Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke China Ungguli Malaysia Pada Kuartal I 2021

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Selama periode Januari-April 2021, ekspor minyak sawit Malaysia ke China tercatat turun sekitar 292.735 ton atau melorot 42,8% menjadi sekitar 390,378 ton. Merujuk laporan yang ditulis Lim Teck Chaii dari Malaysian Palm Oil Council (MPOC), salah satu penyebab penurunan impor minyak sawit Malaysia oleh China adalah revisi pungutan ekspor dan Bea  Keluar (BK) CPO Indonesia.

Pada awal tahun 2021, kebijakan pungutan ekspor dan Bea Keluar (CPO) Indonesia tercatat meningkat, dengan pungutan tertinggi untuk BK mencapai US$ 116/ton dan Pungutan Ekspor tertinggi mencapai US$ 255/ton.

“Kenaikan pungutan ekspor dan Bea Keluar, telah meningkatkan daya saing CPO Indonesia dalam ekspor produk minyak sawit olahan dibandingkan dengan Malaysia,” catat Lim Teck Chaii dikutip InfoSAWIT dari laman resmi MPOC.

Sementara merujuk laporan lembaga Administrasi Umum Kepabeanan China menunjukkan bahwa ekspor minyak sawit Indonesia ke China daratan meningkat dari 556.600 ton menjadi 1.157.200 ton untuk periode Januari hingga Maret 2021.

Berbanding terbalik dengan ekspor Malaysia yang turun sekitar 265.800 to menjadi hanya sebanyak 315.800 ton untuk periode yang sama. Sementara itu, total impor minyak sawit China untuk Januari-Maret 2021 meningkat 290.300 ton menjadi sejumlah 1.478.700 ton.

Sementara untuk produk turunan minyak sawit seperti, RBD Palm Olein, RBD Palm Stearin, dan Crude Palm stearin adalah jenis utama minyak sawit yang diekspor dengan porsi 89,9% dari total ekspor. Pangsa ini 4,7% lebih rendah dari 94,6% pada periode yang sama tahun lalu. Terjadi penurunan impor Crude Palm stearin sebesar 32,4% atau setara 29.804 ton menjadi 62.119 ton. Sedangkan impor RBD PS turun 49,5% atau setara 82.121 ton menjadi 83.770 ton. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Harga TBS Sawit Jambi Periode 9-15 Juli 2021 Naik Rp 147,21/Kg

 

InfoSAWIT, JAMBI – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Jambi, harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Jambi periode 09 – 15 Juli 2021, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp. 147,21/Kg menjadi Rp 2.216,13/Kg.

Berikut harga sawit Jambi berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, sawit umur 3 tahun Rp 1. 741,30/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.848,45/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.934,34/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 2.015, 80/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 2.066,79/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 2.109,78/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 2.151,94/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 2.216,13/Kg, sawit umur 21-24 tahun Rp 2.147,91/Kg, dan sawit umur 25 tahun Rp 2.046,55/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 9.742,94/Kg dan harga Kernel Rp 5.792,64/Kg dengan indeks K 90,96%. (T2)

 

 

Sumber: Infosawit.com

Kesejahteraan Petani Sawit Menjadi Syarat Biodiesel

 

 

JAKARTA. KOMPAS – Biodiesel berbahan baku minyak kelapa sawit mentah atau CPO diandalkan sebagai bahan bakar nabati Hal ini bertujuan untuk mendukung proses transisi energi di sektor transportasi. Aspek kesejahteraan petani sawit dimasukkan sebagai kriteria yang diterapkan bagi pemasok CPO, bahan baku biodiesel.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, pi-i haknya sedang menguji coba penelusuran sumber CPO yang menjadi bahan baku biodiesel. Pemerintah akan menyusun kriteria pasokan CPO yang mesti dipenuhi produsen biodiesel. Kriteria itu juga akan mencakup aspek kesejahteraan petani sawit.

“Produsen mesti membuktikan dampak langsung penyerapan CPO untuk bahan baku biodiesel dengan terjaminnya harga, tandan buah segar,” kata Dadan dalam webinar “Menjawab Tantangan Industri Biodiesel dan Kendaraan Listrik yang Lebih Bersih” yang diadakan Koaksi Indonesia, Rabu (7/7/2621).

