Harga TBS Sawit Jambi Periode 25 Sept – 1 Okt 2020 Naik Rp 43,90/Kg

InfoSAWIT, JAMBI – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Jambi, harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Jambi periode 25 Sept  – 01 Okt 2020, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 43,90/Kg menjadi Rp 1.971,08/Kg.

Berikut harga sawit Jambi berdasarkan penelusuran InfoSAWIT,  sawit umur 3 tahun Rp 1.555,60/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.644,65/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.721,59/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.794,49/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.839,96/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.877,64/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 1.915,53/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 1.971,08/Kg, sawit umur 21-24 tahun Rp 1.909,29/Kg, dan sawit umur 25 tahun Rp 1.817,13/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 9.230,63/Kg dan harga Kernel Rp 4.360,65/Kg dengan indeks K 87,66%. (T2)

Disclaimer: Pemberitaan ini sesuai dengan harga Dinas Perkebunan setempat, bisa jadi harga di lapangan akan berbeda.

 

Sumber: Infosawit.com

,

Banyak Kementerian/Lembaga Atur Sektor Sawit, Daya Saing Industri Tertekan

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Bila di luar negeri industri kelapa sawit kerap memperoleh kampanye negatif dan tekanan dengan isu yang memojokan, maka di dalam negeri tekanan itu bukannya tidak ada justru lebih memusingkan, lantaran banyaknya Kementerian dan lemabaga yang mengatur industri kelapa sawit, hasilnya memunculkan beragam kebijakan yang pada akhirnya tumpang tindih dan menyulitkan dalam implementasi.

Dikatakan Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Makan Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, selama ini banyak pihak mengungkapkan bahwa sawit mampu mendukung perekonomian Indonesia, apakah kemudian statement itu benar atau sekadar basa-basi, lantaran pada kenyataannya pengelolaan industri kelapa sawit di Indonesia diatur oleh organisasi yang sangat rumit.

Banyak Institusi & Kementerian “merasa” terlibat dan ber-kepentingan dalam mengurus sektor perkelapa-sawitan Indonesia, tapi belum jelas Institusi mana yang “accountable” untuk mengatasi isu yang muncul.

Padahal, untuk menjadi negara Adi-Daya, saatnya Indonesia mulai menetapkan produk / komoditi strategis, yang mampu berkontribusi ke level 15-20% GDP Nasional dalam 5 -10 tahun kedepan. “Termasuk komoditi tersebut memiliki komparatif strategis di pasar global, seperti kelapa sawit, Karet, Kopi, Tebu, Kakao dan tumbuhan tropis lainnya,” tutur Sahat dalam Webinar yang diadakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumatera Utara & Aceh, yang dihadiri InfoSAWIT, Rabu, (23/9/2020).

Sebab itu Sahat mengusulkan untuk segera ditetapkannya Institusi/Badan yang Fokus mengurus sawit atau disebut “Rumah Sawit”, lembaga ini mesti digdaya, powerfull, dan dekat ke Pemerintah Daerah, serta bisa bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

“Fokus lembaga ini harus mampu menangani permasalahan regulasi, perijinan, pelepasan lahan kebun komoditi strategis menjadi bersertifikat, marketing dan memastikan pencapaian pelaksanaan PSR sebanyak 3,6 juta Ha selama periode 2020 -2024,” tandas dia. (T2)

 

Sumber: Infosawit.om

,

Permintaan Hilir Menyusut, Industri Hulu Plastik Andalkan Ekspor

Bisnis.com, JAKARTA – Lantaran dalamnya integrasi industri plastik nasional, penurunan permintaan industri hilir plastik mendisrupsi seluruh sektor industri plastik.

Asosiasi Produsen Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas) menyatakan sebagian permintaan produk plastik hilir meningkat, khususnya untuk produk makanan, minuman, dan kesehatan, Namun, peningkatan tersebut tidak mampu mengimbangi penurunan permintaan di sektor lain, khususnya konstruksi dan transportasi.

Inaplas mendata utilisasi industri hilir plastik anjlok ke level 60 persen dari posisi awal 2020 di kisaran 90-100 persen. Adapun, laju pertumbuhan lapangan usaha industri hilir plastik merosot 12 persen per Juli-Agustus 2020.

