,

Semua Sayang Sawit, Semua Lego Jangkar – Sahat Sinaga (Bag 1/2) – Eps 24

 

Bagian pertama dari dua bagian perbincangan dengan bp Sahat Sinaga. Sebagai Senior di Industri Sawit Hilir, Sahat Sinaga mengemukakan bagaimana Industri sawit ini disayang oleh banyak kementrian. Saking sayangnya, semua lego jangkar seperti kapal. Sehingga Industri sawit tidak bisa kemana-mana. Bahkan mungkin lama kelamaan nanti tenggelam karena tidak bisa kemana-mana.

 

,

Produksi CPO Ditarget Capai 54,7 juta Ton pada 2022

 

JAKARTA – Produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diproyeksi meningkat 3,07 persen pada tahun depan.

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga mengatakan volume produksinya dapat mencapai 54,7 juta ton pada 2022 dari proyeksi tahun ini sebesar 53,07 juta ton.

Peningkatan tersebut didukung faktor cuaca yang membaik sehingga memungkinkan banyak pelaku usaha melakukan replanting.

“Karena ramalan cuaca relatif bagus dan sudah banyak yang mengalami replanting, bisa sampai 54,7 juta ton,” kata Sahat kepada Bisnis, Rabu (13/10/2021).

Serapan di pasar dalam negeri juga diproyeksikan tumbuh dari 18,5 juta ton tahun ini menjadi sekitar 20 juta ton pada 2022.

Namun, karena terbatasnya produksi CPO, dia menilai kemungkinan kinerja ekspor akan tertahan di level 36 juta ton, tidak tumbuh dari target pengapalan pada tahun ini dan belum bisa kembali ke posisi 2019 sebesar 37 juta ton.

 

“Jadi meningkatnya [ekspor] tidak begitu signifikan dibandingkan dengan tahun lalu, 34 juta ton,” ujarnya.

Sementara itu, menurut catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), produksi CPO pada Agustus 2021 mendapai 4,21 juta ton dan crude palm kernel oil (CPKO) sebesar 400.000 ton. Angka itu 4 persen lebih tinggi dibandingkan dengan Juli 2021.

 

Sumber: Bisnis.com

,

Produksi Oleopangan Diramal Melonjak 12 Persen hingga Akhir Tahun

 

JAKARTA – Produksi oleopangan yang melemah selama masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diproyeksi akan terangkat pada kuartal terakhir 2021.

Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mencatat produksi oleopangan pada kuartal III/2021 sebesar 1,72 juta ton, turun dari kuartal sebelumnya 1,92 juta ton. Adapun, produksi pada kuartal pertama tercatat sebesar 1,83 juta ton.

Ketua Umum GIMNI Sahat Sinaga meramal angka tersebut akan meningkat menjadi 1,85 juta ton pada kuartal IV/2021. Sehingga total produksi untuk sepanjang tahun ini akan menjadi 7,3 juta ton, atau tumbuh 12 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

“Penyebab utama [penurunan pada kuartal III] persoalan pandemi sehingga konsumsi masyarakat menurun, tetapi sudah mulai baik lagi,” katanya kepada Bisnis, Rabu (13/10/2021).

 

Adapun produk yang termasuk oleopangan antara lain, margarine, shortening, dan tiga jenis minyak goreng, yang dijual di pasar modern, pasar tradisional, dan yang digunakan industri.

Pada tahun lalu, GIMNI diketahui menurunkan target volume produksi dari awalnya 7,1 juta ton menjadi sekitar 6,4 juta ton karena pandemi.

Sementara itu, mengenai harga minyak goreng di pasaran, Sahat meyakini akan bertahan di angka Rp13.100 per liter sampai akhir tahun dari September di kisaran Rp12.500 per liter.

 

Kenaikan harga ini didorong turunnya produksi minyak lunak – seperti minyak kedelai, biji bunga matahari, zaitun, dan sebagainya – di sejumlah negara seperti Argentina dan Kanada.