Dadan menambahkan, sebanyak 18 persen dari produksi kelapa sawit di Indonesia yang rata-rata 55 juta ton per tahun dimanfaatkan untuk bahan baku biodiesel. Saat ini, biodiesel dicampurkan dalam solar murni dengan kadar pencampuran 30 persen untuk biodiesel dan 70 persen solar murni. Bahan bakar ini dikenal sebagai solar B-30.

Sepanjang 2020, Kementerian ESDM mencatat realisasi pemanfaatan biodiesel mencapai 8,4 juta kiloliter. Realisasi tersebut berdampak pada pengurangan emisi sebanyak 22,3 juta ton gas karbon dioksida. Tahun ini, / target serapan biodiesel diharapkan sebanyak 9,2 juta kiloliter.

Pengajar pada Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung, Agung Wicaksono, berpendapat bahwa kebijakan penggunaan biodiesel mesti terpadu. “Keterkaitan an-tarfaktor yang meliputi emisi, pembukaan lahan, subsidi, kesejahteraan petani, dan devisa negara perlu ditinjau secara terintegrasi,” ujarnya.

Periset Koaksi Indonesia Siti Koiromah mengatakan, pemanfaatan biodiesel sebagai bahan baku BBM berpotensi pada terjadinya pembukaan lahan sawit baru. “Oleh sebab itu, kami mendorong adanya standar keberlanjutan pada industri biodiesel,” katanya pada acara yang sama.

Kendaraan listrik

Selain pemanfaatan BBN, pemerintah juga mengandalkan kendaraan listrik berbasis baterai demi menekan konsumsi BBM. Pada 2030 diproyeksikan terdapat 2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik yang beroperasi di Indonesia.

Menurut Siti, prinsip-prinsip kelestarian pada industri baterai dan kendaraan listrik perlu dirumuskan bersamaan dengan pembangunan rantai pasok. Dia mencontohkan, ekstraksi nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik harus memenuhi praktik pertambangan yang berkelanjutan.

Executive Vice President of Engineering and Technology PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Zainal Arifin menambahkan, perseroan siap memasok daya untuk kendaraan listrik. Saat ini ada kelebihan daya sebesar 14.000 megawatt, sedangkan kebutuhan listrik untuk 1 juta unit kendaraan roda empat sebanyak 2.600 megawatt.

 

Sumber: Kompas

Sawit Topang Pertumbuhan Ekspor ke Mesir

 

JAKARTA – Duta Besar RI untuk Mesir Lutfi Rauf menyatakan bahwa produk minyak kelapa sawitdan turunannya menopang pertumbuhan ekspor Indonesia ke pasar Mesir di tengah pandemi Covid-19. Angka penjualan sawit Indonesia di Mesir menunjukkan peningkatan yang menggembirakan dengan tren pertumbuhan selama 2016-2020 mencapai 4,56% dengan market share 87,26%.

Pernyataan itu disampaikan Lutfi saat bertemu dengan Pimpinan Savco Vegetable Oils Ammar Aboullaban, Kamis (1/7), di kawasan industri 10th Ramadhan City, Provinsi Shar-qia, Mesir. “Ekspor minyakkelapa sawitdan turunannya ke Mesir telah menunjukkan ke-
tahanannya di tengah pandemi. Saat banyak sektor ekonomi terdampak pandemi COVID-19, sawit Indonesia konsisten menjadi penyumbang devisa negara dan membuat surplus perdagangan Indonesia-Mesir,” kata Lutif dalam keterangan tertulis dari KBRI Kairo yang diterima Antara di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, industrikelapa sawittak terpengaruh pandemi bahkan menunjukkan peningkatan ekspor ke Mesir dan menjadi penyumbang terbesar dalam market share produk ekspor Indonesia ke negara tersebut. Pertemuan dilakukan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Safari Sawit yang dilakukan oleh Duta Besar RI beserta

Atase Perdagangan guna melakukan pembinaan ke beberapa perusahaan pengolahan sawit di Mesir. Upaya itu dilakukan untuk menjaga loyalitas hubungan dagang dengan Indonesia dan agar importasi sawit ke pasar Mesir bisa ditingkatkan.

