1.309 Petani Sawit di Sumsel Telah Tersertifikat Minyak Sawit Berkelanjutan RSPO

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Dikatakan  Chief Operation Officer (COO), Roudtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Bakhtiar Talhah, hingga per Februari 2021, terdapat sekitar 10 kelompok pekebun sawit swadaya di Sumsel yang melibatkan 1.309 petani, dengan luas lahan sekitar 4.914 ha, yang telah memperoleh sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Dengan jumlah tersebut dan dengan terbentuknya asosiasi baru yang bermitra dengan Hindoli, maka selama dua tahun kedepan, wilayah ini akan menjadi pelopor utama dalam menerapkan praktik kelapa sawit berkelanjutan,” katanya saat Deklarasi terbentuknya Asosiasi Pekebun Swadaya Mitra Hindoli, pada akhir Maret 2021 lalu, yang dihadiri InfoSAWIT.

Lebih lanjut tutur Bakhtiar, langkah ini sejalan dengan strategi RSPO untuk petani sawit anggota, guna membawa sebanyak mungkin petani sawit swadaya masuk ke RSPO.

Sebelumya RSPO telah membuat skim sertifikasi untuk pekebun sawit swadaya di 2017, ini adalah pihak ketiga yang telah menerapkan standar praktik untuk petani. Kita akan terus dorong peningkatan permintaan pasar sesuai sistem di RSPO, kendati diakui sistem ini masih butuh perbaikan.

Bakhtiar mengakui, masih ada masalah ditingkat petani, supaya buah sawit petani bisa dibeli dan diangkut ke Uni Eropa, namun demikian sistem belum begitu lancar. Kedepan perlu ada suatu sistem dari kelompok petani Indonesia bekerjasama lebih baik dengan konsumen di Uni Eropa dan Amerika.

“Kedepan juga kita sedang coba untuk beberapa skim, dan dari diskusi yang telah dilakukan sepakat bahwa sistem tersebut butuh untuk disempurnakan, guna mendorong lebih banyak lagi buah sawit petani diserap pasar,” katanya. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Mendorong Buah Sawit Petani Bersertifikat Berkelanjutan Diserap Pasar

 

Kami dari Rundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) mengapresiasi atas terbentuknya Asosiasi Pekebun Mitra Hidoli dan berharap asosiasi ini bisa menjadi tempat belajar bagi para petani dalam mengelola perkebunan kelapa sawit dengan cara-cara terbaik, sekaligus menjadi organisasi yang kuat. Termasuk apresiasi kepada Cargill atas dukungannya kepada para pekebun sawit swadaya sehingga pekebun sawit swadaya  Hindoli bisa bergabung.

Salah satu tujuan Asosiasi ini adalah mengimplementasikan minyak sawit berkelanjutan RSPO dan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), ini adalah kabar yang baik. Sebagai informasi Sumatera Selatan (Sumsel) menjadi salah satu wilayah yang memiliki pekebun sawit swadaya bersertifikat RSPO cukup signifikan.

Per Februari 2021, terdapat sekitar 10 kelompok pekebun sawit swadaya di Sumsel melibatkan 1.309 petani, dengan luas lahan sekitar 4.914 ha. Dengan jumlah tersebut dan dengan terbentuknya asosiasi ini maka selama dua tahun kedepan akan, wilayah ini akan menjadi pelopor utama dalam menerapkan praktik kelapa sawit berkelanjutan.

Ini sejalan dengan strategi RSPO untuk petani anggota, guna membawa sebanyak mungkin petani sawit swadaya masuk ke RSPO.

Sebelumya RSPO telah membuat skim sertifikasi untuk pekebun sawit swadaya di 2017, ini adalah pihak ketiga yang telah menerapkan standar praktik untuk petani. Kita akan terus dorong peningkatan permintaan pasar sesuai sistem di RSPO, kendati diakui sistem ini masih butuh perbaikan.

