GIMNI Siapkan 3 Strategi Hadapi Kampanye Negatif Sawit

Pangkalan Bun – Gabungan Industri Minyak Nabati (GIMNI) mempunyai strategi untuk menghadapi kampanye negatif di pasar Uni Eropa.

“Sudah ada survei pasar di Eropa lewat big data dan menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat Eropa termakan isu kesehatan tentang produk makanan yang menggunakan kelapa sawit. Kondisi sekarang ini tidak mudah bagi para pelaku industri kelapa sawit,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, di Jakarta.

Beberapa bulan yang lalu, menurut Sahat, minyak sawit diisukan mengandung senyawa kimiawi, yaitu MCPD dan Glycidyl Ester. Senyawa kimia tersebut, jika dikonsumsi terus menerus, dapat memicu penyakit degeneratif yang menimbulkan kerusakan jaringan atau organ tubuh, seperti kanker.

“Isu tersebut sebagai kampanye negatif untuk mematikan pasar industri kelapa sawit Indonesia. Maraknya kampanye negatif tersebut tentu berdampak pada anjloknya konsumsi olahan kelapa sawit di Eropa,” papar dia.

Sahat mengatakan, konsumsi olahan kelapa sawit, khususnya pada industri makanan di Eropa pada 2016 hanya sekitar 3,3 juta ton, turun dari tahun 2015 yang mencapai 4,3 juta ton.

“Meski diterpa kampanye negatif, kami tetap optimistis dan sudah menyiapkan tiga strategi untuk bertahan. Pertama, dalam urusan bisnis minyak kelapa sawit, Indonesia akan bekerjasama dengan Malaysia untuk biodiesel,” ujarnya.

Strategi kedua, lanjut Sahat, pihaknya akan melebarkan pasar ke negara lain, tidak hanya Uni Eropa, namun juga perkuat pasar Asean. Program ini juga kerjasama dengan Malaysia.

“Tidak hanya kawasan Asean yang jadi bidikan, dua kawasan seperti Timur Tengah dan Afrika juga potensial. Strategi ini digunakan agar bisnis ekspor kelapa sawit Indonesia tidak hanya bergantung pada pasar Eropa,” tutur Sahat.

Ketiga, produktivitas olahan kelapa sawit harus ditingkatkan. Jika di pasar Eropa tidak dapat menembus perusahaan makanan, olahan kelapa sawit bisa digunakan untuk biodiesel dan oleochemical maupun bahan kimia lainnya.

“Mau tidak mau, produktivitas olahan kelapa sawit kita harus ditingkatkan. Semakin banyak manfaatnya, maka kita tidak perlu bergantung pada satu industri saja,” kata Sahat. (NEDELYA RAMADHANI/m)

 

Sumber: Borneonews.com

RSPO Temui 100 Pelaku Perkebunan Sumut

Roundtable on Sustainable Palm Oil menemui sekitar 100 pelaku usaha perkebunan Sumatra Utara dengan menggelar seminar sehari bertajuk Memperkuat Keberlanjutan Rantai Pasok Kelapa Sawit di Indonesia.

Para peserta seminar merupakan perwakilan dari perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit, petani, pedagang dan pengolah minyak kelapa sawit, pemerintah, akademisi dan lembaga swadaya masyarakat.

“Dengan kegiatan ini kami ingin mengajak para pemangku perkebunan di Sumatra Utara untuk membahas tentang peluang dan manfaat industri kelapa sawit berkelanjutan serta mengajak peran aktif para pelaku industri mendukung produksi kelapa sawit berkelanjutan,” papar Direktur RSPO Indonesia Tiur Rumondang di sela-sela kegiatan di Medan, Rabu (2/8/2017).

Duduk sebagai pembicara dalam seminar ini sejumlah pemangku kepentingan terkait. Yakni dari Dinas Perkebunan Sumut, Organisasi Penguatan dan Pengembangan Usaha-Usaha Kerakyatan, Kelompok Petani UD Lestari dan Badan Pertanahan Nasional.

Tiur Rumondang mengatakan, penting bagi semua pihak untuk menyadari bahwa keberlanjutan dari komoditas kelapa sawit sangat strategis bagi Indonesia untuk menjaga eksistensinya di pasar global sebagai produsen terbesar CPO bersertifikat RSPO.

