Program B30 Berlanjut, Harga CPO Berpotensi US$ 750/Ton

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Pemerintah diminta mempertahankan atau memperluas mandatori biodiesel di tahun depan. Kebijakan ini dinilai berhasil menyeimbangkan suplai dan permintaan sehingga tren harga CPO bergerak positif.

Togar Sitanggang, Wakil Ketua Umum III GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia), menuturkan jika pemerintah memutuskan untuk melanjutkan mandatori B30 di tahun 2021, maka akan ada peningkatan konsumsi sekitar 12% dan mendorong harga minyak sawit menjadi US$750-US$850/mt.

Sebaliknya, jika Indonesia kembali kepada B20 maka akan ada penurunan konsumsi sekitar 25%, yang diperkirakan akan membentuk harga sawit di kisaran US$600-US$700/mt. Analisis ini disampaikannya saat berbicara di Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2020 yang diselenggarakan secara virtual pada Kamis, (3 Desember 2020).

Memasuki tahun 2021, Togar memproyeksikan akan terjadi kenaikan terhadap kinerja sawit jika vaksin didistribusikan dengan baik. “Diperkirakan produksi miyak sawit meningkat sekitar 3,5% dan konsumsi industri makanan meningkat sekitar 2,5%. Sementara kinerja ekspor sawit akan sangat bergantung terhadap kondisi ekonomi global, namun diperkirakan akan meningkat hingga 11,5% jika kondisi ekonomi mulai berangsur pulih,” katanya.

Produksi minyak sawit mentah (CPO) hingga akhir 2020 diprediksi naik tipis 0,43% dari 47,18 juta ton pada 2019 menjadi 47,41 juta ton (prediksi hingga akhir Desember 2020). Sementara itu, penyerapan minyak sawit untuk biodiesel diperkirakan mencapai 7,2 juta ton sampai akhir tahun ini.

Togar mengatakan penggunaan minyak sawit untuk industri oleochemical mendominasi konsumsi domestik yaitu sekitar 1,57 juta ton meningkat 48,96% dari tahun 2019.

“Hal ini didorong permintaan pasar untuk bahan baku sabun serta pembersih lainnya yang meningkat selama pandemi Covid-19,” katanya.

Sementara itu, permintaan minyak sawit untuk industri makanan mengalami penurunan akibat adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar sehingga restoran dan hotel banyak yang menutup operasinya pada tahun 2020.

Togar juga menyampaikan analisisnya terkait program mandatori biodiesel B30. Meskipun pemerintah telah menaikkan levy (pungutan ekspor) namun karena pasar ekspor yang masih melemah, dana dari pungutan ekspor belum tentu maksimal.

Hingga September 2020, GAPKI mencatat total ekspor minyak sawit Indonesia mencapai 24,08 juta ton dengan nilai ekspor mencapai US$ 15,49 miliar. Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia.

Togar Sitanggang mengharapkan pemulihan permintaan minyak sawit di Tiongkok pada 2021 seiring dengan pemulihan ekonomi paska Covid-19. Sebelumnya, penurunan permintaan di Tiongkok terjadi pada bulan Maret 2020 akibat penutupan akses beberapa pelabuhan namun ekspor perlahan meningkat pada Juli 2020.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

Petani Sawit Berkontribusi Besar terhadap Bauran Energi Terbarukan

 

Selama ini, bagi sejumlah LSM dan negara antisawit, industri perkebunan kelapa sawit dituding pro-konglomerasi, bukan petani. Isu ini sengaja dihembuskan untuk menjatuhkan citra kelapa sawit tidak hanya di mata global, tetapi juga domestik. Faktanya, sekitar 41 persen atau 6,72 juta hektare perkebunan kelapa sawit nasional dikuasai oleh rakyat.

Wakil Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga mengatakan, “di hari sawit tahun ini, DMSI harus memperbaiki image sawit di mata publik. Selama ini, kelapa sawit diidentikkan bisnis konglomerat. Padahal tidak benar. Industri ini melibatkan petani di dalamnya.”

Lebih lanjut Sahat menjelaskan, selama delapan tahun terakhir, kelapa sawit telah menjadi penopang ekspor nasional selain batu bara. Tidak hanya itu, industri sawit juga mampu menyerap tenaga kerja, menjadi penyumbang devisa, dan mampu memenuhi kebutuhan minyak nabati nasional dan global.