 

Sumber: Infosawit.com

,

Menggoreng pun Tak Boleh Asal, Ada Caranya

 

Medan, Elaeis.co – Masyarakat Indonesia dikenal suka dengan beragam jenis gorengan. Namun tidak banyak yang tahu kalau menggoreng makanan pun ada tekniknya, ada caranya.

“Enggak sembarangan menggoreng. Umumnya masyarakat kita kalau menggoreng selalu menuangkan minyak goreng lumayan banyak. Agar bahan makanan yang mau digoreng tenggelam, bisa digoreng sekaligus atas dan bawah,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, dalam sebuah webinar yang diselenggarakan PASPI dan Himpunan Mahasiswa Pertanian Universitas Diponegoro, Jawa Tengah, Sabtu (24/7) lalu.

Ternyata kebiasaan itu salah. Sebab, kata Sahat, selain boros minyak goreng, juga membuang banyak kandungan gizi di makanan dan minyak goreng.

Hal itu ia ketahui beberapa tahun yang lalu saat berkunjung ke Eropa dan berjumpa dengan sejumlah chef atau juru masak. “Dari mereka saya tahu bagaimana teknik menggoreng yang tepat,” kata Sahat.

Menurutnya, menggoreng yang benar itu adalah menggunakan minyak goreng yang secukupnya, sesuai dengan volume bahan makanan yang mau digoreng.

“Enggak perlu sampai tenggelam di dalam minyak goreng bahan masakannya. Dengan suhu api yang pas, menggorengnya pun enggak usah terlalu lama. Kalau dirasa sudah cukup, ya angkat gorengannya,” kata Sahat.

Pada kesempatan itu Sahat mengingatkan penyuka gorengan pinggir jalan agar berhati-hati dengan maraknya penggunaan minyak jelantah.

“Kalau di Jakarta itu ada daerah namanya Pacenongan. Banyak sekali di situ usaha kuliner gorengan, tapi enggak tahu kita apakah minyak yang dipakai minyak yang baru atau minyak jelantah,” katanya.

Ia menegaskan minyak jelantah adalah racun. “Tapi di Indonesia ini lain, makin disebut racun, makin laris,” sindirnya.

Ia berharap ada regulasi yang bisa mengatasi peredaran minyak jelantah yang sangat membahayakan kesehatan tersebut.

“Minyak jelantah itu cocoknya untuk biodiesel, bukan untuk dipakai kembali untuk menggoreng. Harus ada regulasi yang secara ketat mengatur hal ini,” tegasnya.

 

 

Sumber: Elaeis.co

,

Sahat Sinaga: Mereka Butuh Tapi Banyak Tingkah, Stop Ekspor Kalau…

Sahat Sinaga: Mereka Butuh Tapi Banyak Tingkah, Stop Ekspor Kalau...

 

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, sudah tak bisa menahan rasa jengkelnya terhadap Eropa.

Banyak negara di benua biru tersebut kerap kali menjelek-jelekkan minyak sawit Indonesia. Tak cuma menggunakan isu lingkungan, sawit juga dikait-kaitkan dengan isu kesehatan, HAM, bahkan isu ketenagakerjaan.

Saking geramnya, Sahat bahkan berandai-andai jika Indonesia menghapus Eropa dari daftar tujuan ekspor sawit.

“Stop saja ekspor sawit ke seluruh negara-negara di Eropa, itu kalau saya punya kekuasaan. Mereka sebenarnya butuh sawit kita, tapi terlalu bertingkah,” kata Sahat seperti dikutip dari laman Elaeis.co.

Tidak hanya itu, jika ditarik garis sejarah, yang mengenalkan sawit ke Indonesia justru orang-orang dari Eropa, terutama Inggris dan Belanda.

Saat revolusi industri di Inggris berkembang, minyak sawit sangat dibutuhkan untuk menggantikan minyak hewan yang pasokannya terbatas dan harganya mahal. Karena susah mendapatkan minyak sawit yang diproduksi Inggris, pemerintah Belanda lantas memerintahkan para ahli mereka untuk membawa dan mengembangkan tanaman sawit ke Indonesia.

