RI Bidik Ekspor Produk Biomassa Cangkang Sawit ke Jepang

 

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu perluasan pasar ekspor untuk industri pengolahan kelapa sawit, seperti pengapalan produk biomassa cangkang sawit ke Negeri Sakura.

Pasalnya, produk turunan cangkang sawit asal Indonesia sangat diminati oleh pasar Jepang sebagai sumber energi primer yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

“Kami juga mendukung masuknya investasi di sektor industri hilir pengolahan cangkang sawit menjadi bahan bakar terbarukan dengan nilai kalori tinggi setelah komoditas tersebut diolah menjadi produk industri pellet biomassa dengan kerapatan energi yang lebih tinggi,” kata Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Eko SA Cahyanto, Jumat (30/9/2022).

 

Dia menerangkan, cangkang sawit merupakan biomassa potensial yang bisa diolah menjadi produk hilir.

Di Indonesia, potensi produksi cangkang sawit mencapai 11 juta ton per tahun, tetapi masih diekspor sekitar 3,5 juta ton per tahun dalam bentuk komoditas setengah jadi.

Sebagai salah satu bentuk tanggung jawab pembinaan atas sektor industri pengolahan biomassa kelapa sawit, Kemenperin melalui fasilitasi Atase Perindustrian KBRI Tokyo menginisiasi kegiatan forum bisnis di Tokyo.

Kegiatan ini mempertemukan para pelaku usaha cangkang sawit yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia (APCASI) dengan Japan Biomass Power Association (BPA).

Indonesia – Japan Business Forum on Sustainable Palm Oil Biomass Industry, terselenggara pada 26 September 2022 atas kolaborasi bersama Kementerian Perindustrian, ITPC Osaka, Atase Perdagangan, dan Atase Perindustrian KBRI Tokyo.

 

Sumber: Okezone.com

Membangun Ekonomi Santri Sawit

 

Keterlibatan santri dalam usaha pembibitan sawit menuai hasil positif. Melalui pendampingan intensif oleh APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia), para santri dan pesantren dapat belajar langsung untuk menjadi penangkar benih. Peluang keuntungan mencapaiRp 200 juta rupiah.

Wapres RI, KH. Ma’ruf Amin menepati janjinya kepada petani sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO). Akhir Juli lalu, pengurus APKASINDO berkesempatan untuk berdiskusi dan berbagi informasi kepada Wapres. Salah satunya adalah menyampaikan perkembangan program santri sawit di dua provinsi yaitu Riau dan Kalimantan Barat.

Dr. Gulat Manurung, MP, CIMA, Ketua Umum DPP APKASINDO, menjelaskan perkembangan terbaru program santri preneur sawit melalui kegiatan penyediaan bibit unggul siap tanam untuk program peremajaan sawit rakyat. Di Provinsi Riau, bibit yang ditangkar berasal dari Sinarmas (Damimas), PPKS Medan, Sampoerna Agro (Sriwijaya), dan Asian Agri (Topaz) yang jumlahnya saat ini sudah mencapai 100 ribu bibit dengan umur bertingkat.

Dijelaskan Gulat,  program santri preneur sawit diarahkan masuk usaha pembibitan dengan pertimbangan tingginya kebutuhan bibit. Riau sebagai provinsi terluas perkebunan sawit di Indonesia, yaitu 4,172 juta ha (25% dari total luas perkebunan sawit Indonesia, 16,38 juta ha). Dari luasan sawit di Riau inilah, ada potensi kebun yang harus diremajakan sekitar 780.000 hektare.

“Riau mendapatkan bantuan peremajaan sawit yang didanai oleh BPDP-KS untuk diremajakan melalui program PSR adalah seluas 11.400 hektar. Luas PSR yang didanai oleh BPDPKS ini membutuhkan bibit sawit hybrid sebanyak 1.824.000 bibit. Belum lagi peremajaan sawit yang dilakukan secara swadaya petani sawit dan korporasi diperkirakan tahun 2022 ini mencapai 26.000 ha dan membutuhkan bibit sawit hybrid sebanyak 4.160.000 bibit,” jelas Gulat.