“Maka orang berlomba-lomba mendapatkan minyak sawit terutama di China yang luar biasa kebutuhannya,” ujar Sahat.

 

Sumber: Bisnis.com

KELAPA SAWIT JADI ANDALAN SUMUT

 

MEDAN – Kelapa Sawit menjadi komoditas andalan Provinsi Sumatra Utara seiring dengan meningkatnya nilai perdagangan ekspor per Agustus 2021.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor Sumatra Utara per Agustus 2021 tercatat US$1,16 miliar atau naik 16,37% secara bulanan {month-to-month/MM) dibandingkan dengan Juli 2021 senilai US$993,84 juta. Jika dibandingkan dengan kinerja ekspor periode yang sama tahun lalu [year-on-year/YoY), perdagangan luar negeri Sumut pada Agustus 2021 mengalami peningkatan cukup signifikan yakni mencapai 69,38%.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatra Utara Aspan Sopian Batubara mengatakan ekspor golongan lemak dan minyak hewan/nabati pada Agustus tercatat US$563,6 juta atau naik 23,12% secara MtM. Aspan menambahkan bahwa peningkatan kinerja ekspor tidak lepas dari tingginya permintaan pasar luar negeri terhadap sejumlah komoditas andalan dari Sumatra Utara.

Menurutnya, kinerja ekspor pada masa pandemi Covid-19 justru mengalami peningkatan. “Produk-produk pertanian dan perkebunan kita diminati dan dibutuhkan negara-negara importisr,” kata Aspan kepada Bisnis, Selasa (12/10).

Aspan mendorong para petani dan pelaku usaha perkebunan untuk terus memacu produktivitas seiring dengan kian membaiknya kinerja perdagangan ekspor.

“Produk kami di tingkat petani kalau bisa terus ditingkatkan. Karena pemintaan dari negara-negara lain sedang baik-baiknya,” ujarnya.

Aspan berharap kinerja ekspor bisa terus ditingkatkan agar roda perekonomian Sumatra Utara yang sedang mengalami pemulihan akibat pandemi segera pulih.

Salah satu komoditas yang menjadi andalan ekspor Sumut adalah kelapa sawit. Per September 2021 sebanyak 102.000 ton Kelapa Sawit telah diekspor ke sejumlah negara yakni Rusia, China, Australia, Filipina, Algeria, Polandia, Georgia, Senegal, Yunani, Turki, Irak, Mesir, Vietnam dan Estonia.

Subkoordinator Insartek Karantina Tumbuhan Balai Besar Karantina Pertanian Belawan Sari Naru-lita Hasibuan mengatakan nilai ekonomis yang diraup dari ekspor komoditas Kelapa Sawit pada September 2021 mencapai Rpl,5 triliun.

“Minyak sawit menjadi komoditas pertanian paling banyak yang diekspor bulan lalu,” ujarnya kepada Bisnis.

Selain minyak kelapa sawit, komoditas pertanian penyumbang nilai ekonomis ekspor tertinggi pada September 2021 adalah kopi biji sebanyak 5.600 ton dengan nilai ekonomi mencapai sedikitnya Rp354 miliar. {Lihat Infografik)

HARGA TBS

Dalam perkembangan lain, Dinas Perkebunan Provinsi Riau menyatakan harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit sepekan ke depan mengalami kenaikan pada setiap kelompok umur kelapa sawit.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Provinsi Riau Defris Hatmaja mengatakan jumlah kenaikan terbesar terjadi pada kelompok umur 10-20 tahun senilai Rpl54,17 per kg atau mencapai 5,39% dari harga minggu lalu.

“Harga pembelian TBS petani sawit untuk periode satu minggu ke depan naik menjadi Rp3.014,81 per kilogram,” katanya Selasa (12/11).

Defris menjelaskan bahwa naiknya harga TBS periode itu disebabkan oleh terjadinya kenaikan dan penurunan harga jual crude Palm Oil (CPO) dan harga kernel dari beberapa perusahaan yang menjadi sumber data.