Ammar Aboullaba menerangkan, perusahaannya yang bergerak di bidang pengolahan minyak nabati berdiri pada 2013 dan saat ini memproduksi lebih dari 10 produk turunan sawit, di antaranya minyak goreng, vegetable ghee, dan mentega.”Savco siap mengimpor lebih banyak lagi minyak sawit Indonesia. Savco setiap bulan membutuhkan 5-10 ribu ton minyak sawit Indonesia,” kata dia.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

Patokan Ekspor Sawit Diubah Bisa Dongkrak Kinerja Industri Saat Harga CPO Terkoreksi

 

Ilustrasi CPO 5 (Liputan6.com/M.Iqbal)

 

 

Pemerintah mengubah tarif pungutan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Penyesuaian tarif pungutan ekspor (PE) melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 76/PMK.05/2021 tentang Perubahan Kedua atas PMK No. 57/PMK.05/2020 tentang Tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Isi aturan yakni perubahan batas pengenaan tarif progresif dari semula pada harga CPO USD 670 per ton menjadi USD 750 per ton.

Mekanismenya, tarif pungutan sebesar USD 55 per ton saat harga CPO mencapai USD 750 per ton. Sedangkan pungutan bersifat progresif sebesar USD 20 per ton untuk CPO dan USD 16 per ton khusus produk turunan saat harga menyentuh USD 1.000 per ton.

Penetapan besaran pungutan ekspor terhadap CPO dinilai dapat menjaga kinerja industri, terlebih di tengah momentum kenaikan harga yang terus terkoreksi. Selain itu, kinerja ekspor pun diharapkan ikut terdongkrak.

Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Bernard Riedo menyambut baik kebijakan pemerintah tersebut. Menurutnya, arah kebijakan selain melonggarkan para pelaku usaha sekaligus mendorong hilirisasi.

Namun demikian, dia mengharapkan agar pungutan ekspor tersebut bisa lebih rendah lagi untuk pengenaan produk hilir.

“Levy yang rendah akan mendorong daya saing produk kita, terutama untuk destinasi yang membutuhkan produk langsung konsumsi. Dengan demikian, daya saing produk minyak goreng kemasan tujuan ekspor kita lebih bersaing daripada Malaysia,” ungkap Bernard.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengutarakan kebijakan pemerintah dapat meningkatkan daya saing produk sawit di pasar global. Dengan tarif yang disesuaikan itu, para pengusaha dapat meningkatkan investasi untuk melakukan ekspansi.

“Ini penting saat pemerintah ingin pemulihan ekonomi berjalan lebih cepat,” kata Joko beberapa waktu lalu.

Penyesuaian pungutan ekspor inipun terjadi pada saat tepat. Memasuki 2021, harga CPO terus terkerek naik hingga menembus USD 1.008 per ton pada Mei lalu, tertinggi dalam rentang satu dekade. Hingga saat ini, harga CPO secara global berkisar pada rentang USD 870-USD 900 per ton.

Dengan melonjaknya harga CPO, maka kas yang masuk melalui pungutan ekspor pun ikut berlipat. Hal ini diakui pemerintah yang menyatakan dana kelolaan pungutan ekspor Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menggemuk pada tahun ini.

Dana Pungutan Ekspor

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud, dana pungutan ekspor naik dari kisaran Rp 1,5 triliun-Rp2 triliun per bulan menjadi Rp 3 triliun.

“Yang pasti setiap bulan paling tidak BPDP Kelapa Sawit bisa menerima kalau tidak salah Rp 1,5 triliun-Rp 2 triliun per bulan. Kalau gak salah, sekarang bisa sampai Rp 3 triliun karena harga sedang tinggi, sehingga tentu saja dengan harga yang tinggi penyerapan pungutan ekspor akan semakin tinggi,” paparnya.

Adapun kas yang masuk dari pungutan ekspor selanjutnya dikelola BPDPKS untuk program pengembangan layanan dan program pembangunan industri sawit nasional.

Program itu antara lain mencakup perbaikan produktivitas di sektor hulu melalui peremajaan perkebunan kelapa sawit dan penciptaan pasar domestik melalui dukungan mandatori biodiesel.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah inipun menambah kuat sentimen positif bagi emiten sawit. Sebelumnya, dengan program hilirisasi serta gencarnya proyek biodiesel yang disokong dana kelolaan BPDPKS, industri sawit semakin kokoh menggarap permintaan domestik.