Dengan demikian kebutuhan total bibit sawit hybrid di Riau tahun ini mencapai 5,984 juta bibit. Dari catatan APKASINDO (2021), kemampuan penangkar resmi bibit sawit di Riau tahun 2022 ini hanya menyediakan 1,2 juta bibit. Sisanya dipenuhi dengan membeli dari luar provinsi Riau atau dibeli dari penangkar tidak resmi.

Gulat mengatakan keuntungan dari pembibitan sawit sangat menjanjikan bagi santri dan pesantren. Jika harga jual 1 bibit sawit siap salur (umur 12 bulan) Rp.45.000/bibit dan modal per 1 bibit diketahui Rp25.000/bibit, maka keuntungan bersihnya mencapai Rp20.000/bibit. Dengan demikian jika melakukan pembibitan sawit sebanyak 10.000 bibit, diperkirakan keuntungannya sebesar Rp200 juta.

“Tentu usaha ini cukup produktif dilakukan oleh pondok pesantren yang lokasinya diperkebunan sawit. Apa lagi dalam penangkaran bibit sawit ini tidak dibutuhkan skill tinggi, semua orang bisa melakukannya asal kanada pendampingan. Disinilah peran APKSINDO dalam kegiatan pendampingan santri,” ujar Doktor lulusan Universitas Riau ini.

Keberhasilan APKASINDO mendampingi santri sawit inilah yang dipuji Wapres RI, K.H Ma’ruf Amin dalam kunjungan ke Pondok Pesantren Teknologi Kecamatan Siak Hulu, Desa Pangkalan Baru.

“Ini suatu kolaborasi menurut saya bagus sekali dan melibatkan santri. Ini kita memang ingin pesantren jadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat, baik ekonomi sektor keuangan, sektor riil, juga sektor produksi,” ucapnya.

Disamping itu, Wapres juga menyaksikan penyerahan secara simbolik oleh Gubernur Riau Syamsuar, sumbangan kecambah sawit sebanyak 10.000 kecambah hybrid kepada Pengelola Pondok Pesantren Teknologi Riau. Adapun sumbangan ini berasal dari Sinarmas sebanyak 5.000 kecambah (jenisDxPDamimas) dan Surya Dumai (DxP First Resources) sebanyak 5.000 kecambah. Kecambah ini akan ditangkar oleh Santri preneur dan kemudian akan disalurkan untuk program peremajaan sawit rakyat.

Lebih jauh Wapres mengungkapkan, kelapa sawit hanya tumbuh di Indonesia dan Malaysia. Untuk itu, potensi tersebut harus dimanfaatkan.

“Sawit ini hanya (tumbuh) di Indonesia dan Malaysia. Di negara lain tidak memiliki potensi ini. Tapi kalau ini tidak kita kembangkan dan terus kita inovasi-inovasi produknya tentu tidak memberikan manfaat dan kemaslahatan,” kata Wapres mengingatkan.

Pada kesempatan tersebut Wapres Ma’ruf Amin berharap pondok pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan islam, namun juga bisa menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Baik ekonomi yang menyangkut sekto rkeuangan maupun sektor riil dan juga sektor produksi. Ini harus menjadi semangat bersama, para santri dan masyarakat,” ujarnya.