“Ini bukan main-main. [Permintaan] saat Juni 2020 tertolong pasar Lebaran. Juli-Agustus minus 12 persen karena orang fokus ke pasar Masuk Sekolah, konsumsi yang lain harus turun,” ujar Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiyono kepada Bisnis, Selasa (22/9/2020).

Karena perbedaan karakter industri, utilisasi pabrikan hulu plastik tidak turun dan tetap berada di kisaran 90 persen. Pasalnya, industri hulu plastik melakukan produksi berdasarkan kontrak jangka panjang, sedangkan industri hilir plastik bergantung pada permintaan konsumen.

Dengan kata lain, gudang industri saat ini penuh oleh bahan baku plastik. Fajar menyampaikan untuk menghindari potensi kerugian mismatch, pabrikan hulu plastik mengandalkan pasar global agar tidak terjadi penumpukan.

Fajar mencatat negara tujuan ekspor pabrikan hulu plastik lokal baru mencapai beberapa negara di Asia Selatan, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan China. Walakin, Fajar menyatakan strategi ekspor tersebut hanya dapat dilakukan dalam jangka pendek.

Pasalnya, pandemi Covid-19 menjadikan mayoritas negara memproteksi masing-masing pasarnya dari produk impor. “Jadi, tidak ada [semangat] kerja sama di ASEAN [ maupun] AFTA. Semuanya berusaha survive, itu yang harus kita antisipasi,” ucapnya.

Selain peningkatan kinerja ekspor, cara lain yang bisa digunakan adalah perubahan pengaturan mesin produksi untuk melayani industri lain. Fajar mencontohkan kolaborasi yang dapat dilakukan antara industri minyak nabati dan industri kemasan oli.

Seperti diketahui, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI)  akan mendorong kinerja ekspor minyak goreng ke negara-negara di Afrika bagian timur dan Pakistan. Namun, peningkatan kinerja tersebut masih terhalang oleh tingginya pajak impor produk kemasan berukuran besar.

“Itu masalah komunikasi saja. [Industri kemasan oli] tinggal merubah pengaturan saja, gampang. Value network ini yang [juga] harus dikembangkan. Bahan baku ada, mesin ada, cetakan ada,” ujarnya.

Seperti diketahui, permintaan plastik terbesar dimiliki oleh industri kemasan yakni mencapai sekitar 2,2 juta ton per tahun atau mengolah sekitar 40 persen total produksi plastik nasional.

Sementara itu, industri pengguna plastik seperti otomotif dan komponen konstruksi hanya mengolah 18,2 persen dari total produksi plastik atau sekitar 1 juta ton.

 

Sumber: Bisnis.com

Harga TBS Sawit di Riau Naik 2,4 Persen ke Level Rp2.098,41

Bisnis.com, PEKANBARU – Harga tandan buah segar (TBS) Sawit di Riau naik 2,4 persen atau Rp49,77 menjadi Rp2,098,41 per kilogram untuk periode 23 hingga 29 September 2020.

Defris Hatmaja, Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHP) Dinas Perkebunan Provinsi Riau, menjelaskan kenaikan harga TBS minggu ini karena kontrak pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatif Exchange naik 75 ringgit atau meleset 2,52% ke level RM.3.050/ton dan menjadi level tertinggi sejak 14 Januari.

Penguatan harga minyak nabati menjadi salah satu sentimen positif penggerak harga komoditas unggulan Malaysia dan Indonesia ini.

“Kontrak minyak kedelai Dalian naik kuat, itulah mengapa minyak sawit naik. China selaku pembeli kelapa sawit terbesar kedua di dunia, telah meningkatkan pembelian menjelang Festival Pertengahan Musim Gugur dan Minggu Emas yang menandai libur panjang selama seminggu mulai dari 1 Oktober 2020,” katanya kepada Bisnis, Selasa (22/9/2020)

Harga CPO (crude palm oil) dan kernel perusahaan yang menjadi sumber data untuk penetapan harga mengalami kenaikan. Untuk harga jual CPO saat ini mencapai Rp9.569.92 dan kernel Rp 4.858.45.