Selain itu, produksi yang berkelanjutan akan meningkatkan produktivitas minyak kelapa sawit dan memberikan akses pasar lebih luas bagi petani dan perkebunan.

Begitu juga dapat memastikan hak pekerja dan masyarakat sekitar perkebunan terpenuhi sambil menjaga ketersediaan jangka panjang komoditas ini yang berkontribusi bagi pembangunan ekonomi Indonesia.

Diungkapkannya, Sumatra Utara sejauh ini telah memberikan kontribusi sebesar 20% dari total produksi minyak sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO di Indonesia.

Adapun kapasitas produksi minyak sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO (Certified Sustainable Palm Oil/CSPO) di Sumut sampai dengan akhir Juni 2017 tercatat sebanyak 1,3 juta metrik ton dari total produksi CSPO di Indonesia yang sebanyak 6,53 juta metrik ton.

 

Sumber: Bisnis.com

Mendag Lobi Afrika Turunkan BM Minyak Sawit

 

JAKARTA – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita baru saja melakukan misi dagang ke dua negara Afrika, yaitu Afrika Selatan dan Nigeria. Dalam kunjungan itu, Mendag mengajukan proposal Persetujuan Prefensi Perdagangan/ Preferential Trade Agreement (PTA) kepada Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (Economic Community of West African States/ Ecowas).

Enggar mengatakan, PTA sangat penting untuk meningkatkan hubungan perdagangan dan juga investasi ke Afrika Barat. “Kami sudah mengajukan PTA dengan Ecowas dan direspons baik,” ujar dia di Jakarta, Senin (31/7).

Dalam PTA ini, pemerintah juga meminta penyesuaian tarif bea masuk (BM) sejumlah produk. Salah satu komoditas yang dikenakan tarif BM tinggi adalah minyak sawit mentah (CPO), sebesar 35% di Nigeria. Ecowas memiliki 15 anggota, yaitu Nigeria, Benin, Burkina Faso, Tanjung Verde, .Gambia, Ghana, Guinea, Guinea Bissau, Pantai Gading, Liberia, Mali, Niger, Senegal, Sierra Leone dan Togo.

Dia menegaskan, produk-produk Indonesia sangat dikenal di Nigeria dan yang paling popular adalah Indomie. Apalagi, Grup Indofood sudah mempunyai pabrik di Nigeria dan terus memproduksi dengan volume cukup tinggi.

Kemendag, kata dia, tetap mendorong produk lokal, khususnya produk UKM agar bisa masuk ke Nigeria, karena pasarnya besar. Jumlah penduduk Nigeria mencapai 180 juta orang dan sedang berkembang pesat, serta perekonomian stabil.

“Nigeria itu seperti Indonesia pada 1980-an dan banyak perkembangan. Saya dorong agar produk lokal agar bisa tembus Nigeria,” ujar dia.

Dia menjelaskan, tujuan misi dagang ke Nigeria juga dijadikan sebagai langkah awal untuk membuka pasar baru ekspor. Sebab, selama ini, pasar ekspor Indonesia paling utama masih Tiongkok dan Asean, dan belum menembus Afrika.

Sumber: Investor Daily Indonesia

Indonesia Bidik Ekspor Minyak Sawit ke Afrika

 

 

JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) optimistis kinerja ekspor pada semester II/2017 akan lebih positif.

Peningkatan akses pasar ekspor nonmigas ke negara-negara nontradisional ditempuh melalui percepatan perjanjian bilateral. Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag Kasan Muhri mengatakan, ekspor nonmigas Indonesia pada semester I (Januari- Juni) 2017 senilai USD72,36 miliaratautumbuh13,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut Kasan, pencapaian tersebut di atas target. Sebagai catatan, pemerintah menargetkan ekspor nonmigas sepanjang tahun ini tumbuh 5,6%.

Menurut Kasan, membaiknya ekonomi negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia seperti China, Jepang, Singapura, Taiwan, AS, dan Vietnam, juga berpengaruh ke kinerja ekspor Indonesia. “Dengan kondisi pencapaian yang sekarang, kami melihat masih ada peluang positif pada semester II nanti,” ujarnya, di Jakarta, Rabu (26/7). Menurut Kasan, dalam dua tahun terakhir porsi ekspor nonmigas terhadap total ekspor juga sudah mencapai 90%. Sebelumnya pada 1982 porsinya hanya sekitar 17%.

