,

Saat Harga Minyak Goreng Sawit Melambung, Kemenko, Apical dan GIMNI Gelar Operasi Pasar

 

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Harga minyak goreng sawit kian melonjak, mendekati hari besar Natal dan Tahun Baru tahun 2021 ini. Bahkan para pelaku usaha kecil sudah mengeluhkan kenikan salah satu bahan pokok ini.

Sebab itu guna memberikan keringan kepada masyarakat, salah satu pengolah minyak kelapa sawit berkelanjutan Apical Group, bersama Kementerian Bidang Perekonomian (Kemenko) dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), menggelar operasi pasar minyak goreng sawit di Rumah Susun Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (30/11/2021).

Dikatakan Deputi II Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko, Musdalifah Machmud mengatakan, pemerintah  sangat mendukung  Apical  Group  dalam  penyelenggaraan operasi pasar minyak goreng sawit khususnya menjelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2022, dimana harga minyak goreng sawit saat ini telah  mengalami kenaikan yang cukup tajam.

Sementara, Ketua   Umum   GIMNI,   Bernard   A.   Riedo   menuturkan,   sinergi   antara Pemerintah, Asosiasi, dan swasta sangat dibutuhkan dalam hal menstabilkan harga minyak goreng sawit yang sedang melambung saat ini. “Kami berharap sinergitas ini dapat berkelanjutan demi memastikan pasokan minyak goreng tetap terjaga untuk masyarakat, khususnya masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Pada kegiatan ini, Apical menyalurkan minyak goreng sawit berlabel Camar dan Harumas dengan kemasan 1 liter disalurkan dengan harga Rp 14.000 per liter selama operasi pasar minyak goreng sawit yang  rencananya akan berlangsung hingga  3  Desember  2021.  Kegiatan  ini  merupakan  bagian  dari  program #ApicalPeduli.

Gunawan Sumargo, Direktur Social, Security, and License Apical Group mengatakan bahwa kegiatan operasi minyak goreng sawit ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang masih kesulitan, khususnya untuk masyarakat yang tinggal di rumah susun, untuk membeli minyak goreng khususnya di tengah harga minyak goreng yang masih tinggi.

“Kegiatan ini sengaja kami pusatkan di lingkungan rumah susun sehingga diharapkan, kebutuhan minyak goreng sawit dengan harga terjangkau ini dapat lebih tepat sasaran. Semoga dengan adanya kegiatan ini kami dapat meringankan beban mereka,” kata Gunawan.

Kegiatan operasi pasar minyak goreng sawit ini dilaksanakan dengan tetap memberlakukan protokol kesehatan (prokes) yang ketat dan staf Apical yang bertugas secara aktif selalu mengingatkan masyarakat untuk selalu menggunakan masker, menjaga jarak, dan selalu menjaga kebersihan tangan agar terhindari dari virus Covid-19. (T2)

 

 

Sumber: Infosawit.com

,

Harga Minyak Goreng Tembus Rp19.750/liter, Ini Langkah Jatim

 

Bisnis.com, SURABAYA – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur tengah berkoordinasi dengan sejumlah pihak seperti Kementerian Perdagangan, Bulog, dan Polda Jatim selaku Satgas Pangan terkait adanya kenaikan harga minyak goreng dalam beberapa bulan terakhir.

Kepala Disperindag Jatim, Drajat Irawan mengatakan minyak goreng merupakan salah satu komoditas yang pada dasarnya diawasi dan dicatat dalam Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jatim dan juga mengacu pada Permendag No.7 Tahun 2020.

“Namun ternyata dalam perjalanannya, minyak goreng kemasan maupun curah mengalami kenaikan harga. Untuk itu, kita Melakukan rapat-rapat koordinasi dengan Kemendag, Bulog dan Polda Jatim bagian dari Satgas Pangan, kemudian beberapa instansi terkait dan pabrikan,” ujarnya, Selasa (30/11/2021).

Dia menjelaskan dalam rapat koordinasi dengan Kemendag, diketahui memang dalam kondisi global saat ini sedang ada penurunan pandemi Covid-19 dan juga adanya cuaca buruk menyebabkan terjadinya pergerakan harga CPO CIF Rotterdam per September 2021 mencapai US$1.235 per ton, naik dibandingkan Agustus US$1.226 per ton.

