KUD Bangkit Usaha Makmur Dapat Bantuan Replanting Rp 21,5 Miliar

KUD Bangkit Usaha Makmur akan meremajakan lahan sawit seluas 857 hektare di Desa Bencah Kesuma, Kecamatan Kabun, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Jumlah anggota KUD yang terlibat sebanyak 372 Kepala Keluarga, dengan nilai bantuan sebesar Rp 21,5 miliar dari Badan  Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit.

Khoirum, Ketua KUD Bangkit Usaha Makmur, menjelaskan program PSR seluas 857 Ha dilaksanakan tiga tahap. Tahap pertama PSR seluas 447 Ha, tahap kedua seluas 410 Ha dan tahap ketiga 50,86 Ha.

Dijelaskan Khoirum, lahan yang diremajakan ikut program peremajaan sawit rakyat (PSR) melalui bantuan dana BPDP juga dan memakai sistem off-taker.

Sistem ini merupakan hasil kerjasama antara PT Rohul Sawit Industri (BGA Group) dengan KUD BUM, Perbankan dan Disbun setempat, dimana peran PT RSI selain sebagai Penampung buahnya, juga berkewajiban sebagai pendamping (mitra) dalam hal teknis Agronomi agar kebunnya dapat sesuai standar perkebunan, namun pengelolaan kebun tetap dilakukan secara mandiri oleh petani dan Koperasi.

“Ini merupakan anugerah bagi masyarakat, karena melakukan peremajaan (replanting) membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tanaman sawit petani di desa Bencah Kesuma ini pada umumnya telah berusia diatas 20 tahun, sehingga dipastikan produktivitasnya menurun. Para petani yang mendapatkan bantuan dana replanting dari BPDP ini menyambut program ini dengan suka cita, sekaligus dapat swa-kelola kebunnya.” Ujar Khoirum, Ketua KUD BUM saat dijumpai di kantornya.

Khoirum menambahkan, program PSR ini juga dibarengi dengan program tumpang sari tanaman jagung seluas 447 Ha. “Kami merekomendasikan peremajaan siklus kedua di KUD Bangkit Usaha Makmur bisa tumpang sari tanaman jagung tujuannya supaya petani mempunyai penghasilan alternatif,” ujarnya.

Program replanting terbesar di Provinsi Riau ini merupakan bantuan dana dari BPDP-KS yang difasilitasi oleh mitra petani setempat yakni PT Rohul Sawit Industri RSI–anak usaha BGA Group–dimana masing-masing petani mendapatkan Rp.25 Juta. Kemudian, berhubung petani setempat juga memiliki tabungan di koperasinya Rp 10 Juta. Maka dana yang dapat dimaksimalkan oleh setiap petani secara total berjumlah Rp35 juta. Dana tersebut cukup untuk membeli bibit unggul bersertifikat, pembelian pupuk dan lainnya.

 

Sumber: Sawitindonesia.com