“Setiap tahun, pertumbuhan minyak nabati naik 3,4 persen atau sekitar 7,4 juta ton. Jumlah kebutuhan sebesar 7,4 juta ton ini tidak dapat diabaikan. Sawit dapat berperan penuhi kebutuhan ini. Kalau mengandalkan rapeseed dan soya, maka butuh berapa luas lahan?” ungkap Sahat seperti dilansir dari SawitIndonesia.comi (2/12/2020).

Sebagai tanaman paling produktif yang tumbuh di 16 negara, diakui Sahat, persoalan kelapa sawit yakni terkait dengan citranya. Menurut Sahat, DMSI bertugas menyebarkan informasi positif sawit kepada publik. Terutama tuduhan bahwa sawit bagian dari usaha konglomerat. Isu ini sengaja dihembuskan dunia internasional.

“Jumlah petani sangat banyak, yang harus diperjuangkan bagaimana komposisi petani ditingkatkan,” ujarnya.

Saat ini, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) tengah membuat role model Pengembangan Teknologi Produksi Minyak Nabati Industrial Vegetable Oil (IVO) dan biohidrokarbon bensin sawit di Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Pelalawan.

Asumsinya, dengan perhitungan harga CPO sebesar Rp6.500 per kg, setelah diolah menjadi bensin sawit, harganya dapat mencapai Rp8.100 per liter. Melalui pengembangan program ini, petani telah berkontribusi besar dan menjadi bagian dari pencapaian bauran energi terbarukan 23% dari bahan bakar nabati.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

Hari ini Konferensi Minyak Sawit International IPOC Dibuka Kemenko

InfoSAWIT, JAKARTA – Menyesuaikan dengan situasi kehidupan normal baru (new normal), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), kembali menyelenggarakan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) untuk pertama kalinya secara virtual.

Sekadar catatan, IPOC merupakan konferensi industri minyak sawit terbesar dunia, yang memberikan informasi perkembangan industri sawit Indonesia dan global terkini serta menganalisis tren harga minyak sawit ke depan.

Konferensi selama dua hari ini juga akan membahas rencana pemulihan ekonomi Indonesia secara makro dengan berbagai kebijakan moneter, fiskal, dan kebijakan pengembangan energi terbarukan. Dunia industri tentunya sangat terpengaruh oleh setiap kebijakan yang dibuat pemerintah, sehingga pemahaman akan kebijakan-kebijakan baru akan membantu dalam menentukan strategi bisnis perusahaan ke depan.

Selain itu juga dibahas peluang pasar minyak sawit dunia di beberapa negara tujuan utama ekspor, supply and demand minyak nabati dunia, tren pasar global, dan proyeksi harga minyak sawit untuk tahun berikutnya.

IPOC tahun ini akan dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto yang sekaligus memberikan Special Keynote Speech. Sementara Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi RI juga dijadwalkan memberikan Special Address terkait iklim investasi Indononesia pasca pandemi Covid-19.

Dikatakan Ketua Panitia IPOC, Mona Surya, Animo masyarakat baik dari Indonesia maupun luar negeri akan konferensi ini selalu meningkat setiap tahunnya. Tahun lalu penyelenggaraan konferensi ini dihadiri lebih dari 1500 peserta dari 25 negara (di luar tamu undangan khusus dan pengunjung).

“Tahun ini yang penyelenggaraan pertama dilakukan secara online, kami membatasi maksimum peserta yang akan hadir 1000 peserta yang berasal dari lebih dari 25 negara di dunia. Saat ini kuota tempat duduk telah mencapai hampir 850 peserta, ini menunjukkan animo masyarakat tetap tinggi,” tandas dia dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT(T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif GIMNI Sawit Dapat Merajai Energi Hijau Dunia

Industri sawit bukan semata milik konglomerat dan taipan. Isu ini sengaja dihembuskan untuk menjatuhkan imej sawit di mata dunia. Faktanya, 41% perkebunan sawit di kelola petani. Peluang sawit di sektor energi perlu dimanfaatkan.

“Di hari sawit tahun ini, DMSI (Dewan Minyak Sawit Indonesia) harus memperbaiki imej sawit di mata publik. Selama ini, kelapa sawit di identikkan bisnis konglomerat. Pada hal tidak benar. Industri ini melibatkan petani di dalamnya,” ujar Sahat Sinaga, Wakil Ketua Umum DMSI dalam perbincangan via telepon.