“Tapi kini setelah sawit berkembang sangat pesat di Indonesia dan negara lain seperti Malaysia, Eropa lantas bikin isu yang aneh-aneh terhadap sawit,” heran Sahat.

Kendati demikian, Sahat menyadari, untuk membela sawit sekaligus melawan Eropa, tidak boleh dilakukan secara emosional, tetapi harus rasional.

“Mengedepankan data dan fakta, juga akan membuka mata pihak lain di luar Eropa dan menyadari betapa pentingnya sawit bagi kehidupan manusia,” tegas Sahat.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

,

Ketika Raja Sawit Dunia Masih Tertipu dan Menari dari Genderang Negara Lain

Ketika Raja Sawit Dunia Masih Tertipu dan Menari dari Genderang Negara Lain

 

Sejak tahun 2006, Indonesia telah berhasil menggeser posisi Malaysia sebagai raja minyak sawit dunia, baik dari sisi luas lahan maupun produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Sungguh disayangkan, dengan predikat tersebut, seharusnya Indonesia mampu mengatur perdagangan minyak sawit global, namun yang terjadi justru sebaliknya.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, mengatakan, hingga saat ini, Indonesia selalu menuruti kemauan pembeli CPO.

“Nyatanya Indonesia masih bisa ditipu. Kita sering dibohongi dalam banyak hal terkait sawit, dan penipuan itu dilakukan pihak Eropa sejak abad lalu dan berlangsung hingga kini,” kata Sahat seperti dikutip dari laman Elaeis.co.

Dijelaskan Sahat, penipuan tersebut sudah dimulai sejak proses pengolahan awal tandan buah segar (TBS) hingga dijadikan minyak goreng. Eropa menghendaki proses sterilisasi dalam pengolahan buah sawit agar minyak goreng yang dihasilkan menjadi lebih jernih. Namun sebenarnya, hal ini berdampak pada banyaknya kandungan gizi sawit yang hilang

“Warna merah pada minyak sawit atau red palm oil yang banyak diproduksi di Afrika dan penuh gizi, justru tidak pernah disukai oleh Eropa. Nah, kita di Indonesia ini, dari dulu sampai sekarang malah ikut-ikutan standar Eropa. Tak heran kalau minyak goreng yang kita produksi menjadi bening, tapi justru banyak gizinya seperti karatenoid dan vitamin A hilang,” ungkap Sahat.

Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif PASPI, Dr Tungkot Sipayung. “Kita raja sawit, seharusnya jadi pemimpin, bukan malah mengikuti maunya negara lain,” ungkap Tungkot.

Menurutnya, proses hilirisasi produksi sawit yang belum sebanyak dan sekuat rival sawit bebuyutan, Malaysia, menyebabkan Indonesia terpaksa tunduk pada kemauan pasar. “Tapi harus disyukuri dalam 10 tahun terakhir Indonesia sudah bisa membuat 200 produk hilir dari sawit,” papar Tungkot.

Tungkot menyarankan, agar dapat benar-benar menjadi raja sawit dunia, sekaligus mampu memenuhi pangan dan gizi dunia, produsen sawit Indonesia harus memaksimalkan potensi vitamin A dan E yang dikandung sawit sehingga tidak terbuang percuma seperti yang selama ini terjadi.

“Kita bisa menjadi produsen vitamin A dan vitamin E terbesar di dunia hanya dari sawit. Syaratnya satu, lakukan perbaikan proses pengolahan dalam produksi sawit. Jangan lagi banyak yang dibuang,” ungkap Tungkot.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

 

 

Harga TBS Sawit Jambi Periode 23-29 Juli Naik Rp 94,06/Kg

 

InfoSAWIT, JAMBI – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Jambi, harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Jambi periode 23 – 29 Juli 2021, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 94,06/Kg menjadi Rp 2.453,00/Kg.

