Dukung Minyak Sawit Berkelanjutan, Masyarakat Swiss 51,6% Pilih Lanjut Perdagangan Bebas

InfoSAWIT, SWISS – Para pemilih pada Minggu, (7/32021) di Swiss telah memberikan lampu hijau untuk kesepakatan perdagangan bebas dengan Indonesia dengan mayoritas pemilih sebesar 51,6%. Dikatakan Presiden Swiss Guy Parmelin, yang juga memegang portofolio ekonomi mengatakan, masyarakat Swiss merasa kesepakatan perdagangan itu benar dan seimbang. Dia menambahkan bahwa kekhawatiran pihak yan kontra akan tetap diperhitungkan dan pemerintah Swiss akan mendukung Indonesia dalam memproduksi minyak sawit berkelanjutan. “Pemungutan suara ini bukanlah pilihan ekonomi atas hak asasi manusia dan lingkungan,” katanya, seperti dikutip Swissinfo.ch.

Parmelin juga mengisyaratkan, bahwa kesepakatan perdagangan di masa depan juga dapat memasukkan klausul keberlanjutan, tetapi menekankan bahwa setiap kesepakatan itu unik dengan tantangannya sendiri-sendiri.

Sementara dikatakan pihak Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), kesepakatan perdagangan ini merupakan solusi yang saling menguntungkan untuk industri minyak sawit, untuk Indonesia, Swiss, dan untuk semua negara EFTA, dan akan membawa manfaat positif bagi konsumen dan eksportir Swiss, serta petani kecil Indonesia. “Suara Swiss menegaskan bahwa minyak sawit Indonesia berkelanjutan,” kata pihak perwakilan GAPKI.

Dengan perolehan suara yang menyetujui mendukung minyak sawit berkelanjutan Ini telah memberikan kejutan bagi sebagian pihak di Swiss.  Direktur federasi Bisnis Swiss, Economiesuisse, Monika Rühl berharap kemenangan ini menjadi dasar yang lebih tegas untuk kesepakatan perdagangan bebas. “Kami mengharapkan yang jelas,” katanya. Lebih lanjut kata Monika, untuk keprihatinan sebagian penduduk lainnya harus ditanggapi dengan sangat serius, dengan mengacu pada perlindungan hak asasi manusia dan lingkungan.

Anggota parlemen lainnya, Fabio Regazzi dari the Center, yang juga merupakan bagian dari komite kesepakatan perdagangan bebas, sepakat bahwa hutan dan hak-hak buruh itu penting. Namun, menurutnya Swiss harus mengingat bahwa pada akhirnya itu adalah kesepakatan ekonomi antara kedua negara. Tidak mungkin “memaksakan semua yang Anda inginkan”, katanya. Menurut Regazzi, menyayangkan kampanye yang difokuskan pada isu kelapa sawit yang hanya mewakili sebagian kecil dari kesepakatan. Padahal, banyaknya keuntungan yang didapat dari kesepakatan itu bagi usaha kecil dan menengah yang tidak ada dalam perdebatan.

Presiden The Young Socialists, Ronja Jansen mengungkapkan kekecewaannya atas hasil tersebut. Pihaknya melihat jelas sejak awal bahwa itu akan menjadi seperti pertarungan David versus Goliath”.

LSM Swiss, terutama yang tidak memihak dalam pemungutan suara, mengatakan bahwa hasil tersebut menunjukkan bahwa diperlukan perubahan sifat perjanjian ekonomi. Alliance Sud, Society for Threatened Peoples dan Public Eye menyambut baik minat yang ditunjukkan dalam debat tentang kebijakan perdagangan Swiss.

 

Awal Mula Berasal

Upaya referendum bisa dibilang telah disuarakan satu dekade lalu tepatnya tahun 2010 lalu oleh kelompok lobi lingkungan Greenpeace dalam melawan raksasa makanan Swiss Nestlé. Greenpeace menuduh Nestlé mendukung deforestasi di negara tropis dengan menggunakan minyak sawit yang tidak berkelanjutan dalam produknya. Untuk menyampaikan pesan tersebut sampai ke pengguna, Greenpeace membuat video YouTube berdarah tautan Eksternal dalam gaya iklan Kit Kat yang menyamakan makan cokelat batangan dengan membunuh orangutan.