Sahat Sinaga mengatakan selama delapan tahun ini kelapa sawit telah menjadi penopang ekspor selain batu bara.  Industri sawit menyerap tenaga kerja dan menjadi penyumbang devisa. Pertanyaannya,  mengapa Indonesia belum menyadari kegiatan ekonomi sangat di topang sawit. Tanaman ini tumbuh bagus di daerah tropis dengan curah hujan tinggi. Selain itu, produksinya mampu memenuhi kebutuhan nasional dan global.

“Setiap tahun, pertumbuhan minyak nabati naik 3,4 persen atau sekitar 7,4 juta ton. Jumlah kebutuhan sebesar 7,4 juta ton ini tidak dapat di abaikan. Sawit dapat berperan penuhi kebutuhan ini. Kalau mengandalkan rapeseed dan soya, maka butuh berapa luas lahan,?” tanya Sahat.

Sahat menjelaskan sawit lebih efisien dalam penggunaan. Tanaman yang tumbuh di 16 negara ini lebih unggul produktivitasnya di bandingkan minyak nabati lain. Memang masih diperlukan perbaikan dalam pengelolaan sawit supaya lebih efektif efisien, dan berkelanjutan.

Harus diakui persoalan sawit adalah imej. Menurut Sahat, tugas DMSI menyebarkan informasi positif sawit kepada publik. Terutama tuduhan bahwa sawit bagian dari usaha konglomerat. Isu ini sengaja dihembuskan dunia internasional. “Jumlah petani sangat banyak, yang harus diperjuangkan bagaimana komposisi petani ditingkatkan. Aspek ini yang harus diangkat dalam hari sawit nasional,” ujarnya.

Dalam peringatan hari Sawit Nasional, dijelaskan Derom, harus disadari bahwa komoditas sawit sangat penting bagi bangsa ini. Saatnya mengangkat posisi petani yang marginal untuk mengarah kepada upaya korporatisasi. Salah satu caranya melalui pengembangan bio hidro karbon.

Saat ini, Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) tengah membuat role model  Pengembangan Teknologi Produksi Minyak Nabati Industrial Vegetable Oil (IVO) dan bio hidro karbon bensin di Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Pelalawan. Asumsinya dengan perhitungan harga CPO yang sebesar Rp 6.500 per kg, setelah diolah menjadi bensin sawit, harganya dapat mencapai Rp 8.100 per liter.

Sebagai informasi, uji-demo plant Bio hidro karbon. Berkapaitas 1.000 liter/hari akan dilaksanakan pada awal Desember 2020, dan dengan pengalaman ini diperkirkaan Detail Engineering Drawing diproyeksikan selesai pada bulan  April 2021, dan dengan teknologi lokal ( TKDN >90%)  ini unit Kilang Bensa berkapasitas 1.500 barrel/hari akan di dirikan di Kab. Pelalawan beroperasi di Januari 2023  dan Kab. Muba   dan 2.500  barrel / hari di dirikan di Kab. Muba yang dapat beroperasi  di  Februari 2023.

“Petani dapat berkontribusi dalam pengembangan bio hidro karbon. Upaya ini merupakan bagian mencapai bauran energi terbarukan 23 persen dari bahan bakar nabati,” jelas ayah tiga anak ini.

Inovasi bio hidro karbon, menurutnya, sangat efektif mendukung pengembangan bahan bakar berbasis nabati. Melalui pengembangan produksi bensin dari sawit diharapkan membantu petani untuk menyamai perusahaan. “Di sisi lain, kita perlu membenahi aspek sustainability sebagaimana tren dunia sekarang,” jelasnya.

Tantangan petani mengikuti ISPO dapat terselesaikan asalkan edukasi terus berjalan. Sahat menyatakan sertifikasi ISPO bukanlah momok menakutkan. Sebab, karakteristik industri berjalan bersama. Contohnya saja Afrika, pengembangan kelapa sawit tidak berjalan maksimal seperti di Indonesia. Di Afrika, perkebunan sawit milik perusahaan dan petani berjalan sendiri-sendiri.

“Kekuatan industri sawit di Indonesia terjalin kebersamaan dan kemitraan yang kuat,” ungkap Sahat.