Maruf berharap terobosan yang dilakukan oleh para santri Pondok Pesantren Teknologi Riau ini bisa menjadi contoh bagi santri lain di seluruh Indonesia. Tidak harus sawit, tapi para santri bisa mengembangkan sektor komoditas pertanian lainya sesuai dengan kecocokan daerah masing-masing.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Mantap! Minyak Sawit Indonesia Mengudara ke Lebih dari 45 Negara di Dunia

 

Warta Ekonomi, Jakarta –Kelapa sawit merupakan berkah bagi bangsa Indonesia. Permintaan dunia dan nasional akan minyak nabati terus meningkat untuk produk pangan, non pangan maupun energi. Minyak sawit mempunyai berbagai keunggulan dibandingkan minyak nabati lain, baik dari aspek keragaman produk yang dapat dihasilkan, aspek nutrisi, kesehatan, produktivitas, efisiensi maupun harga sehingga minyak sawit sangat kompetitif untuk memenuhi permintaan tersebut.

Dalam buku “Fakta Kelapa Sawit Indonesia” yang diterbitkan oleh Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) tahun 2010 lalu, mencatat fakta-fakta tentang kelapa sawit yang didasarkan hasil riset akademisi nasional hingga internasional.

 

1. Kontribusi CPO Indonesia terhadap dunia semakin meningkat dan berhasil mengungguli Malaysia menjadi produsen terbesar dunia sejak 2006. Data GAPKI mencatat, pada 2009, produksi CPO Indonesia mencapai 51,3 juta ton (Oil World, 2010).

2. CPO merupakan bahan baku bagi produk-produk turunan untuk industri pangan dan non pangan. Pengolahan CPO di refinery menghasilkan olein dan stearin dengan produk samping Palm Fatty Acid Distillate (PFAD). Olein dan stearin dapat diproses lebih lanjut menjadi produk pangan seperti minyak goreng, margarin, shortening fats maupun produk non pangan seperti sabun, lilin, deterjen dan kosmetik, sedangkan PFAD hanya untuk produk-produk non pangan (APOLIN & MAKSI, 2009).

3. Indonesia mengekspor CPO dan produk turunannya ke lebih dari 45 negara di dunia. Tercatat ada 9 konsumen terbesar CPO Indonesia yaitu India, Uni Eropa, China, Malaysia, Singapura, Bangladesh, Mesir, Pakistan dan Amerika Serikat (BPS, 2008).

4. Komposisi asam lemak jenuh dan tidak jenuh dalam minyak sawit sangat seimbang, sehingga sangat tepat menjadi bahan baku minyak goreng (Hariyadi, 2010).

 

5. Tandan buah segar sawit dapat diproses menjadi minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) di pabrik kelapa sawit (PKS). Sisa produksi seperti tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dapat diolah kembali menjadi berbagai produk biomassa, sedangkan limbah cair menghasilkan gas metana untuk bahan bakar gas dan sisanya dialirkan ke kebun sebagai pupuk

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

,

Indonesia dan Tantangan Industri Kelapa Sawit

 

Trubus.id — Industri kelapa sawit menjadi salah satu topik yang banyak diperbincangkan belakangan ini. Pembahasan topik kelapa sawit dinilai penting karena berhubungan dengan ketahanan pangan yang sekaligus menjadi prioritas riset nasional.

Menurut Prof. Dr. Jatna Supriatna, Kepala Unit Kerja Khusus (UKK) Lembaga Sains Terapan (LST) FMIPA UI, lebih dari 50% produksi minyak sawit dunia berasal dari Indonesia. Sayangnya, royalti untuk hasil riset kelapa sawit dari Indonesia sangat kecil. Hal ini karena mayoritas hak paten adalah milik asing.

“Ini merupakan tantangan. Kita harusnya bisa, sumber daya ada, sarana ada, ilmunya ada, tinggal kita satukan tim-tim kita. Kami dari LST mencoba untuk memfasilitasi ini,” kata Prof. Jatna, seperti dikutip dari laman Universitas Indonesia, saat acara MIPAtalk Series 9 bertajuk “Innovation in Palm Oil Industry Makes Indonesia Leads in Fulfilling the World’s Energy Crisis” pada Kamis (15/9) di Gedung Laboratorium Riset Multidisiplin FMIPA UI.