“Sehingga karena bahan baku pendukung ini mengalami kenaikan, maka otomatis pabrikan juga menggunakan bahan baku yang lebih mahal, jadi pasar global kita memang mengalami kenaikan harga CPO. Ini data dari Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI),” jelasnya.

Menurutnya, saat ini secara pasokan minyak goreng di Indonesia terbilang masih stabil dan masih mampu mencukup kebutuhan masyarakat. Sedangkan tingkat konsumsi masyarakat terhadap komoditas ini juga masih cukup stabil tetapi sedikit ada peningkatan seiring dengan mulai bergeraknnya perekonomian pasca pandemi.

“Pasokan itu pada dasarnya cukup, tetapi harga dunia yang masih naik sehingga integrasi antara industri kelapa sawit dari hulu hilir CPO ini yang menyebabkan CPO ini menyebab kenaikan harga minyak goreng terutama untuk kebutuhan dalam negeri,” imbuhnya.

 

Sumber: Bisnis.com

,

Ancaman Omicron, Dunia Usaha Nilai Kebijakan Antisipasi Pemerintah Sudah Tepat

 

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha menyatakan puas atas kebijakan antisipasi penyebaran varian Omicron. Kebijakan yang sejauh ini disiapkan dinilai telah mengakomodasi berjalannya aktivitas ekonomi, sekaligus mengendalikan penyebaran Covid-19.

“Kami akui dunia usaha mengalami kesulitan saat ada lonjakan kasus, terutama dengan varian baru yang berisiko lebih berbahaya. Namun, kami cukup puas atas keputusan pemerintah dalam antisipasi Omicron,” kata Wakil Ketua Umum Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Perdagangan Juan Permata Adoe, Senin (29/11/2021).

Dia menilai, langkah pemerintah yang mulai memperketat masuknya pendatang dari negara dengan konfirmasi kasus varian Omicron merupakan langkah yang tepat. Begitu pula dengan kebijakan PPKM menjelang akhir tahun.

“Menurut saya yang perlu dijaga adalah aktivitas masyarakat tetap diberi keleluasaan. Misalnya dalam kapasitas kunjungan di mal sebesar 50 sampai 75 persen agar aktivitas perdagangan terus berputar,” lanjutnya.

 

Juan juga menilai, laju vaksinasi dosis kedua dan penggunaan PeduliLindungi menjadi instrumen penting dalam deteksi dini dan penelusuran kasus-kasus baru, mengingat mobilitas masyarakat cenderung lebih longgar.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga meyakini aktivitas ekspor produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya masih tetap besar, terlepas dari risiko kenaikan kasus di negara tujuan.

 

Produksi minyak nabati lain yang belum memberikan sinyal perbaikan memberi dorongan pada permintaan minyak sawit.

“Perkiraan kenaikan konsumsi edible oil pada 2021 ini mencapai 3 juta ton. Saat produksi minyak nabati lainnya mangkrak karena iklim dan pembatasan, sawit Indonesia mendapat peluang,” katanya.

Berbeda dengan perkebunan kelapa sawit di Malaysia yang menunjukkan tren penurunan produksi, Sahat mengatakan bahwa pasokan minyak sawit Indonesia masih tumbuh landai selama pandemi. Aktivitas perkebunan sejauh ini tidak terimbas kebijakan pembatasan mobilitas.

 

Sumber: Bisnis.com

,

Fakta Mengejutkan! Jelantah Didaur Ulang Jadi Minyak Goreng Curah

 

JAKARTA – Penjualan minyak goreng curah akan dihentikan mulai 1 Januari 2022. Fakta mengejutkan, pembuatan minyak goreng curah berasal dari jelantah atau minyak goreng bekas yang diolah lagi. Setelah itu, dijual menjadi minyak goreng curah.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga menyebut minyak curah yang beredar ini ternyata berasal dari jelantah hingga mencapai 28%.

“Menurut pandangan kami, minyak goreng yang beredar dalam bentuk curah itu 25%-28% asalnya dari jelantah yang diolah kembali,” ungkapnya kepada MNC Portal Indonesia.

Sahat meninjau, menurut penelitian di beberapa negara, minyak goreng curah juga dilarang karena menyebabkan penyakit. “Makanya saya bilang, stop aja,” tegas Sahat.