Menurutnya, perkebunan sawit petani harus diselamatkan. Sebab, moratorium tidak lagi membuat perusahaan leluasa neks tensifikasi. Terbitnya UU Cipta Kerja merupakan angin segar bagi petani.“Semoga undang-undang ini tidak menjadi angin ribut. Analoginya, pemerintah jangan membuat pagar terlalu tinggi, sulit bagi petani untuk melompatinya,” ungkap lulusan jebolan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB) 1973 ini.

Semangat UU Cipta Kerja adalah memberikan kemudahan investasi dan membuka lapangan kerja. “Makanya jangan persulit investasi termasuk perkebunan sawit rakyat,” jelasnya.

Di katakan Sahat, persoalan keterlanjuran kawasan hutan yang masuk kebun sawit petani secepatnya dapat terselesaikan. Sebab, petani ini berkontribusi bagi perekonomian. “Dengan menjadikan kebun sawit menjadi kawasan hutan, apakah dapat berkontribusi bagi perekonomian Indonesia. Kita jangan terbuai dengan Norwegia. Karena hanya diberikan dana hibah,” paparnya.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

,

Program B100, Kemenperin : Teknis Sudah Bisa, Tinggal Skala Ekonominya

 

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan akan mendorong hilirisasi industri minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) ke arah industri bahan bakar nabati.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo menargetkan adanya fasilitas produksi B100 atau 100 persen bahan bakar nabati di dalam negeri pada 2022. Adapun, saat ini penggunaan B100 telah dapat dilakukan secara teknis pada tahun ini, namun pemangku kepentingan masih meneliti agar produksi B100 memiliki skala ekonomi yang cukup.

“Secara teknis sudah bisa, tapi masih menggunakan RBDPO. [RBDPO] ini kan harganya mahal, jadi Kemenperin bersama dengan pihak-pihak terkait mengembangkan bahan baku yang lebih murah yang disebut industrial vegetable oil (IVO) dan industrial lauric oil (ILO),” kata Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kemenperin Edi Sutopo kepada Bisnis, Senin (30/11/2020).

RBDPO atau refined, bleached, deodorized, palm oil merupakan hasil paling akhir dari pemrosesan CPO. Secara umum, RBDPO merupakan bahan baku dalam produk oleopangan, seperti minyak goreng, margarin, shortening, dan sebagainya.

Adapun B100 yang dimaksud Edi adalah green diesel yang biasa disebut D100. Sejauh ini, pembuatan D100 masih menggunakan RBDPO sebagai bahan baku utamanya.

Di samping itu, IVO maupun ILO merupakan minyak nabati hasil pemrosesan tandan buah segar dengan proses yang lebih ramping. Dengan kata lain, harga IVO maupun ILO akan jauh lebih rendah dari RBDPO.

IVO dan ILO juga memiliki keleluasaan lebih dibandingkan RBDPO dari sisi tandan buah segar (TBS) yang dapat dijadikan bahan baku. Edi menyampaikan pembuatan IVO maupun ILO dapat menggunakan TBS yang sudah melebihi masa panen alias over ripped.

“Kalau [TBS yang] diambil untuk food grade itu 20-23 persen yield-nya. [Karena perbuatan IVO/ILO] yang over ripped bisa diambil, [yield-nya] sampai 30 persen [per TBS],” ucapnya.

Edi menyatakan saat ini telah dibangun pabrikan IVO/ILO uji coba di Pelalawan, Riau. Edi menyampaikan tujuan dari pabrik uji coba tersebut adalah menurunkan harga IVO/ILO agar tidak jauh berbeda dengan harga bahan bakar solar.

Berdasar situs resmi Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), lembaga donor asal Amerika Serikat, Millenium Challenge Corporation, memberikan dana hibah senilai US$110 juta untuk pembangunan tiga pabrikan di Pelalawan. Adapun, ketiga pabrik tersebut akan dibangun di Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Sejauh ini, Kabupaten Pelalawan telah menyiapkan lahan seluas 3.754 hektar untuk Kawasan Teknopolitan Pelalawan. Adapun, luas kebun sawit di Pelalawan mencapai 393.000 hektar, dengan 40 persen wilayah kebun tersebut dikelola oleh petani sawit swadaya.

Edi optimistis pihaknya dapat mencapai target produksi B100 pada 2022. Pasalnya, menurutnya, saat ini pemangku kepentingan tinggal menurunkan biaya produksi agar mencapai skala keekonomian. “[Target] ini memang agak ambisius, tapi mudah-mudahan bisa karena secara teknis bisa. Kami lagi otak-atik ekonominya.”

