Cara Mengendalikan Hama Ulat Penggerek Buah Kelapa Sawit (UPBKS) Tirathaba Sp

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Kendati terbilang minor, namun bila dibiarkan tanpa penanganan yang tepat bukan tidak mungkin  hama tersebut akan memberikan kerugian yang tak terbilang sedikit bagi perkebunan kelapa sawit, semisal hama Tirathaba Sp. Di beberapa lokasi seperti pada perkebunan kelapa sawit di lahan gambut dan berpasir Tirathaba merupakan hama penting.

Tirathaba Sp., menyerang hasil buah yang dihasilkan pohon kelapa sawit sehingga kerap disebut ulat pemakan buah kelapa sawit (UPBKS), sehingga tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan akan rusak dan hasil panen yang dihasilkan tidak maksimal. Selanjutnya, kerugian ekonomi bakal diterima pemilik kebun sawit, lantaran hasil panen TBS tidak mampu menghasilkan secara maksimal.

 

Semisal, hasil panen kebun sawit yang memiliki pokok tanaman berumur 5 tahun, biasanya mampu menghasilkan jumlah panen TBS sebesar 9,67 ton per hektar. Namun bila terserang Tirathaba Sp., maka hasil panen akan didapat, berkurang sampai dengan 50% dari seharusnya.

Jika diperhitungkan secara ekonomi, semisal harga jual TBS sebesar Rp 1.513/kg, maka potensi kerugian, bakalan menggerus hasil panen berkurang sebesar 20%. Sehingga besarnya potensi kerugian akan mengurangi pendapatan dari hasil penjualan TBS sekitar Rp 3 juta per hektar.

Bagi petani yang memiliki lahan kebun sawit sebesar 2 hektar per kavling, maka kerugian yang didapat sebesar Rp 6 juta per kavling. Sedangkan bagi perusahaan perkebunan kelapa sawit, semisal memiliki luasan kebun sawit sebesar 10 ribu hektar. Maka besaran kerugian yang akan diterima setiap tahunnya, dari berkurangnya pendapatan sebesar Rp 3 juta per hektar, atau sekitar Rp 30 miliar per 10 ribu hektar.

Melihat kalkulasi kerugian akibat  UPBKS / hama Tirathaba ini menimbulkan pertanyaan: Bagaimana penanggulangannya agar tidak merugikan lebih lanjut ?

Guna menekan potensi kerugian dari gambaran di atas, maka praktisi perkebunan harus mengenal hama Tirathaba dengan lebih baik, termasuk upaya pengendaliannya.

Sebagai informasi, hama Tirathaba memerlukan waktu selama 30 hari, dalam menyelesaikan satu siklus hidup (ngengat-telur-larva-pupa). Ngengat berwarna kehijauan (ciri T. mundella) atau putih (ciri T. rufivena) dan berasal dari telur yang keberadaannya terletak pada tandan buah sawit.

Siklus hidup ketika stadia Larva, merupakan fase paling kritis, karena fase inilah kerusakan tandan buah terjadi. Stadia Pupa berwarna coklat gelap, Tirathaba mulai menyerang saat tanaman muda dan dalam  banyak kasus ditemukan pada tanaman tua . Larva dapat ditemukan pada bunga betina, bunga jantan dan tandan buah. Bunga yang terserang akan mudah gugur dan pada  brondolan ditemukan bekas gerekan, mudah rontok  atau berkembang tanpa inti. Akibatnya fruitset buah sangat rendah.  Ciri serangan diantaranya adanya kotoran atau serat tanaman di sekitar tandan

Pengendalian hama UPBKS harus dilakukan secara tuntas tanpa membahayakan  serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicusBerkurangnya populasi  serangga penyerbuk dapat menyebabkan turunnya panen sampai dengan 30% (Prasetyo , 2013). Oleh karena itu diperlukan insektisida yang efektif mengendalikan sekaligus aman terhadap serangga bermanfaat. DiPel SC merupakan pilihan tepat untuk pengendalian UPBKS.

DiPel SC bekerja sebagai racun lambung dan merusak dinding usus sampai pecah. Akibatnya larva akan berhenti makan , dan akhirnya mati dalam waktu 2-3 hari. Aplikasi DiPel SC, memiliki kombinasi yang unik yang tidak membahayakan serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus sekaligus efektif untuk penanggulangan UPBKS. (T2)

 

 

Sumber: Infosawit.com

,

Jadikan Gula Cair Saja, Petani Tebu Akan Sejahtera

 

Sebetulnya, tidak sulit mengembalikan kejayaan gula Indonesia di masa lalu. Saat Indonesia masih disegani sebagai pengekspor gula terbesar kedua dunia, setelah Kuba.

“Bikin saja gula cair,” kata Ketua Masyarakat Hidrokarbon Indonesia, Sahat Sinaga, datar, saat berbincang dengan Gatra.com, kemarin.

Sesaat kemudian ayah tiga anak ini justru langsung tersenyum. “Kesannya gampang banget, ya?” jebolan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung ini malah bertanya.

“Begini, maksud saya, kalau pasar gula kita ini hanya untuk memenuhi pasar domestik, gula itu bisa dibikin dalam bentuk cair, tak perlu bentuk kristal. Tujuannya, pabrik gula tak perlu lagi menghabiskan duit sekitar 30%-35% dari Harga Pokok Produksi (HPP) untuk membikin gula kristal. Dengan begini, pabrik gula akan bisa membeli tebu petani lebih mahal dan bisa juga menjual gula lebih murah di pasaran,” Sahat mulai mengurai.