Salah satu produk nonmigas yang saat ini porsi ekspornya paling besar adalah sawit dan produk turunannya senilai sekitar USD18-20 miliar per tahun. Seperti diketahui, Uni Eropa yang merupakan salah satu pasar ekspor tradisional bagi minyak sawit Indonesia beberapa waktu lalu melalui Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi sawit yang menuding sawit Indonesia sebagai penyebab deforestasi sampai pelanggaran HAM terhadap masyarakat adat/lokal. Banyak pihak menilai tudingan tersebut tidak berdasar dan hanya merupakan bentuk proteksi terhadap produk minyak sayur dalam negeri di kawasan tersebut.

“Meskipun ekspor minyak sawit kita ke Eropa bukan yang terbesar, bagi mereka, sawit dan turunannya ini merupakan ancaman,” sebutnya. Pada periode Januari-Juni 2017 tercatat ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia ke Uni Eropa sebanyak 2,2 juta ton atau naik 37% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 1,6 juta ton. Nilainya pun meningkat signifikan dari USD1 miliar ke USD1,7 miliar atau naik 71%.

“Bayangkan ekonomi Eropa kuartal I/2017 ini tumbuh 2,1%, tapi di lain pihak ada CPO impor yang nilainya tumbuh 71% dan volumenya tumbuh 37%. Mereka pasti akan berusaha membuat barrier untuk melindungi komoditi lokal yang bersaing langsung,” tuturnya. Kasan menambahkan, Kemendag terus berupaya memperluas atau mendiversifikasi pasar ekspor bagi produk sawit Indonesia.

Selain pasar-pasar yang sudah dimasuki seperti Amerika Serikat, China, Pakistan, dan Bangladesh, Kemendag juga merambah ke pasarpasar nontradisional yang selama ini belum mengenal produk sawit Indonesia, antara lain, Afrika Selatan, Nigeria, Kenya, Mozambik, dan Tunisia. “Ini beberapa negara yang sudah ditargetkan untuk peningkatan akses pasar melalui perjanjian bilateral yang dipercepat. Beberapa kita harapkan selesai tahun ini atau tahun depan,” tandasnya.

Sementara itu, pada bagian lain, kunjungan Misi Dagang Kemendag ke Nigeria membuahkan hasil positif. Pelaku usaha Indonesia mengikat beberapa kerja sama perdagangan dan investasi dengan pelaku usaha Nigeria senilai USD21,1 juta. “Produk Indonesia banyak diminati pengusaha Nigeria. Lewat hubungan yang lebih kuat, diharapkan dapat menggenjot ekspor kita ke pasar Nigeria,” ujar Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, seusai menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pengusaha Indonesia dan Nigeria dalam rangka Forum Bisnis Indonesia-Nigeria di Eko Hotel, Lagos, Nigeria, Senin (24/7), seperti dikutip dari siaran pers Kemendag.

Penandatanganan MoU dilakukan antara PT Kareem International dan Asanita Investment Limited berupa pendirian pabrik Bio-Ethanol di Edo State, Nigeria, senilai USD20 juta serta Air Mancur dan Jeisjosh Pharmaceutical and Food Limited senilai USD1,1 juta berupa ekspor produk herbal selama satu tahun.

Sumber : Harian Seputar Indonesia

RI-Nigeria Jalin Misi Dagang

KUNJUNGAN misi dagang Kementerian Perdagangan ke Nigeria membuahkan hasil positif. Pelaku usaha Indonesia mengikat beberapa kerja sama perdagangan dan investasi dengan pelaku usaha Nigeria senilai US$21,1 juta. Demikian dikatakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita seusai menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara pengusaha Indonesia dan Nigeria dalam rangka Forum Bisnis Indonesia-Nigeria di Eko Hotel, Lagos, Nigeria. “Produk Indonesia banyak diminati pengusaha Nigeria. Lewat hubungan yang lebih kuat, diharapkan dapat menggenjot ekspor kita ke pasar Nigeria,” ucap Enggar dalam keterangan resmi, kemarin.