Berikut harga sawit Provinsi Jambi berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, sawit umur 3 tahun Rp 1.931,47/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 2.046,37/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 2.141,77/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 2.232,20/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 2.288,71/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 2.335,97/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 2.382,87/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 2.453,00/Kg, sawit umur 21-24 tahun Rp 2.376,84/Kg, dan sawit umur 25 tahun Rp 2.263,45/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 10.920,72/Kg dan harga Kernel Rp 5.850,61/Kg dengan indeks K 90,96%. (T2)

 

 

 

Sumber: Infosawit.com

 

Harga TBS Sawit Sumut Periode 21-27 Juli 2021 Naik Rp 111,43/Kg

 

 

InfoSAWIT, MEDAN – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Sumatera Utara (Sumut) untuk periode 21-27 Juli 2021, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 111,43/Kg menjadi Rp 2.527,56/Kg.

Berikut harga sawit Provinsi Sumut berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, sawit umur 3 tahun Rp 1.964,49/Kg; sawit umur 4 tahun 2.148,21/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 2.267,06/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 2.330,78/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 2.354,42/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 2.414,70/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 2.462,39/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 2.527,56/Kg, sawit umur 21 tahun Rp 2.521,68/Kg, dan sawit umur 22 tahun Rp 2.486,59/Kg, sawit umur 23 tahun Rp 2.460,53/Kg, sawit umur 24 tahun Rp 2.374,31/Kg dan sawit umur 25 tahun Rp 2.297,12/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 11.316,51/Kg dan harga Kernel Rp 6.460,94/Kg dengan indeks K 88,59%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Minyak Sawit Bergerak Naik

 

 

Harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO) bergerak naik pada perdagangan Senin (19/7). Harga CPO di Bursa Malaysia tercatat senilai MYR4.155 per ton, naik 0,44% dari posisi akhir pekan lalu.

Harga CPO sedang dalam tren bullish. Dalam satu pekan terakhir, harga naik 7,56% dan selama sebulan ke belakang kenaikannya mencapai 22,53%.

Dari sisi fundamental, salah satu penyebab kenaikan harga CPO adalah risiko penurunan
pasokan. Ini karena Malaysia dan Indonesia, dua negara produsen CPO terbesar dunia, sedang bermasalah dengan pandemi Covid-19.

Jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia bertambah 34.257 orang menjadi 2.911.733 orang per 19 Juli 2021.

Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat pasien positif Covid-19 di Malaysia per 19 Juli 2021 berjumlah 927.533 orang.

Perkembangan ini membuat pemerintah di dua negara memberlakukan pengetatan aktivitas dan mobilitas masyarakat.

Di Malaysia namanya Perintah Pembatasan Kawalan Pergerakan sementara di Indonesia adalah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Pembatasan ini membuat sumber daya manusia di berbagai sektor berkurang, karena mobilitas memang diperketat. Salah satunya adalah di perkebunan kelapa sawit. Akibatnya, panen pun tidak bisa maksimal.

Sumber: Bisnis Indonesia

Kenaikan Harga CPO Global Berlanjut

 

 

 

JAKARTA-Tren kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional pada paruh pertama tahun ini akan berlanjut pada periode paruh kedua. Permintaan yang masih tinggi, terutama dari pasar India, menjadi pemicu kenaikan harga komoditas perkebunan tersebut. Harga CPO pada semester 11-2021 diperkirakan bisa meningkat 6-8% dari semester 1-2021 dan rata-rata harga komoditas itu sepanjang tahun ini tetap bertengger di angka US$ 1.000 per ton.