Upaya Nestlé untuk menghapus video dari YouTube dan mengawasi halaman Facebook-nya hanya memperburuk keadaan. Perusahaan multinasional tersebut akhirnya terpaksa mengakui kekalahan dan berjanji untuk menghilangkan deforestasi dalam rantai pasokannya pada tahun 2020.

Sekadar informasi, minyak sawit merupakan subtitusi produk dan menjadi bagian konsumsi di Swiss melalui produk margarin, makanan yang dipanggang, cokelat, sabun, dan lipstik – kini  terus menjadi sorotan. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

15 Lembaga Sertifikasi Minyak Sawit Berkelanjutan ISPO Terima Akreditasi KAN

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Sebelumnya Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden No.44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. Cara demikian sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan keberterimaan dan daya saing pasar minyak kelapa sawit secara nasional maupun internasional.

“Dengan terbitnya Perpres No.44 Tahun 2020, maka penerbitan sertifikat ISPO akan dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi ISPO yang diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN),” ujar Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) selaku Ketua KAN, Kukuh S. Achmad saat penyerahan sertifikat akreditasi Lembaga Sertifikasi ISPO (LS ISPO) kepada 15 ISPO yang dilaksanakan secara virtual, belum lama ini.

Penyerahan sertifikatakreditasi ISPO ini sesuai dengan terbitnya Kebijakan KAN No. 001/KAN/01/2021 tanggal 11 Januari 2021 tentang Peralihan Akreditasi Lembaga Sertifikasi minyak sawit berkelanjutan ISPO.

Sesuai Undang-Undang No. 20 Tahun 2014, akreditasi merupakan rangkaian kegiatan pengakuan formal oleh Komite Akreditasi Nasional. “Dengan memperoleh akreditasi, berarti suatu lembaga memiliki kompetensi serta berhak melaksanakan penilaian kesesuaian,” tutur Kukuh, dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT.

Sekadar informasi, sampai saat ini KAN telah mengoperasikan lebih dari 30 skema akreditasi. KAN adalah penandatangan MLA APAC/IAF (Asia Pacific Accreditation Cooperation/International Accreditation Forum) untuk akreditasi lembaga sertifikasi sistem manajemen mutu, sistem manajemen lingkungan, sistem manajemen keamanan pangan, dan sertifikasi produk, proses dan jasa, serta sertifikasi person. KAN juga penandatangan MRA APAC/ILAC MRA (Asia Pacific Accreditation Cooperation/International Laboratory Accreditation Cooperation) untuk akreditasi laboratorium uji, kalibrasi, medik, dan lembaga inspeksi.

Adapun LS ISPO adalah Lembaga Penilaian Kesesuaian independen yang melakukan kegiatan audit ISPO bagi pelaku usaha perkebunan kelapa sawit, baik kepada pekebun kelapa sawit dan/atau perusahaan kelapa sawit. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 38 Tahun 2020, ruang lingkup akreditasi bagi LS ISPO meliputi usaha budi daya tanaman Perkebunan Kelapa Sawit; usaha pengolahan Hasil Perkebunan Kelapa Sawit; dan integrasi usaha budi daya tanaman Perkebunan Kelapa Sawit dan usaha pengolahan Hasil Perkebunan Kelapa Sawit.

LS ISPO memiliki tugas untuk melaksanakan penilaian kesesuaian terhadap pemenuhan prinsip dan kriteria ISPO kepada Pelaku Usaha; menerbitkan, membekukan sementara atau membatalkan sertifikat ISPO bagi Usaha Perkebunan Kelapa Sawit berdasarkan hasil kegiatan Sertifikasi ISPO; melaksanakan penilikan setiap tahun kepada Usaha Perkebunan Kelapa Sawit yang telah memiliki sertifikat ISPO; dan menindaklanjuti keluhan dan banding terkait pelaksanaan Sertifikasi ISPO. Dapat dikatakan, LS ISPO merupakan salah satu unsur penting dalam memastikan dan meningkatkan pengelolaan serta pengembangan Perkebunan Kelapa Sawit yang layak ekonomi, layak sosial budaya, dan ramah lingkungan sesuai prinsip dan kriteria ISPO.