 

Sumber: Bisnis.com

,

Harga Bahan Baku Naik, Industri Makanan Pilih Tahan Harga

 

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri makanan memilih untuk tidak menaikkan harga pangan olahan meskipun harga bahan baku memperlihatkan kenaikan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan salah satu bahan baku yang memperlihatkan kenaikan adalah minyak sawit. Komoditas ini dipakai di banyak produk pangan olahan yang melalui proses penggorengan.

“Kenaikan harga minyak sawit ini pasti akan menyebabkan adanya kenaikan biaya produksi, kami menyadari itu dan mau tidak mau memengaruhi biaya pokok. Terutama pada produk turunan sawit, termasuk untuk ingredients pangan olahan seperti mie instan dan produk yang melalui proses penggorengan,” kata Adhi kepada Bisnis, Senin (30/11/2020).

Meski ada kenaikan harga pada biaya produksi, Adhi mengaku produsen pangan olahan tidak bisa serta-merta menaikkan harga barang yang dipasok ke ritel. Dia memperkirakan pelaku usaha akan memilih opsi mempertahankan harga karena mempertimbangkan daya beli konsumen yang belum pulih.

“Kondisi ini pernah kami rasakan ketika harga sawit menembus US$1.000 per ton. Tapi kalau melihat kondisi ini bagi kami akan sulit menaikkan harga karena belum normal. Saya lihat hampir sebagian besar akan bertahan dengan harga lama meskipun ada kenaikan biaya produksi,” kata Adhi.

Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri makanan. Adhi menilai langkah menaikkan harga bakal memberi dampak besar terhadap sisi konsumsi jika diambil oleh produsen. Selain itu, dia meyakini fluktuasi harga sawit akan lebih terkendali ke depannya.

“Bagi industri sawit yang masuk ke industri makanan kenaikan harga memberi keuntungan juga. Jadi secara umum memberi dampak baik bagi sektor ini dan bisa terdongkrak pertumbuhannya,” lanjutnya.

Kenaikan harga minyak nabati ini pun dibenarkan oleh Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga. Dia mengatakan harga minyak nabati di Dumai telah mencapai Rp9.550 per kilogram. Tetapi, dia mengatakan harga saat ini relatif turun dibandingkan pada bulan lalu yang mencapai Rp9.700 per kilogram.

“Kami perkirakan harga akan di kisaran Rp9.600 per kilogram di tengah ketidakpastian regulasi pungutan ekspor dan tentunya harga ke pangan olahan juga ikut terdampak,” kata Sahat saat dihubungi.

Mengutip laporan Bloomberg, harga minyak sawit yang hampir menyamai harga tertingginya pada 8 tahun lalu diperkirakan oleh sejumlah analis bakal berimbas pada harga pangan olahan di tingkat ritel. Pasokan yang ketat dan prospek pemulihan ekonomi membuat konsumsi bakal meningkat.

Sebagai bahan baku untuk separuh produk yang dijual di supermarket, harga minyak sawit naik 70 persen dibandingkan pada Mei lalu. Reli ini melampaui harga minyak kedelai yang naik 58 persen dibandingkan harga terendahnya pada Maret.

Cuaca yang tak mendukung telah mengganggu produksi minyak nabati lain seperti minyak kedelai. Pasokan minyak sawit pun semakin ketat seiring dengan terbatasnya jumlah pekerja migran yang mengelola perkebunan sawit di Malaysia, produsen terbesar nomor dua komoditas ini.

Sementara di Indonesia, laporan Gapki memperlihatkan bahwa produksi sawit per September 4,7 persen lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

 

Sumber: Bisnis.com

Harga CPO Bisa Lampaui US$ 800/Ton

JAKARTA-Harga minyak sawit mentah {crude palm oil/ CPO) di pasar internasional bisa berada di kisaran US$ 800-850 per ton, setidaknya hingga akhir semester 1-2021. Permintaan minyak sawit yang meningkat di pasar global tidak diimbangi dengan ketersediaan atau suplai. Pemangkasan pajak impor sawit hingga 10% oleh Pemerintah India per 27 November 2020 akan mendorong permintaan, di sisi lain produksi di sejumlah negara produsen utama seperti Indonesia dan Malaysia masih terdampak El Nino 2018-2019.