Hal ini sebagaimana diungkapkan Analis Senior CSA Research Reza Priyambada. “Selain harga meningkat, pemerintah juga dorong produksi B30, dengan dua hal seperti ini peluang cuan. Itu adalah faktor yang pengaruhi industri secara keseluruhan,” ujarnya.

Terlebih lagi, jika menengok kinerja emiten sawit selama setahun belakangan. Mayoritas emiten memetik kinerja positif meskipun di tengah gejolak pandemi.

“Kalau lihat di masa pandemi, sepanjang 2020, sejumlah emiten sawit mencatatkan kinerja cukup positif walau dari pertumbuhan ada penurunan dari 2018-2020, tapi penurunan ini angkanya masih positif, mereka masih bisa peroleh laba dan ada peningkatan dari sisi pendapatan seiring meningkatnya harga CPO sepanjang 2020 untuk beberapa emiten,” jelas Reza.

Sumber: Liputan6.com

,

Revisi PE Sawit, Jaga Momentum dan Dongkrak Kinerja

 

 

JAKARTA, investor.id – Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Bernard Riedo menyatakan, penetapan besaran pungutan ekspor atas produk minyak sawit mentah atau CPO akan menjaga kinerja industri, terlebih di tengah momentum kenaikan harga yang terus terkoreksi. Selain itu, kinerja ekspor pun akan ikut terdongkrak.

Hal itu diungkapkan Bernard menyusul kebijakan pemerintah  menyesuaikan tarif pungutan ekspor (PE) melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 76/PMK.05/2021 tentang Perubahan Kedua atas PMK No. 57/PMK.05/2020 tentang Tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Isi aturan yakni perubahan  batas pengenaan tarif progresif dari semula pada harga CPO US$670 per ton menjadi US$750 per ton.

Mekanismenya, tarif pungutan sebesar US$55 per ton saat harga CPO mencapai US$750 per ton. Sedangkan pungutan bersifat progresif sebesar US$20 per ton untuk CPO dan US$16 per ton khusus produk turunan saat harga menyentuh US$1.000 per ton.

“Kebijakan ini mendorong terwujudnya hilirisasi,” kata  Bernard Riedo melalui keterangan tertulis, pada Rabu (7/7/2021).

Bernard Riedo, Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI)
Bernard Riedo, Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI)

Ia berharap nilai pungutan ekspor  dapat  lebih rendah lagi  untuk pengenaan produk hilir.

“Levy yang rendah akan mendorong daya saing produk kita, terutama untuk destinasi yang membutuhkan produk langsung konsumsi. Dengan demikian, daya saing produk minyak goreng kemasan tujuan ekspor kita lebih bersaing daripada Malaysia,” ungkap Bernard.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengutarakan kebijakan pemerintah dapat meningkatkan daya saing produk sawit di pasar global. Dengan tarif yang disesuaikan itu, para pengusaha dapat meningkatkan investasi untuk melakukan ekspansi. “Ini penting saat pemerintah ingin pemulihan ekonomi berjalan lebih cepat,” kata Joko beberapa waktu lalu.

Kebijakan penyesuaian pungutan ekspor diberlakukan  pada saat tepat. Memasuki tahun 2021, harga CPO terus terkerek naik hingga menembus US$1.008 per ton pada Mei lalu, tertinggi dalam rentang satu dekade. Hingga saat ini, harga CPO secara global berkisar pada rentang US$870-US$900 per ton.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono.Foto: IST
Ketua Umum Gapki Joko Supriyono.Foto: IST

Melonjaknya harga CPO, menyebabkan kas yang masuk melalui pungutan ekspor pun ikut berlipat. Hal ini diakui pemerintah yang menyatakan dana kelolaan pungutan ekspor Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menggemuk pada tahun ini.

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud, dana pungutan ekspor naik dari kisaran Rp1,5 triliun-Rp2 triliun per bulan menjadi Rp3 triliun.

Musdalifah Mahmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Foto: IST
Musdalifah Mahmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Foto: IST

“Yang pasti setiap bulan paling tidak BPDP Kelapa Sawit bisa menerima kalau tidak salah Rp1,5 triliun-Rp2 triliun per bulan. Kalau gak salah, sekarang bisa sampai Rp3 triliun karena harga sedang tinggi, sehingga tentu saja dengan harga yang tinggi penyerapan pungutan ekspor akan semakin tinggi,” paparnya.