Penyerahan sertifikat akreditasi LS ISPO diharapkan dapat menjadi salah satu momentum bersejarah lahirnya new ISPO. “LS ISPO yang telah mendapatkan akreditasi dari KAN harus bertanggung jawab, berintegiritas, kompeten dan konsisten dalam melaksanakan kegiatan sertifikasinya. Semoga tujuan new ISPO dapat tercapai, sebagai penguatan ISPO yang dipandang sangat penting demi keberlanjutan kelapa sawit Indonesia, daya saing dan pada akhirnya bagi kemaslahatan bangsa Indonesia,” tandas Kukuh. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Rektor IPB: rumput laut dan limbah sawit bisa jadi pakan ternak

 

Rektor IPB: rumput laut dan limbah sawit bisa jadi pakan ternak

Jakarta (ANTARA) – Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria mendorong para peneliti dan perguruan tinggi untuk menghasilkan inovasi pakan ternak yang berasal dari rumput laut maupun limbah sawit dalam rangka mencapai kedaulatan pakan ternak di Indonesia.

Arif Satria dalam webinar tentang pakan yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis, mengatakan ketersediaan pakan saat ini masih menjadi persoalan di industri peternakan karena sebagian besar bahan bakunya masih impor sementara kebutuhannya sangat krusial.

Dia mengatakan komponen pakan ternak merupakan salah satu komponen paling besar dalam industri peternakan dan budidaya. Arif mencontohkan pada budidaya perikanan komponen pakan mengambil porsi 60 persen dari biaya produksi.

“Pakan ternak ini sesuatu yang sangat penting, memiliki andil yang sangat besar. Kalau di budidaya perikanan 60 persen komponennya adalah pakan, begitu juga di peternakan komponen itu juga sangat besar sekali. Oleh karena itu kita cari alternatif pakan dengan kualitas tinggi dan juga harga yang terjangkau,” kata dia.

 

Arif mengungkapkan hasil penelitian terbaru dari Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa komoditas rumput laut bisa dijadikan sebagai sumber pakan ternak alternatif. Menurutnya, potensi rumput laut menjadi pakan ternak ini harus diteliti lebih dalam lagi oleh para peneliti dan perguruan tinggi di Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan pakan.

Dia mengatakan Indonesia berpotensi memiliki sumber alternatif pakan ternak yang murah lantaran Indonesia merupakan salah satu negara produsen rumput laut terbesar di dunia. Saat ini produksi rumput laut dari Indonesia sebagian diimpor untuk kebutuhan pangan dan juga kosmetik, namun belum dikembangkan untuk kebutuhan pakan ternak.

“Rumput laut salah satu opsi yang bisa dipertimbangkan untuk menjadi pakan. Butuh riset lebih mendalam, dan itulah pentingnya peran perguruan tinggi untuk didorong membuat riset yang menghasilkan material baru untuk support kedaulatan pakan,” kata Arif.

 

Selain rumput laut, Arif juga menyebut bahwa limbah kelapa sawit juga bisa diolah menjadi bahan baku pakan ternak dan gula. Dia menilai alternatif sumber pakan dari limbah sawit ini juga sangat berpotensi mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

Menurut Arif, Indonesia bisa menerapkan prinsip “zero waste” dalam produksi dan pengolahan produk kelapa sawit di mana selain sebagai bahan baku minyak goreng juga bisa menjadi bahan baku pakan ternak.

“Ini lah prinsip zero waste yang bisa kita maksimalkan, sehingga kita bisa mewujudkan swasembada daging, mewujudkan kedaulatan pakan, sehingga kita tidak lagi tergantung dari kompoenen impor yang saat ini jumlahnya sangat besar,” kata Arif.

 

 

Sumber: Antaranews.com

Harga Sawit Melambung Tinggi, Diperkirakan Masih Akan Naik, Petani di Bangka Berlomba Lakukan Ini

 

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Harga kelapa sawit hari ini, Kamis (04/03/2021) melambung tinggi mencapai Rp 2.110 per kg TBS (Tandan Buah Segar). Sebelumnya harga kelapa sawit di kisaran Rp 1.600-1.650 per kg TBS.