PTPN V mengalami kenaikan harga sebesar Rp365,20/kg, Sinar Mas Group mengalami kenaikan Rp 161,00/kg, PT. Astra Agro mengalami kenaikan Rp. 110,00/kg, PT. Asian Agri Group mengalami kenaikan harga sebesar Rp348.52/kg, PT Musim Mas mengalami kenaikan harga sebesar Rp. 230.00/Kg dari harga minggu lalu

Sementara itu untuk harga jual kernel, PT. Astra Agro mengalami penurunan harga sebesar Rp. 36,37/Kg dan PT Asian Agri Group naik sebesar Rp 97,00Kg dari harga minggu lalu.

Berikut harga TBS menurut usia pohon kelapa sawit diantaranya umur 3 tahun sebesar Rp1.543,72, umur 4 tahun Rp 1.673,74, umur 5 tahun Rp 1.830,95, umur 6 tahun Rp 1.875,18, umur 7 tahun Rp 1.948,37.

Selanjutnya, umur 8 tahun Rp 2.002,38, umur 9 tahun Rp 2.049,96, umur 10 sampai 20 tahun Rp 2.098,41, umur 21 tahun Rp 2.008,34, umur 22 tahun Rp 1.998,15, umur 23 tahun Rp 1.989,65, umur 24 tahun Rp 1.904,68, umur 25 tahun Rp 1,857.95.

 

Sumber: Bisnis.com

Nilai Ekspor Minyak Sawit Juli Naik 15 %

JAKARTA – Nilai ekspor minyak sawit Juli tahun ini mencapai US$ 1,87 miliar, atau meningkat sekitar 15% dari bulan sebelumnya yang hanya US$ 1,62 miliar. Peningkatan nilai ekspor tersebut didorong oleh membaiknya rata-rata harga minyak sawit mentah {crude palm oil/CPO) pada Juli menjadi US$ 659 per ton (CIF Rotterdam) dari Juni yang hanya US$ 602 per ton.

Dalam data yang dipublikasikan oleh Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki), volume ekspor minyak sawit pada Juli juga meningkat 362 ribu ton menjadi 3,13 juta ton dari bulan sebelumnya 2,77 juta ton. Kenaikan volume ekspor tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya ekspor produk olahan CPO dan laurik. Ekspor produk olahan CPO naik 352 ribu ton, yakni dari 1,61 juta ton menjadi 1,96 juta ton. Sedangkan laurik (palm kernel oil/PKO dan olahan PKO) naik 32 ribu ton. Ekspor oleokimia relatif tetap sedangkan ekspor biodiesel dan CPO mengalami penurunan masing-masing sekitar 3.000 ton dan 19 ribu ton.

Dalam publikasi itu juga disebutkan, ekspor minyak sawit ke Tiongkok dan Timur Tengah menjadi kontributor utama kenaikan ekspor pada Juli, ekspor ke Tiongkok naik 188 ribu ton (43%) menjadi 629 ribu ton dan ke Timur tengah naik 107 ribu ton (65%) menjadi 273 ribu ton. Sementara ekspor ke India turun 31 ribu ton (5%) dan ke Afrika turun 41 ribu ton (15%). “Ekspor dan permintaan minyak sawit dalam negeri terus membaik. Pada Juli, nilai ekspor minyak sawit meningkat US$ 244 juta menjadi US$ 1,87 miliar, nilai ekspor tersebut sekitar 13,60% dari nilai ekspor nasional yang sebesar US$ 13,30 miliar,” jelas Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono di Jakarta, kemarin.

Meskipun volume ekspor Juli meningkat, sepanjang Januari-Juli 2020 ekspor minyak sawit nasional hanya mencapai 18,63 juta ton atau 1,19 juta ton lebih rendah dari periode sama tahun lalu. Ekspor ke Tiongkok pada Januari-Juli 2020 hanya sebesar 2,63 juta ton atau 61% dari periode sama tahun lalu yang sebesar 4,28 juta ton. Sementara ekspor ke India pada Januari-Juli 2020 justru meningkat menjadi 3,25 juta ton atau lebih tinggi 22% dari periode sama tahun lalu.