Penandatanganan MoU dila-kukan antara PT Kareem International dan Asanita Investment Limited berupa pendirian pabrik Bioetanol di Edo State, Nigeria, senilai USS20 juta, serta Air Mancur dan Jeisjosh Pharmaceutical and Food Limited senilai USS1.1 juta berupa ekspor produk herbal selama satu tahun.

Selain itu, dilakukan penandatanganan kerja sama antara Lembaga Pembiayaan Ekspor dan Impor (LPEI) dan Nigerian Eximbank (Nexim Bank) dalam pembiayaan, penjaminan, penukaran dagang, dan kerja sama bantuan teknis untuk mendorong transaksi perdagangan di antara kedua negara.

“Kerja sama antara LPEI dan NEXIM Bank dapat mendorong instrumen pembiayaan, jaminan, asuransi, dan perdagangan barter untuk meningkatkan transaksi antara Indonesia dan Nigeria.” jelas Enggar.

Forum Bisnis terlaksana atas kerja sama antara Ke-mendag. KBRI Abuja, dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Lagos. Forum itu dihadiri lebih dari 200 pelaku usaha Nigeria.

Sumber: Media Indonesia

Mendag Dorong Ekspor CPO ke Nigeria

 

JAKARTA -Pemerintah akan mendorong peningkatan ekspor minyak crude palm oiHCPO) atau minyak kelapa sawit ke Nigeria. Saat ini, Nigeria masih membatasi besaran impor produk tersebut dan mengenakan bea masuk tinggi mencapai 35 persen.

Menteri Perdagangan Engar-tiasto Lukita dalam kunjungan kerja ke Nigeria mengatakan, dirinya akan menemui Menteri Perindustrian Perdagangan dan Investasi Nigeria Okechukwu Enelamah dan melakukan pembicaraan terkait masalah tersebut. “Saya akan sampaikan saat pertemuan, pemerintah akan mencoba mencan jalan agar impor Nigeria naik dan ekspor CPO kita bisa meningkat,” kata Enggartiasto, di Lagos, Nigeria, Senin waktu setempat.

Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Nigeria tersebut, Enggartiasto menyempatkan diri untuk berkunjung ke PZ Wilmar yang merupakan pengguna bahan baku CPO berasal dari Indonesia. Saat ini, PZ Wilmar hanya menggunakan 32 persen dari total kapasitas produksi.

Perusahaan tersebut mengimpor kebutuhan bahan baku CPO sebanyak 80 persen dari Indonesia dengan total impor 8 ribu ton per bulan.

 

Sumber: Republika

Bulog Riau Kepri Segera Luncurkan Minyak Goreng Kita

PEKANBARU — Perum Bulog Divre Riau Kepri tengah bersiap untuk meluncurkan produk baru yakni Minyak Goreng Kita, atau minyak kemasan Bulog.

Humas Bulog Divre Riau Kepri Hendra Gunafi mengatakan produk ini akan diluncurkan secara nasional pada Agustus mendatang.

“Rencana peluncurannya bulan depan, nanti akan didistribusi secara nasional yaitu kemasan dengan nama Minyak Goreng Kita,” katanya kepada Bisnis, Senin (24/7/2017).

Hendra mengatakan selama ini Bulog memang sudah menjual minyak goreng kemasan, tetapi masih minyak dari produksi pihak ketiga.

Sebelumnya sudah ada produk kemasan Bulog seperti BerasKita, dan gula pasir ManisKita. Produk ini sudah dijual oleh Bulog dan juga distribusi melalui Rumah Pangan Kita.

Untuk melengkapi produknya, Bulog segera meluncurkan MinyakGorengKita, dengan kemasan 1 liter dan 2 liter.

“Setelah peluncuran nanti, penjualannya di Bulog dan tentu saja di Rumah Pangan Kita di Riau Kepri,” katanya.

Adapun harga jual nanti akan disesuaikan dengan penugasan Bulog pusat, tentunya di bawah harga pasar.

 

Sumber: Bisnis.com

Harga Bahan Baku Diusulkan Tetap

JAKARTA – Pemerintah tengah mencari mekanisme agar produsen minyak goreng mendapatkan bahan baku dengan harga tetap, sehingga dapat memenuhi kewajiban untuk memasok ke pasar domestik.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti mengatakan langkah tersebut untuk menjamin para pelaku usaha tidak merugi di tengah rencana penetapan domestic market obligation atau kewajiban pasok domestik minyak goreng kemasan sederhana.