Harga kelapa sawit Rp 2.110 per kg ini berlaku untuk harga pembelian seperti di pabrik CPO PT Gemilang Cahaya Mentari (GCM) di Desa Tiang Tara Kecamatan Bakam Kabupaten Bangka.

Pabrik PT GCM ini tidak memiliki kebun sawit hanya melakukan kemitraan dengan para petani mandiri.

Hal ini diungkapkan Jamaludin, Ketua DPD Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Kabupaten Bangka, Kamis (04/03/2021) di Sungailiat.

“Harga kelapa sawit mencapai Rp2.110 per kg TBS ini merupakan yang tertinggi dalam sejarah harga kelapa sawit petani mandiri atau nonplasma yang dibeli pabrik CPO di Kabupaten Bangka,” ujar Tipek panggilan akrab Jamaludin yang sudah menjadi petani kelapa sawit 17 tahun terakhir.

“Harga kelapa sawit ini diperkirakan akan terus melambung hingga harga Rp2.300 sampai Rp 2.500 per kg,” katanya lagi.

Tipek mengaku kenaikan harga hari ini Rp 2.110 per kg ini merupakan tertinggi dalam sejarah harga kelapa sawit di Kabupaten Bangka, mudah-mudahan ke depan harga ini bisa terus naik mencapai Rp 2.300 sampai Rp 2.500 per kg.

“Untuk berat satu TBS kelapa sawit itu mencapai 30-70 kg per TBS tergantung jenis kelapa sawit dan perawatan serta pemupukannya serta lokasi daerah penanamannya,” tukas Tipek.

Menurutnya dengan kenaikan harga kelapa sawit ini membuat para petani bergembira dan bergairah, karena mendapatkan pendapatan yang lumayan besar.

“Para petani saat ini saya lihat berlomba-lomba melakukan pemesanan bibit kelapa sawit di perusahaan atau petani penangkar bibit sawit berkualitas, ada yang memesan hingga 30.000 batang namun yang tersedia hanya 15.000 batang, bahkan ada yang tidak kebagian bibit lagi, karena kehabisan stok bibit,” imbuh Tipek.

Ditambahkannya melihat tren kenaikan harga kelapa sawit ini para petani semakin terpacu berlomba-lomba untuk terus menanam dan memperluas kebun kelapa sawitnya.

“Harga bibit sawit siap tanam saat ini di kisaran Rp 55.000 per batang atau polibag,” ujar Tipek.

Diakuinya dengan kenaikan harga kelapa sawit ini sejumlah petani yang memiliki lahan kebun luas bisa mempekerjakan beberapa orang lain untuk membantu pekerjaan di kebunnya dengan sistem upah harian.

“Jadi dengan adanya kenaikan harga kelapa sawit ini telah membuat petani sawit semakin sejahtera bahkan bisa membantu mempekerjakan orang lain di kebunnya dengan sistem upah harian, semoga harga kenaikan kelapa sawit ini bisa terus bertahan,” harap Tipek.

Tipek mengungkapkan saat ini sudah ada 6 pabrik CPO berdiri di Kabupaten Bangka, bahkan ada tiga pabrik CPO lagi saat ini baru didirikan dan belum beroperasi.

“Dengan semakin banyak pabrik CPO di Kabupaten Bangka, Apkasindo Kabupaten Bangka mendorong pengusaha dan pemerintah daerah agar mulai memikirkan untuk mendirikan pabrik Refenery CPO menjadi minyak kelapa sawit setengah jadi di Kabupaten Bangka ke depannya,” harap Tipek.

Tipek mengungkapkan dengan adanya pabrik Refenery CPO maka akan semakin menaikkan harga kelapa sawit petani di Kabupaten Bangka.

“Mudah-mudahan ada pengusaha yang mau investasi untuk mendirikan pabrik Refenery CPO di Kabupaten Bangka,” harap Tipek.

