,

RISIKO DI BALIK HARGA SAWIT

 

Pergerakan harga minyak Kelapa Sawit mentah (CPO) diperkirakan terus menguat hingga tahun depan. Namun di balik tren positif terhadap komoditas tersebut, terdapat risiko yang mengintai.

Harga minyak Kelapa Sawit mentah [crude palm oil/CPO) berhasil melanjutkan penguatannya menjelang pengujung tahun ini. Tren ini dinilai memberikan sentimen positif bagi komoditas andalan ekspor RI.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatif Exchange, harga CPO untuk pengiriman Februari 2021 pada Jumat (11/12), naik 4,00 poin dari hari sebelumnya ke level 3.407 ringgit Malaysia per ton.

Adapun, selama 6 bulan terakhir harga CPO terkerek 43,83% dan secara year-to-date (ytd) harga komoditas itu naik 11,5%.

Analis Central Capita Futures Wahyu Laksono memperkirakan, harga CPO berpeluang melanjutkan kenaikannya pada tahun depan. Dia memproyeksi harga CPO dapat mencapai level tertinggi di rentang 2.500- 3.800 ringgit Malaysia.

“Tetapi, area atau level gra-vitasional tetap di level 2.700-2.800 ringgit Malaysia,” kata Wahyu, belum lama ini.

Hanya saja, dia juga melihat kelangsungan ekonomi CPO sebagai biodiesel juga akan terancam apabila harga komoditas itu terus menguat.

Menurut Wahyu, ketika harga terus naik maka bisa memperburuk kelangsungan ekonomi biodiesel yang dapat mempengaruhi pemenuhan program biodiesel B30 Indonesia pada tahun depan.

Senada, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan, harga CPO yang terlampau tinggi dipandang bisa menjadi bumerang dan berdampak negatif bagi industri komoditas tersebut di Tanah Air.

Dia berpendapat harga yang terlampau tinggi bisa menggerus daya saing CPO di antara minyak nabati lainnya. Sebagaimana diketahui, CPO memegang pangsa minyak nabati terbesar dengan harga yang termurah.

“Memang harga sawit tinggi ini dinikmati petard dan industri dalam negeri, tetapi saya pribadi menilai bisa jadi bumerang. Harga tinggi tidak boleh dipertahankan karena bisa menggerus daya saing di pasar global,” ujar Sahat dalam sebuah webinar, Rabu (9/12).

Dia mencatat pasar CPO telah mencapai 33% dari total kebutuhan minyak nabati, yang disusul oleh minyak kedelai sebesar 25% dan minyak biji rapa 12%.

Guna memastikan harga berada di posisi stabil, Sahat menuturkan Indonesia sebagai produsen utama harus bisa menjaga pasokan CPO ke pasar global dengan volume yang ideal. Hal ini bisa dicapai dengan mengoptimalisasi konsumsi domestik.

“Untuk strategi jangka panjang yang paling bagus adalah meningkatkan konsumsi domestik mencapai 60% dari total produksi dan ekspor 40%, sehingga kita bisa menjadi price leader,” imbuhnya.

Porsi pasar ekspor masih mendominasi serapan produksi CPO Indonesia. Sahat memperkirakan volumenya mencapai 65% dari total produksi. Kondisi ini dinilainya tidak ideal dan membuat harga CPO tidak stabil karena pasokannya besar

Di sisi lain, Sahat pun mengatakan konsumsi minyak sawit dalam negeri akan meningkat pada tahun depan. Angkanya diproyeksi naik 14%, dari 17,29 juta ton pada 2020 menjadi 19,75 juta ton pada 2021.

Peningkatan konsumsi domestik bakal didorong oleh kenaikan kebutuhan sawit untuk pangan dan produk oleokimia yang masing-masing akan tumbuh 6% dan 25%.

Berlanjutnya mandatori bauran biodiesel pun diyakini menjamin peningkatan serapan domestik. Dengan demikian, persentase serapan domestik CPO pun akan meningkat menjadi 36% pada 2021.

“Peningkatannya itu adalah 7,3 juta ton berupa biodiesel menjadi 9,2 juta ton di 2021, dengan catatan B30 dan dananya cukup,” sebut Sahat.

KINERJA EKSPOR

Dari sisi ekspor CPO, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi kinerja ekspor CPO dan produk turunannya pada 2021 belum dapat kembali pulih.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono menjelaskan faktor yang mempengaruhi pasar ekspor, antara lain perbedaan situasi perekonomian berbagai negara tujuan ekspor, baik yang sudah mulai membaik maupun yang mengalami gelombang ketiga pandemi Covid-19.

“Dugaan saya, tahun depan itu mungkin belum 100% pulih untuk ekspor karena \’the new normal\’ itu mungkin akan terjadi beberapa perubahan perilaku dalam konsumsi,” paparnya dalam konferensi pers 16th Indonesian Palm Oil Conference and 2021 Price Outlook.

Meskipun pasar ekspor diprediksi belum pulih, Joko menyampaikan konsumsi pasar domestik masih menjadi keberuntungan bagi industri sawit.

Dia menilai pemerintah masih konsisten dalam merealisasikan mandatori biodiesel B30 yang menjadi andalan bagi pasar domestik, sehingga mampu menyeimbangkan pasokan dan permintaan minyak sawit.

Selain biodiesel, konsumsi oleochemical yang menjadi bahan baku pembersih, seperti disinfektan, sabun cuci tangan, hingga hand sanitizer meningkat signifikan. Hal ini seiring dengan diterapkannya protokol kesehatan.

“Secara keseluruhan, domestik naiknya hampir 3%. Yang menyebabkan naik itu biodiesel 27% dan oleochemical naiknya 49%, diduga faktor pembersih yang menggunakan bahan baku sawit,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Gapki, kinerja ekspor minyak sawit pada September 2020 mencapai 2,76 juta ton atau naik sekitar 3% dari Agustus, yang sebesar 2,68 juta ton. Kenaikan ekspor ini disebabkan mulainya pemulihan ekonomi di beberapa negara.

 

Sumber: Bisnis Indonesia