Dalam data Bank Dunia disebutkan, harga CPO sepanjang semester 1-2021 telah mencapai US$ 1.049 per ton. Angka itu jauh melebihi rata-rata harga CPO pada semester 1-2020 yang hanya US$ 700 per ton. Selain itu, jauh lebih tinggi dari rata-rata harga sepanjang tahun 2020 sebesar US$ 752 per ton dan sepanjang 2019 yang hanya sebesar US$ 601 per ton. Bank Dunia sendiri memproyeksikan harga CPO sepanjang tahun ini di angka US$ 975 per ton dan pada 2022 sebesar US$ 983 per ton.

Sementara itu, harga CPO di Bursa Malaysia juga menunjukkan tren peningkatan sejak awal bulan ini. Harga CPO sempat turun jauh pada Juni dengan titik terendah RM 3.375 per ton namun pada Juli ini menunjukkan pergerakan hingga di atas RM 3.700 per ton. Harga CPO di Bursa Malaysia sempat menyentuh RM 4.500 per ton pada Mei 2021. Sementara itu, harga CPO di bursa tersebut pada Senin (12/7) mencapai RM 3.863 per ton dan terus menanjak menjadi RM 4.111 per ton pada Kamis (15/7).

Wakil Ketua Umum III Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan Togar Sitanggang menuturkan, harga CPO pada semester II-2021 masih akan menguat dengan kenaikan dibanding semester 1-2021 di kisaran 8% dan hingga akhir tahun harga CPO tetap di angka US$ 1.000 per ton. Faktor utama yang mempengaruhi harga CPO tetap berada di level terkuatnya adalah permintaan terhadap minyak nabati dunia yang terus meningkat, terutama untuk soybean yang diekori CPO. “Harga CPO pasti akan mengikuti permintaan soybean, jika harga soybean naik pasti harga CPO juga terdampak positif, ikut naik,” kata dia saat dihubungi Investor Daily, Jumat (16/7).

Togar menjelaskan, sejak pertengahan tahun lalu kenaikan harga CPO membonceng minyak matahari (sunflower), sedangkan mulai awal tahun ini pergerakannya membonceng minyak kedelai (soybean) karena ada masalah produksi di Amerika Utara dan Amerika selatan. “Sampai akhir tahun ini, harga CPO akan tetap mengacu harga soybean, soybean ke mana harga

CPO ikut, soybean happy CPO happy. Soybean dan soft oil termasuk minyak sawit, biodiesel, pergerakannya sejalan perekonomian yang membaik. Kalau situasi Covid-19 dan ekonomi membaik, program biodiesel termasuk di RI jalan, itu menjadi faktor tambahan yang membuat harga minyak nabati membaik. Kami berpikir rata-rata harga CPO (FOB) bisa US$ 1.000 per ton tahun ini,” kata Togar.

Menurut Togar, kebijakan Pemerintah Indonesia yang menurunkan tarif pungutan ekspor (PE) tidak terlalu berdampak ke harga CPO, kebijakan itu lebih banyak berpengaruh kepada industri hilir. “Tarif PE yang lebih rendah pada produk hilir akan bermanfaat dalam mendorong hilirisasi sawit di dalam negeri,” jelas dia. Pemerintah melalui Menteri Keuangan telah menyesuaikan tarif PE produk sawit sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No: 76/ PMK.05/2021 tentang Perubahan Kedua Atas PMK No: 57/ PMK.05/2020 tentang Tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Ekonom senior Indef Fa-dhil Hasan mengatakan, harga CPO pada semester 11-2021 akan terus menguat dan tetap stabil tinggi. Kenaikan harga CPO dipengaruhi permintaan minyak nabati global yang meningkat dan CPO menjadi pilihan komoditas yang dicari. Kebijakan India yang memangkas tarif bea masuk (BM) juga berpengaruh pada harga CPO global ditambah India merupakan pasar ekspor terbesar Indonesia. Karena kondisi Covid-19 di India semakin meningkat maka pemerintahnya memberlakukan insentif pemangkasan tarif BM dan kebijakan ini berdampak positif pada pergerakan harga CPO. “Harga CPO terus membaik dan akan terus menguat hingga akhir tahun, saya tidak bisa memperkirakan pada level berapa tetapi tidak akan menurun,” ujar dia, Sabtu (17/7).