Apalagi, industri minyak sawit di Indonesia memiliki sejarah panjang sejak 1848. Kondisi alam Indonesia yang cocok dengan pohon sawit membuat sawit tumbuh subur di Indonesia.

Menurut Sahat M. Sinaga, M.T., Executive Director Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), industri sawit mengalami banyak tantangan dan perkembangan.

Tantangan di industri sawit berkaitan dengan dampak negatif terhadap alam dan kesehatan yang juga menjadi kekhawatiran global saat ini, sedangkan perkembangan sawit dapat dilihat terutama di bidang pengolahannya.

Pada umumnya, minyak sawit diolah melalui proses sterilisasi basah (wet-proccess) dengan menggunakan uap. Proses ini meninggalkan kadar chloride atau klorida tinggi di minyak sawit.

Sawit mentah dari Indonesia secara alami mengandung karotenoid (provitamin A), tocopheroldan tocotrienol (vitamin E), serta fitosterol (penurunan kolesterol). Akan tetapi, proses produksi atau pengolahan minyak nabati atau crude palm oil (CPO) konvensional dapat merusak kandungan-kandungan ini.

Oleh karena itu, diperlukan teknologi serta proses yang tepat untuk menjaga kandungan bermanfaat dari minyak sawit sehingga dapat menjadi nilai tambah bagi sawit.

Pada 2022, PT Nusantara Green Energi (NGE) bersama para peneliti memperkenalkan proses pengolahan minyak sawit melalui dry-process atau steamless di Batanghari, Jambi. Menurut Sahat, jika sterilisasi dihilangkan dan diganti dengan dry-process, minyak sawit akan lebih aman dan sehat.

Sawit tidak hanya bermanfaat sebagai minyak goreng dan bahan bakar alternatif, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk lainnya seperti kosmetik, parfum, detergen, cat, bahkan produk di bidang farmasi.

Sahat menekankan pentingnya pengolahan sawit menjadi produk yang dapat dimanfaatkan di berbagai bidang dan produk sampingan (by-product). Hal ini karena semakin banyak proses yang dilalui, semakin bertambah nilai barang tersebut.

“Makin kita kembangkan teknologi, inovasi produk, dan aplikasinya, kita dapat menambah nilai tambah hingga enam kali lipat. Begitu banyak potensi yang belum digarap dan digali dari sawit mulai dari hulu hingga ke hilir,” terangnya.

 

Sumber: Tribus.id

Kelapa Sawit Indonesia Miliki Prospek Menjanjikan

 

Makassar – Ekspor CPO Indonesia juga sangat besar. Pada saat komoditas lainnya turun, ekspor CPO Indonesia justru terus meningkat. Angkanya bahkan lebih dari US&500 triliun. Oleh karena itu, potensi besar kelapa sawit harus dimaksimalkan dari hulu ke hilirnya.

Di bagian hulunya, Kementerian Pertanian dapat mamaksimalkan produksinya dan Kementerian Perindustrian memaksimalkan hilirisasi agar seimbang pertumbuhan antara hulu dan hulurnya. “Dengan luas kebun kelapa sawit mencapai 16 juta hektare, ini potensi luar biasa. Kita ingin bukan hanya meningkat luasanya, tetapi juga produksinya dari rata-rata 3,6-4,0 ton per hektare, menjadi diatas 4,0 ton per hektare,” katanya.

Demikian disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Andi Akmal Pasluddin saat tampil menjadi pembicara kunci atau keynote speaker acara Bimbingan Teknis dan Expo Sawit Baik Indonesia 2022 di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 18 September 2022.

Bimbingan Teknis dan Expo Sawit Baik Indonesia 2022 dilaksanakan atas kerja sama antara Komisi IV DPR RI dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) selaku pendukung pendanaan.