Sedangkan konsumsi minyak sawit domestik pada Juli 2020 naik 97 ribu ton menjadi 1,43 juta ton dari bulan sebelumnya. Kenaikan terbesar pada konsumsi biodiesel 87 ribu ton menjadi 638 ribu ton pada Juli, konsumsi oleokimia juga naik 6.000 ton menjadi 148 ribu ton, dan produk pangan naik 4.000 ton menjadi 642 ribu ton. Sampai Juli 2020, total konsumsi minyak sawit domestik mencapai 10,09 juta ton atau 3% lebih tinggi dari periode sama tahun lalu. Kenaikan terbesar pada oleokimia hingga 45% dan biodiesel 27%, sedangkan produk pangan 15% lebih rendah.

Sementara itu, produksi CPO pada Juli 2020 mencapai 3,85 juta ton atau 6,20% lebih rendah dari Juni 2020 dan secara tahunan 8,20% lebih rendah dari tahun lalu. Rendahnya produksi tahun ini diperkirakan akibat pemberian pupuk yang kurang demi menekan biaya ketika harga rendah tahun lalu. Dengan produksi tersebut, stok akhir Juli 2020 sebesar 3,62 juta ton atau 253% dari konsumsi.

Tren Kenaikan Harga

Pada bagian lain, harga CPO di pasar internasional saat ini menunjukkan tren kenaikan yang diduga berdampak pada naiknya harga di pasar domestik. Harga CPO di Provinsi Jambi pada periode 18-24 September 2020 naik Rp 34 per kilogram (kg) dari periode sebelumnya, yakni dari Rp 8.971 menjadi Rp 9.005 per kg. Hasil yang ditetapkan tim perumus harga sawit Provinsi Jambi menyebutkan, untuk harga inti sawit turun Rp 25 per kg dari Rp 4.370 menjadi Rp 4.345 per kg, tandan buah segar (TBS) naik tipis Rp 4 dari Rp 1.516 menjadi Rp 1.520 per kg.

Hal yang sama juga terjadi di Riau. Pekan lalu, seperti dilansir Antara, harga TBS di Riau di antaranya untuk umur empat tahun ditetapkan Rp 1.635.09 per kg, umur lima tahun Rp 1.788,02 per kg, umur enam tahun Rp 1.831,12 per kg, umur tujuh Rpl.902.57 per kg, umur delapan tahun Rp 1.955.23 per kg, dan umur sembilan tahun Rp 2.001,50 per kg. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Zulfadli melalui Kabid Pengolahan dan Pemasaran Disbun Riau Defri Hatmaja mengatakan, sentimen seputar penurunan output September 2020 menjadi pemicu kenaikan harga CPO.

Harga CPO untuk kontrak pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatif Exchange naik 2,38% ke RM 2.878 per ton sekitar Rp 1,03 juta per ton. Sejak awal September, harga CPO kokoh berada di atas RM 2.800 per ton dan mulai mendekati RM 2.900 per ton atau Rp 1,04 juta per ton. Pada September-November 2020 merupakan musim puncak produksi CPO, bahkan Kena-nga Research memproyeksikan produksi Malaysia September naik 4,70% dari bulan sebelumnya menjadi 1,95 juta ton. Institusi riset tersebut juga mengatakan ekspor bulan ini akan naik 3,10% dari bulan sebelumnya menjadi 1,63 juta ton jelang pertengahan musim gugur dan perayaan Deepavali.

Sumber: Investor Daily Indonesia

Harga CPO membaik, Gapki catat nilai ekspor sawit Juli naik 15 persen

(ANTARA) – Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) mencatat nilai ekspor minyak sawit dan turunannya pada Juli 2020 meningkat sebesar 15 persen, atau kenaikan sebesar 244 juta dolar AS, menjadi 1,86 miliar dolar AS dibandingkan bulan sebelumnya.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menjelaskan nilai ekspor pada Juli ini menyumbang 13,6 persen dari nilai ekspor nasional sebesar 13,3 miliar dolar AS. Ada pun kenaikan nilai ekspor dipengaruhi oleh kenaikan harga CPO dunia.