Faktor yang memengaruhi di antaranya harga jual CPO PT PTPN V mengalami kenaikan harga Rp697,30/kg, PT Sinar Mas Group mengalami kenaikan harga Rp734,56/kg, PT Asian Agri mengalami kenaikan harga Rp692,46/kg, PT Citra Riau Sarana mengalami kenaikan harga Rp713,60 Ag dari harga minggu lalu.

Sementara untuk harga jual Kernel, PT Asian Agri Group meng- alami penurunan harga Rp20,00/ kg, PT Citra Riau Sarana mengalami kenaikan harga Rp257,91/kg dari harga minggu lalu.

Sementara itu, dari faktor eksternal yakni harga kontrak berjangka [futures] minyak sawit mentah selama sepekan ini melesat di Bursa Derivatif Malaysia mendekati level psikologis 5.000 ringgit Malaysia per ton.

Secara mingguan, harga CPO terhitung naik sebesar 10,2% dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu (4.505 ringgit Malaysia/ton). Penguatan sepekan ini melanjutkan tren pada pekan sebelumnya karena harga CPO juga menguat 1,4% secara mingguan dari level 4.441 ringgit Malaysia/ton.

Lebih jauh Defris menjelaskan bahwa kenaikan harga terjadi di tengah lonjakan permintaan komoditas dasar seperti minyak, gas, hingga batu bara menyusul ekspektasi pemulihan ekonomi global yang memengaruhi harga kelapa sawit.

Alhasil kenaikan harga energi dunia tersebut membuat harga CPO, yang menjadi bahan baku biodiesel, ikut menguat.

 

Sumber: Bisnis Indonesia

Bioavtur J2.4 Jadi Momentum Kemajuan Riset dan Inovasi

 

Jakarta – Indonesia merupakan produsen terbesar Kelapa Sawit yang menguasai sekitar 55% pangsa pasar sawit dunia. Dibandingkan komoditas pesaing lainnya, produksi Kelapa Sawit lebih efisien dan produktivitas yang Iebih tinggi dalam pemanfaatan lahan.

Sebagai perbandingan, untuk menghasilkan 1 ton minyak sawit hanya membutuhkan lahan 0,3 hektare, sedangkan rapeseed oil membutuhkan lahan seluas 1,3 hektare, sunflower oil seluas 1,5 hektare dan soybean oil seluas 2,2 hektare.

“Pemerintah berkomitmen untuk mendukung program B30 pada 2021 dengan target alokasi penyaluran sebesar9,2jutaKiloLiter. Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilisasi harga CPO. Dengan kebijakan tersebut, target 23% bauran energi yang berasal dari Energi Baru Terbarukan pada 2025 sebagaimana ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional akan dapat tercapai,” ujar Menteri Ko- ordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah dalam mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan rendah karbon. Program B30 telah berkontribusi dalam upaya penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) untuk sekitar 23,3 juta ton karbondioksida (CO2) pada tahun 2020. Program ini juga berdampak positif pada penghematan devisa negara dengan pengurangan impor solar sebesar kurang lebih US$8 miliar.

Airlangga juga mengungkapkan, bahwa hal tersebut sesuai arahan arahan dari Presiden RI, Joko Widodo (Jokow) bahwa keterbukaan dan kesiapan Indonesia untuk mendukung investasi dan transfer teknologi termasuk investasi untuk transisi energi melalui pembangunan bio-fuel, industri baterai lithium, dan implementasi dari kendaraan listrik.

Keberhasilan uji terbang bioavtur ini telah memberikan kepercayaan tinggi terhadap kemampuan Indonesia dalam memanfaatkan sumber daya domestik, khususnya minyak sawit, untuk dimanfaatkan sebagai upaya membangun kemandirian energi nasional. Melalui terobosan ini diharapkan dapat berdampak pada pengurangan ketergantungan energi dari impor, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Memperhatikan potensi pasar Bioavtur J2.4 yang dapat mencapai sekitar Rpl.l triliun per tahun, inovasi ini perlu didukung dengan kebijakan fiskal, baik melalui kebijakan perpajakan maupun dana riset, dalam rangka peningkatan keekonomian Bioavtur J2.4 guna merealisasikan potensi ekonomi tersebut bagi pembangunan bangsa. Ke depannya diharapkan agar Bioavtur (2.4 juga dapat di-ujiterbangkan pada pesawat-pesawat komersial sehingga potensi pasar ba-han bakar hasil inovasi anak bangsa ini dapat terus dikembangkan.

