukkan kinerja yang baik dengan rekor impor bulanan yang mencapai US$48,4 miliar dan ekspor sebesar US$34,4 miliar.

Sepanjang kuartal 1/2021, impor negara tersebut naik 18,4% dibandingkan dengan tahun lalu. Di sisi lain, data BPS menunjukkan India menjadi salah satu negara penyumbang kenaikan impor dan ekspor terbesar bagi Indonesia.

Pada Maret 2021, ekspor Indonesia ke India naik US$519,5 juta dan menjadi indikasi permintaan yang naik di negara tersebut. Sementara impor dari India naik US$357,3 juta.

Adapun, dengan adanya tsunami Covid-19 di India, pelaku usaha industri minyak sawit melaporkan bahwa aktivitas ekspor komoditas tersebut ke India belum terkendala. Meski demikian, pelaku usaha bakal terus mengawasi perkembangan penanganan pandemi di salah satu destinasi ekspor minyak sawit itu.

“Kami belum mendapat laporan adanya hambatan ekspor ke India,” kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono, Selasa (27/4).

Data Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) juga menunjukkan ekspor ke India masih tumbuh meskipun pandemi melanda pada tahun lalu.Gapkimenyebutkan nilai pasar ekspor ke India masih tumbuh 2% meski volume ekspor tidak mengalami kenaikan.

Adapun,Gapki memproyeksikan, produksi CPO Indonesia sepanjang tahun 2021 mengalami kenaikan 3,5% (yoy) menjadi 49 juta ton dari realisasi tahun lalu yang hanya sebanyak 47,4 juta ton. Untuk konsumsi domestik berupa produk oleopangan, permintaan minyak sawit diperkirakan akan tumbuh 2% [year-on-year/y-o-y) menjadi 8,4 juta ton.

Sementara itu, untuk produk oleokimia, Gapki memperkirakan akan terjadi kenaikan 14% (y-o-y) dari 1,57 juta ton menjadi 1,8 juta ton tahun ini.

Di sisi lain, harga CPO naik tinggi menyusul data ekspor bulan April yang bagus di tengah lonjakan kasus infeksi Covid-19 di India.

Harga kontrak CPO pengiriman Juli yang aktif diperjualbelikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange menguat 142 poin perdagangan hari ini, Selasa (27/4). Harga pada 17.42 WIB berada di 4.032/ton ringgit Malaysia.

Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan meskipun aktivitas perdagangan India terganggu karena
gelombang kedua Covid-19, hal tersebut belum mengkhawatirkan untuk kinerja ekspor CPO Indonesia. Sebab, pasar Indonesia juga mengandalkan China sebagai pasar utama ekspor komoditas itu.

Dia mengatakan membaiknya ekonomi pascavaksinasi juga akan mendorong permintaan di dalam negeri.

Penguatan permintaan ekspor dan pertumbuhan konsumsi domestik menjadi faktor utama penunjang kenaikan harga CPO.

“Ketika demand naik biasanya diikuti suplai. Sementara itu, kenaikan suplai bisa menahan harga dan rawan koreksi di level atas. Fundamental CPO juga bagus,” katanya.

BERLANJUT

Menurut Wahyu, sentimen penguatan harga CPO masih akan terus berlanjut. Apalagi pada Januari 2021, PT Pertamina telah menguji produksi green diesel yang menggunakan refined, bleached, and deodorized palm oil (RBDPO).

Di sisi lain, PT Pertamina akan melakukan pengembangan green diesel dan green avtur dalam dua tahap. Pertama, akan mengolah 3.000 barel RBDPO per hari untuk menghasilkan green diesel mulai Desember mendatang. Kedua, PT Pertamina akan mengolah 6.000 barel CPO per hari menjadi green avtur mulai Desember 2022.

Wahyu memprediksi, level harga 4.000 ringgit per ton masih akan terus diuji dalam jangka pendek. Pada kuartal 1/2021, harga CPO diproyeksikan pada kisaran 3.500 hingga 4.100 ringgit per ton.

“Area atau level gravitasio-nalnya tetap di level 3.600/ton ringgit Malaysia sebagai daya tarik jika overbought,” katanya.

Adapun, salah satu katalis positif bagi harga minyak kelapa sawit adalah kenaikan ekspor dari Malaysia. Data dari Intertek Testing Services menyebutkan, negara produsen CPO terbesar kedua di dunia tersebut mencatatkan kenaikan ekspor sekitar 11% selama lima hari pertama bulan April 2021 sebesar 184.070 ton.

Di satu sisi, jumlah cadangan minyak kelapa sawit mentah Indonesia diprediksi akan mencapai jumlah terendahnya sejak Maret 2019 seiring dengan tingginya konsumsi pada bulan Ramadan 2021.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyebutkan, jumlah stok CPO Indonesia dapat berada di posisi 3,1 juta ton pada akhir April 2021. Adapun, Sahat menuturkan jumlah cadangan CPO pada Maret lalu adalah sebesar 3,2 juta ton.

Jumlah tersebut berada dibawah estimasi sebanyak 7 analis pada survei Bloomberg yang menyatakan rerata stok CPO negara produsen terbesar di dunia itu sebanyak 3,72 juta ton.

“Jumlah pengiriman akan naik 18% ke 3,08 juta ton pada April 2021 dbandingkan dengan bulan sebelumnya,” kata Sahat.

Sahat melanjutkan, pada April 2021, permintaan CPO domestik diprediksi akan naik 2,5% menjadi 1,63 juta ton.

Sementara itu, produksi CPO Indonesia pada bulan ini diprediksi tumbuh 14% menjadi 4 juta ton berbanding 3,5 juta ton pada Maret lalu.

Jumlah tersebut akan menjadi output terbesar sejak Desember 2020 lalu dan menyamai total produksi April 2020.

 

 

Sumber: Bisnis Indonesia