Pilihan Utama

Sementara itu, analis pasar modal dan ekonom dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo mengatakan, harga CPO sempat melemah pada Juni namun saat ini grafik harga CPO terus menguat. Tren harga CPO pada semester 11-2021 cenderung menguat pada kisaran 6-8% dari semester sebelumnya. Selain faktor India, sentimen penguatan harga CPO adalah kinerja sektor perkebunan tersebut yang ters membaik. Para investor atau trader perdagangan global senang memilih sawit sebagai trade commodity. “Harga CPO hingga akhir tahun bergerak di level US$ 1.000 per ton karena apresiasi minyak nabati dunia lain mulai menurun dan minyak sawit menjadi pilihan utama para investor,” papar dia.

Lucky Bayu berpendapat, kebijakan relaksasi tarif PE dari pemerintah tidak akan terlalu nempengaruhi ekspor CPO nasional. Kinerja ekspor lebih ditentukan oleh harga CPO yang memang sedang menguat. “Pasar akan memberikan atensi lebih kepada harga daripada kebijakan. Kebijakan itu bersifat statis dan dapat digunakan dalam jangka panjang, sementara harga bersifat dinamis,” tutur dia.

Seperti dilansir Antara, harga CPO di Medan, Sumatera Utara (Sumut), kembali menguat menjadi Rp 11.748 per kilogram (kg) pada Jumat (16/7) setelah pada Juni sempat turun dengan harga rata-rata Rp 9.863 per kg.

Sebelumnya, harga CPO sedikit tertekan karena panen kelapa sawit diperkirakan masih banyak. “Harga jual CPO yang menguat pada Juli itu terlihat sejak awal bulan yang mana pada 6 Juli 2021 sudah menembus Rp 11.118 per kg,” ujar Sekretaris Eksekutif Gapki Sumut Darma Sucipto. Harga CPO pada tender Kharisma Perusahaan Bersama Nusantara (KPBN) pada Juli terus naik dari 1 Juli yang masih Rp 10.513 per kg menjadi Rp 11.748 per kg pada Jumat (16/7).

 

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

Aksi Ambil Untung Tekan CPO

 

Harga minyak sawit mentah (crudepalm oilatau CPO) turun pada perdagangan Rabu 14/7). Adanya aksi ambil untung masih menjadi pemberat harga komoditas ini.

Harga CPO sempat naik lumayan tajam pada perdagangan hari sebelumnya, Selasa (13/7) akibat pemangkasan bea masuk dan pajak ekspor di India menjadi pengatrol harga CPO. Namun, pada Rabu (14/7) harga CPO di Bursa Malaysia tercatat MYR 3.952 per ton. Ini berarti tu-
run 0,63 % dibandingkan hari sebelumnya.

Aksi profit taking masih menghantui harga CPO. Walau turun, harga masih membukukan kenaikan 4,14% dalam sepekan terakhir. Dalam sebulan ke belakang, kenaikan harga CPO mencapai 10,39 %.

Para analis memperkirakan harga CPO masih berpeluang naik saat fase konsolidasi selesai. Target resistance berada di kisaran MYR 4.009 per ton-MYR4.105 per ton.

Tren bullish dianggap su-
dah terkonfirmasi pada 6 Juli pada saat harga menyentuh MYR3.978 per ton. Maka ketika harga ternyata mencapai MYR4.105 per ton akan ada ruang untuk naik hingga ke MYR4.260 per ton.

Meski demikian, masih ada risiko harga CPO akan terkoreksi. Apabila gagal menyentuh MYR4.009 per ton ada pertanda harga bakal bearish. Ketika ini terjadi, target harga berada pada kisaran MYR3.757 per ton hingga MYR3.853 per ton.

 

Sumber: Bisnis Indonesia