Kalau misalnya kata Sahat kebutuhan gula kristal Indonesia sekitar 6,950 juta ton setahun dengan harga pasar retail Rp12.170 perkilogram, ini berarti harga di pabrik sekitar Rp 8.130 per-kilogram, atau 67% dari harga pasar retail tadi.

Lantas, HPP gula kristal berkisar Rp 6.500 perkilogram maka laba pabrik penghasil gula kristal sekitar Rp1.630 perkilogram. Tapi kalau hanya berhenti sampai pada gula cair — tidak dijadikan gula kristal — maka akan terjadi penurunan HPP sekitar 30 %, antara Rp1.850-1980 perkilogram.

Pukul ratakan sajalah penurunan biaya produksi itu Rp1.900 perkilogram. Tadi konsumsi gula Indonesia 6,950 juta ton setahun. Dikali Rp1.900, maka ada Rp13,2 triliun duit yang bisa dihemat per tahun.

“Perkiraan biaya pembukaan lahan baru kebun tebu, dari buka lahan sampai dengan panen ratoon (tebu kepras) ke-1 mencapai Rp 50 juta-Rp66 juta perhektar. Ini berarti, duit yang dihemat tadi akan bisa membuka lahan kebun tebu baru seluas 200 – 227 ribu hektar pertahun, lapangan kerja baru muncul, duit masuk ke negara semakin besar, devisa mengimpor gula bisa ditekan ” katanya tertawa.

Dulu kata Sahat, Belanda membikin gula kristal lantaran 80% dari produksi gula dalam negeri diekspor ke negara sub tropis. Di negara sub tropis, gula kristal bisa tahan lama lantaran di sana uap air di udara (humidity) nya rendah.

“Ingat, gula itu bersifat hygroscopic (penghisap air). Kalau kita bikin gula kristal atau gula pasirlah bahasa awamnya untuk kebutuhan dalam negeri, ngapain? Pertama orang Indonesia itu enggak makan gula pasir. Kedua, humidity Indonesia itu antara 80-90%. Gula pasir enggak akan bisa bertahan lama lantaran langsung mengisap air. Kecuali disimpan di tempat kering,” ujarnya.

Jadi kata Sahat, kalau pemerintah membikin gula cair, penyelundupan akan bisa diminimalisir, harga gula cair ke konsumen lebih murah dan duit yang akan diinvestasikan di Pabrik Gula (PG) akan bisa ditekan lantaran tidak memerlukan unit proses kristalisasi yang mahal itu.

“Saya rasa apa yang saya bilang ini menjadi salah satu alternatif yang revolusioner sebagai upaya Pemerintahan Jokowi untuk mendongkrak pendapatan para petani tebu dan juga meningkatkan produksi gula Indonesia,” ujarnya.

Tapi Sahat menduga bisa jadi idenya itu akan membikin banyak orang tidak suka. Sebab akan mengganggu ‘dapur’ orang-orang yang sudah nyaman mengantongi duit komisi impor gula yang nilainya mencapai triliunan rupiah itu.

Soal komisi maupun untung impor yang dibilang Sahat ini ternyata dikupas juga oleh peneliti senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri, di laman faisalbasri.com, Kamis pekan lalu.

Lelaki 61 tahun ini menyebut bahwa dengan mengantongi surat sakti impor, pabrik gula rafinasi sudah mengantongi untung sekitar Rp2.200 perkilogram. Bayangkan berapa total untung yang didapat kalau impor tahun lalu mencapai 5,54 juta ton

Soalnya harga gula dunia memang jauh lebih rendah 4,4 kali lipat ketimbang harga gula di dalam negeri. Setidaknya kesenjangan dengan angka segitu terjadi pada April tahun lalu. “Ngapain pabrik buang-buang keringat kalau toh bisa dapat untung kayak gitu,” katanya.

Yang membikin masalah makin ribet kata ayah tiga anak ini, pemerintah telah mengada-ada membikin jenis gula. Kalau dunia hanya mengenal dua jenis gula — gula putih atau gula rafinasi dan gula mentah.

Nah di Indonesia, jenis gula justru ada tiga; gula mentah, Gula Kristal Putih (GKP) dan Gula Kristal Rafinasi (GKR) yang notabene sama dengan GKP. Yang membedakan hanya, GKP diproduksi oleh pabrik gula domestik sementara GKR diproduksi dari gula mentah yang diimpor.

“Pemerintah menciptakan dua pasar untuk produksi serupa. Dan ini dibunyikan di Peraturan Menteri Perindustrian nomor 3 tahun 2021. Di pasal 6 dibilang; perusahaan industri gula kristal rafinasi hanya boleh memproduksi gula kritasl rafinasi. Sebaliknya perusahaan industri gula berbasis tebu hanya boleh memproduksi gula kristal putih,” Faisal merinci.

“Kata para petinggi kementerian perindustrian, Permen itu bertujuan untuk menghindari rembesan. Lah, rembesan itu ada kan lantaran perlakuan pemerintah yang membedakan barang yang serupa. Mestinya pemerintah menciptakan satu pasar gula, bukan malah memisah-misahkan,” ujarnya.

 

Sumber: Gatra.com

,

Lewati Pekan II Mei 2021, Harga CPO Terus Melambung

 

Lewati Pekan II Mei 2021, Harga CPO Terus Melambung

Melewati pekan II Mei 2021, harga rata-rata minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada CIF Rotterdam basis tercatat menguat hingga 155 persen dari yang sebelumnya US$508 per MT atau setara dengan Rp7.391.100 (kurs Rp14.200) menjadi US$1.298 per MT atau setara dengan Rp18.431.600 per MT (kurs Rp14.200) dibandingkan periode yang sama secara y-o-y.