Upaya Pemerintah da- lam pengembangan J2.4, keberhasilan katalis merah putih, dan keberhasilan uji terbang J2.4, merupakan momentum yang perlu dikomunikasikan dan mendapat perhatian dari semua stakeholders terkait serta masyarakat luas.

“Kita patut berbangga bahwa pagi ini kita dapat menyaksikan keberhasilan anak bangsa yang dapat mewujudkan pembuatan bioavtur atau 12.4 yang juga telah diuji terbangkan dengan menggunakan pesawat CN235-220 milikPT Dirgantara Indonesia,” ungkap Airlangga.

Airlangga berharap, keberhasilan ini dapat menjadi langkah awal bagi peningkatan kontribusi biofuel bagi sektor transportasi udara, penguatan ketahanan energi nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Saya mengapresiasi kepada Kementerian ESDM dan seluruh pihak yang terlibat aktif dalam penyelenggaraan acara ini, dan juga tim peneliti yang beranggotakan para tenaga ahli dari ITB, PT Pertamina, PT DI, PT GMF, Kementerian Perhubungan, serta didukung oleh BPDPKS. Kolaborasi antara Perguruan Tinggi, industri dan Pemerintah yang telah diimplementasikan dengan baik sehingga menjadi momentum bagi pengembangan riset dan inovasi di dalam negeri,” jelas Airlangga.

Sebelumnya, Corporate Secretary Subholding Refining Petrochemical Pertamina, Ifki Sukarya menegaskan bahwa melalui tahap pengembangan yang komprehensif, Bioavtur 12.4 terbukti menunjukkan performa yang setara dengan ba-han bakar avtur fosil. “Sejak tahun 2014, Pertamina telah merintis penelitian dan pengembangan Bioavtur melalui Unit Kilang Dumai dan Cilacap. Performa Bioavtur sudah optimal, dimana perbedaan kinerjanya hanya 0.2 – 0.6% dari kinerja avtur fosil. Bioavtur J2.4 mengandung nabati 2.4%, ini merupakan pencapaian maksimal dengan teknologi katalis yang ada,” jelas I tki.

 

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

Harga TBS Sawit Jambi Periode 8-14 Oktober 2021 Naik Rp 65,52/kg

 

 

InfoSAWIT, JAMBI – Merujuk hasil dari tim penetapan harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Jambi, harga TBS Kelapa Sawit Provinsi Jambi periode 8-14 Oktober 2021, telah menyepakati harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 65,52/Kg menjadi Rp 2.751,36/Kg.

Berikut harga sawit Provinsi Jambi berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, sawit umur 3 tahun Rp 2.167,30/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 2.295,36/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 2.402,43/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 2.503,91/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 2.567,32/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 2.620,24/Kg.

Sementara sawit umur 9 tahun Rp 2.672,90/Kg dan sawit umur 10-20 tahun Rp 2.751,36/Kg, sawit umur 21-24 tahun Rp 2.665,78/Kg, dan sawit umur 25 tahun Rp 2.538,35/Kg. Dimana harga minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 12.110,92/Kg dan harga Kernel Rp 6.347,67 /Kg dengan indeks K 92,23%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Potensi Pasar Bioavtur Campuran Sawit J2.4 Capai Rp 1,1 Triliun

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Pemerintah berkomitmen untuk mendukung program B30 pada 2021 dengan target alokasi penyaluran sebesar 9,2 juta Kilo Liter.  Hal ini bertujuan untuk menjaga stabilisasi harga minyak sawit mentah (CPO). Dengan kebijakan tersebut, target 23% bauran energi yang berasal dari Energi Baru Terbarukan pada 2025 sebagaimana ditetapkan dalam Kebijakan Energi Nasional akan dapat tercapai