Adapun kas yang masuk dari pungutan ekspor selanjutnya dikelola BPDPKS untuk program pengembangan layanan dan  program pembangunan industri sawit nasional. Program itu antara lain mencakup perbaikan produktivitas di sektor hulu melalui peremajaan perkebunan kelapa sawit dan penciptaan pasar domestik melalui dukungan mandatori biodiesel.

Makin Kokoh

Di sisi lain, kebijakan pemerintah inipun menambah kuat sentimen positif bagi emiten sawit. Sebelumnya, dengan program hilirisasi serta gencarnya proyek biodiesel yang disokong dana kelolaan BPDPKS, industri sawit semakin kokoh menggarap permintaan domestik.

Analis CSA Research Institute. Foto: IST
Analis CSA Research Institute. Foto: IST

Hal ini sebagaimana diungkapkan Analis Senior CSA Research Reza Priyambada. “Selain harga meningkat, pemerintah juga dorong produksi B30, dengan dua hal seperti ini peluang cuan. Itu adalah faktor yang pengaruhi industri secara keseluruhan,” ujarnya.

Terlebih lagi, jika menengok kinerja emiten sawit selama setahun belakangan. Mayoritas emiten memetik kinerja positif meskipun di tengah gejolak pandemi.

“Kalau lihat di masa pandemi, sepanjang 2020, sejumlah emiten sawit mencatatkan kinerja cukup positif walau dari pertumbuhan ada penurunan dari 2018-2020, tapi penurunan ini angkanya masih positif, mereka masih bisa peroleh laba dan ada peningkatan dari sisi pendapatan seiring meningkatnya harga CPO sepanjang 2020 untuk beberapa emiten,” jelas Reza.

 

 

 

Sumber: Investor.id

,

Revisi PE Sawit, Jaga Momentum dan Dongkrak Kinerja

 

 

 

Jakarta, Beritasatu.com – Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimmi), Bernard Riedo, menyatakan, penetapan besaran pungutan ekspor atas produk minyak sawit mentah atau CPO akan menjaga kinerja industri, terlebih di tengah momentum kenaikan harga yang terus terkoreksi. Selain itu, kinerja ekspor pun akan ikut terdongkrak.

Hal itu diungkapkan Bernard menyusul kebijakan pemerintah menyesuaikan tarif pungutan ekspor (PE) melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 76/PMK.05/2021 tentang Perubahan Kedua atas PMK Nomor 57/PMK.05/2020 tentang Tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Isi aturan yakni perubahan batas pengenaan tarif progresif dari semula pada harga CPO US$670 per ton menjadi US$750 per ton.

 

Mekanismenya, tarif pungutan sebesar US$55 per ton saat harga CPO mencapai US$750 per ton. Sedangkan pungutan bersifat progresif sebesar US$20 per ton untuk CPO dan US$16 per ton khusus produk turunan saat harga menyentuh US$1.000 per ton.

“Kebijakan ini mendorong terwujudnya hilirisasi,” kata Bernard Riedo melalui keterangan tertulis, pada Rabu (7/7/2021). Ia Berharap nilai pungutan ekspor dapat lebih rendah lagi untuk pengenaan produk hilir.

 

“Levy yang rendah akan mendorong daya saing produk kita, terutama untuk destinasi yang membutuhkan produk langsung konsumsi. Dengan demikian, daya saing produk minyak goreng kemasan tujuan ekspor kita lebih bersaing daripada Malaysia,” ungkap Bernard.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengutarakan kebijakan pemerintah dapat meningkatkan daya saing produk sawit di pasar global.

Dengan tarif yang disesuaikan itu, para pengusaha dapat meningkatkan investasi untuk melakukan ekspansi. “Ini penting saat pemerintah ingin pemulihan ekonomi berjalan lebih cepat,” kata Joko beberapa waktu lalu.

Kebijakan penyesuaian pungutan ekspor diberlakukan pada saat tepat. Memasuki tahun 2021, harga CPO terus terkerek naik hingga menembus US$1.008 per ton pada Mei lalu, tertinggi dalam rentang satu dekade. Hingga saat ini, harga CPO secara global berkisar pada rentang US$870 – US$900 per ton.

Melonjaknya harga CPO, menyebabkan kas yang masuk melalui pungutan ekspor pun ikut berlipat. Hal ini diakui pemerintah yang menyatakan dana kelolaan pungutan ekspor Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menggemuk pada tahun ini.