“Kenaikan nilai ekspor didukung oleh kenaikan harga CPO dari rata-rata 602 dolar AS cif Rotterdam pada Juni menjadi sekitar 659 dolar AS pada bulan Juli,” kata Mukti melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Dari segi volume, ekspor produk minyak sawit dan turunannya pada Juli juga naik 13 persen dari 2,76 juta ton menjadi 3,13 juta ton. Hal ini dipengaruhi meningkatnya ekspor produk olahan CPO dan laurik.

Ekspor produk olahan CPO mengalami kenaikan sebesar 352.000 ton (21,8 persen) dari 1,6 juta ton menjadi 1,97 juta ton; sedangkan laurik (PKO dan olahan PKO) naik 32.000 ton.

Sementara itu, oleokimia relatif tetap dengan penurunan 1.000 ton dari bulan sebelumnya, sedangkan ekspor biodiesel mengalami dan CPO mengalami penurunan masing-masing sekitar 3.000 ton (-50 persen) dan 19.000 ton (-2,8 persen).

Mukti menambahkan ekspor ke China dan Timur Tengah menjadi kontributor utama kenaikan ekspor di bulan Juli di mana ekspor ke China naik 188.000 ton (43 persen) menjadi 629.000 ton dan ke Timur Tengah naik 107.000 ton (65 persen) menjadi 273.000 ton. Penurunan ekspor terjadi ke India sebesar 31.000 ton (5 persen) dan ke Afrika turun 41.000 ton (15 persen).

Meskipun volume ekspor bulan Juli mengalami kenaikan, secara “year on year” periode Januari-Juli 2020, kinerja ekspor mengalami penurunan. Total ekspor produk minyak sawit Januari-Juli 2020 mencapai 18,63 juta ton atau 1,19 juta ton lebih rendah dari periode yang sama pada tahun lalu (YoY).

“Ekspor ke China 2020 sebesar 2,63 juta ton atau hanya sekitar 61 persen dari tahun lalu yang sebesar 4,28 juta ton ton (YoY). Sementara ekspor ke India yang mengalami kenaikan menjadi 3,25 juta ton, lebih tinggi 22 persen lebih tinggi dari ekspor tahun lalu,” kata Mukti.

 

Sumber: Antaranews.com

Gapki Sesalkan Produk Berlabel “Palm Oil Free”

Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono sesalkan masih maraknya produk dengan stiker Palm Oil Free di Indonesia yang tidak hanya produk dalam negeri namun juga produk impor atau dijual dari luar negeri melalui platform jual beli daring.

“Stiker tanpa minyak sawit memberi kesan bahwa produk tersebut lebih sehat serta informasi lainnya yang menyesatkan dan merupakan bagian dari kampanye negatif kelapa sawit. Terlebih saat ini juga beredar produk berstiker tersebut di platform jual beli online yang dikirim dari luar negeri. Ini harus ada mekanisme pengawasan dan sanksi yang tegas,” kata Joko dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (19/9/2020).

Hal tersebut disampaikan Joko Supriyono dalam acara #INApalmoil Talkshow bertajuk “Misleading Palm Oil Labelling Threaten Palm Oil Market” yang diselenggarakan secara online. Tahun 2016 pertama kalinya produk berlabel tanpa sawit ditemukan di rak sebuah swalayan di Jakarta. Sejak saat itu ditemukan produk-produk lain yang juga berlabel sama.

Tren ini kemudian bergulir ke produk industri rumahan di Indonesia tanpa mereka tahu bahwa informasi tersebut menyesatkan dan merupakan bagian dari kampanye negatif terhadap kelapa sawit Indonesia.

Sementara itu Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan, BPOM, Reri Indriani dalam acara #INAPalmoil Talkshow menyebutkan secara aturan label Palm Oil Free bertentangan dengan pasal 67 poin 1 peraturan BPOM no 31 tahun 2008 tentang label pangan olahan. Sedangkan secara Internasional codex Alimentarius (2017) menyatakan label olahan dilarang memuat informasi yang salah atau menyesatkan.

“Aturannya jelas pangan olahan yang secara alami tidak mengandung komponen tertentu maka dilarang memuat klaim bebas memuat komponen tersebut kecuali dari awal sudah mengandung komponen tersebut lalu dengan satu proses dilakukan pengurangan maka diperbolehkan seperti misalnya terjadi pada produk susu dalam kemasan,” jelas Reri.