Faktanya potensi pasar Bioavtur campuran dengan minyak sawit 2,4% atau tren disebut J2.4 diperkrakan mencapai sekitar Rp 1,1 triliun per tahun, seba itu dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, inovasi ini perlu didukung dengan kebijakan fiskal, baik melalui kebijakan perpajakan maupun dana riset, dalam rangka peningkatan keekonomian Bioavtur J2.4 guna merealisasikan potensi ekonomi tersebut bagi pembangunan bangsa.

 

Kata Airlangga, ke depannya diharapkan agar Bioavtur J2.4 juga dapat diujiterbangkan pada pesawat-pesawat komersial sehingga potensi pasar bahan bakar hasil inovasi anak bangsa ini dapat terus dikembangkan.

Upaya Pemerintah dalam pengembangan J2.4, keberhasilan katalis merah putih, dan keberhasilan uji terbang J2.4, merupakan momentum yang perlu dikomunikasikan dan mendapat perhatian dari semua stakeholders terkait serta masyarakat luas.

“Kita patut berbangga bahwa pagi ini kita dapat menyaksikan keberhasilan anak bangsa yang dapat mewujudkan pembuatan bioavtur atau J2.4 yang juga telah diuji terbangkan dengan menggunakan pesawat CN235-220 milik PT Dirgantara Indonesia,” kata Airlangga pada acara “Seremonial Keberhasilan Uji Terbang Dengan Bahan Bakar Campuran Bahan Bakar Bioavtur 2,4% (J2.4)” yang dilakukan secara virtual, Rabu (6/10/2021).

Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi peningkatan kontribusi biofuel bagi sektor transportasi udara, penguatan ketahanan energi nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Saya mengapresiasi kepada Kementerian ESDM dan seluruh pihak yang terlibat aktif dalam penyelenggaraan acara ini, dan juga tim peneliti yang beranggotakan para tenaga ahli dari ITB, PT Pertamina, PT DI, PT GMF, Kementerian Perhubungan, serta didukung oleh BPDPKS. Kolaborasi antara Perguruan Tinggi, industri dan Pemerintah yang telah diimplementasikan dengan baik sehingga menjadi momentum bagi pengembangan riset dan inovasi di dalam negeri,” pungkasnya. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Desember 2021, ISPO Hilir Sawit Diperkirakan Terbit

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Progres Penyusunan ISPO Hilir sampai Mei 2021 lalu, kata Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, Kementrian Perindustrian RI, Emil Satria, pihaknya telah menunjuk Dewan Minyak Sawit Indonesian (DMSI) sebagai counterpart penyusunan Prinsip dan Kriteria, best practices, dan identifier (PCBI) sustainability dan traceability industri da rantai pasok. Pihak DMSI telah menyatakan kesediaan membantu Kemenperin dan akan bekerjasama dengan konsultan independen dalam menyusun sistem, norma, dan sertifikasi sustainability/traceability produk industri hilir dan rantai pasok.

Penyusunan PCBI atas sistem, norma, dan sertifikasi sustainability/traceability dilakukan pada 4 produk ekspor utama kelapa sawit yakni, cangakang sawit untuk bahan bakar, RBD Palm Olein dalam bentuk minyak goreng curah mauun kemasan, RBPD Palm Oil sebagai bahan baku industri oleofood/oleokimia, dan RBD Palm Kernel Oil sebagai bahan baku industri confectionary.

 

Diperkirakan pada awal Juni 2021 konsultan independen sudah mulai bekerja dalam wakti 3-4 bulan (Juli-Okotber 2021). Semenatara proses penyusunan dimulai dengan kegiatan public hearing dan diakhiri dengan penyerahan naskah PCBI yang sudah disesuaikan dengan format baku Rancangan Permenperin.