Dengan demikian, katanya, GIMNI menyambut baik pelarangan minyak goreng curah mulai 1 Januari 2022, bahkan telah dinanti keputusan itu sejak 11 tahun terakhir.

 

Sumber: Okezone.com

,

Harga Minyak Goreng Diprediksi Masih Mahal Hingga Tahun Baru, GIMNI Ambil Tindakan

Harga Minyak Goreng Diprediksi Masih Mahal Hingga Tahun Baru, GIMNI Ambil Tindakan

 

Suara.com – Kenaikan harga minyak goreng yang belakangan mulai terjadi diprediksi terus berlanjut hingga tahun depan.

Hal ini disebabkan oleh turunnya produksi minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di sejumlah negara pemasok jelang tahun baru.

Disampaikan oleh Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Oke Nurwan, harga minyak goreng curah dan kemasan sederhana di tengah masyarakat sudah berada di atas Rp17.500 hingga awal pekan ini.

“Kenaikan harga ini berpotensi terus bergerak bahkan kita sudah prediksi hingga kuartal pertama 2022 pun masih terus meningkat karena termasuk komoditas yang supercycle,” kata Oke dalam Seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2022 yang digelar Indef, Rabu (24/11/2021) lalu.

Lebih jauh, ia menyebut, potensi kenaikan harga minyak goreng di Indonesia turut terdampak industri hilir CPO yang masih belum terintegrasi dengan kebun sawit.

Akibatnya, produsen minyak goreng terlanjur membeli CPO yang sudah mengalami kenaikan harga di pasar dunia.

“Kalau kita bicara HET memang sebesar Rp11.000 saat penyusunan HET itu harga CPO ada di kisaran US$500 hingga US$600 per metrik ton, saat ini harga CPO mencapai US$1.365 per ton itu langsung berpengaruh pada entitas produsen minyak goreng di kita,” kata dia.

Untuk informasi, produsen minyak goreng dalam negeri bekerja sama dengan pelaku usaha ritel guna mengalokasikan minyak goreng kemasan sederhana dengan harga Rp14.000 kala momen pergantian tahun.

Tak tanggung-tanggung, total alokasi minyak goreng murah itu mencapai 11 juta liter yang didistribusikan ke setiap gerai ritel modern secara nasional.

Berkaitan dengan ini, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengaku, opsi ini diambil guna menekan harga minyak goreng yang naik.

“Melihat kenaikan harga yang demikian tinggi maka diusahakan jangan sampai Rp20.000 per liter, sebagai referensi dipakailah minyak goreng kemasan sederhana itu,” kata Sahat dikutip dari Solopos.com –jaringan Suara.com.

Inisiatif ini diprakarsai oleh GIMNI bersama dengan Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI). Keduanya juga menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) untuk memastikan distribusi minyak goreng yang dipatok seharga Rp14.000 di gerai ritel modern.

“Supaya tidak terjadi spekulasi di pasar tradisional makanya kita melalui ritel ada Aprindo yang menjamin bahwa harga tidak akan dinaikkan di atas Rp14.000,” kata dia.

Minyak goreng murah direncanakan tetap bertahan hingga komoditas strategis tersebut kembali normal seusai siklus komoditas CPO.

“Kami akan terus melihat pergerakan harga, kalau harga CPO cost, insurance dan freight (CIF) Rotterdam masih di angka US$1.500 kita masih akan tetap jalan, target kita sampai di kisaran harga US$1.100 lah, menurut perhitungan kami setelah semester II/2022,” kata dia.

Sumber: Suara.com

,

BPDPKS Diseminasi Hasil Riset Sawit Melalui PERISAI 2021

 

Jakarta, Gatra.com – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) kembali menyelenggarakan Pekan Riset Sawit Indonesia (Perisai) yang mempertemukan para peneliti di bidang kelapa sawit dengan pelaku usaha nasional yang digelar secara online melalui forum Webinar.

Acara ini mengusung tema “Sustaining Resilience of Oil Palm Industry amidst Covid-19 Pandemic”. Hadir sebagai pembicara utama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang mengupas mengenai Kontribusi Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Mendukung Perekonomian Nasional Memasuki Masa Norma Baru.

“Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman dalam sambutan pembukanya menyampaikan bahwa “Tujuan utama dari pelaksanaan pekan riset sawit Indonesia (Perisai) ini adalah untuk mendorong riset-riset sawit yang telah didanai oleh BPDPKS dapat lebih cepat dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan kelapa sawit”.

Hadir juga sebagai pembicara Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Laksana Tri Handoko yang memaparkan tentang “Tatanan Baru Riset dan Inovasi Nasional” dan Plt. Ketua Umum DMSI Sahat Sinaga yang memaparkan tentang “Kebutuhan Litbang untuk Menjawab Tantangan Industri Kelapa Sawit”

Dalam acara yang digelar pada 17 – 18 November 2021 ini, sebanyak 13 peneliti akan memaparkan hasil penelitian dan pengembangan mereka terkait kelapa sawit. Riset mencakup sejumlah bidang antara lain budidaya/lahan/tanah, biomaterial, bioenergi, pangan/kesehatan, lingkungan, pengolahan limbah, dan sosial ekonomi/manajemen/ICT.

“Penelitian dan pengembangan/riset sangat dibutuhkan dalam menjawab berbagai persoalan yang dihadapi oleh industri sawit, dari hulu sampai dengan hilir, sehingga dapat berdampak langsung untuk pengembangan industri kelapa sawit nasional yang berkelanjutan maupun sebagai bahan/rekomendasi pengambil kebijakan dan melawan kampanye hitam terhadap sawit berdasarkan data dan fakta yang obyektif,” tegas Eddy.

Sejak berdiri tahun 2015 hingga saat ini, BPDPKS telah melaksanakan pendanaan program penelitian dan pengembangan yang bekerja sama dengan 69 Lembaga Litbang baik dari intansi Pemerintah, Perguruan Tinggi maupun Non Perguruan Tinggi, 840 Peneliti Senior, serta 346 Mahasiswa. Dari program tersebut telah ditetapkan 232 kontrak kegiatan penelitian dan pengembangan sawit, yang menghasilkan sekitar 201 publikasi ilmiah nasional dan internasional, 42 paten terdaftar dan penerbitan 6 buku.

Program penelitian dan pengembangan perkebunan kelapa sawit dari aspek hulu hingga hilir yang dikembangkan BPDPKS merupakan salah satu upaya BPDPKS untuk melakukan penguatan, pengembangan dan peningkatan pemberdayaan perkebunan dan industri kelapa sawit nasional yang saling bersinergi di sektor hulu dan hilir agar terwujud perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.

Dari kegiatan litbang tersebut, berdasarkan penilaian dari Asosiasi Inventor Indonesia, terdapat 13 teknologi hasil litbang yang Prospektif untuk Komersialisasi yaitu:

1. Drone untuk Monitoring Ganoderma dengan ketua Peneliti Dhimas Wiratmoko, M.Sc – PPKS;
2. Produksi CNCs dari TKKS untuk Hand Sanitizer dan Farmasi dengan ketua Peneliti Yogi Wibisono Budhi – ITB;
3. Bioplastik Dari Selulosa TKKS dengan ketua Peneliti Isroi – PPBBI/MAKSI;
4. Foaming Agent Dari Minyak Sawit Untuk Pemadam Kebakaran dengan ketua Peneliti Mira Rivai – SBRC IPBU;
5. Stabiliser Termal PVC dari PFAD dengan ketua Peneliti I Dewa Gede Arsa Putrawan – ITB;
6. Produksi Furfural Berbasis TKkS dengan ketua Peneliti Misri Gozan – UI;
7. Pabrik Kayu Sawit Dengan Teknologi Sandwich Laminated Lumber dengan ketua Peneliti Erwinsyah – PPKS;
8. Produksi Pati-gula Dari Batang Pohon Sawit dengan ketua Peneliti Agus Eko Tjahjono – BPPT;
9. Sabun Kalsium dari PFAD untuk Produksi Susu Sapi dengan ketua Peneliti Lienda A. Handojo – ITB;
10. Produksi MDAG dari Minyak Sawit dengan ketua Peneliti Didah Nur Faridah – IPBU;
11. Ketahanan Kelapa Sawit terhadap Cekaman Kekeringan melalui Aplikasi BioSilika dengan ketua Peneliti Laksmita Prima Santi – PPBBI;
12. Alat Pengukur Kematangan TBS di Lapang dengan ketua Peneliti Dinah Cherie – UNAND;
13. Alat Grading Otomatis Untuk TBS dengan Fluorescence Imaging Dan Laser Speckle Imaging dengan ketua Peneliti Minarni – UNRI.