 

 

Sumber: Bangka.tribunnews.com

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri TergetkanTambah Anggota Seluas 2.000 ha di 6 Desa

InfoSAWIT, PANGKALAN LADA – Setelah suskes membawa Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM), memperoleh sertifikat minyak sawit berkelanjutan dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), serta memperoles insentif dari penjualan minyak sawit berkelanjutan, petani anggot APKSM sepakat untuk memperluas keanggotaannya.

Pada Rabu (3/3/2021), Ketua APKSM, YB Zainanto Hari Widodo, melakukan pertemuan dengan para Kepala Dusun dan anggota BPD Desa Sumber Agung, Kecamatan Pangkalan Lada Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah (Kalteng).

Pertemuan tersebut membahas penambahan anggota baru para petani kelapa sawit untuk bergabung menjadi anggota APKSM dan mengikuti sertifikasi minyak sawit berkelanjutan versi RSPO.

Dikatakan YB Zainanto Hari Widodo, dengan menjadi anggota APKSM, petani sawit swadaya di sekitar wilayah Kota Waringin Barat, akan memperoleh banyak manfaat, misalnya saja akan memperoleh manafaat tambahan dari adanya insentif minyak sawit berkelanjutan (certified sustainable palm oil/CSPO). Terlebih kata Zainanto, APKSM juga akan mengalokasikan sekitar 2,5% dari penjualan sertifikat secara kredit untuk Pendapatan Asli Desa (PAD).

“Sehingga dengan semakin banyak warga desa yang bergabung menjadi anggota APKSM, PAD akan bertambah dari manfaat sertifikasi ersebut, sehingga cara demikan akan mampu menyumbang pembangunan masyarakat desa setempat,” katanya kepada InfoSAWIT.

Sekadar informasi, untuk periode tahun 2021 ini APKSM berencana menargetkan tambahan anggota baru untuk lahan seluas 2.000 hektar, dengan target anggota petani sawit swadaya yang berlokasi di 6 desa di wilayah pengembangan APKSM di sekitar Kecamatan Pangkalan Lada.

“Kami mendirikan APKSM pada tahun 2019, dan pada tahun 2020 anggota APKSM di 6 desa sudah berjumlah 336 petani dengan luasan lahan tersertifikasi keberlanjutan RSPO seluas 868 hektar,” tandas Zainanto. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

KAN Tetapkan Akreditasi Kepada 15 Lembaga Sertifikasi ISPO

 

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Komisi Akreditasi Nasional (KAN) memberikan akreditasi kepada 15 Lembaga Sertifikasi untuk bisa menerbitkan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Kebijakan ini menindaklanjuti Peraturan Presiden No.44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.

“Dengan terbitnya Perpres No.44 Tahun 2020, maka penerbitan sertifikat ISPO akan dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi ISPO yang diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN),” ujar Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) selaku Ketua KAN, Kukuh S. Achmad saat penyerahan sertifikat akreditasi Lembaga Sertifikasi ISPO (LS ISPO) kepada 15 ISPO yang dilaksanakan secara virtual pada Rabu (3/3/2021) dalam keterangan tertulis.

Penyerahan sertifikat akreditasi tersebut merupakan upaya tindak lanjut atas Perpres No. 44 Tahun 2020. “Dengan sinergi yang kuat antara KAN, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan Kementerian Pertanian, disepakati terbitnya Kebijakan KAN No. 001/KAN/01/2021 tanggal 11 Januari 2021 tentang Peralihan Akreditasi Lembaga Sertifikasi ISPO,” jelas Kukuh.

Sesuai Undang-Undang No. 20 Tahun 2014, akreditasi merupakan rangkaian kegiatan pengakuan formal oleh Komite Akreditasi Nasional. “Dengan memperoleh akreditasi, berarti suatu lembaga memiliki kompetensi serta berhak melaksanakan penilaian kesesuaian,” tutur Kukuh.

Sebagai informasi, LS ISPO adalah Lembaga Penilaian Kesesuaian independen yang melakukan kegiatan audit ISPO bagi pelaku usaha perkebunan kelapa sawit, baik kepada pekebun kelapa sawit dan/atau perusahaan kelapa sawit. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 38 Tahun 2020, ruang lingkup akreditasi bagi LS ISPO meliputi usaha budi daya tanaman Perkebunan Kelapa Sawit; usaha pengolahan Hasil Perkebunan Kelapa Sawit; dan integrasi usaha budi daya tanaman Perkebunan Kelapa Sawit dan usaha pengolahan Hasil Perkebunan Kelapa Sawit.