Untuk penyusunan batang tubuh yang berisi kebijakan nasional. Pengaturan sistem da norma sustainability/traceability, dan mekanisme impelmentasi sertifikasi dapat dilaksanakan setelah PCBI tersusun lebih dari 50%. “Harapannya peraturan tersebut bisa final paling lambat Desember 2021,” kata Emil, dalam webinar yang dihadiri InfoSAWIT(T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Menko Airlangga Dorong Penguatan Kemitraan Antara Pengusaha dengan Petani Sawit

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta kemitraan kelapa sawit antara petani dengan pengusaha diperkuat. Hal ini untuk menjawab tantangan kelapa sawit dalam kompetisi perdagangan minyak nabati lain yang semakin kompleks.

Dia mengatakan, kemitraan tersebut untuk memperkuat rantai pasok. Selain itu, juga supaya petani mendapatkan fasilitas terutama untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mendapatkan pembiayaan.

“Asosiasi petani dan asosiasi pengusaha diharapkan dapat duduk bersama untuk mempertebal pola kemitraan perkebunan kelapa sawit, sehingga iklim usaha yang sehat terus dapat diciptakan,” kata dia dalam webinar Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) serie 1 Perkuat Kemitraan dengan Pola Terkini Untuk Masa Depan Sawit Indonesia Berkelanjutan di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa (5/10/2021).

Menurut dia, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia bisa berkontribusi dengan membangun kesadaran dan persepsi positif terhadap industri kelapa sawit dengan memberikan informasi yang akurat. “Saya yakin Aspekpir mampu berperan secara nyata bersama pemerintah dan stakeholder lainnya untuk membangun industri ini agar kuat, berkelanjutan dan bermanfaat bagi rakyat Indonesia,” ujarnya.

Dia menuturkan, luas tutupan kelapa sawit tahun 2019 sekitar 16,38 juta hektare (ha) dengan kepemilikan swasta 53 persen, BUMN 6 persen, dan rakyat 41 persen. Pada 2030 diprediksi perkebunan rakyat menjadi mayoritas mencapai 60 persen, swasta 36 persen, dan BUMN 4 persen. “Peran perkebunan rakyat sangat signifikan sehingga pembangunan kelapa sawit menjadi perhatian pemerintah, selain investasi swasta sebagai penggerak ekonomi yang semakin menggeliat,” ujarnya.

Dia mengatakan, Indonesia menguasai 55 persen pasar minyak sawit dunia dengan luas lahan hanya 10 persen dari lahan minyak nabati global tetapi produksi 40 persen dari total produksi minyak nabati global.

Sawit menyerap 16 juta tenaga kerja dan berkontribusi 15,6 persen terhadap total ekspor nonmigas. “Sawit merupakan tulang punggung perekonomian dan merupakan primadona industri ekspor. Termasuk industri strategis. Karena itu, semua komponen masyarakat termasuk Aspekpir harus menjaga sustainability industri ini,” ucapnya.

Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono menuturkan, salah satu penyebab sawit bisa berkembang seperti sekarang adalah karena pola PIR, dimana pola kerja sama petani – perusahaan ini sudah terbukti meningkatkan kesejahteraan petani dan menguntungkan perusahaan.

Menurut dia, meskipun dari sisi luasan kecil dan programnya sudah dihentikan tetapi bisa jadi contoh, sehingga pola PIR dapat digiatkan lagi. “Kunci kemitraan saling ketergantungan dan saling membutuhkan. Semuanya menjalankan perannya masing-masing. Kemitraan gagal terjadi karena masing-masing tidak menjalankan komitmennya,” ujar Setiyono.