“Paling tidak bahan baku minyak goreng tersedia dengan harga wajar sehingga produsen minyak goreng tidak rugi,” ujarnya saat ditemui Bisnis, akhir pekan kemarin.

Tjahya mengatakan sebelumnya Menteri Perdagangan telah meminta kepada Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mematok harga komoditas crude Palm Oil (CPO) yang digunakan sebagai bahan baku minyak goreng dengan harga tetap. Namun, permintaan tersebut dinilainya sulit untuk terealisasi.

“Sudah pernah diajukan tetapi sepertinya tidak bisa karena mekanisme [pembelian bahan baku] selama ini dilakukan dengan cara lelang,” imbuhnya.

Dia menambahkan saat ini pemerintah sudah mengantongi besaran persentase minyak goreng yang harus dipasok ke dalam negeri. Akan tetapi, pemerintah masih akan melakukan negoisasi dengan para produsen.

“Pemerintah sudah ada perhitungan persentase sendiri tetapi masih akan didiskusikan dengan pelaku usaha,” jelasnya.

Seperti diketahui, pemerintah akan mengeluarkan aturan yang mewajibkan para produsen untuk memasok minyak goreng kemasan sederhana ke dalam negeri. Tujuan dari kebijakan tersebut yakni untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyebut harga CPO global menunjukkan tren kenaikan pada Mei 2017 dibandingkan dengan April 2017. Harga bergerak pada kisaran US$695 per metrik ton hingga USS740 per metrik ton.

Pada Juni 2017, harga CPO global berada dalam tren penurunan dengan kisaran US$640 per metrik ton hinga US$725 per metrik ton. Sedangkan, pada dua pekan pertama Juli 2017, harga masih bergerak stagnan dibawah US$700 per metrik ton.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GLMNI) Sahat Sinaga sebelumnya mengatakan akan v meminta kompensasi kepada pemerintah terkait rencana kewajiban memasok minyak goreng kemasan sederhana ke dalam negeri.

Kompensasi, sambungnya, harus diberikan jika pemerintah ingin mematok harga minyak goreng tetap rendah. Hal tersebut untuk menutupi kerugian yang ditanggung oleh produsen ketika harga sawit dunia mengalami kenaikan.

“Kalau selama harga sawit rendah tidak masalah tetapi kalau harga sawit di pasar dunia tinggi? siapa yang mau jual [minyak goreng] dengan harga rendah?,” ujarnya.

Sahat menjelaskan saat ini memang persentase minyak yang dipasok oleh produsen ke dalam negeri masih terbilang kecil. Secara keseluruhan, penggunaan produk turunan minyak sawit untuk kebutuhan domestik hanya berkisar 20%.

“Ekspor masih lebih dominan dibandingkan dengan domestik. Oleh karena itu, harga akan tetap berkiblat kepada ekspor,” paparnya.

Salah satu poin penting, menurut Sahat, adalah pengawasan. Pasalnya, beberapa pedagang ada yang masih memainkan harga komoditas itu.

“Pengalaman yang lalu biarpun kita jual dengan harga di bawah pasaran tetapi pedagang jual mahal. Jadi, ini penting siapa yang mengawasi,” jelasnya.

m. nuirahdi pratomo

Sumber: Bisnis Indonesia

Acara Pertemuan Teknis Kelapa Sawit (PTKS) 2017

Acara Pertemuan Teknis Kelapa Sawit (PTKS) 2017 digelar Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) Medan di Hotel Best Western Premier, Solo Baru, Jawa Tengah, mulai tanggal 18 – 20 Juli 2017. PTKS ini adalah kegiatan rutin dua tahunan dan merupakan kegiatan yang dapat digunakan sebagai forum berbagi informasi dan teknologi terkini di bidang perkelapasawitan. Di acara itu tampil juga sejumlah pakar menjadi pembicara seperti mantan Menteri Pertanian Prof Bungaran Saragih, Mukti Sardjono (Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan), Direktur GIMNI Sahat M Sinaga, Ketua Dewan Pengawas BPDP-KS Rusman Heriawan, Bayu Krisnamurthi (Mantan Direktur BPDP-KS), Ahmad Haslan Saragih (Direktur PTPN4), dan Prof Rizaldi Boer (IPB).