Indonesia memiliki BPDPKS yang telah menghimpun dana cukup besar sekitar Rp230 triliun. Tugasnya sangat banyak dan yang terbesar adalah penguatan program biodiesel, yakni produk CPO dijadikan sebagai bahan campuran solar sampai 30% bahkan ke depan menjadi 40%. Dia menjelaskan selama pandemi Covid-19, kelapa sawit menjadi sektor ekonomi yang tahan banting dan memberikan sumbangan besar terhadap ekonomi Indonesia.

Sawit merupakan komoditas perkebunan yang sangat prospek dan ekonomis bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.  Saat ini sudah banyak program pengembangan kelapa sawit di Indonesia, salah satunya program peremajaan kelapa sawit melalui program PSR (Peremajaan Sawit Rakyat) yang dukungan dananya didiberikan oleh BPDPKS sebesar Rp40 juta.

Ketua Umum Aspekpir Setiyono mengatakan agar hasil pertanian kelapa sawit bagus, maka perkebunan kelapa sawit perlu dibangun kelembagaannya, baik kelembagaan petani, perusahaan maupun asosiasi, salah satunya pengembangan kelapa sawit dengan pola PIR (Perusahaan Inti Rakyat).

Kerja sama kelembagaan tersebut dilakukan karena kelapa sawit tidak bisa diolah sendiri oleh petani sehingga harus ada kelembagaan seperti koperasi petani kelapa sawit, perusahaan pengelolaan kelapa sawit dan asosiasi.

Seperti awal kelapa sawit berkembang di Indonesia merupakan perkebunan yang dibangun dengan pola kemitraan dengan perusahaan dan saat ini, sawit dengan pola PIR tersebar di 20 daerah.

Dengan keberhasilan pengembangan sawit dengan pola PIR, maka sejak krisis moneter tahun 1998 dan pekebun mendapatkan dampak yang sangat positif, ekonomi meningkat, maka masyarakat terdorong untuk mulai membangun kebun kelapa sawit secara swadaya.

Sulthan Muhammad Yusa, Oil Fund Management (BPDPKS), Ministry of Finance mengatakan komoditas kelapa sawit merupakan komoditas unggulan sehingga harus dijaga bersama. Dia menjelaskan kontribusi sawit terhadap perekonomian sangat besar. “Estimasi kontribusi penerimaan pajak dari industri kelapa sawit sendiri mencapai Rp20 Triliun per tahun,” kayanya.

Dia menjelaskan keunggulan kelapa sawit dari komoditas nabati lainnya. Setiap tahun demand dan supply minyak nabati global rata-rata tumbuh masing-masing di level 8,5 juta MT dan 8,2 juta MT. Sebagai komoditas yang paling produktif, minyak sawit berkontribusi rata-rata 42% dari total supply minyak nabati dunia.

Kelapa Sawit merupakan komoditas minyak dunia dengan produktivitas lahan yang paling baik dibandingkan minyak nabati lainnya. Sehingga kelapa sawit menjadi pilihan paling sustainable dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia yang semakin bertumbuh.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Prof Dr. Nasaruddin mengatakan kehadiran kelapa sawit telah memberikan kontribusi terhadap peluang dan lapangan kerja. Menciptakan pemerataan pembangunan, mengurangi angka kemiskinan di pedesaan  dan memberikan kepastian terhadap akses pengelolaan sumberdaya alam terutama lahan.

Terhadap lingkungan, katanya, kelapa sawit merupakan tanaman ideal yang mengkonversi CO2 secara ideal menjadi  biomas pada fotosintesis  (potosynthetically  active  radiation,  PAR) dan membersihkan udara dengan melepaskan oksigen (O2) ke atmosfir bumi.  Pada proses respirasi kelapa sawitjumlah  CO2 yang di lepas lebih rendah dibanding jumlah CO2 yang digunakan dalam proses  fotosintesis/asimilasi.