Jika dibandingkan pekan lalu, average price yang tercatat tersebut menguat 2,85 persen dari yang sebelumnya sebesar US$1.262 per MT atau setara dengan Rp17.920.400 per MT (kurs Rp14.200). Meskipun penyebaran pandemi Covid-19 masih masif di Indonesia, harga rata-rata CPO tersebut berada jauh di atas level harga potensial yang sebesar US$700 per MT. Tidak hanya itu, harga CPO saat ini juga membawa harapan baru terhadap harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

 

Kenaikan harga CPO turut dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak kedelai sebagai kompetitor terbesar CPO. Selain itu, Malaysia sebagai produsen CPO terbesar kedua di dunia, tengah kesulitan menghadapi masa panen karena kurangnya tenaga kerja pada operasional perkebunan. Kondisi ini berdampak pada ketatnya pasokan di negara-negara produsen sehingga turut mengangkat harga CPO.

Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga mengatakan, kenaikan harga CPO juga dipengaruhi kondisi dan situasi dalam negeri yakni terkait PMK Nomor 191/PMK.05/2020 tentang tarif pungutan ekspor sawit yang dikelola BPDPKS. Dengan PMK tersebut, industri hilir sawit nasional tumbuh positif sehingga daya saing produk hilir di pasar ekspor terus membaik. “Regulasi ini mendukung kebijakan hilirisasi sawit,” ujar Sahat.

Berdasarkan data Bank Dunia, rata-rata harga CPO dunia pada kuartal I-2021 mencapai US$1.014 per ton, naik 10,46 persen dibandingkan rata-rata kuartal IV-2020 yang sebesar US$918 per ton atau naik 39,86 persen dari rata-rata kuartal I-2020 yang sebesar US$725 per ton. Bank Dunia memperkirakan, rata-rata harga CPO sepanjang 2021 mencapai US$975 per ton atau naik 29,65 persen dari rata-rata sepanjang 2020 yang sebesar US$752 per ton.

Lebih lanjut Sahat mengatakan kenaikan harga CPO di pasar global akan berlangsung dalam jangka panjang. “Saya optimistis harga CPO tahun ini berada di posisi atas dan bisa booming lagi seperti 2011,” pungkasnya.

 

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

Program B30 Jaga Kestabilan Harga Sawit

 

ASOSIASI Petani kelapa sawit Indonesia (Apkasindo) menilai penerapan program Mandatori B30 (campuran biodiesel 30% dan 70% BBM jenis solar) sejak 1 Januari 2020 mampu menjaga kestabilan harga tandan buah segar (TBS) sawit petani.

Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat MP Manurung di Jakarta mengatakan, program pencampuran CPO ke BBM jenis solar sudah dicanangkan sejak 2008 melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 32/2008, dengan target BIO pada 2015, lalu meningkat menjadi B20.

Selanjutnya, secara resmi pada 23 Desember 2019 Presiden Joko Widodo meluncurkan program Mandatori B30 yang berlaku efektif per 1 Januari 2020 di seluruh SPBU Indonesia.

“Kebijakan mandatori biodiesel berdampak terhadap serapan sawit dan harga TBS petani, dan harga TBS penutupan sebelum libur Lebaran naik signifikan,” ujarnya.

Program Mandatori B30, lanjut Gulat, menjadi titik awal sejarah harga TBS di tingkat petani yang sangat terjaga. Indonesia pun tercatat sebagai negara pertama di dunia yang mengimplementasikan B30.

Menurut dia, implementasi B30 menciptakan double effect yang membuat dunia terpesona, yakni serapan domestik meningkat signifikan serta mengurangi impor solar sebesar bauran tersebut.

Gulat menyatakan ada lima faktor pendorong harga CPO dunia meningkat meskipun di saat yang bersamaan ekonomi global sedang melemah seiring pandemi covid-19. Pertama, tingginya serapan CPO domestik dengan B30 yang mencapai 7,226 juta ton CPO pada 2020 sehingga mengakibatkan kelangkaan CPO dunia.

Kedua, dunia tidak bisa lepas dari ketergantungan CPO Indonesia. Meski banyak negara sudah menjadi penghasil minyak nabati dari tanaman selain sawit, efisiensi ekonomisnya 9,8 kali lebih mahal jika dibandingkan dengan sawit (jika ditinjau dari penggunaan lahan).

Ketiga, tangki penimbunan CPO di negara-negara importir CPO Indonesia hanya terisi 30%-60% dari total kapasitas normalnya karena terjadi kelangkaan CPO dunia. Dengan demikian, permintaan komoditas tersebut akan terus melaju.

Keempat, terjadi penurunan aktivitas budi daya tanaman penghasil minyak nabati di Eropa dan negara penghasil minyak nabati lain (selain sawit) akibat pandemi covid-19. Kelima, negara importir CPO dari Indonesia mendatangkan CPO bukan hanya untuk kebutuhan konsumsi, melainkan juga untuk kebutuhan biodiesel, bahan bakar lainnya, dan resell (menjual kembali).

 

Sumber: Media Indonesia

Harga sawit di Riau melonjak dipicu kenaikan CPO di Malaysia

 

Harga sawit di Riau melonjak dipicu kenaikan CPO di Malaysia

Kantor Dinas Perkebunan Riau menyebutkan, harga sawit di Propinsi Riau dalam sepekan terakhir melonjak, dipicu kenaikan harga minyak sawit mentah (Crude PalmOil/CPO) di Malaysia.