LS ISPO memiliki tugas untuk melaksanakan penilaian kesesuaian terhadap pemenuhan prinsip dan kriteria ISPO kepada Pelaku Usaha; menerbitkan, membekukan sementara atau membatalkan sertifikat ISPO bagi Usaha Perkebunan Kelapa Sawit berdasarkan hasil kegiatan Sertifikasi ISPO; melaksanakan penilikan setiap tahun kepada Usaha Perkebunan Kelapa Sawit yang telah memiliki sertifikat ISPO; dan menindaklanjuti keluhan dan banding terkait pelaksanaan Sertifikasi ISPO.

Kukuh mengharapkan LS ISPO yang telah mendapatkan akreditasi dari KAN harus bertanggung jawab, berintegiritas, kompeten dan konsisten dalam melaksanakan kegiatan sertifikasinya.

Daftar 15 LS ISPO yang mendapat akreditasi:

  1. LSISPO-001-IDN Mutu Indonesia Strategis Berkelanjutan
  2. LSISPO-002-IDN TUV Rheinland Indonesia
  3. LSISPO-003-IDN Mutu Hijau Indonesia
  4. LSISPO-004-IDN Agri Mandiri Lestari
  5. LSISPO-005-IDN Global Inspeksi Sertifikasi
  6. LSISPO-006-IDN Bureau Veritas Indonesia
  7. LSISPO-007-IDN SGS Indonesia
  8. LSISPO-008-IDN PT SUCOFINDO (Persero) – SBU Sertifikasi & Eco Framework (Sucofindo International Certification Services)
  9. LSISPO-009-IDN TAFA Sertifikasi Indonesia
  10. LSISPO-010-IDN TUV Nord Indonesia
  11. LSISPO-011-IDN Mutuagung Lestari
  12. LSISPO-012-IDN BSI Group Indonesia
  13. LSISPO-013-IDN SAI Global Indonesia
  14. LSISPO-014-IDN AJA Sertifikasi Indonesia
  15. LSISPO-015-IDN Intertek Utama Services

Sumber: Sawitindonesia.com

40 Tahun Gapki Mengabdi, Gapki Kalbar Komitmen Ikut Dorong Kemajuan Ekonomi Daerah

 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK –Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) pada 27 Februari 2021 yang lalu, tepat berusia 40 tahun.

Selama itu pula, asosiasi pengusaha kelapa sawit ini memperlihatkan eksistensinya dalam memajukan tanah air.

Tahun ini, HUT ke-40 tahun Gapki mengusung tema “Mengabdi Untuk Kemajuan Negeri”.

Sebagai bentuk rasa syukur atas usianya yang ke-40 tahun itu, Gapki Cabang Kalimantan Barat (Kalbar) menggelar tasyakuran di Sekretariat Gapki Kalbar, Jalan Mujahidin, tasyakuran digelar secara sederhana, Selasa 2 Maret 2021

Acara ini dihadiri sejumlah anggota Gapki Kalbar. Kegiatan tersebut digelar di Sudirman Park Jakarta di ikuti secara virtual oleh Gapki Cabang seluruh Indonesia.

“Kami bersyukur tahun ini Gapki genap berusia 40 tahun. Usia yang tidak muda tentunya, namun kami terus berupaya memberikan kontribusi bagi bangsa ini, khususnya di Kalimantan Barat,” ungkap Ketua Gapki Kalbar, Purwati Munawir.

Sebagai wadah bagi perusahaan-perusahaan kelapa sawit, Gapki akan terus meningkat sinergitas dan kerja sama, guna mendorong perekonomian tanah air.

Terlebih di era pandemi Covid-19, sektor perkebunan sawit menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan bahkan tercatat tumbuh positif.

Sektor ini menjadi salah satu motor utama dalam memperkuat dan mempercepat upaya pemulihan ekonomi nasional.

