Sorgum dan Ketahanan Pangan di Perkebunan Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Perkebunan kelapa sawit dapat menjadi bagian dari ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan tanaman sela dalam kegiatan peremajaan sawit. Di atas lahan seluas 30 hektare, Kacuk Sumarto menanam sorgum di sela-sela tanaman sawit yang sedang diremajakan. Sorgum ditanam di Kebun Mendaris, Desa Laut Tador Kecamatan Tebingsyahbandar Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) merupakan inisiatif PT Paya Pinang bekerjasama dengan GAPKI Sumut serta tim peneliti.

“Sorgum ini dapat menjadi pilihan tanaman sela karena masa panennya sangat singkat. Sebenarnya sorgum ini telah dibudidayakan di Indonesia semenjak 1970,” ujar Kacuk Sumarto Presiden Direktur PT Paya Pinang dalam diskusi webinar bertemakan “Kemitraan Perusahaan Perkebunan dan Petani Sawit untuk Mendukung Ketahanan dan Kemandirian Pangan Nasional” yang diselenggarakan GAPKI Sumatera Utara dan GAPKI Aceh, Selasa (6 Oktober 2020).

Diskusi webinar ini dihadiri Musdhalifah Machmud (Deputi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian), Joko Supriyono (Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia/GAPKI), Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Edy Purnawan, dan M.Ferian (Plt. Direktur Kemitraan BPDP-KS)

Musdhalifah Machmud menyatakan perkebunan sawit dapat berkontribusi untuk membantu ketahanan pangan Indonesia. Selama ini,  kelapa sawit telah menjadi bagian dari sumber pangan bagi masyarakat Indonesia.

Di Indonesia, luas sorgum mencapai 15 ribu hektare yang tersebar di Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Edy Purnawan  memaparkan bahwa pengembangan diversifikasi pangan lokal berbasis kearifan lokal fokus kepada satu komoditas utama. Pangan lokal yang dimanfaatkan antara lain ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang dan sorgum. Sorgum termasuk dalam program bantuan benih pangan alternatif pada 2020 dengan alokasi 5 ribu hektar. Program ini diharapkan dapat melibatkan 250 kelompok tani dengan penyerapan tenaga kerja 15 ribu orang.

Dari pengalaman Kacuk, sorgum merupakan jenis tanaman yang layak ekonomis yang mempunyai karakter mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan secara khusus. Keuntungan lain menanam sorgum terdapat fungi mikorizaarbuscular (FMA) yang jumlahnya meningkat sangat banyak di tanah , sehingga dapat sementara disimpulkan bahwa penanaman sorgum ini sekaligus merupakan upaya untuk menahan atau mengurangi dampak serangan Ganoderma terhadap tanaman kelapa sawit.

Hasil Sorgum yang bisa diperoleh untuk tingkat petani adalah bijih sorgum, tepung sorgum, air nira sorgum, gula nira sorgum, biomasa pakan ternak atau arang bricket.

Dalam penutupan presentasinya, Kacuk menyebutkan bahwa moratorium sudah diikuti, Jaga hutan dengan benar. Yang sudah ada dimaksimalkan. Lalu, jangan sia-siakan sinar matahari gratis untuk bercocok tanam, selama masih ada lahan/tempatnya.

Dari pandangan Kacuk bahwa ketahanan  dan kemandirian pangan bukan keniscayaan. Lalu, kebun sawit (rakyat dan perusahaan) bisa menunjang ketahanan pangan, namun harus didukung dengan paying hukum yang aman. Dalam hal ini, petani  sawit bisa tambah sejahtera, melalui kemitraan. Oleh karena itu, perlu upaya promotif dan fasilitatif dari pemerintah untuk membentuk/membangun pasar (pada awalnya), untuk kemudian diserahkan kepada mekanisme pasar setelah terbentuk.

 

Sumber: Sawitindonesia.com