“Setelah pada awal pekan diprediksi bakal terkoreksi seiring minimnya katalis dan sentimen kasus COVID-19 di India yang semakin memburuk, harga CPO malah berhasil melonjak tinggi sampai perdagangan Jumat (7/5),” kata Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran, Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Defris Hatmaja di Pekanbaru, Selasa.

Menurut dia, pada penutupan perdagangan Jumat (7/5), harga kontrak pengiriman Juli yang aktif ditransaksikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange melesat 5,03 persen ke RM 4.427/ton. Harga ini merupakan yang tertinggi setidaknya dalam 10 tahun terakhir.

Ia menyebutkan, dalam sepekan, harga kontrak (futures) CPO berhasil melonjak 14,45 persen dan kembali menembus level psikologis RM 4.000/ton.

Setelah langsung ‘tancap gas’ pada Senin (3/5), harga CPO tercatat satu kali melorot, yakni pada Selasa (4/5) di harga RM 4.042/ton. Setelah itu, harga minyak nabati ini terus menanjak selama tiga hari beruntun. Kenaikan harga CPO pekan ini didorong oleh sentimen positif seperti naiknya harga komoditas pertanian lain dan melesatnya harga minyak mentah.

Sementara itu faktor internal yang memicu naiknya harga TBS periode ini disebabkan oleh terjadinya kenaikkan harga jual CPO dan kernel dari beberapa perusahaan yang menjadi sumber data.

“Untuk harga jual CPO, dari PT PTPN V naik sebesar Rp318,40/Kg, PT. Sinar Mas Group naik Rp176,59/Kg, PT. Asian Agri Group naik sebesar Rp296,52/Kg, PT Citra Riau Sarana naik Rp327,80/Kg dari harga minggu lalu,” katanya.

Sedangkan untuk harga jual Kernel, PT. Asian Agri Group naik Rp. 80,00/Kg, PT. Citra Riau Sarana naik Rp104.18/Kg dari harga minggu lalu. No.19 periode 12 – 18 Mei 2021.

Harga tandan buah segar sawit Riau umur tiga tahun Rp1.900,34/kg, umur empat tahun Rp2.054,62/kg, umur lima tahun Rp2.241,44/kg, umur enam tahun Rp2.294,76/kg, umur tujuh tahun Rp2.384,32/kg, umur delapan tahun Rp2.449,72/kg, umur sembilan tahun Rp2.506,06/kg.

Berikutnya harga TBS sawit Riau umur 10-20 tahun Rp2.563,75/kg, umur 21 tahun Rp2.457,10/kg, umur 22 tahun Rp2.445,02/kg, umur 23 tahun Rp2.434,96/kg, umur 24 tahun Rp2.334,34/kg, umur 25 tahun Rp2.279,01/kg. Indeks K 90,32 persen, harga CPO Rp11.140,51/kg, dan harga kernel Rp7.428,96/kg.

 

Sumber: Antaranews.com

,

3 Asosiasi Hilir Sawit dan Forwatan Salurkan Bantuan ke 4 Yayasan

 

 

Suara.com – Tiga asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) bersama Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) memberikan bantuan kepada anak yatim piatu, lansia, dan penyandang disabilitas sebagai bentuk kepedulian di tengah pandemi dan menjelang hari raya Idul Fitri.

Bantuan diberikan kepada 4 yayasan diantaranya Wisma Tuna Ganda (Pekayon), Yayasan Cahaya Hati Gemilang (Meruyung, Depok), Yayasan Amal Fisabilillah (Pondok Ranggon), Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 (Cipayung). Bantuan yang diberikan berupa 250 paket sembako dalam bentuk uang tunai kepada yayasan tersebut.

Pemberian bantuan ini secara simbolis dilakukan di Wisma Tuna Ganda, Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Sebagai informasi, Wisma Tuna Ganda merawat 29 penyandang disabilitas. Sebagian besar mereka berasal dari keluarga kurang mampu dan adapula limpahan dinas sosial.

Penyerahan bantuan ini dihadiri perwakilan asosiasi antara lain Paulus Tjakrawan (Ketua Harian APROBI), Irma Rachmania (Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia), Rahayu Dwi Mampuni (Sekretariat APROBI), dan Dinna (Sekretariat APOLIN). Hadir pula pengurus dan anggota Forum Wartawan Pertanian.

Irma Rachmania Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menjelaskan bahwa kegiatan sosial ini perlu dijalankan setiap tahun karena memberikan dampak positif kepada masyarakat.

Bantuan ini menunjukkan kontribusi industri sawit di sektor hilir kepada masyarakat. Seperti diketahui, industri sawit seperti biodiesel punya peranan penting bagi negara dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Saya rasa kegiatan ini perlu dilakukan tiap tahun, karena selama dua tahun ini rutin dijalankan. Tadi saya juga dengar cerita Ibu Kristanti (red-Kepala Wisma Tuna Ganda) bahwa banyak anak-anak ini perlu bantuan dan yayasan ini sifatnya mandiri. Tahun depan kita akan list kembali sejumlah panti asuhan untuk mendapatkan bantuan dan kalau bisa cakupannya diperluas lagi,” jelasnya, ditulis Selasa (11/5/2021).

 

Dalam kesempatan tersebut, Kristanti, Kepala Wisma Tuna Ganda Palsigunung, menjelaskan bahwa terdapat 29 anak rawat di Wisma Tuna Ganda yang menyandang disabilitas lebih dari satu.

Penyandang disabilitas yang dirawat adapula yang telah berusia dewasa namun tetap memiliki mental seperti anak-anak. Sebagian besar mereka yang dirawat sudah tidak memiliki keluarga. Kendati demikian, pihak Wisma Tuna Ganda Palsigunung tetap merawat mereka sejak kecil sampai nanti tutup usia.