Menurut Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Musdhalifah Machmud, dana pungutan ekspor naik dari kisaran Rp 1,5 triliun – Rp 2 triliun per bulan menjadi Rp 3 triliun.

“Yang pasti setiap bulan paling tidak BPDP Kelapa Sawit bisa menerima kalau tidak salah Rp 1,5 triliun – Rp 2 triliun per bulan. Kalau gak salah, sekarang bisa sampai Rp 3 triliun karena harga sedang tinggi, sehingga tentu saja dengan harga yang tinggi penyerapan pungutan ekspor akan semakin tinggi,” paparnya.

Ada pun kas yang masuk dari pungutan ekspor selanjutnya dikelola BPDPKS untuk program pengembangan layanan dan program pembangunan industri sawit nasional. Program itu antara lain mencakup perbaikan produktivitas di sektor hulu melalui peremajaan perkebunan kelapa sawit dan penciptaan pasar domestik melalui dukungan mandatori biodiesel.

Makin Kokoh

Di sisi lain, kebijakan pemerintah inipun menambah kuat sentimen positif bagi emiten sawit. Sebelumnya, dengan program hilirisasi serta gencarnya proyek biodiesel yang disokong dana kelolaan BPDPKS, industri sawit semakin kokoh menggarap permintaan domestik.

Hal ini sebagaimana diungkapkan Analis Senior CSA Research Reza Priyambada. “Selain harga meningkat, pemerintah juga dorong produksi B30, dengan dua hal seperti ini peluang cuan. Itu adalah faktor yang pengaruhi industri secara keseluruhan,” ujarnya.

Terlebih lagi, jika menengok kinerja emiten sawit selama setahun belakangan. Mayoritas emiten memetik kinerja positif meskipun di tengah gejolak pandemi.

“Kalau lihat di masa pandemi, sepanjang 2020, sejumlah emiten sawit mencatatkan kinerja cukup positif walau dari pertumbuhan ada penurunan dari 2018-2020, tapi penurunan ini angkanya masih positif, mereka masih bisa peroleh laba dan ada peningkatan dari sisi pendapatan seiring meningkatnya harga CPO sepanjang 2020 untuk beberapa emiten,” jelas Reza.

Sumber: Beritasatu.com

 

Harga TBS Sawit Riau Periode 7-13 Juli 2021 Naik Rp 182,96/Kg

 

 

InfoSAWIT, PEKANBARU — Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Riau merujuk surat Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Riau No.27 periode 7 – 13 Juli 2021, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 182,96/Kg menjadi Rp 2.267,25/Kg.

Berikut harga sawit Provinsi Riau berdasarkan penelusuran InfoSAWITsawit umur 3 tahun Rp 1.678,47/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.815,59/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.981,59/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 2.028,85/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 2.108.00/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 2.165,91/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 2.216,01/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 2.267,25/Kg, sawit umur 21 tahun Rp 2.172,42/Kg, dan sawit umur 22 tahun Rp 2.161,68/Kg, sawit umur 23 tahun Rp 2.152,74/Kg, sawit umur 24 tahun Rp 2.063,27/Kg dan sawit umur 25 tahun Rp 2.014,07/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 10.021,07/Kg dan harga Kernel Rp 6.383,85/Kg dengan indeks K 89,28%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Karet dan Sawit Topang Ekonomi Sumut

 

MEDAN, KOMPAS – Komoditas karet dan sawit jadi penopang ekonomi Sumatera Utara di tengah pandemi Covid-19. Harga karet di tingkat petani meningkat hingga Rp 10.500 per kilogram dan tandan buah segar sawit Rp 1.900 per kilogram.

Peningkatan harga dipengaruhi permintaan di pasar dunia. Harga karet remah jenis TSR (technical speciefied rubber) 20 kini 1,67 dollar AS per kilogram. Di tingkat petani, harga karet olahan mencapai Rp 10.500 per kg, naik dari Rp 6.000 per kg pada tahun lalu. Adapun karet yang belum diolah dihargai Rp 8.000 per kg.

Kenaikan harga.karet membuat petani di Sumut makin bergairah menyadap. Kebun-
kebun karet yang sebelumnya terbengkalai kini disadap lagi.