Berkembangnya perdagangan melalui platform online menjadi tantangan tersendiri karena kini produk dari luar negeri bisa masuk ke Indonesia dengan lebih bebas.

“Selain pencantuman label palm oil free, Cyber patrol yang kami juga temukan pelanggaran yang lebih tinggi yakni tidak memiliki izin edar juga jadi lebih tinggi maka akan dikenakan pasal berlapis. Mengenai sanksi denda dan lainnya terhadap penjual maupun pembeli produk berlabel Palm Oil Free maka BPOM akan mengkaji hal tersebut,” ungkap Reri.

Pembiaran terhadap label Palm Oil Free, Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar dalam seminar daring bertajuk Misleading Food Labeling Threaten Palm Oil Market di Jakarta, Rabu (16/9) mengatakan, ironisnya meskipun secara aturan internasional FAO maupun aturan-aturan negara lain menyebutkan dilarang memberikan informasi yang menyesatkan, saat ini terdapat lebih dari 2000 produk dengan label palm oil free di dunia.

Di Uni Eropa sendiri terdapat tiga ketentuan terkait produk dengan informasi menyesatkan yakni food Information regulation 1169/2011.

Deputi Director Council of Palm Oil Producer Countries (CPOPC) Dupito Simamora menyatakan label palm oil free bukan berdasar regulasi pemerintah tapi dilakukan oleh swasta atau pengusaha. Meskipun aturan dan sanksi sudah jelas namun terjadi pembiaran.

“Label palm oil free ini bisa jadi marketing strategi dengan memberikan klaim lebih sehat, lebih ramah lingkungan namun sebenarnya merupakan boikot kelapa sawit karena mempengaruhi konsumen secara langsung,” ujar Dupito.

Sekjen Gabungan Pengusaha Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Stefanus Indrayana menyatakan industri makanan olahan bergantung pada minyak kelapa sawit dan produk turunannya. Dari semua produk makanan di pasar global, 50 persen- nya menggunakan minyak sawit. Ini jauh lebih tinggi dari penggunaan minyak canola, minyak bunga matahari (sunflower) atau pun minyak kedelai.

Wakil Menteri Luar Negeri RI, Mahendra Siregar menyatakan tingginya ketergantungan dunia terhadap minyak kelapa sawit maka diskriminasi terhadap produk ini semakin besar akibat perang dagang minyak nabati global.

“Jangan terbuai dengan angka ekspor-impor. Meningkatnya nilai ekspor ke Eropa diklaim sebagai bukti tidak adanya diskriminasi sawit oleh negara Uni Eropa. Padahal, peningkatan angka tersebut karena anjloknya produksi minyak nabati EU akibat temperatur ekstrim dan wabah COVID -19,” tegasnya.

 

Sumber: Antaranews.com

Ditopang Harga, Sawit Berkontribusi 13,6% Terhadap Nilai Ekspor Nasional

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat nilai ekspor produk minyak sawit bulan Juli 2020 mencapai US$ 1,868 miliar atau sekitar 13,6% dari nilai ekspor nasional (US$ 13,3 miliar).

“Kontribusi ini ditopang membaiknya harga CPO di pasar internasional. Harga CPO dari rata-rata US$ 602 per ton CIF Rotterdam pada Juni menjadi sekitar US$ 659 per ton pada Juli,” ujar Mukti Sardjono, Direktur Eksekutif GAPKI dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Minggu (20 September 2020).

Mukti menuturkan nilai ekspor produk sawit tersebut naik US$ 244 juta dibandingkan dengan nilai ekspor bulan Juni sebesar US$ 1,624 miliar. Peningkatan nilai ekspor didukung oleh pertumbuhan  volume ekspor produk sawit sebesar 362 ribu  ton dari 2,767 juta ton per Juni menjadi 3,129 juta  ton pada Juli.

Volume ekspor yang meningkat ditopang produk olahan dan lauric. Ekspor produk olahan sawit terdongkrak 352 ribu ton, dari 1,609 juta ton menjadi 1,961 juta ton. Sementara itu, produk lauric (PKO dan olahan PKO) naik 32 ribu ton. Ekspor oleokimia relatif tetap sedangkan ekspor biodiesel dan CPO mengalami penurunan masing-masing sekitar 3 ribu ton dan 19 ribu ton.