“Sedari dulu industri kelapa sawit mampu menggerakkan roda ekonomi dengan membuka lapangan kerja dalam jumlah yang massal sehingga meningkatkan taraf hidup petani dan masyarakat di sekitar perkebunan. Sawit juga mampu menggerakkan sektor-sektor di sekitarnya,” tuturnya.

Di usia yang ke-40, Gapki, khususnya Cabang Kalbar, diharapkannya semakin solid dan profesional, agar terwujud organisasi yang kuat serta berimplikasi positif bagi pembangunan di provinsi ini.

Pihaknya terus berupaya meningkatkan sinergi dengan berbagai pihak, serta merangkul perusahaan sawit yang kini belum menjadi anggota Gapki.

 

Sumber: Pontianak.tribunnews.com

Harga TBS Sawit Riau Periode 3 – 9 Maret 2021 Naik Rp 55,98/Kg

 

InfoSAWIT, PEKANBARU — Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Riau merujuk surat Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Riau No. 09 periode  03 s/d  09 Maret 2021, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 55,98/Kg menjadi Rp Rp 2.297,14/Kg.

Berikut harga sawit Riau berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, sawit umur 3 tahun Rp 1.706,93/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.843,86/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 2.009,73/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 2.057,29/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 2.137,51/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 2.195,91/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 2.245,88/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp Rp 2.297,14/Kg, sawit umur 21 tahun Rp 2.202,54/Kg, dan sawit umur 22 tahun Rp 2.191,83/Kg, sawit umur 23 tahun Rp 2.182,91/Kg, sawit umur 24 tahun Rp 2.093,67/Kg dan sawit umur 25 tahun Rp 2.044,58/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 9.976,89/Kg dan harga Kernel Rp . 7.143,36/Kg dengan indeks K 89,45%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

Kontribusi Sawit Bagi SDG’s Harus Dipromosikan

 

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Franky Oesman Widjaja, Presiden Komisaris PT. Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk  memuji program B30 yang telah berperan penting dalam menciptakan permintaan baru, mendukung harga CPO, dan pendapatan petani kecil. Kebijakan pemerintah dan komitmen industri telah membuktikan bahwa kita mampu menumbuhkembangkan kelapa sawit secara berkelanjutan. Langkah ini bagian kontribusi positif minyak sawit yang harus menjadi narasi baru dalam  rangka edukasi dunia baik di negara-negara konsumen maupun produsen.

“Keberlanjutan berdasarkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB juga harus dipromosikan. Selain itu juga, kontribusi nyata kelapa sawit dalam memenuhi SDGs 2030. Kedua negara untuk bersatu, berkolaborasi, dan bertindak bersama secara konsisten dan gigih. Selain mendukung upaya diplomatik seperti Kelompok Kerja Sama ASEAN – UE. Sebaiknya ditampilkan  minyak sawit terbaik di World Economic Forum 2021 di Singapura,” ujar Franky dalam Forum Chief Executive Officer (CEO) CPOPC pada 26 Februari 2021. Forum diadakan setelah Pertemuan Tingkat Menteri ke-8 CPOPC dan dihadiri oleh CEO terkemuka dari Indonesia dan Malaysia, dan pejabat senior negara anggota.

Dalam paparannya, Dato ‘Lee Yeow Chor menyarankan dua strategi menyeluruh yang perlu diambil oleh industri ini di masa depan. Pertama, Dato ‘Lee Yeow Chor menekankan perlunya fokus pada pasar regional tetangga dalam perdagangan minyak sawit termasuk penguatan pangsa pasar di negara berkembang seperti kawasan Afrika. Hal ini dapat mengurangi risiko ketahanan pangan dari rantai pasokan yang panjang, serta logistik yang substansial biaya dan biaya untuk menjaga kualitas karena jarak dan waktu perjalanan yang jauh.

Kedua, Ia juga menyarankan kerja sama dengan produsen minyak nabati lainnya di dunia barat untuk menawarkan solusi multi-minyak sesuai dengan kegunaan atau tujuan, daripada menekankan pada jenis dan asal minyak. Selain itu, ia menambahkan perlunya menghilangkan titik asal kelapa sawit dan fokus dilakukan generalisasi minyak sawit tanpa menekankan pada asalnya sebagai satu bentuk praktik dalam perdagangan hidrokarbon.