“Tahun lalu kelompok tani kami hanya mengumpulkan 1 ton getah karet per minggu. Kini kami bisa mendapat 5 ton,” kata Sungkunen Tarigan (40), Ketua Kelompok Tani Mbuah Page, Desa Kuta Jurang, Deli Serdang, Senin (5/7/2021).

Sementara volume ekspor karet Sumut pada April dan Mei 2021 menurun dari bulan-bulan sebelumnya. Ekspor pada April sebesar 31.555 ton atau anjlok sekitar 10,3 persen ketimbang bulan sebelumnya yang mencapai 35.190 ton.

“Volume ekspor pada Mei kami perkirakan hanya 25.000 ton atau turun sekitar 16 persen dibandingkan April,” kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia Sumut Edy Irwansyah.

Penurunan ekspor itu, menurut dia lebih karena adanya pergeseran jadwal pengapalan. Dengan demikian, secara tahunan, volume ekspor tidak menurun signifikan.

“Operasional industri karet juga bisa berjalan dengan baik di tengah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM),” kata Edy.

Sama halnya dengan karet, industri sawit juga bergairah dengan harga yang masih cukup baik. Pada periode 30 Juni-6 Juli, harga tandan buah segar (TBS) sawit dengan rendemen 19,93 persen mencapai Rp 1.928 per kilogram; Harga tersebut stabil sepanjang pandemi, bahkan naik hingga Rp 2.275 per kg pada Mei.

Sekretaris Gabungan Pengusahakelapa sawitIndonesia (Gapki) Sumut Timbas Prasad Ginting mengatakan, semua rantai pasok industri sawit bisa berjalan dengan baik di tengah pandemi.

Di Sumut terdapat 1,8 juta hektar kebun sawit dengan 162 pabrik. Tenaga kerja yang terserap di industri sawit Sumut lebih dari 560.000 oipng.

Seperti halnya karet, industri sawit bisa tetap berjalan dengan baik di tengah pandemi Covid-19 ataupun PPKM. “Kami melakukan protokol kesehatan dan memaksimalkan vaksinasi secara masif,” katanya.

 

Sumber: Kompas

Beragam Manfaat Petani Kelapa Sawit dalam Rantai Pasok Biodiesel Sawit

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Merujuk Benefit Cost Analysist, dilihat dari sisi biaya diantaranya menyangkut biaya legalisasi lahan pekebun sawit swadaya, subsidi bibit unggul bersertifikat, subsidi pupuk, pendampingan penerapan teknik  perkebunan berkelanjutan, sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), insentif PKS yang bermitra dengan pekebun sawit swadaya, insentif BU BBN yang membeli CPO dari PKS yang bermitra dengan pekebun sawit swadaya.

Sementara dari sisi manfaat, terdapat pengurangan anggaran Jaminan sosial, pengurangan anggaran mitigasi bencana lingkungan, pengurangan anggaran program, penurunan emisi GRK dan peningkatan produksi TBS sawit.

 

Dikatakan Ricky Amukti dari Traction Energy Asia, merujuk dari hasil Analisa Biaya Manfaat, maka total biaya yang dibutuhkan untuk menempatkan pekebun sawit swadaya dalam rantai pasok Biodiesel adalah Rp 210.997.994.300 atau Rp 21.099.799 /pekebun sawit swadaya.

Sementara total manfaat yang diperoleh melalui penempatan pekebun sawit swadaya dalam rantai pasok Biodiesel adalah sebesar Rp 394.388.950.000 atau Rp 39.438.895/pekebun sawit swadaya. “Hasil rasio manfaat terhadap biaya prorgam ini adalah 1,87 sehingga program dapat dilaksanakan,” tutur Ricky.

Melibatkan pekebun sawit swadaya dalam rantai pasok biodiesel faktanya juga bisa menguntungkan banyak pihak, baik itu pekebun sawit swadaya itu sendiri, pemerintah bahkan produsen biodiesel.

Bagi pekebun sawit swadaya manfaat yang didapat yakni ada kepastian pasar untuk buah sawit pekebun sawit swadaya. Lantas, harga jual yang lebih baik karena buah sawit dijual langsung ke perusahaan, dibandingkan bila dijual ke pengepul. “Kerjasama perusahaan diharapkan dapat memberikan bantuan bibit sawit unggul dan pupuk kepada pekebun untuk meningkatkan hasil panen,” tandas dia. (T2)

 

 

Sumber: Infosawit.com