“Kami terus berkomitmen untuk mendampingi mereka. Di sini, ada 53 tenaga rawat yang akan mendampingi anak-anak selama satu hari penuh. Mereka bekerja terbagi dalam tiga shift yaitu pagi, siang, dan malam,” jelas Kristanti yang sudah 27 tahun menjadi pengelola panti.

Bernard Riedo Ketua Umum GIMNI, dalam kesempatan terpisah, menjelaskan dalam rangka bulan suci Ramadhan kiranya penyaluran bantuan ini dapat senantiasa membantu satu sama lain. Kegiatan ini rutin dijalankan setiap tahun.

“Harapan kami, kerjasama yang berjalan baik ini antara GIMNI, APROBI, dan APOLIN bersama Forum Wartawan Pertanian dapat terus ditingkatkan ke depannya,” harap Bernard.

Menurut Bernard, di saat kondisi pandemik covid-19 seperti saat ini, maka kegiatan harus dilakukan secara simbolik. Pastinya, aktivitas sosial penyaluran bantuan bagi penyandang disabilitas, yatim piatu, dan lansia, kiranya dapat bermanfaat.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum APOLIN, menjelaskan bahwa Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1442 H merupakan momentum yang sangat besar bagi umat Islam di Indonesia. Bulan dan Hari Raya ini sangat dinanti-nantikan oleh setiap lapisan masyarakat muslim karena memberikan suasana yang membahagiakan.

“Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga ini berbagi kebahagiaan yang menjadi menjadi bagian kehidupan masyarakat hingga sekarang. Budaya ini sangat baik sehingga perlu kita jaga bersama untuk saling berbagi. Atas dasar itulah, kami dari APOLIN, APROBI, GIMNI bersama Forum Wartawan Pertanian, turut berbagi momentum bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri di tahun ini,” urai Rapolo.

Yuwono Ibnu Nugroho, Ketua Forwatan, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tiga asosiasi hilir sawit (APROBI, GIMNI, dan APOLIN) yang mempercayakan penyaluran bantuan tersebut melalui Forwatan. Bantuan ini menunjukkan industri sawit tidak saja berkontribusi bagi negara melainkan memberikan perhatian bagus kepada masyarakat.

“Setelah penyerahan bantuan di Wisma Tuna Ganda ini, rekan-rekan Forwatan akan bergerak untuk menyalurkan bantuan di tiga yayasan lainnya. Melalui bantuan ini, harapan kami masyarakat tetap optimis dan imun tubuhnya tetap terjaga di kala pandemi. Apalagi, masyarakat muslim akan merayakan Idul Fitri di mana kami ingin berbagi kebahagiaan,” pungkasnya menutup pembicaraan.

 

 

Sumber: Suara.com

 

 

,

Forwatan dan Asosiasi Hilir Sawit Salurkan Bantuan Kepada Dhuafa

 

Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bersama tiga asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) memberikan bantuan kepada anak yatim piatu, lansia, dan penyandang disabilitas sebagai bentuk kepedulian di tengah pandemi dan menjelang hari raya Idul Fitri.

Bantuan diberikan kepada 4 yayasan diantaranya Wisma Tuna Ganda (Pekayon), Yayasan Cahaya Hati Gemilang (Meruyung, Depok), Yayasan Amal Fisabilillah (Pondok Ranggon), Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 (Cipayung). Bantuan yang diberikan berupa 250 paket sembako dalam bentuk uang tunai kepada yayasan tersebut.

Pemberian bantuan ini secara simbolis dilakukan di Wisma Tuna Ganda, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Minggu (9 Mei 2021). Sebagai informasi, Wisma Tuna Ganda merawat 29 penyandang disabilitas. Sebagian besar mereka berasal dari keluarga kurang mampu dan adapula limpahan dinas sosial.

Penyerahan bantuan ini dihadiri perwakilan asosiasi antara lain Paulus Tjakrawan (Ketua Harian APROBI), Irma Rachmania (Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia), Rahayu Dwi Mampuni (Sekretariat APROBI), dan Dinna (Sekretariat APOLIN). Hadir pula pengurus dan  anggota Forum Wartawan Pertanian.

Irma Rachmania Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menjelaskan bahwa kegiatan sosial ini perlu dijalankan setiap tahun karena memberikan dampak positif kepada masyarakat. Bantuan ini menunjukkan kontribusi industri sawit di sektor hilir kepada masyarakat. Seperti diketahui, industri sawit seperti biodiesel punya peranan penting bagi negara dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

”Saya rasa kegiatan ini perlu dilakukan tiap tahun, karena selama dua tahun ini rutin dijalankan. Tadi saya juga dengar cerita Ibu Kristanti (red-Kepala Wisma Tuna Ganda) bahwa  banyak anak-anak ini perlu bantuan dan yayasan ini sifatnya mandiri. Tahun depan kita akan list kembali sejumlah  panti asuhan untuk mendapatkan bantuan dan kalau bisa cakupannya diperluas lagi,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kristanti, Kepala Wisma Tuna Ganda Palsigunung, menjelaskan bahwa terdapat 29 anak rawat di Wisma Tuna Ganda yang menyandang disabilitas lebih dari satu. Penyandang disabilitas yang dirawat adapula yang telah berusia dewasa namun tetap memiliki mental seperti anak-anak. Sebagian besar mereka yang dirawat sudah tidak memiliki keluarga. Kendati demikian,  pihak Wisma Tuna Ganda Palsigunung tetap merawat mereka sejak kecil sampai nanti tutup usia.