Berdasarkan negara pembeli, ekspor ke China dan Timur Tengah menjadi kontributor utama kenaikan ekspor di bulan Juli dimana ekspor ke China naik 188 ribu ton (43%) menjadi 629 ribu ton dan ke Timur Tengah naik 107 ribu ton (65%) menjadi 273 ribu ton. Ekspor ke India turun 31 ribu ton (5%) dan ke Afrika turun 41 ribu ton (15%).

Kendati, ada pertumbuhan ekspor sepanjang Juli kemarin. Tetapi, volume ekspor dari Januari-Juli 2020 lebih  rendah 1,189 juta ton  menjadi 18,632 juta ton dari periode sama tahun lalu.Ekspor ke China 2020 sebesar 2,634 juta ton atau hanya sekitar 61% dari tahun lalu yang sebesar 4,281 juta ton (YoY). Sementara ekspor ke India yang mengalami kenaikan menjadi 3,249 juta ton, lebih tinggi 22% lebih tinggi dari ekspor tahun lalu.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Hayoo Ikut Tantangan Tiktok Challenge Untuk Generasi Sawit Baik

InfoSAWIT, JAKARTA – Indonesia merupakan produsen sekaligus konsumen terbesar minyak sawit di dunia. Sayangnya, hingga saat ini,  minyak sawit Indonesia masih mendapat pandangan buruk dari berbagai pihak.

Padahal kenyataannya, perkebunan dan industri kelapa sawit Indonesia saat ini telah mulai mentransformasi tata kelola kebunnya dengan mengikuti prinsip-prinsip keberlanjutan yang memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

Lembaga multistakeholder Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), organisasi yang merumuskan standar minyak sawit berkelanjutan bersama-sama dengan Superindo dan ICCO dan didukung oleh kampanye #beliyangbaik, menyelenggarakan kompetisi yang bertujuan untuk mengajak generasi milenial Indonesia untuk lebih mengenal hubungan industri sawit dengan kebutuhan hidup manusia.

Dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT, program ini juga mengajak generasi milenial mengedukasi kaum sebayanya tentang keberadaan kelapa sawit dalam kehidupan sehari-hari, serta praktik minyak kelapa sawit yang ramah sosial dan ramah lingkungan.

Hayoo jangan sampai ketinggalan lantaran kompetisi ini tanpa dipungut biaya sama sekali, dan dengan mengikuti kompetisi #tiktokchallenge #generasisawitbaik bisa menangkan kesempatan untuk berpetualang ke kebun kelapa sawit ramah sosial ramah lingkungan, kunjungan ke area konservasi orangutan, serta hadiah menarik lainnya.

Untuk informasi lebih lanjut klik di : https://bit.ly/informasilombaTikTok dan daftarkan dirimu sekarang juga!!!  sekali lagi tanpa dipungut Biaya apapun! (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Harga TBS Sawit Sumsel Periode II – September 2020 Naik Rp 48,13/Kg

InfoSAWIT, PALEMBANG – Merujuk hasil dari Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), periode II-September 2020, ditetapkan pada 17 September 2020 telah menyepakati sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 48,13/Kg menjadi Rp 1.820,33/Kg. Rapat berikutnya akan dilakukan pada Selasa tanggal 8 Oktober  2020.

Berikut harga sawit Provinsi Sumsel berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, sawit umur 3 tahun Rp 1.588,55/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.629,17/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.666,41/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.699,52/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.729,24/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.756,33/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 1.779,28/Kg; sawit umur 10-20 tahun Rp 1.820,33/Kg; sawit umur 21 tahun Rp 1.796,63/Kg; sawit umur 22 tahun Rp 1.776,31/Kg; sawit umur 23 tahun Rp 1.752,22/Kg; sawit umur 24 tahun Rp 1.724,74/Kg; dan sawit umur 25 tahun Rp 1.663,19/Kg. Minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 9.017,30/Kg dan kernel Rp 4.475,59/Kg dengan indeks K 83,61%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com