Dia mengatakan, kemitraan juga harus dengan perusahaan yang bonafid. Sebab salah satu penyebab pecahnya kemitraan karena perusahaan tidak bonafid. “Kalau ada masalah maka perusahaan harus ditegur jangan kemitraannya yang diputuskan. Beberapa group besar kemitraannya tetap berjalan karena betul-betul dijaga supaya saling menguntungkan kedua belah pihak,” tutur dia. (T3)

 

Sumber: Infosawit.com

Industri Sawit Lindungi Hak Pekerja Perempuan

 

 

Perempuan yang bekerja di perkebunan kelapa sawit maka sudah selayaknya mendapat perhatian lebih. Ini adalah pengabdian yang luar biasa

Berbagai faktor/alasan yang menyebabkan perempuan memutuskan untuk bekerja, di antaranya membantu finansial keluarga untuk masa depan anak. Karenanya, jika perempuan sudah memutuskan untuk bekerja, pekerja perempuan memiliki peran ganda yaitu sebagai pekerja dan penanggung jawab pertumbuhan serta kualitas anak sebagai generasi penerus.

Seperti diketahui, sesuai dengan kodratnya pekerja perempuan secara berkala akan mengalami haid, kehamilan, melahirkan dan menyusui bayi. Untuk itu, dengan kondisi demikian memerlukan pemeliharaan dan perlindungan kesehatan yang baik agar generasi penerus terjamin kesehatannya.

Berdasarkan alasan di atas Kementerian Kesehatan mempunyai program Gerakan Pekerja Perempuan Sehat dan Produktif (GP2SP). Program ini kerjasama antara Kementerian Kesehatan dengan beberapa instansi, salah satunya perusahaan perkebunan kelapa sawit. Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan status kesehatan gizi pekerja perempuan demia mencapai produktivitas yang maksimal.

Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan, Riskiyana Sukandhi Putra mengatakan perempuan yang bekerja untuk membantu keluarga agar bisa mencapai kehidupan yang lebih baik. “Bahkan ada seorang perempuan yang bekerja di Perkebunan Kelapa sawit maka sudah selayaknya mendapat perhatian lebih. Ini adalah pengabdian yang luar biasa,” ujarnya, saat membuka Webinar Sosialisasi GP2SP di sektor Perkebunan Kelapa sawit di Wilayah Kalimantan, pada Kamis (26 Agustus 2021).

Selanjutnya, dr. Riskiyana menambahkan GP2SP memberikan jawaban berupa pilar-pilar yang menjadi dasar untuk peningkatan imun tubuh dan kebugaran. “Jika ini meningkat maka akan mengurangi absensi kehadiran pekerja perempuan di kantor atau tempat bekerja dan meningkatkan produktivitas. Di sisi lain akan mengurangi biaya di rumah sakit atau pengurangan biaya untuk disabilitas atau penyakit tertentu,” lanjutnya.

Terkait dengan sosialisasi program GP2SP di perusahaan perkebunan Kelapa Sawit, Sashenka F Tahija, Medical Doctor dari PT Hutan Hijau Mas, menjelaskan program yang ada di perusahaannya dalam mendukung program GP2SP, dengan mendirikan Komite Gender yang berfungsi memonitor program GP2SP. “Selain itu, Komite Gender juga bertujuan untuk kesejahteraan anak dan perempuan baik pekerja atau bukan, di area operasional perusahaan,” ucapnya.

“Saat ini, di perusahaan (Hutan Hijau Mas) memiliki 918 pekerja, 214 pekerja perempuan yang bekerja sebagai pemupuk, penyemprot, krani, pencatat TPA dan Guru PAUD,” imbuhnya.

Melihat jumlah pekerja di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit yang jumlahnya di atas 200 pekerja perempuan, bukanlah angka yang sedikit. Pekerja perempuan memiliki peran ganda yaitu di pekerjaan dan di rumah.

Untuk itu, Yuli Adiratna, Direktur Bina Pemeriksaan Norma Ketenagakerjaan Kementerian Tenaga Kerja mengatakan bagi perusahaan yang sudah menerapkan GP2SP sudah sepantasnya mendapatkan reward dari Kementerian Kesehatan.“Terutama di perkebunan sawit yang karakteristiknya berbeda dengan industri lain. Pemukiman pekerja tidak jauh dari lokasi kerja maka perlu dielaborasi bagi pekerja perempuan di industri sawit,” ucapnya.

 

Sumber: Sawitindonesia.com