“Kami terus berkomitmen untuk mendampingi mereka. Di sini, ada 53 tenaga rawat yang akan mendampingi anak-anak selama satu hari penuh. Mereka bekerja terbagi dalam tiga shift yaitu pagi, siang, dan malam,” jelas Kristanti yang sudah 27 tahun menjadi pengelola panti.

Bernard Riedo Ketua Umum GIMNI, dalam kesempatan terpisah,  menjelaskan dalam rangka bulan suci Ramadhan kiranya penyaluran bantuan ini  dapat senantiasa membantu satu sama lain. Kegiatan  ini rutin dijalankan setiap tahun.”Harapan kami, kerjasama yang berjalan baik ini antara GIMNI, APROBI, dan APOLIN bersama Forum Wartawan Pertanian dapat terus ditingkatkan ke depannya,” harap Bernard.

Menurut Bernard, di saat kondisi pandemik covid-19 seperti saat ini, maka kegiatan harus dilakukan secara simbolik. Pastinya, aktivitas sosial  penyaluran bantuan bagi penyandang disabilitas, yatim piatu, dan lansia, kiranya dapat bermanfaat.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum APOLIN, menjelaskan bahwa Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1442 H merupakan momentum yang sangat besar bagi umat Islam di Indonesia. Bulan dan Hari Raya ini sangat dinanti-nantikan oleh setiap lapisan masyarakat muslim karena memberikan suasana yang membahagiakan.

“Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga ini berbagi kebahagiaan yang menjadi menjadi bagian kehidupan masyarakat hingga sekarang. Budaya ini sangat baik sehingga perlu kita jaga bersama untuk saling berbagi. Atas dasar itulah, kami dari APOLIN, APROBI, GIMNI bersama Forum Wartawan Pertanian, turut berbagi momentum bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri  di tahun ini,” urai Rapolo.

Yuwono Ibnu Nugroho, Ketua Forwatan, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tiga asosiasi hilir sawit (APROBI, GIMNI, dan APOLIN) yang mempercayakan penyaluran bantuan tersebut melalui Forwatan. Bantuan ini menunjukkan industri sawit tidak saja berkontribusi bagi negara melainkan memberikan perhatian bagus kepada masyarakat.

“Setelah penyerahan bantuan di Wisma Tuna Ganda ini, rekan-rekan Forwatan akan bergerak untuk menyalurkan bantuan di tiga yayasan lainnya. Melalui bantuan ini, harapan kami masyarakat tetap optimis dan imun tubuhnya tetap terjaga di kala pandemi. Apalagi, masyarakat muslim akan merayakan Idul Fitri di mana kami ingin berbagi kebahagiaan,” pungkasnya.

 

 

Sumber: Majalahhortus.com

Forwatan dan Tiga Asosiasi Hilir Sawit Salurkan Bantuan ke Empat Yayasan

Forwatan dan Tiga Asosiasi Hilir Sawit Salurkan Bantuan ke Empat Yayasan - JPNN.com

 

Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bersama tiga asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) memberikan bantuan ke sejumlah yayasan.

Adapun yayasan yang menerima bantuan yakni Wisma Tuna Ganda (Pekayon), Yayasan Cahaya Hati Gemilang (Meruyung, Depok), Yayasan Amal Fisabilillah (Pondok Ranggon), Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 (Cipayung).

Irma Rachmania selaku Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi APROBI mengatakan, bantuan yang diberikan berupa 250 paket sembako dalam bentuk uang tunai kepada yayasan tersebut.

“Bantuan ini menunjukkan kontribusi industri sawit di sektor hilir kepada masyarakat. Seperti diketahui, industri sawit seperti biodiesel punya peranan penting bagi negara dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan,” kata Irma dalam siaran persnya, Senin (10/5).

Sementara itu, Kepala Wisma Tuna Ganda Palsigunung Kristanti menjelaskan bahwa terdapat 29 anak rawat di Wisma Tuna Ganda yang menyandang disabilitas lebih dari satu.

Penyandang disabilitas di sana ada yang telah berusia dewasa namun tetap memiliki mental seperti anak-anak. Sebagian besar mereka yang dirawat sudah tidak memiliki keluarga.

“Kami terus berkomitmen untuk mendampingi mereka. Di sini, ada 53 tenaga rawat yang akan mendampingi anak-anak selama satu hari penuh. Mereka bekerja terbagi dalam tiga shift yaitu pagi, siang, dan malam,” jelas Kristanti.

Ketua Umum GIMNI Bernard Riedo menjelaskan, pada Ramadan ini mereka senantiasa membantu satu sama lain. Kegiatan ini rutin dijalankan setiap tahun.

 

“Harapan kami, kerja sama yang berjalan baik ini antara GIMNI, APROBI, dan APOLIN bersama Forum Wartawan Pertanian dapat terus ditingkatkan ke depannya,” harap Bernard. (cuy/jpnn)

 

Sumber: Jpnn.com

 

,

Forwatan gandeng tiga asosiasi sawit salurkan bantuan ke 4 yayasan

 

 

JAKARTA, Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) bersama tiga asosiasi hilir kelapa sawit yaitu Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN) memberikan bantuan kepada anak yatim piatu, lansia, dan penyandang disabilitas sebagai bentuk kepedulian di tengah pandemi dan menjelang hari raya Idul Fitri.

Bantuan diberikan kepada 4 yayasan diantaranya Wisma Tuna Ganda (Pekayon), Yayasan Cahaya Hati Gemilang (Meruyung, Depok), Yayasan Amal Fisabilillah (Pondok Ranggon), Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 (Cipayung). Bantuan yang diberikan berupa 250 paket sembako dalam bentuk uang tunai kepada yayasan tersebut.