Petani Labusel Mampu Selaraskan Sawit dengan Gambut

Medan. Lahan gambut yang dikelola dengan baik justru bisa memberikan manfaat yang baik pula bagi pengelolanya. Begitu juga dengan yang dilakukan para petani sawit di Teluk Panji, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), yang menanam sawit selaras di atas lahan gambut dan tidak merusak lingkungan gambut itu sendiri.
“Saya dan ribuan warga di Teluk Panji, Labusel, ini kan merupakan para transmigran di tahun 1980-an. Sejak kami menjadi peserta PIR-Trans di Labusel ini, kami kelola lahan gambut dengan baik, kami tanam sawit di atas lahan gambut, dan justru menghasilkan sawit yang bagus,” ujar Heri Susanto, seorang petani sawit dan Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Teluk Panji I.

Ia mengatakan hal itu saat dihubungi MedanBisnis, Rabu (19/7). Heri dan tiga orang sejawatnya saat ini berada di kota Solo, Jawa Tengah, untuk menjadi pembicara dalam acara Pertemuan Teknis Kelapa Sawit (PTKS) 2017 yang digelar Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) Medan di Hotel Best Western Premier, Solo Baru, Jawa Tengah, mulai tanggal 18 – 20 Juli 2017.

PTKS ini adalah kegiatan rutin dua tahunan dan merupakan kegiatan yang dapat digunakan sebagai forum berbagi informasi dan teknologi terkini di bidang perkelapasawitan.

Di acara itu tampil juga sejumlah pakar menjadi pembicara seperti mantan Menteri Pertanian Prof Bungaran Saragih, Mukti Sardjono (Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Lingkungan), Direktur GIMNI Sahat M Sinaga, Ketua Dewan Pengawas BPDP-KS Rusman Heriawan, Bayu Krisnamurthi (Mantan Direktur BPDP-KS), Ahmad Haslan Saragih (Direktur PTPN4), dan Prof Rizaldi Boer (IPB).

Heri memaparkan, apa yang mereka alami itu adalah pengalaman selama lebih 30 tahun. Sawit di atas lahan gambut yang mereka kelola itu, kini mampu membuat para petani naik haji dan mampu menguliahkan anak-anak mereka hingga meraih gelar sarjana kedokteran.

“Berkat sawit, kini ada 50 warga kami yang akan naik haji di tahun ini. Ini adalah rekor yang pantas masuk MURI,” ujar Heri.

Saat tampil sebagai pembicara di acara PTKS tersebut, ia mengungkapkan pihak-pihak yang membantu warga PIR-Trans. Seperti PT ABM (Abdi Budi Mulia) yang mengikuti peraturan pemerintah 100% soal pembinaan petani sawit peserta PIR Trans. “Kami digembleng dengan baik oleh PT ABM,” ujar Heri.

Pihak PT ABM membeli TBS milik petani PIR Trans dengan harga yang ditentukan pemerintah. Pihaknya juga dibina dan diberdayakan untuk membentuk KUD. Dan, kini KUD mereka mampu menghasilkan uang hingga miliaran rupiah dan mampu membayar pajak ke negara. Keseriusan PT ABM membina mereka direalisasikan dengan menunjuk salahsatu pejabat PT ABM, yakni H Syahrial Pane, untuk mendidik para petani sawit di Teluk Panji selama belasan tahun.

“Hal ini saya katakan langsung di hadapan ribuan peserta PTKS. Kebetulan Pak H Syahrial Pane duduk di depan. Kami merasa wajib mengatakan hal ini kepada publik sebagai penghargaan kami terhadap PT ABM dan Pak Syahrial Pane sendiri,” kata Heri.

Sayangnya, H Syahrial Pane saat dihubungi secara terpisah, tidak banyak memberikan komentar. “Ah, yang saya dan PT ABM lakukan murni untuk mendukung petani sekaligus mematuhi anjuran pemerintah agar membina petani sawit, tidak ada motif lain,” tegas Syahrial. (hendrik hutabarat)

Sumber: Medanbisnisdaily.com