Forum diikuti oleh enam CEO dari Indonesia, yaitu: Franky Oesman Widjaja, Presiden Komisaris PT. Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk., Bachtiar Karim, Ketua Grup Musim Mas, Martias Fangiono, CEO First Resources Limited, Arif Patrick Rachmat, CEO PT Triputra Agro Persada, Joko Supriyono, Wakil Presiden Direktur Astra Agro Lestari merangkap Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dan Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI).

Dari Malaysia, lima CEO papan atas yang berpartisipasi dalam Forum adalah: YBhg. Seri Lee Oi Hian Tan Sri Dato, CEO Kuala Lumpur Kepong Berhad, YBhg. Dato ‘Lee Yeow Chor, Direktur Pelaksana Grup dan Kepala Eksekutif IOI Corporation Berhad, Mohamad Helmy Othman Basha, Direktur Pelaksana Grup Sime Darby Plantation Berhad, Joseph Tek Choon Yee, CEO dan Direktur Pelaksana IJM Plantations Berhad, dan Paul Wong Hee Kwong, CEO Grup Sarawak Oil Palms Berhad.

 

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

GIMNI: Pengaruh Kebijakan PE, Nilai Ekspor Sawit 2021 Diproyeksi US$30 Miliar

 

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) yang juga Pit Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga, mengatakan bahwa pasar ekspor kelapa sawit tahun 2021 akan makin cerah. Pelaksanaan program vaksinasi di beberapa negara membawa harapan pasar ekspor yang bisa tumbuh positif.

“Kami kira ada kenaikan volume ekspor sawit 8 persen tahun ini menjadi sekitar 36 juta ton dari 2020 yang mencapai 34 juta ton. Secara nilai juga naik, dari US$22,97 miliar pada 2020, kami proyeksikan mencapai US$30 miliar pada 2021,” kata Sahat.

Selain membaiknya harga, kenaikan ekspor tersebut juga dipicu meningkatnya permintaan sawit dan produk turunannya di pasar internasional. Rata-rata harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar global pada 2021 diperkirakan berada di kisaran US$900–US$1.000 per ton. Lebih lanjut Sahat mengatakan, jenis produk sawit yang diperkirakan mengalami pertumbuhan ekspor adalah produk hilir, yakni dengan komposisi 76 persen dan 24 persen berupa CPO.

Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Keuangan yang memberlakukan tarif Pungutan Ekspor (PE) cukup memengaruhi perfoma ekspor. Produk hulu dikenai tarif PE meningkat, sedangkan produk hilir menurun sehingga banyak pelaku usaha yang bergairah untuk lebih mendorong ekspor produk hilir sawit yang bernilai tambah tinggi. Penundaan program B40 tidak terlalu berpengaruh terhadap ekspor sawit.

Sahat menjelaskan, pasar ekspor yang paling berpotensi dan masih menjanjikan untuk digenjot volumenya adalah Asia dan Afrika Timur. Pasar ekspor di Afrika Timur sedang berkembang karena kawasan tersebut umumnya tidak memiliki tangki penimbunan minyak sawit dan mereka lebih menyukai produk yang sudah di-packing.

Kendala yang mungkin dihadapi pengusaha dalam mendorong ekspor adalah ketersediaan kontainer. GIMNI pernah menyampaikan ke pemerintah bahwa suatu saat semua kontainer milik Indonesia bisa saja dibawa kembali atau diborong Tiongkok yang memang dikenal sebagai produsen kontainer terbesar di dunia. Solusinya, Indonesia harus mempunyai atau mengoperasikan industri penghasil kontainer yang berkualitas sehingga tidak lagi mengandalkan kontainer impor.

“Dengan ekonomi Tiongkok yang begitu besar, bisa saja mereka mengambil semua kontainer, hancur sudah pasar Indonesia, ini perlu diantisipasi,” ujar Sahat.

 

Indonesia harus memanfaatkan peluang naiknya permintaan dan membaiknya harga komoditas untuk memacu ekspor minyak sawit lebih tinggi tahun ini. Upaya tersebut bisa membantu pemerintah dalam mempercepat proses pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi Covid-19.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id