Pemerintah India memangkas pajak impor sawit hingga 10% menjadi 27,50% dari sebelumnya 37,50%, kebijakan tersebut mulai diberlakukan Jumat (27/11). Dengan kebijakan itu, India kemungkinan besar meningkatkan impor sawit hingga 100 ribu ton setiap bulannya, pada Desember 2020 diperkirakan impor bisa meningkat menjadi 700-730 ribu ton atau naik dari perkiraan sebelumnya yang hanya 550-600 ribu ton.

Direktur Eksekutif palm oil Agri business Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung mengatakan, kebijakan India tersebut adalah sinyal akan naiknya permintaan, dampaknya harga CPO di pasar global pasti akan naik lebih tinggi dari saat ini. Di sisi lain, dampak

El Nino pada 2018-2019 masih akan berlanjut hingga akhir semester 1-2021 dan ini adalah sinyal akan adanya kekurangan produksi minyak nabati dunia. “Permintaan meningkat tapi suplai kurang, kemungkinan harga CPO bisa bergerak di kisaran US$ 800-850 per ton hingga akhir semester awal tahun depan,” ujar Tungkot kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.

Tungkot menjelaskan, selama pandemi Covid-19, sebenarnya sudah ada indikasi kurangnya minyak nabati di pasar global. Produksi minyak biji rapa dan bunga matahari turun akibat pengurangan lahan di Amerika. Pun di negara tropis masih terdampak El Nino 2018-2019, akibatnya produksi minyak sawit Indonesia, Malaysia, dan Thailand, menurun. Makanya, harga CPO saat ini sudah US$ 800 per ton. “Harga CPO ini akan naik lagi karena kebijakan India dan juga turunnya produksi akibat El Nino. El Nino itu dampaknya satu setengah tahun, jadi masih berlanjut ke semester 1-2021, ada kekurangan produksi minyak nabati dunia,” ujar dia.

Menurut Tungkot, pandemi tidak mempengaruhi pasar CPO, demand akan komoditas itu justru semakin meningkat. Permintaan akan sawit untuk bahan baku industri oleokimia makin pesat, pandemi meningkatkan kebutuhan akan sabun dan produk kebersihan lainnya seperti hand sanitizer. “Ini juga yang membuat India menurunkan pajak impornya, jadi ada perebutan barang (CPO) di pasar internasional,” ungkap Tungkot.

Apalagi, dengan konsistensi penerapan program biodiesel 30% (B30) oleh Indonesia, harga CPO akan semakin berkibar. Dengan program B30, sedikitnya ada 9 juta ton cadangan minyak sawit dunia yang berkurang, minyak sawit tersebut adalah komoditas yang harusnya diekspor ke Indonesia ke pasar internasional tapi digunakan di pasar domestik. “Dari semua faktor tersebut, konsistensi penerapan B30 inilah yang menjadi pendorong harga CPO di pasar internai-sonal selama ini. B30 ini jangkarnya, dengan B30 Indonesia sudah sukses men-drive dan mendikte harga di pasar sawit dunia,” jelas Tungkot.

Sementara pada data Bank Dunia, harga minyak sawit pada 2019 mencapai US$ 610 per ton, bahkan rata-rata pada kuartal III-2019 hanya US$ 570 per ton namun pada kuartal IV-2020 berbalik ke US$ 680 per ton. Harga pada 2020 diproyeksikan US$ 710 per ton, rata-rata kuartal 1-2020 sempat US$ 725 per ton, pada kuartal 11-2020 US$ 614 per ton, dan pada kuartal III-2020 mencapai US$ 751 per ton, khusus September 2020 sudah mencapai US$ 798 per ton. Pada 2021, harga minyak sawit diperkirakan US$ 723 per ton.

Bank Dunia juga menyebutkan, Indeks Harga Minyak dan Makanan Bank Dunia pada kuartal III-2020 naik 14% dan itu 17% lebih tinggi dari tahun lalu. Penguatan harga minyak nabati dimotori oleh kedelai dan harga minyak sawit (keduanya naik 22% pada kuartal III-2020), diikuti minyak rapeseed dan minyak bunga matahari (masing-masing naik 14%). Harga yang lebih tinggi mencerminkan kekurangan produksi pada kedelai dan minyak sawit, masing-masing turun 6,80% dan 1,50%. Kekurangan pasokan pada minyak nabati mana pun dapat memengaruhi sebagian besar harga minyak nabati.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

Apkasindo Prediksi Volume Ekspor CPO Akan Tumbuh Tipis

 

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) meramalkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit akan terus meningkat pada 2021. Namun, pertumbuhan ekspor minyak mentah kelapa sawit (crude palmoil/CPO) tahun depan diprediksi akan mulai melambat.