 

Sumber: Neraca.id

Impor Limbah Sawit Uni Eropa Meningkat

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Tatkala beberapa negara anggota Uni Eropa secara terang-terangan menghapus minyak sawit terlepas dari apakah itu berkontribusi pada target pencapaian energi terbarukan Uni Eropa. Sebagai gantinya, negera-negara tersebut meningkatkan permintaan bahan baku berbasis limbah seperti Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit dan minyak goreng bekas, ini terjadi lantaran  adanya skema kontribusi energi yang menarik.

Misalnya merujuk Global Trade Tracker (GTT), ekspor minyak goreng bekas Indonesia tercatat meningkat, jika pada Desember 2020 lalu hanya mencapai 16.600 ton, maka di Januari 2021 naik mejadi 17.400 ton. Sementara bila dibandingkan tahun lalu tercatat meningkat 27% atau ekspor minyak goreng bekas Januari 2020 hanya mencapai 12.700 ton.

Ini adalah level tertinggi sejak ekspor Oktober 2020 yang mampu mencapai 19.000 ton, lantas penjualan tercatat terus turun pada kuartal keempat tahun 2020, ini terjadi akibat banyak Negara yang menerapkan kebijakan lockdown untuk memutus pandemi Covid-19, pada akhirnya menurunkan kebutuhan domestik dan permintaan biodiesel di Uni Eropa.

 

Ekspor juga menjadi lesu menyusul tingginya biaya pengangkutan peti kemas yang meningkat empat kali lipat menjadi lebih dari US$200/ton ke barat laut Eropa karena kekurangan armada.

Sekadar catatan, total ekspor minyak goreng sawit bekas Januari 2021 sebanyak 7.600 ton dikirim ke Malaysia, 4.100 ton ke Belanda, 1.700 ton ke Korea Selatan dan 1.400 ton ke Singapura.

 

Kendati demikian ekspor minyak goreng bekas dan POME asal Indonesia sempat mengalami kesulitan setelah muculnya kebijakan untuk menyisihkan 20% untuk semua produk CPO yang di ekspor sesuai kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), pada awal 2022 lalu. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

UI-PT NGE Kerja Sama Riset SPO Cegah Stunting dan Malanutrisi:

 

UNIVERSITAS Indonesia (Ul) menjalin kerja sama dengan PT Nusantara Green Energy (PT NGE) untuk penelitian peningkatan nilai tambah steamless Palm Oil (SPO) untuk pencegahan stunting dan kekurangan gizi (malanutrisi). Kerja sama dengan PT NGE dilakukan melalui Unit Kerja Khusus Lembaga Sains Terapan (UKK LST) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Direktur Utama PT NGE Sahat M Sinaga menjabarkan, kerja sama ini sangat penting mengingat Ul memiliki fakultas yang amat lengkap yang dibutuhkan oleh pihaknya.

“Kerjasama dengan Ul sangat penting karena di sini lengkap dengan fakultas yang ada. Kita membuat sejarah sekarang,” kata dia.

Di tempat yang sama, Komisaris Utama PTNGE Bambang Brodjonegoro menambahkan, SPO akan memudahkan petani sawit mengolah tandan buah segar (TBS). Bahkan mesinnya juga dapat dimiliki para petani sawit melalui koperasi.

“Mesin lebih kecil dan lebih fleksibel. Lokasi jauh lebih dekat dengan kebun milik rakyat sehingga biaya transportasi bisa menurun dengan signifikan,” katanya.

Wakil Rektor Ul Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Abdul Haris mengatakan pihaknya sangat mendukung kerja sama ini. Kerja sama dengan industri diperlukan untuk terus mengembangkan riset dan penelitian.

“Ul sangat mendukung dengan karya inovasi yang dilakukan para peneliti Ul, dan Ul juga selalu kerja sama dengan semua kalangan, salah satunya dengan industri. Itu kenapa pada hari ini kita melakukan penandatanganan kerja sama antara riset pengembangan SPO tadi dengan PT NGE,” pungkasnya.