Disamping itu juga ada beberapa riset yang telah dimanfaatkan secara komersial, antara lain:

1. Pengembangan Surfaktan MES bekerjasama PT Petrokimia Gresik dengan SBRC LPPM IPB;
2. Pengembangan Bahan baku Biokomposit untuk Helm, Kerjasama PT Interstisi Material Maju dengan LPPM IPB;
3. Pengembangan Pemanfaatan PFAD sebagai Bahan Baku Stabilizer Pipa PVC, Kerjasama PT Timah Industri di Krakatau Industrial Estate dengan LPPM IPB;
4. Pengembangan Tandan Kosong Menjadi Glukosa oleh Balai Besar Indutri Agro;
5. Pengembangan Industrial Vegetable Oil (IVO) Kerja sama Pemda Muba dengan LPIK ITB dan PT. Kemurgi Indonesia.

“Kegiatan Pekan Riset Sawit tahun 2021 ini, diharapkan dapat menjadi sarana mempertemukan Peneliti dengan para pelaku pemangku kepentingan di industri sawit termasuk pemerintah sebagai pengambil kebijakan, serta media yang dapat berlanjut dengan business matching antara peneliti dengan stakeholder industri sawit.

Disamping itu juga diharapkan dapat mengubah mindset peneliti pada umumnya dari yang hanya fokus untuk hanya meneliti, namun juga memikirkan konsep komersialisasi dari output penelitian yang akan dihasilkan.” ungkap Eddy

 

Sumber: Gatra.com

,

Minyak Goreng Curah Mau Tamat, Harganya di Pasar Makin Liar!

 

 

 

Jakarta, CNBC Indonesia – Nasib minyak goreng curah bakal tamat di akhir tahun 2021. Keputusan ini muncul setelah pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 36 Tahun 2020 Tentang Minyak Goreng Sawit Wajib Kemasan.

Menjelang tamatnya nasib komoditas ini, berdasarkan pengakuan pedagang harga minyak goreng curah kini justru semakin tinggi. Akibatnya, untuk membeli minyak goreng curah pun kini banyak yang tidak sanggup.

“Harga yang curah awalnya Rp 11 ribu, saat ini Rp 17 ribu per kg. Penjualan pedagang makin turun juga karena daya beli melemah. Daya beli menurun kurang lebih 30% hingga 40%,” kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran kepada CNBC Indonesia, Senin (22/11/21).

 

Ketika penjualan minyak goreng curah menurun, maka pedagang di sektor hilir merasakan langsung dampaknya. Pemerintah perlu mengambil langkah cepat dalam menyelesaikan masalah kenaikan harga minyak curah. Namun, Ngadiran pun mengungkapkan bahwa kenaikan harga bukan hanya terjadi di minyak goreng curah, melainkan juga minyak kemasan.

“Yang kemas 1 kg awal Rp 12.500 sekarang Rp 19.500, yang kemas 2kg awal Rp 22 ribu, sekarang Rp 37 ribu sampai dengan Rp 38 ribu,” ujar Ngadiran.

Ketika pemerintah berencana untuk mensubstitusi minyak curah menjadi kemasan, maka harga minyak kemasan pun perlu diatur dengan baik.

Dalam regulasi yang ada, yakni Permendag Nomor 36 Tahun 2020 di pasal 27 bab VI Ketentuan Peralihan, Minyak Goreng Sawit dalam bentuk curah yang beredar di pasar masih dapat diperdagangkan sampai dengan tanggal 31 Desember 2021.

 

Sumber: Cnbcindonesia.com

,

Harga Minyak Goreng Naik Bikin Kantong Kempes, Ini Biang Keroknya!

 

Jakarta – Harga minyak goreng naik belakangan ini. Kenaikan terjadi pada minyak goreng kemasan yang hari ini di level Rp 18.300 per kilogram (kg) dan curah yang stagnan di Rp 17.500 per kg.

Pada awal November, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan kenaikan harga minyak goreng dikarenakan ada hambatan di berbagai negara. Hal ini juga memicu harga di tingkat internasional juga ikut terkerek.