Pemberian bantuan ini secara simbolis dilakukan di Wisma Tuna Ganda, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Minggu (9 Mei 2021). Sebagai informasi, Wisma Tuna Ganda merawat 29 penyandang disabilitas. Sebagian besar mereka berasal dari keluarga kurang mampu dan adapula limpahan dinas sosial.

Penyerahan bantuan ini dihadiri perwakilan asosiasi antara lain Paulus Tjakrawan (Ketua Harian APROBI), Irma Rachmania (Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia), Rahayu Dwi Mampuni (Sekretariat APROBI), dan Dinna (Sekretariat APOLIN). Hadir pula pengurus dan  anggota Forum Wartawan Pertanian.

Irma Rachmania Ketua Bidang Pemasaran dan Promosi Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI) menjelaskan bahwa kegiatan sosial ini perlu dijalankan setiap tahun karena memberikan dampak positif kepada masyarakat. Bantuan ini menunjukkan kontribusi industri sawit di sektor hilir kepada masyarakat. Seperti diketahui, industri sawit seperti biodiesel punya peranan penting bagi negara dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

”Saya rasa kegiatan ini perlu dilakukan tiap tahun, karena selama dua tahun ini rutin dijalankan. Tadi saya juga dengar cerita Ibu Kristanti (red-Kepala Wisma Tuna Ganda) bahwa  banyak anak-anak ini perlu bantuan dan yayasan ini sifatnya mandiri. Tahun depan kita akan list kembali sejumlah  panti asuhan untuk mendapatkan bantuan dan kalau bisa cakupannya diperluas lagi,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kristanti, Kepala Wisma Tuna Ganda Palsigunung, menjelaskan bahwa terdapat 29 anak rawat di Wisma Tuna Ganda yang menyandang disabilitas lebih dari satu.

Penyandang disabilitas yang dirawat adapula yang telah berusia dewasa namun tetap memiliki mental seperti anak-anak. Sebagian besar mereka yang dirawat sudah tidak memiliki keluarga. Kendati demikian,  pihak Wisma Tuna Ganda Palsigunung tetap merawat mereka sejak kecil sampai nanti tutup usia.

“Kami terus berkomitmen untuk mendampingi mereka. Di sini, ada 53 tenaga rawat yang akan mendampingi anak-anak selama satu hari penuh. Mereka bekerja terbagi dalam tiga shift yaitu pagi, siang, dan malam,” jelas Kristanti yang sudah 27 tahun menjadi pengelola panti.

Bernard Riedo Ketua Umum GIMNI, dalam kesempatan terpisah,  menjelaskan dalam rangka bulan suci Ramadhan kiranya penyaluran bantuan ini  dapat senantiasa membantu satu sama lain. Kegiatan  ini rutin dijalankan setiap tahun.

”Harapan kami, kerjasama yang berjalan baik ini antara GIMNI, APROBI, dan APOLIN bersama Forum Wartawan Pertanian dapat terus ditingkatkan ke depannya,” harap Bernard.

 

Menurut Bernard, di saat kondisi pandemik covid-19 seperti saat ini, maka kegiatan harus dilakukan secara simbolik. Pastinya, aktivitas sosial  penyaluran bantuan bagi penyandang disabilitas, yatim piatu, dan lansia, kiranya dapat bermanfaat.

Rapolo Hutabarat, Ketua Umum APOLIN, menjelaskan bahwa Bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 1442 H merupakan momentum yang sangat besar bagi umat Islam di Indonesia. Bulan dan Hari Raya ini sangat dinanti-nantikan oleh setiap lapisan masyarakat muslim karena memberikan suasana yang membahagiakan.

“Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga ini berbagi kebahagiaan yang menjadi menjadi bagian kehidupan masyarakat hingga sekarang. Budaya ini sangat baik sehingga perlu kita jaga bersama untuk saling berbagi. Atas dasar itulah, kami dari APOLIN, APROBI, GIMNI bersama Forum Wartawan Pertanian, turut berbagi momentum bulan Suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri  di tahun ini,” urai Rapolo.

Yuwono Ibnu Nugroho, Ketua Forwatan, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tiga asosiasi hilir sawit (APROBI, GIMNI, dan APOLIN) yang mempercayakan penyaluran bantuan tersebut melalui Forwatan. Bantuan ini menunjukkan industri sawit tidak saja berkontribusi bagi negara melainkan memberikan perhatian bagus kepada masyarakat.

“Setelah penyerahan bantuan di Wisma Tuna Ganda ini, rekan-rekan Forwatan akan bergerak untuk menyalurkan bantuan di tiga yayasan lainnya. Melalui bantuan ini, harapan kami masyarakat tetap optimis dan imun tubuhnya tetap terjaga di kala pandemi. Apalagi, masyarakat muslim akan merayakan Idul Fitri di mana kami ingin berbagi kebahagiaan,” pungkasnya menutup pembicaraan.

 

Sumber: Kontan.co.id

,

Harga CPO Stabil Tinggi hingga Akhir Tahun

 

JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional diperkirakan stabil tinggi di atas US$ 1.000 per ton hingga akhir tahun ini. Selain dipengaruhi harga minyak kedelai, harga CPO yang stabil tinggi tersebut terjadi karena turunnya suplai dari Malaysia dan besarnya penyerapan Indonesia akan minyak sawit seiring bergairahnya industri hilir nasional.