 

Sumber: Media Indonesia

,

Kembangkan Minyak Bergizi Tinggi

 

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) serta PT Nusantara Green Energy (NGE) melakukan kerja sama dalam penelitian pengembangan nilai tambah, steamless /Mlm oil (SPO) sebagai minyak bergizi tinggi. Mengandung zat fitonutrien alami untuk kesehatan tubuh dan pencegahan stunting serta kekurangan gizi (malanutrisi).

Wakil Rektor Ul Abdul Haris menyampaikan, Ul terbuka untuk melakukan kerja sama dengan semua kalangan. Termasuk dengan pihak industri yang memiliki keseriusan untuk mengembangkan inovasi baru.

“Ul mendukung karya-karya inovasi yang dilakukan para peneliti Ul. Ul juga selalu kerja sama dengan semua kalangan, salah satunya dengan industri. Itu kenapa hari ini (kemarin) kami melakukan penandatanganan kerja sama,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT NGE Sahat M. Sinaga menerangkan bahwa apa yang dilakukan pihaknya bersama Ul merupakan hal penting. Sebab, dengan sumber daya yang ada, inovasi peningkatan kualitas minyak sawit bisa dilaksanakan secara efektif.

“Kerja sama sangat penting karena di sini lengkap dengan fakultas yang ada,” jelasnya.

Program kerja sama tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan tarafhidup petani sawit Sebab, sistem pengelolaannya dilakukan dengan mesin yang lebih kecil dan fleksibel.

“Jadi, lokasi yang jauh lebih dekat dengan kebun milik rakyat sehingga biaya transportasi bisa menurun,” katanya.

Selanjutnya, pihaknya juga berusaha mempertahankan kandungan nutrisi alami pada minyak sawit dengan mengembangkan teknologi SPOT (steamless Palm Oil technology) dan IRU {impurities removable unit) yang mengolah buah sawit menjadi minyak makan bemutrisi tinggi,

 

Sumber: Jawa Pos

DPR: Kelapa Sawit Berkontribusi Luas Bagi Perekonomian Indonesia

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  – Kelapa sawit kini menjelma menjadi salah satu komoditas  perkebunan yang mempunyai peranan penting bagi perekonomian Indonesia terutama dalam menghasilkan devisa.

Sawit juga dinilai banyak menyerap tenaga kerja.

“Mulai dari penyerapan tenaga kerja, peningkatan kesejahteraan rakyat, pengembangan wilayah, alih teknologi, aliran masuk investasi hingga kontribusinya sebagai salah satu kekuatan andalan dalam penerimaan pendapatan pemerintah daerah dan pusat,” kata H. Johan Rosihan, S.T, anggota Komisi IV DPR.

Dia menyampaikan pandangannya tersebut pada acara Bimbingan Teknis dan Expo Sawit Baik 2022 di Sumbawa Besar yang diselenggarakan Jaringan Indonesia Muda (JIM) bersama Komisi IV DPR RI dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) belum lama ini.

Rosihan menjelaskan, kesinambungan produksi kelapa sawit Indonesia sangat menjanjikan.

Dia mengatakan, sejak 2006, Indonesia telah menjadi penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, yang memiliki peranan penting dalam memasok dan memenuhi permintaan minyak nabati di tingkat global.

Permintaan kelapa sawit global terus meningkat walaupun dalam kondisi adanya kampanye negatif terhadap produk minyak sawit atau CPO maupun produk-produk turunannya.

Dari sisi penawaran, ketersediaan lahan, tenaga kerja dan teknologi budi daya juga sangat mendukung.

Dia menjelaskan, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit melalui industri pengolahan turunan kelapa sawit, baik dilihat dari sisi permintaan pasar maupun penawarannya.

Kelapa sawit sendiri menyandang status sebagai tanaman penghasil minyak nabati tertinggi.

Per hektar lahan kebunnya mampu memproduksi lebih banyak minyak dibandingkan minyak nabati lain.

Menurutnya, industri kelapa sawit memenuhi kriteria sebagai industri unggulan yang pantas untuk dikembangkan lebih luas lagi, dari mulai hulu hingga ke hilir.