“Kanada dan Argentina sebagai pemasok Canola Oil terjadi gangguan panen sehingga produksinya turun sekitar 7% dan menyebabkan turunnya pasokan dunia,” katanya kepada detikcom melalui pesan singkat, Jumat pekan lalu (5/11/2021).

Bukan itu saja, produksi crude palm oil (CPO) Malaysia turun sekitar 8%. Pemicunya lantaran kekurangan tenaga kerja imbas pandemi COVID-19.

“Krisis energi di beberapa negara , India, China, Eropa, sehingga mengalihkan ke bioenergi termasuk biodiesel. Biaya logistik tinggi (akibat pandemi) karena penurunan frekuensi pelayaran sehingga space kapal angkut terbatas juga berdampak pada kelangkaan kontainer internasional,” lanjutnya.

Pemerintah Tekan Harga Minyak Goreng

Pemerintah menggandeng produsen minyak goreng yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI), bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyebar minyak goreng di bawah harga pasar, yaitu Rp 14.000/liter.

“Langkah jangka pendek sudah dibicarakan antara produsen minyak goreng yang tergabung di GIMNI dan AIMNI bekerja sama dengan APRINDO untuk menyediakan 11 juta Liter MIGOR (minyak goreng) dalam bentuk kemasan sederhana dijual dengan harga di bawah pasar yaitu 14000/L,” ujar Oke kepada detikcom, Jumat (12/11/2021).

Oke juga menjelaskan 11 juta liter minyak goreng itu disebar ke department store dan minimarket se-Indonesia. Totalnya mencakup 45.000 gerai.

“Nasional 45.000 gerai. Department Store dan minimarket,” tambahnya.

Cara Beli Minyak Goreng Rp 14.000/Liter

Pendistribusian minyak goreng murah ini akan dilakukan hingga akhir tahun ini. Namun pembelinya dibatasi, satu orang hanya bisa membeli satu kemasan per hari.

“Minyak goreng kemasan dengan harga Rp 14.000/liter penjualannya terbatas hanya boleh satu kemasan per hari untuk per orang,” kata Menteri Perdagangan. Lutfi di Bandung, Jawa Barat.

Sumber: Detik.com
,

GIMNI Nilai Tepat Daerah Usulkan DBH Perkebunan Sawit

 

 

KedaiPena.Com – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memberikan pandanganya terkait permintaan Kepala Daerah soal adanya ada dana bagi hasil (DBH) dari pajak perkebunan sawit.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga  mengatakan, jika usulan Kepala Daerah terkait dengan adanya dana bagi hasil sawit merupakan hal yang tepat.

“Terkait sawit, Pemda dan Pemkab juga dapat bagian dari industri serta perkebunan sawit yang ada di daerahnya adalah tepat,” kata Sahat kepada wartawan, Minggu, (7/11/2021).

Hal tersebut, kata Sahat, melihat pengalaman selama ini, para petani yang menjadikan perkembangan sawit tidak banyak mengalami kemajuan di daerah.

“Pusat ( Kementan dan Kemenperin) terlalu jauh untuk melihat dinamiika industri sawit di daerah,” tegas Sahat mengutip pernyataan dari Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI).

Sahat menilai, terdapat sejumlah cara yang dilakukan untuk memberikan dana  tanpa memberatkan pihak manapun terkhusus perusahaaan. Sahat pun menyinggung soal bantuan keuangan atau BK yang dipotong 30 persen dari perolehan export.

“Dana BK dipotong 30% dari perolehan export ( atau besaran BK diperkecil ). Pemkab dan Pemkot mendapatkan besaran USD 8 -10/ ton CPO  dan USD 5-8 /ton CPKO yng dihasilkan oleh PKS dan Crushing Mill, sebagai bagiann dari  APBD,” papar dia.

Dengan begini, lanjut Sahat, Pemerintah Pusat akan dapat mengetahui berapa ton produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/ CPO) dan crude palm kernel oil (CPKO).

“Per bulan, dan berapa stock CPO dan CPKO setiap minggu,” tandas Sahat.

