,

Tarif Ekspor CPO Naik, Tapi Biaya Ekspor Lebih Ringan

 

JAKARTA. Pemerintah agaknya tak mau melewatkan tingginya harga minyak sawit mentah atau crude Palm Oil (CPO) dan turunannya di pasar dunia. Oleh karena itu, pemerintah membuka keran ekspor sawit dengan menaikkan tarif bea ekspor atas produk CPO dan turunannya.

Ketentuan ini tertuang di Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 102/2022 yang dirilis Menteri Keuangan Sri Mulyani dan berlaku mulai 15 Juni sampai 31 Juli 2022 {lihat tabel). Harapannya, ekspor CPO dan turunannya yang sempat disetop bisa kembali digenjot, serta mendatangkan pemasukan bagi negara.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati (GIMNI) Sahat Sinaga menilai, meski tarif bea keluar (BK) ekspor CPO naik, secara rata- rata ongkos ekspor CPO lebih enteng. Ia mencontohkan, sebelumnya tarif bea ekspor CPO US$ 200 per metrik ton, dan kini naik jadi US$ 288 per metrik ton. Tapi pajak ekspor turun dari US$ 375 per metrik ton menjadi T \’S$ 200 per metrik ton. “Total biaya ekspor sekarang hanya US$ 488 per metrik ton dari sebelumnya US$ 575 per metrik ton,” katanya, Kamis (16/6).

Produsen Kelapa Sawit juga mengklaim sudah memenuhi kewajiban memasok pasar domestik sebesar 300.000 ton per bulan. Jadi ekspor CPO tidak berdampak ke pasokan dalam negeri.

Alhasil, dia menilai, kebijakan ini bisa meningkatkan produktivitas pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan mengoptimalkan hasil panen tandan buah segar (TBS) sawit petani. Apalagi ada kebijakan mengerek harga TBS jadi Rp 2.500 per kg dari saat ini Rp 1.800 per kg.

Persoalannya, pembukaan kembali ekspor CPO ini dilakukan pada saat harga minyak goreng masih tinggi. Menurut Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Reynaldi Sarijowan, kini harga minyak goreng curah di kisaran Rp 16.000-Rp 17.000 per liter. Ia berharap, pemerintah melibatkan BUMN dalam pendistribusiannya agar harga turun dan sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan Rp 14.000 per liter.

 

Sumber: Harian Kontan