Apalagi kelapa sawit mempunyai kemampuan menghasilkan minyak nabati yang banyak dibutuhkan oleh sektor industri pengolahan.

Sifatnya yang tahan oksidasi dengan tekanan tinggi dan kemampuannya melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, serta daya melapis yang tinggi membuat minyak kelapa sawit dapat digunakan untuk beragam peruntukan.

Diantaranya, untuk minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar biodiesel.

Dari sisi permintaan, di dalam negeri produk kelapa sawit selain dapat memenuhi kebutuhan pokok pangan dan non-pangan, juga menjadi produk substitusi impor untuk berbagai kebutuhan pokok.

Sedangkan di luar negeri, data ekspor CPO atau minyak sawit mentah, memperlihatkan kecenderungan peningkatan daya serap yang relatif tinggi, seiring dengan meningkatnya konsumsi minyak nabati dunia.

Beliau mengakhiri dengan berharap kegiatan ini bisa jadi diskursus kebijakan sawit nasional.

Ketua Umum Asosiasi Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Setiyono mengatakan pada awalnya kebun kelapa sawit hanya diusahakan oleh dunia usaha.

Sampai tahun 1979 luas kebun sawit  rakyat sekitar 3.125 Ha, dan perkebunan besar 257.939 Ha. Kemudian, perkebunan kelapa sawit dikembangkan dengan pola kemitraan atau PIR.

Dengan keberhasilan PIR Kelapa Sawit, maka sejak krisis moneter tahun 1998, pekebun mendapatkan dampak yang sangat positif ekonomi meningkat sehingga masyarakat mulai membangun kebun secara swadaya.

 

Sumber: Tribunnews.com

Konsumsi Minyak Sawit Filipina Terus Meningkat, Ada Apa?

Warta Ekonomi, Jakarta – Minyak sawit merupakan minyak nabati utama yang dikonsumsi masyarakat Filipina. Selama 2021, kontribusi minyak sawit yakni sekitar 76,7 persen dari total minyak dan lemak Filipina yang dikonsumsi selama 2021. Dengan jumlah penduduk mencapai 115 juta orang, konsumsi minyak dan lemak Filipina sebanyak 1,7 juta MT pada tahun 2021, meningkat 41.000 ton atau naik sekitar 2,5 persen dibandingkan tahun 2020.

Tren konsumsi minyak sawit di Filipina terus bertumbuh dengan pertumbuhan rata-rata per tahun (CAGR) sebesar 2,9 persen sejak 2017. Tumbuhnya konsumsi minyak dan lemak didorong berkembangnya sektor makanan dan minuman.

 

Catat Rina Mariati Gustam dari Malaysian Palm Oil Council (MPOC), biasanya minyak sawit digunakan untuk keperluan rumah tangga, sektor jasa makanan, dan industri pengolahan makanan. Permintaan minyak sawit di Filipina diperkirakan akan menunjukkan tren yang meningkat di masa depan khususnya sektor jasa makanan karena sektor tersebut merupakan salah satu konsumen utama minyak sawit di Filipina.

RBD palm olein ialah minyak goreng populer yang memiliki masa simpan lebih lama untuk barang jadi dan ketahanan yang baik terhadap oksidasi dan pembentukan produk pengurai pada suhu penggorengan.

“Ini banyak digunakan sebagai minyak goreng di Filipina di berbagai sektor, terutama di sektor jasa makanan,” catat Mariati Gustam, dilansir dari laman InfoSAWIT pada Senin (26/9).

 

Lantas, lima pemain jasa makanan teratas di Filipina berasal dari segmen restoran cepat saji. Jollibee merupakan salah satu restoran cepat saji terkemuka di Filipina, dengan sekitar 1.400 restoran di seluruh negeri. Minyak sawit banyak digunakan di segmen restoran cepat saji.

 

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id