Ketua Umum Apkasindo Gulat Manurung mencatat harga TBS telah menembus level RM2.100 per ton dari posisi tahun lalu sekitar RM1.500 per ton. Menurutnya, angka tersebut akan terus tumbuh pada 2021 dengan adanaya peluncuran program B40 oleh pemerintah.

“Kalau predisi saya, [harga] TBS petani kelapa sawit akan mendekati RM2.500 per taon. Apalagi tahun depan akan launching program B40. Harga TBS petani sejak ada [program] biodiesel tidak pernah di bawah RM1.500 per ton lagi,” katanya kepada Bisnis, Jumat (27/11/2020).

Walakin, pertumbuhan ekspor CPO pada 2021 hanya akan tumbuh melambat yakni sekitar 1-5 persen dari realisasi 2020. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh adanya pemulihan perekonomian global dari pandemi Covid-19.

Gulat menilai peningkatan ekspor CPO sepanjang 2020 disebabkan oleh diberlakukannya protokol lockdown di negara produsen CPO, salah satunya Malaysia. Alhasil, produktifitas perkebunan kelapa sawit negeri jiran itu merosot lantaran kekurangan tenaga kerja untuk memanen kelapa sawit.

Namun, hal tersebut akan berubah seiring pembukaan protokol lockdown di Malaysia. Dengan kata lain, persaingan pasar CPO global akan kembali normal pada 2021.

Gulat menilai program replanting perkebunan kelapa sawit bukan tidak menjadi faktor penurunan pertumbuhan tersebut. Pasalnya, program replanting sampai saat ini baru mencakup sekitar 200.00 hekater dari total luas kebun sawit nasional yang mencapai 7 juta hektar.

Gulat mengingatkan agar pemangku kepentingan mewaspadai program replanting tersebut yang akan rampung pada 2025. Pasalnya, produktifitas kebun sawit nasional diramalkan akan meningkat secara eksponensial. “Ini yang harus dicari solusinya, karena produksi petani akan meningkat 2-2,5 kali lipat dari rata-rata yang ada.”

Terpisah, Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga meramalkan volume produksi CPO akan meningkat hingga 8 persen secara tahunan pada 2021 menjadi sekitar 35,8 juta ton. Di samping itu, harga CPO diramalkan akan stabil di kisaran US$700-US$800 per ton.

Price ekspor akan tetap stabil di atas,” ucapnya.

Pada awal 2020, Gimni menargetkan produksi oleopangan nasional dapat mencapai 7,1 juta ton. Namun, pandemi Covid-19 membuat asosiasi tersebut mengubah proyeksi menjadi sekitar 6,4 juta ton hingga akhir 2020.

Sahat menyatakan pendorong utama penurunan produksi tersebut disebabkan oleh melemahnya permintaan terhadap minyak curah. Dengan kata lain, permintaan minyak untuk warung makan kecil dan pedagang kecil berkurang selama pandemi.

Sahat meramalkan produksi minyak goreng curah hingga akhir tahun akan turun sekitar 35 persen menjadi 2,1 juta ton. “[Produksi minyak goreng curah] ini terendah 5 tahun terakhir.”

 

Sumber: Bisnis.com

Integrasi Sawit-Sorgum akan Untungkan Petani

JAKARTA-Penanaman sorgum sebagai tanaman sela pada program peremajaan sawit rakyat (PSK) atau integrasi sawit-sorgum diyakini dapat menguntungkan petard. Selain berpotensi menunjang ketahanan pangan bagi petani, sorgum juga bermanfaat bagi tanaman sawit karena mengandung fungi mikoriza arbuscular (FMA) yakni makanan bagi tricoderma atau musuh alami ganoderma yang kerap merusak tanaman sawit petani.