Diketahui, sejumlah kepala daerah penghasil kelapa sawit mengusulkan adanya ada dana bagi hasil (DBH) kelapa sawit kepada pemerintah pusat. Salah satu yang terang-terangan meminta adanya DBH ialah Provinsi Riau.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara sendiri telah menyetujui terkait DBH dari pajak perkebunan sawit di Riau. Kemenkeu sedang melakukan penghitungan terkait aspirasi dari daerah.

Sumber: Kedaipena.com

,

Asosiasi Waspadai Spekulan Borong Minyak Goreng untuk Diekspor

 

 

Tingginya harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi incaran para spekulan untuk meraup keuntungan. Apalagi di Indonesia terdapat dua segmen pasar minyak goreng yang memiliki perbedaan harga yang signifikan, yakni minyak goreng yang dijual melalui ritel modern dan pasar tradisional.

“Pasar minyak goreng itu ada dua segmen, melalui modern market dan pasar tradisional yang disebut minyak goreng dengan kemasan sederhana dan curah,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga saat dihubungi merdeka.com, Jakarta, Rabu (3/11).

Berdasarkan data GIMNI, kebutuhan minyak goreng di pasar modern setiap tahunnya sekitar 1,2 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan minyak goreng di pasar tradisional lebih tinggi yakni sekitar 2,2 juta ton per tahun.

Harga minyak goreng di masing-masing segmen juga memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Segmen pasar modern selama ini tidak begitu bermasalah, namun sebaliknya di segmen pasar tradisional tengah mengalami kendala kemampuan daya beli masyarakat.

“Segmen pasar (modern) tak bermasalah karena masyarakat pengguna di sini punya purchasing power tinggi, namun pasar (tradisional) mengalami sedikit kendala akan kemampuan daya beli,” kata dia.

Kondisi ini lah yang dikhawatirkan dimanfaatkan para spekulan yang membeli stok minyak goreng di pasar tradisional untuk kebutuhan ekspor. Mengingat kebutuhan minyak sawit secara global tengah mengalami peningkatan.

Untuk itu, Kementerian Perdagangan dan para asosiasi duduk bersama merancang harga minyak goreng di pasar modern dan pasar tradisional. Sehingga perbandingan harga di dua segmen ini tidak terlalu jauh.

“Maka itu lah Kemendag mengorganize pertemuan dengan GIMNI, AIMMI sebagai produsen dan retailer (Aprindo) agar minyak goreng itu berada dalam level yang affordable-price. Yang terakhir ini lah sedang dibuat perumusannya,” tutur Sahat.

Dia menjelaskan bila perbedaan harga khusus dengan harga pasar dunia terlalu tinggi, khawatir akan dimanfaatkan para spekulan. Sebab mereka akan memborong minyak goreng dari pasar tradisional yang harganya lebih murah untuk kepentingan ekspor.

“Bila terlalu tinggi perbedaan harga khusus dengan harga pasar dunia, maka para spekulan akan borong minyak goreng (dari pasar tradisional) itu dan akan mengekspornya, karena untungnya akan besar,” tuturnya.

Maka untuk mengantisipasinya, Pemerintah dan asosiasi tengah merumuskan selisih harga minyak goreng di dua segmen tersebut. Agar perbedaanya dengan harga pasar global tidak terlalu besar dan membuat para spekulan urung melakukan aksi borong minyak dari pasar tradisional.

“Nah itu lah yang sedang dirumuskan, agar selisih harga khusus dengan harga pasar global tidak terlalu besar. Sehingga kurang menarik bagi spekulan untuk berdansa di situasi sekarang ini,” kata dia mengakhiri.

Sebagai informasi, dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak goreng di pasar tradisional maupun pasar modern terus mengalami kenaikan di sejumlah daerah di Indonesia. Berdasarkan data dari hargapangan.id pada 3 November 2021, harga minyak goreng di Gorontalo tembus Rp 23.000 per liter. Sementara di Jakarta harga minyak goreng rata-rata Rp 18.900.

Sementara itu dari infopangan.jakarta.go.id, harga minyak goreng di Jakarta rata-rata Rp 18.133 per kilogram. Harga tertinggi minyak goreng di Pasar Anyar Bahari dibanderol Rp 20.000 per kilogram, sedangkan harga terendah dijual di Pasar Pluit sebesar Rp 14.000 per kilogram.

 

Sumber: Merdeka.com