Harga Crude Palm Oil (CPO) kembali mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan Rabu (11/3/2026). Penguatan ini terjadi setelah sehari sebelumnya harga CPO mengalami penurunan tajam. Kenaikan harga didorong oleh menguatnya harga minyak kedelai di pasar global serta rebound harga minyak mentah.
Dilansir dari Investor, berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives (BMD), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Maret 2026 naik 73 Ringgit Malaysia menjadi 4.385 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka April 2026 juga meningkat sebesar 73 Ringgit Malaysia menjadi 4.471 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak berjangka Mei 2026 naik 71 Ringgit Malaysia menjadi 4.499 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juni 2026 turut menguat 65 Ringgit Malaysia menjadi 4.493 Ringgit Malaysia per ton.
Untuk kontrak Juli 2026, harga naik 59 Ringgit Malaysia menjadi 4.471 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan kontrak Agustus 2026 menguat 56 Ringgit Malaysia menjadi 4.440 Ringgit Malaysia per ton.
Harga Minyak Kedelai dan CPO Global Ikut Menguat
Mengutip data TradingView, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade tercatat naik 3,11%. Sementara itu, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian Commodity Exchange juga menguat 0,68%, setelah sebelumnya sempat turun 0,19% pada perdagangan pagi.
Di bursa yang sama, harga CPO turut naik 0,51% setelah sebelumnya melemah 0,25%.
Pergerakan harga minyak sawit umumnya mengikuti tren minyak nabati lainnya, seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari, karena ketiganya bersaing dalam pasar minyak nabati global.
Rebound Minyak Mentah Dorong Permintaan Biodiesel
Kenaikan harga CPO juga didukung oleh rebound harga minyak mentah dunia. Pasar meragukan apakah rencana International Energy Agency (IEA) untuk melepas cadangan minyak dalam jumlah besar dapat mengimbangi potensi gangguan pasokan akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Lonjakan harga minyak mentah biasanya membuat minyak sawit semakin menarik sebagai bahan baku biodiesel, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan CPO.
Ekspor Sawit Malaysia Meningkat Tajam
Data dari perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–10 Maret melonjak 45,3% dibandingkan periode 1–10 Februari.
Sementara itu, lembaga survei kargo Intertek Testing Services mencatat kenaikan ekspor sebesar 37,9% pada periode yang sama.
Konflik Timur Tengah Pengaruhi Perdagangan
Kenaikan harga minyak nabati serta tarif pengiriman global juga membuat sejumlah pembeli, terutama dari India, memilih pengiriman cepat (prompt shipment). Langkah ini dilakukan untuk menghindari potensi keterlambatan pengiriman minyak kedelai dan minyak bunga matahari akibat konflik di Timur Tengah.
Di sisi lain, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut pesanan ekspor minyak sawit untuk pengiriman baru mulai melambat. Hal ini disebabkan meningkatnya biaya logistik dan asuransi setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran memicu ketidakpastian pasar.
Selain itu, Ringgit Malaysia yang digunakan dalam perdagangan kontrak CPO tercatat menguat 0,18% terhadap dolar AS. Penguatan mata uang ini membuat harga minyak sawit menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.