Sorgum dalam integrasi sawit-sorgum tidak hanya bernilai ekonomis, tapi memberi manfaat bagi petani yang memanfaatkannya sebagai tanaman sela musiman tanpa menganggu tanaman sawit sebagai induknya. Direktur Utama Pinang Group Kacuk Sumarta mengatakan, kesesuaian tanaman sangat penting agar tidak saling menganggu, melalui integrasi sawit-sorgum pada peremajaan sawit, baik di lahan rakyat maupun perusahaan, diyakini dapat
berkontribusi pada ketahanan dan kemandirian pangan nasional karena setidaknya akan tersedia potensi lahan bisa ditanami seluas 650 ribu hektare (ha) pertahun. “Dengan demikian tidak perlu membuka lahan baru untuk membangun food estate,” kata dia dalam keterangannya, kemarin.

Sejak 2019, Gabungan Pengusaha kelapa sawit (Gapki) Cabang Sumatera Utara bekerja sama dengan Paya Pinang Group dan Pusat Penelitiankelapa sawit(PPKS) telah mengembangkan integrasi sawit-sorgum di beberapa kebun dalam lingkungan Paya Pinang Group. Perwakilan dari Yayasan Kehati Diah Su-riadiredja mengapresiasi program ini sebagai bagian dari upaya konservasi lahan. Dalam upaya intercropping sangat penting untuk memperhatikan perlakuan standar budidaya terutama pada aspek pemupukan sehingga kebutuhan hara masing masing tanaman
dapat terpenuhi dengan seimbang, selain itu jarak antartanaman juga penting untuk memastikan kedua tanaman memperoleh sinar matahari yang cukup.

Deputi II Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhali-fah Machmud mengatakan, pihaknya mendukung upaya penanaman tanaman sela sorgum dan jagung atau apa saja yang bisa memberikan manfaat ekonomi bagi petani pada saat replanting sawit. Dia mengatakan hal tersebut saat panen sorgum dan jagung yang saat itu juga dilakukan penanaman perdana sawit pada program PSR yang mendapatkan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan kelapa sawit (BPDPKS). Saat itu juga dilakukan penyerahan benih sorgum dan benih jagung untuk tanaman sela termasuk penyerahan pakan ternak dari bahan batang sorgum sebagai simbol dija-lankannya integrasi sawit-so-rgum-sapi.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

Mendekati 2021, Kontribusi Refined CPO Diperkirakan Meningkat

 

Meskipun penyebaran Covid-19 di Indonesia masih masif terjadi, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menyatakan, kontribusi produksi olahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada 2021 akan meningkat. Hal tersebut seiring dengan kebijakan pemerintah terkait optimalisasi hilirisasi industri.

Ketua Umum GIMNI, Sahat Sinaga mengatakan, saat ini produk olahan CPO berkontribusi sekitar 76 persen terhadap total ekspor CPO dan turunannya.

“Saya proyeksi total ekspor CPO dan turunannya pada 2021 mencapai 35,8 juta ton. Itu, most likely, 19-20 persen CPO, sisanya atau 80 persen bisa ditopang dari produk olahan, sehingga nilai tambah akan lebih baik,” kata Sahat.

Lebih lanjut Sahat menjelaskan, proyeksi tersebut berdasarkan prediksi kontribusi produk turunan CPO dari Malaysia yang dinilai akan melemah disebabkan India yang akan menurunkan biaya levy CPO nasional dan menaikkan levy turunan CPO.

Alhasil, dinamika industri produk turunan CPO akan mengalami kesulitan. Pasalnya, harga CPO Indonesia yang sudah tinggi menjadi kurang menarik untuk dijadikan bahan baku untuk industri produk turunan CPO Malaysia.

“Malaysia akan mengalami kesulitan karena harga CPO kita akan tinggi pada 2021, tidak mungkin beli CPO dia dari Indonesia. Makanya, mangkraklah industri turunan CPO Malaysia,” ucap Sahat.

Seperti diketahui, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 87/2020 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar membuat bea keluar CPO per November 2020 naik hingga US$13,5 (atau sekitar Rp190.350).

Dengan kata lain, bea keluar CPO saat ini menjadi US$782,03 per MT (atau sekitar Rp11.026.623 per MT). Data Gapki mencatat, volume ekspor CPO pada periode Januari-Agustus 2020 merosot 11 persen menjadi 21,3 juta ton secara y-o-y. Penurunan tersebut didorong lesunya permintaan produk olahan CPO mencapai 16,1 persen menjadi 12,8 juta ton.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id