Berdasarkan data Bank Du-nia, rata-rata harga CPO dunia pada kuartal 1-2021 mencapai US$ 1.014 per ton, naik 10,46% dari rata-rata kuartal IV-2020 yang sebesar US$ 918 per ton atau naik 39,86% dari rata-rata kuartal 1-2020 yang sebesar US$ 725 per ton. Bank Dunia memprediksikan rata-rata harga CPO sepanjang 2021 mencapai US$ 975 per ton atau naik 29,65% dari rata-rata sepanjang 2020 sebesar US$752 per ton.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) yang juga Pit Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga mengatakan, harga CPO akan terus mengalami kenaikan, harga komoditas perkebunan itu akan tetap stabil tinggi. “Kenaikan harga CPO di pasar global akan berlangsung dalam jangka panjang. Saya optimistis harga CPO tahun ini berada di posisi atas dan bisa booming lagi seperti 2011,” ujar dia ketika dihubungi Investor Daily di Jakarta, pekan lalu.

Kenaikan harga CPO dipengaruhi faktor eksternal, di antaranya harga minyak kedelai (soya bean oil/soya oil). Kompetitor CPO paling dominan di pasar global saat ini hanya itu, selama pandemi Covid-19 proses penanaman kedelai tidak optimal sehingga harganya turut mempengaruhi harga CPO. Selain itu, produsen CPO terbesar selain Indonesia yaitu Malaysia tengah kesulitan menghadapi masa panen, buruh banyak yang dikontrak dalam jangka pendek ditambah sebagian besar di antaranya banyak yang mengundurkan diri.

Untuk mengejar masa panen, kata Sahat, Malaysia sampai berusaha mencari tenaga kerja dari luar termasuk dari Indonesia. Estimasi produksi CPO Malaysia tahun ini hanya mencapai 18,20 juta ton dari yang biasanya 19,40 juta ton. “Produksi CPO Malaysia mengalami penurunan. Kondisi ini mempengaruhi harga CPO di pasar global tetap di posisi atas,” ungkap Sahat Sinaga.

Selain faktor eksternal, kenaikan harga CPO juga dipengaruhi kondisi dan situasi dalam negeri yakni PMK No 191/ PMK.05/2020 (tarif pungutan ekspor sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit). Dengan

PMK tersebut, industri hilir sawit nasional tumbuh positif sehingga daya saing produk hilir di pasar ekspor terus membaik. “Regulasi ini mendukung kebijakan hilirisasi sawit,” ujar Sahat.

Karena itu, GIMNI/DMSI meminta pemerintah untuk tetap mempertahankan PMK No 191/PMK.05/2020 tersebut karena bermanfaat untuk daya saing industri hilir sawit. Pemerintah hendaknya tidak terpengaruh usulan dari pihak-pihak tertentu, pemerintah harus tetap berkomitmen menjalankan PMK tersebut karena pengusaha hilir sawit telah merasakan dampaknya. “Aturan tersebut dikeluarkan pada waktu yang pas di saat harga CPO terus membaik, right policy in right time,” papar dia.

Menurut Sahat, sejak penerbitan PMK No 191/PMK.05/2020, ekspor Indonesia tidak hanya produk minyak mentah (CPO) tapi semakin didominasi produk sawit yang sudah diproses atau diolah sehingga nilai tambah yang diperoleh Indonesia semakin besar. Karena Indonesia lebih banyak mengekspor produk olahan CPO maka harga CPO di pasar global tetap stabil dan belum menunjukkan akan terjadinya penurunan. “Harga tandan buah segar (TBS) yang dinikmati petani juga relatif tinggi,” kata dia. Ekspor minyak sawit RI tahun ini diperkirakan 38,50 juta ton senilai US$ 31,20 miliar.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, harga rata-rata minyak sawit global pada Maret 2021 sebesar US$ 1.116 per ton (CIF Rotterdam) atau lebih tinggi US$ 21 (1,90%) dari Februari 2021. Kenaikan harga disebabkan banyaknya perubahan prediksi produksi oilseeds dan kenaikan produksi biodiesel dunia. Ketidakpastian tanam dan produksi oilseeds menyebabkan permintaan minyak sawit meningkat. “Indonesia mendapatkan keuntungan dari situasi ini karena produksinya tidak terganggu Covid-19 sehingga ekspor naik tajam,” ujar dia.

Kontrak Berjangka

Sementara itu, Hasan Zein Mahmud, mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (BJJ), mengatakan, harga CPO sudah naik 10 bulan berturut-turut dan memecahkan rekor harga tertinggi selama 10 tahun. Komoditas CPO hingga kini juga masih merupakan salah satu penopang utama ekspor dan ekonomi Indonesia. Dalam salah satu ulasannya, Hasan Zein mengatakan, kenaikan harga CPO diduga belum sepenuhnya dinikmati produsen komoditas tersebut

Dalam hipotesa Hasan Zein Mahmud, karena harga CPO cukup lama terjerambab maka ketika harga komoditas tersebut naik hingga di atas RM 3.000 per ton maka banyak produsen yang menjual CPO-nya dengan cara forward, penyerahan kemudian dengan harga ditetapkan di depan. “Akibatnya, kenaikan harga yang tajam tak lagi bisa mereka (produsen CPO) nikmati. Kecuali emiten yang masih ada sisa produksi di atas kontrak forward, sehingga bisa dijual di pasar spot. Sayangnya, saya tak memperoleh info tentang perusahaan mana saja yang melakukan penjualan forward, dan persentasenya,” kata Hasan Zein.

Karena itu, kata Hasan Zein, apabila hipotesa tersebut benar bahwa mayoritas produksi dijual secara forward maka sudah waktunya para produsen dan eksportir CPO untuk menggunakan kontrak berjangka (tradable futures) dan bukan forward. Kontrak berjangka, walau tetap berpotensi rugi bila tren bergerak ke arah berlawanan dari prediksi, bisa diakhiri setiap saat melalui mekanisme pasar.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia