Produktivitas Petani Sawit Dapat Jaminan

 

Bisnis, PEKANBARU – PT Perkebunan Nusantara V berkomitmen mengganti rugi jika produktivitas petani plasma yang tergabung dalam kemitraan perseroan tidak mencapai target.

Direktur Utama PTPN V Jatmiko Krisna Santosa mengatakan selama ini kebanyakan perusahaan yang bermitra dengan petani masih maju-mundur dalam pembinaannya. Tidak ada jaminan siapa yang membayar jika petani tersebut mengalami kerugian akibat produksi di bawah standar.

“Tapi kami yang nanam, kami yang rawat. Harapannya petani bisa berkembang dan bermitra dengan petani lainnya,” katanya kepada Bisnis, Rabu (21/10).

Petani plasma bisa dalam bentuk Koperasi Unit Desa (KUD) bermitra dengan PTPN V dalam meremajakan sawit. Dana yang dibantu pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan kelapa sawit (BPDPKS) hanya Rp30 juta per hektare (ha), sedangkan biaya yang dibutuhkan untuk replanting sawit renta mencapai Rp50-Rp60
juta/ha sehingga kekurangannya ditutupi melalui pinjaman bank.

“Jika petani plasma tidak mencapai target produksi maka PTPN V akan mengganti rugi ke bank. Sejauh ini 8.000 ha yang sudah di-replanting tidak ada yang produksinya di bawah standar,” katanya.

Saat ini, produktivitas CPO perseroan mencapai 6 ton/ha/ tahun, sedangkan petani plasma atau swadaya hanya 2 ton/ha/ tahun. Realisasi produktivitas KUD binaan PTPN V yang telah mengikuti program replanting PSR rata-rata di atas standar PPKS.

Luas plasma yang dikelola PTPN V mencapai 56.666 ha, dengan komposisi umur tanaman 1-3 tahun seluas 1,295 ha (0,58 %), 4-8 tahun tanaman muda seluas 5,994 ha (3 %), 9-13 tahun tanaman remaja seluas 6,907 ha (3%), 14-20 tahun tanaman dewasa seluas 14.858 ha (7%), 21-24 tahun tanaman tua seluas 14.983 ha (7%), dan yang paling luas di atas 24 tahun atau tanaman renta seluas 179.681 ha (80%).

 

Sumber: Bisnis Indonesia

Riset BPDPKS Harus Bantu Redam Isu Negatif Sawit

JAKARTA- Kemenko Perekonomian mendorong agar Badan Pengelola Dana Perkebunan kelapa sawit(BPDPKS) membiayai kegiatan riset yang bisa membantu meredam isu negatif yang cenderung mendiskreditkan komoditas sawit di pasar global. Dengan begitu, eksistensi komoditas kelapa sawit nasional tetap terjaga, baik di pasar dalam negeri maupun internasional.

Deputi II Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud menjelaskan, industri dan komoditas sawit banyak sekali menghadapi tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri, dan keberadaan BPDKS sebagai penyalur dana riset harus bisa menjaga eksistensi sawit Indonesia di pasar domestik maupun global. “Tantangan global itu tidak kecil, ada isu negatif atau berbagai informasi yang tidak sesuai bukti-bukti atau tidak memiliki bukti saintifik. Karena itu, riset dengan pembiayaan sawit (BPDPKS) diharapkan dapat menjawab isu negatif yang cenderung mendiskreditkan produk sawit, sawit dianggap tidak ramah lingkungan, tidak sehat, dan tudingan lain. Harus membuktikan sawit itu produk ramah lingkungan dan produk yang baik untuk kemaslahatan rakyat dan masyarakat,” kata dia dalam kanal youtube BPDPKS saat membuka Pekan Riset Sawit Indonesia 2020 yang digelar secara daring, Selasa (20/10).

Indonesia sejatinya mempunyai potensi sebagai price maker industri sawit global karena Indonesia adalah produsen dan eksportir sawit terbesar di dunia. Karena itu pula, pengelolaan dana BPDPKS hendaknya ditujukan untuk memperluas pasar sawit dan akhirnya menjaga keseimbangan harga jual sawit yang dapat berdampak positif bagi industri sawit sendiri di pasar domestik, bagi petani, maupun keamanan pangan dunia. “Dan peran riset dan teknologi menjadi sangat penting dalam menaikkan bargaining position suatu negara. Sawit sangat strategis dan menjadi nomor satu dunia berkat dukungan riset dan teknologi sehingga mampu menciptakan perkebunan berdaya saing tinggi. Karena itu, sawit harus senantiasa dijaga agar tetap lestari dan berkelanjutan. Dibentuknya BPDPKS adalah upaya pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh pihak untuk menjaga keberlanjutan sawit Indonesia dan tetap nomor satu di dunia,” ujar Musdhalifah

Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrahman mengatakan, sejak berdiri pada 2015, BPDPKS telah menggandeng 42 lembaga penelitian dan pengembangan, baik instansi pemerintah, perguruan tinggi maupun nonperguruan tinggi, yang melibatkan 662 peneliti senior serta 346 mahasiwa. Dari berbagai aktivitas tersebut ditetapkan 201 kontrak penelitian sawit dan 80 riset oleh mahasiswa, sebanyak 169 telah dilakukan publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional dan 40 dipatenkan, saat ini juga telah diterbitkan lima buku hasil riset. “Kami berharap riset sawit dari BPDPKS tidak berakhir pada pembuatan laporan tapi dimanfaatkan oleh industri, instansi pemerintah, petani sawit, maupun masyarakat. Ke depan, kami akan terus meningkatkan level kegiatan riset menjadi berskala internasional dan kami akan jajaki kerja saam dengan lembaga penelitian terpandang di dunia untuk memajukan riset sawit,” jelas dia.

Pengembangan Biodiesel

Sementara itu, Direktur Penyaluran Dana BPDPKS Edi Wibowo mengatakan, pemerintah melalui BPDKS akan selalu ada untuk sektor kelapa sawit termasuk memberikan dukungan 100% untuk pengembangan bahan bakar nabati (BBN) biodiesel demi energi berkelanjutan. Pemanfaatan BBN dalam rangka mengurangi impor minyak sangat bermanfaat terutama untuk neraca perdagangan lebih stabil. Pengembangan BBN tidak terlepas juga dari kegiatan riset karena tidak mungkin langsung ada uji coba di lapangan. “Kami terus melakukan riset terbaru terkait penggunaan BBN, apakah ada manfaat baru yang diperoleh. Pengembangan BBN merupakan terobosan penting dan harus dilakukan dan dijalankan dengan sebuah penelitian,” ujar dia.

Direktur Eksekutif palm oil Agri business Strategic Policy Institute (Paspi) Tungkot Sipayung mengatakan, peran kelapa sawit di dalam perekonomian Indonesia cukup besar, tidak hanya menyerap tenaga kerja tetapi juga bisa memulihkan ekonomi. Di era pandemi Covid-19 ini, sektor kelapa sawit masih tetap tumbuh, masih banyak perkebunan sawit beroperasi, namun hal yang paling disorot dalam pemanfaatan kelapa sawit di Indonesia adalah program B30 dari pemerintah. “Program B30 baik untuk mendorong ekonomi lebih stabil karena tidak lagi melakukan impor minyak. Program B30 tidak boleh ditunda dan riset soal bahan bakar sawit ini harus terus dikembangkan, selain riset untuk mencari solusi tentang kampanye negatif sawit. Riset sawit merupakan bagian dari upaya mendorong sawit lebih baik lagi,” ujar dia.

 

Sumber: Investor Daiy Indonesia

Ulangtahun ke-5, CPOPC Gelar Lomba Foto Sawit

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Dewan Negara – Negara Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries/CPOPC) menyelenggarakan lomba foto sebagai bagian dari peringatan lima tahun CPOPC pada 21 November 2020. Lomba bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman kolektif tentang peran minyak sawit dalam meningkatkan kualitas kesehatan individu, kesejahteraan masyarakat, dan jejak ekologis dari sektor minyak sawit.

Tema foto yang dilombakan terdiri dari Lingkungan, Pemberdayaan Ekonomi, dan Kesejahteraan Sosial. Adapun persyaratan peserta adalah berusia minimal 18 tahun dan warga negara yang tinggal di salah satu dari lima negara berikut: Indonesia, Malaysia, Colombia, Ghana, dan Honduras. Semua pengiriman karya harus menyertai formulir pendaftaran yang dapat diunduh melalui tautan https://www.cpopc.org/events/ dan dikirim ke photocompetition@cpopc.org. Periode pengiriman sampai 7 November 2020, pukul 23.30 WIB.

Setiap peserta dapat mengirimkan maksimal 3 (tiga) foto untuk setiap tema utama. Untuk pemenang setiap tema utama akan memperoleh hadiah berupa uang tunai sejumlah US$ 1000 untuk Juara Pertama, US$ 750 untuk Juara Kedua, US$ 500 untuk Juara Ketiga, dan @ US$ 250 untuk 3 (tiga) Penghargaan Khusus. Pengirim yang fotonya tidak memenangkan lomba namun dinilai layak menjadi koleksi dokumentasi Sekretariat CPOPC, akan dihubungi secara terpisah oleh Panitia

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Harga TBS Sawit Kalbar Periode I – Oktober 2020 Naik Rp 38,55/Kg

InfoSAWIT, PONTIANAK – Merujuk hasil dari Tim Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) pada 15 Oktober 2020, telah menetapkan untuk periode I – Oktober 2020, harga sawit umur 10 – 20 tahun naik Rp 38,55/Kg menjadi Rp 1.980,32/Kg.

Berikut harga sawit Kalbar berdasarkan penelusuran InfoSAWIT, sawit umur 3 tahun Rp 1.476,17/Kg; sawit umur 4 tahun Rp 1.582,45/Kg; sawit umur 5 tahun Rp 1.694,04/Kg; sawit umur 6 tahun Rp 1.747,24/Kg; sawit umur 7 tahun Rp 1.809,85/Kg; sawit umur 8 tahun Rp 1.869,00/Kg. Sawit umur 9 tahun Rp 1.901,69/Kg; sawit umur 10-20 tahun Rp 1.980,32/Kg.

Lantas sawit umur 21 tahun Rp 1.943,00/Kg; sawit umur 22 tahun Rp 1.933,46/Kg; sawit umur 23 tahun Rp 1.884,61/Kg; sawit umur 24 tahun Rp 1.817,55/Kg; dan sawit umur 25 tahun Rp 1.754,62/Kg. Minyak sawit mentah (CPO) ditetapkan Rp 9.071,56/Kg dan Kernel Rp 4.362,96/Kg, dengan indeks K 91,27%. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Sawit Dukung Implementasi SDGs

JAKARTA-Tanaman kelapa sawit memiliki potensi dalam mendukung terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Hal itu mengingat produktivitas tanaman kelapa sawit yang lebih tinggi dari tanaman minyak nabati lainnya dan Indonesia merupakan tempat atau produsen terbesar komoditas perkebunan tersebut.

Guru Besar IPB University Purwiyatno Hariyadi mengatakan,kelapa sawit memiliki potensi dalam mendukung terwujudnya SDGs, terlebih Indonesia merupakan tempat produsen kelapa sawit. “Produktivitas kelapa sawit sangat tinggi, dapat menghasilkan minyak nabati 8 ton per hektare (ha) per tahun. Ini jauh lebih tinggi dari minyak kedelai dan biji bunga matahari yang hanya mampu menghasilkan 0,40-0,50 ton minyak per ha,” kata dia seperti dilansir situs IPB University, kemarin.

Hariyadi melanjutkan,kelapa sawit juga memiliki umur produktif hingga 25 tahun dengan biaya produksi relatif lebih murah. Berdasarkan data yang dihimpun Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki), sepanjang 2019 produksi minyak sawit Indonesia mencapai 51,80 ton atau 9% lebih tinggi dari 2018. Hal tersebut menjadikan Indonesia layak disebut sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Dengan pertumbuhan populasi dan ekonomi dunia, permintaan terhadap minyak nabati selama satu dekade ke depan akan terus meningkat.

Komoditas minyak kelapa sawit telah bertumbuh secara kuat menyumbang produk domestik bruto (PDB) nasional sekitar 1,50-2,50%. Hal ini yang menjadikan pemerintah Indonesia menjadikan kelapa sawit sebagai faktor kunci perekonomian. Tidak hanya sebagai penghasil devisa,kelapa sawitjuga berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, termasuk kualitas pendidikan dan kesehatan. “Karenanya, tak bisa dipungkiri bahwa minyak kelapa sawit memainkan peran yang signifikan dalam mencapai target SDGs,” jelas dia.

Namun demikian, perlu beberapa strategi untuk menjawab berbagai tantangan seperti aspek keamanan pangan dan risiko kesehatan. Faktanya, sebanyak 85% minyak kelapa sawit digunakan untuk memasak makanan. Karena itu, perlu dipastikan keamanan secara keseluruhan rantai pasoknya sejak tahapan produksi hingga akhir. Indonesia perlu membangun kegiatan riset dan pengembangan agar menghasilkan nilai komposisi kelapa sawit yang lebih tinggi dan berkualitas, termasuk minyak yang bebas lemak trans dan kaya akan fitonutrien.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia

,

Sahat Sinaga, Ketua Masyarakat Biohidro karbon Indonesia Saatnya Petani Hasilkan Bahan Baku Biohidro karbon

Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia mendorong pabrik kelapa sawit (PKS) petani tidak melulu berpikir produksi minyak sawit mentah (CPO). Tetapi berkontribusi untuk menghasilkan biohidro karbon bensin.

Sahat Sinaga, Ketua Masyarakat Biohidro karbon Indonesia, mengatakan, saa tini Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) sedang membuat role model Pengembangan Teknologi Produksi Minyak Nabati Industrial Vegetable Oil (IVO) dan biohidro karbon bensin di Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Pelalawan.

Berdasarkan perhitungan Sahat, harga CPO Rp 6.500 per kg, maka setelah diolah menjadi bensin harganya mencapai Rp 8.100 per liter. “Masa depan produk yang akan dikembangkan oleh petani sawit itu penting, tidak melulu produksi CPO,” ujar Sahat.

Pasar sudah berkembang, menurut dia, beberapa motor pembangkit listrik diesel (PLTD) kini sudah dapat menggunakan minyak sawit. Pasar global memerlukan CPO yang bila diolah di refineri menghasilkan 3-MCPDE di level maksimal  2,5 ppm dan GE di level < 1,0 ppm.

“Teknologi yang digunakan pabrik sawit petani harus modern dan sesuai kebutuhan sekarang. Jangan lagi, pakai teknologi 100 tahun lalu,” tegas Sahat saat menjadi pembicara Dialog Webinar Sesi Kedua UMKM Sawit bertemakan Peluang Pengembangan Mini CPO Plant bagi UMKM Sawit yang diselenggarakan Majalah Sawit Indonesia dan Badan Pengelola Dana Perkebunan KelapaSawit (BPDP-KS)  pada pertengahan Agustus 2020.

Selain itu, biohidro karbon memerlukan minyak sawit yang kandungan Asam Lemak Bebas (ALB) tinggi, namun tidak merusak katalist. “Lahirnya katalis merah putih yang dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan potensi besar bagi pabrik sawit petani,” kata Sahat.

Dia mengatakan, harga sawit berfluktuasi tinggi maka kebun dan pabrik berada dalam satu entitas. Selain itu, harus dilihat juga pilihan teknologi pabrik sawit untuk disesuaikan kondisi kebun. Prasyarat bagi pabrik sawit petani adalah  radius antara jarak kebun dengan pabrik sawit sebaiknya minimal 20 kilometer (km) agar cost bisa ditekan. “Apa bila jarak kebun kepabrik lebih dari 40-50 km, akibatnya kandungan  free fatty acid (FFA) pada tandan buah segar (TBS) menjadi tinggi dan akan menambah cost,” ujar Sahat.

Idealnya, kata dia, jarak dari kebun 20 km, ongkos angkut TBS menjadi Rp 120 per kilogram (kg). Biaya proses dari TBS ke CPO atau PO tidak lebih Rp 180 per kg. Jika lebih dari itu, maka pabrik mini sudah tak lagi efisien.

“Maka lebih ekonomis jarak dekat dan biaya proses lebih murah, sehingga total cost rendah. Kalau pun ada kenaikan ongkos olah di pabrik berkapasitas rendah, misalnya Rp 20/kg, para petani masih punya margin Rp 205 per kg TBS,” jelas Sahat.

Dia mencontohkan, ongkos angkut TBS di daerah Sumatera berkisar Rp 75/kg/10 km. Biaya olah TBS menjadi CPO di pabrik kapasitas 30 ton/jam, berada di level Rp 120 – 170/kg.

Sedangkan biaya olah TBS di pabrik kapasitas kecil 20 ton/jam, sekitar Rp 135 – Rp 185/kg. “Bila jarak kebun petani kepabrik sekitar 50 km, maka harga TBS petani  akan terdiscount Rp 375/kg untuk ongkos angkut TBS kepabrik,” ungkap Sahat.

Menurut dia, sekarang tidak bisa lagi melihat besar atau kecil kapasitas produksi pabrik. ‘Profit di pabrik bisa mencapai 35 persen, jika produktivitas TBS petani 20 ton/ha/tahun,” katanya.

Kemudian agar pabrik berhasil, manajemen pabrik sebaiknya dikelola profesional. Bukan pengurus koperasi. Dia mendorong dalam pembangunan pabrik dibentuk korporatisasi petani agar petani menjadi pemegang saham terbesar ketimbang investor. “Kedepan kita dorong produk yang dihasilkan dari pabrik milik petani bisa langsung dijual ke Pertamina, PLTD atau bahkan pasar luar negeri,” ujar Sahat.

Ia menjelaskan bahwa perlu diketahui oleh Petani Sawit yang akan mengembangkan pabrik sawit petani bahwa 52 – 54% biaya pengolahan TBS sawit menjadi CPO  berada di awal proses – mulai dari loading ramp, sterilizer sampaike Thresher ( pemipilan buah sawit dari tandanya ). Yang menjadi persoalan teknologi pengolahan buah sawit menjadi CPO sudah berusia 100 tahun lamanya. Kini biaya variable cost untuk pengolahan tandan sawit menjadi CPO itu terpatok ( anchoring ) antara Rp 120 – 170 /kg TBS.

 

Sumber: Sawitindonesia.com

Pekan Riset Sawit Kembali Digelar, BPDPKS Dorong Penelitian Bisa Diterapkan di Industri

InfoSAWIT, JAKARTA — Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) kembali menyelenggarakan Pekan Riset Sawit Indonesia (Perisai) yang mempertemukan para peneliti di bidang kelapa sawit dengan pelaku usaha nasional. Mengingat pandemi COVID-19, Pekan Riset Sawit Indonesia 2020 ini digelar secara online melalui forum Webinar.

Digelar pula diskusi yang melibatkan para pemangku kepentingan di sektor kelapa sawit. Acara ini juga memungkinkan untuk terjadinya business matching antara peneliti dengan pemangku kepentingan. Kegiatan ini bisa diikuti melalui aplikasi Zoom dan disaksikan secara live melalui channel BPDP Sawit pada media Youtube. Diseminasi hasil riset juga akan ditayangkan dalam Liputan Khusus Prime Talk di Metro TV pada 22 Oktober 2020.

Acara ini mengusung Tema Mahakarya Inovasi Sawit Nasional “Fastering Innovation for Oil Palm Sector Resilience Facing Covid-19 Pandemic”. Dijadwalkan hadir sebagai pembicara utama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang akan mengupas mengenai Kontribusi Sawit terhadap Perekonomian Nasional di Masa Pandemi COVID-19.

“Acara ini merupakan salah satu program unggulan BPDPKS yang kami laksanakan secara regular setiap tahun, sebagai bagian dari upaya kami untuk mensosialisasikan dan mendorong pengembangan riset di sektor kelapa sawit agar dapat diketahui oleh seluruh stakeholders untuk dapat dimanfaatkan dalam pengembangan industri sawit nasional,” ujar Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman dalam keterangan tertulis yang diterima InfoSAWIT, Senin (19/10/2020).

Dalam acara yang digelar pada 20 Oktober 2020 ini, sebanyak 19 peneliti akan memaparkan hasil penelitian dan pengembangan mereka terkait kelapa sawit. Riset mencakup sejumlah bidang antara lain budidaya/lahan/tanah, biomaterial, bioenergi, pangan/kesehatan, lingkungan, pengolahan limbah, dan sosial ekonomi/manajemen/ICT.

Lebih lanjut Eddy menyampaikan, penelitian dan pengembangan merupakan salah satu elemen penting dan harus menjadi salah satu bagian dari proses utama upaya pengembangan sektor kelapa sawit. Kegiatan riset merupakan pondasi industri hilir yang dibutuhkan sebagai ujung tombak kemajuan industri berbasis komoditas unggulan. Oleh karenanya diperlukan alokasi dana riset yang mencukupi agar penguatan aktivitas riset dapat dilakukan dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendukung pengembangan perkebunan dan industri sawit.

Merujuk informasi dari BPDPKS, sampai saat ini terdapat beberapa riset yang didanai BPDPKS akan/telah dikembangkan/dimanfaatkan oleh industri/Pemerintah diantaranya, pengembangan proses teknologi produksi IVO (Industrial Vegetable Oil) yang dilakukan oleh LPIK ITB bekerjasama dengan Kementrian RIstek/BRIN dan Pemda Musi Banyuasin.

Lantas, teknologi pemurnian biogas untuk bahan bakar kendaraan, yang dilakukan oleh LPPM ITB dengan PTPN V. pengembangan surfaktan metil ester sulfonat, yang dilakukan oleh LPPM IPB dengan PT Petro Kimia Gresik. nilai emisi karbon pada lahan gambut, yang dilakukan oleh LPPM IPB dengan PT. Astra Agro Lestari. Serta, uji jalan penggunaan bahan bakar B30 pada kendaraan bermotor diesel, mesin alsintan, kapal motor, kereta api dan alat berat yang dilakukan oleh Lemigas-KESDM bekerja sama dengan asosiasi kendaraan bermotor dan stakeholder lainnya. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

Ketua MBI: Pabrik Sawit Petani Dapat Berkontribusi Menghasilkan Biohidrokarbon

Pabrik Kelapa Sawit (PKS) milik petani merupakan salah satu bentuk penguataan keberadaan petani sawit sepanjang sistem agribisnis perkebunan kelapa sawit. PKS petani sawit yang akan commissioning di Kalimantan Selatan pada November mendatang menjadi bukti konkret bahwa petani turut memegang peranan penting dalam sektor industri kelapa sawit Indonesia tersebut.

Meskipun target dari adanya PKS petani tersebut masih sebatas penghasil minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia (MBI) mendorong PKS petani untuk berkontribusi dalam menghasilkan biohidrokarbon bensin.

Ketua Masyarakat Biohidrokarbon Indonesia, Sahat Sinaga, mengatakan bahwa saat ini Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) tengah membuat role model Pengembangan Teknologi Produksi Minyak Nabati Industrial Vegetable Oil (IVO) dan biohidrokarbon bensin di Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Pelalawan. Jika diperhitungkan dengan harga CPO yang sebesar Rp6.500 per kg, setelah diolah menjadi bensin sawit, harganya dapat mencapai Rp8.100 per liter.

Berkembangnya pasar dan teknologi membuka peluang dan harapan besar untuk industri perkebunan kelapa sawit Indonesia. Lebih lanjut Sahat menjelaskan, beberapa motor pembangkit listrik diesel (PLTD) sudah dapat menggunakan minyak sawit sebagai bahan bakarnya. Pasar global memerlukan CPO yang apabila diolah di-refinery akan menghasilkan 3-MCPDE di level maksimal 2,5 ppm dan GE di level kurang dari 1 ppm.

Selain itu, biohidrokarbon memerlukan minyak sawit yang kandungan Asam Lemak Bebas (ALB) tinggi, tetapi tidak merusak katalis. “Lahirnya katalis merah putih yang dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan potensi besar bagi pabrik sawit petani,” kata Sahat.

Terkait pembangunan PKS petani perlu diperhatikan letak kebun dan pabrik yang harus berada dalam satu entitas yang sama. Selain itu, pilihan teknologi PKS juga perlu dipertimbangkan untuk disesuaikan dengan kondisi kebun.

Prasyarat bagi PKS petani, yakni radius antara jarak kebun dengan pabrik sawit sebaiknya minimal 20 km agar cost production dapat ditekan. Idealnya, dengan jarak dari kebun ke PKS 20 km, ongkos angkut TBS akan menjadi Rp120 per kilogram. Oleh karena itu, biaya proses dari TBS ke CPO atau PO tidak lebih dari Rp180 per kg. Namun, jika cost production yang dikeluarkan lebih dari nominal tersebut, PKS sudah tidak lagi efisien.

“Maka lebih ekonomis jarak dekat dan biaya proses lebih murah sehingga total cost rendah. Kalaupun ada kenaikan ongkos olah di pabrik berkapasitas rendah, misalnya Rp20 per kg, para petani masih punya margin Rp205 per kg TBS,” jelas Sahat.

Tidak hanya itu, manajemen PKS juga perlu dikelola secara profesional agar pabrik dapat maju dan berkembang dengan baik. Sahat mendorong dalam pembangunan PKS, perlu dibentuk korporatisasi petani agar petani menjadi pemegang saham terbesar, bukan lagi investor.

“Ke depan, kita dorong produk yang dihasilkan dari pabrik milik petani bisa langsung dijual ke Pertamina, PLTD, atau bahkan pasar luar negeri,” ujar Sahat.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

Sawit Mengangkat Ekonomi Dikala Pandemi

 

InfoSAWIT, PEKANBARU – Wajah perempuan paruh baya itu begitu segar meski hitam rambutnya mulai memudar. Suaranya lantang dan semangatnya berkobar kala berbicara lika-liku kehidupan. Suara sumbang tak pernah ia hiraukan, yang terpenting baginya adalah masa depan, untuk anak-anaknya.

Lantang bicaranya selaras dengan tangannya yang bergerak cepat di atas hamparan polibag berisi bibit sawit. Dengan cekatan, dia membersihkan, memindahkan, dan menyiram barisan bibit sawit unggul tersebut.

Heddina, begitu perempuan itu akrab disapa. Meski memasuki senja, sama sekali tak tergambar usia sebenarnya. Heddina merupakan warga Kecamatan Bukit Kapur, Kota Dumai, Provinsi Riau.

Dia menjadi satu dari 52 pekerja di sentral pembibitan sawit unggul Kerja Sama Operasional (KSO) antara PT Perkebunan Nusantara V dengan Penyedia benih Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, Sumatera Utara, yang ada di kota pelabuhan tersebut.

Bagi Heddina, keberadaan sentral pembibitan itu adalah sebuah anugerah, kala sang suami tercinta kembali ke sang pencipta dan meninggalkan dirinya untuk selamanya, tiga tahun silam. Baginya, sentral pembibitan itu juga sebuah berkah kala dia harus menjadi penopang keluarga untuk ketiga anaknya yang kini tengah mencari pekerjaan usai tamat sekolah.

“Saya sangat bersyukur bisa bekerja di sini. Bisa membantu ekonomi keluarga kami. Apalagi saya sekarang ibu tunggal setelah suami meninggal dunia tiga tahun lalu,” kata Heddina dalam video pendek PT Perkebunan Nusantara V yang didapat InfoSAWIT, belum lama ini .

Perempuan yang telah tinggal di Dumai sejak 30 tahun lalu usai merantau dari kampung halamannya di provinsi tetangga itu, mengisahkan bahwa tak jarang dulu ia harus menepis rasa malu untuk meminta pekerjaan kepada tetangganya. Semuanya ia lakoni demi dapur tetap mengepul.

Namun, semuanya menjadi lebih baik kala PT Perkebunan Nusantara V membuka areal pembibitan sawit unggul, tidak jauh dari tempat tinggalnya. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

Sawit miliki potensi dalam implementasi SDGs, sebut guru besar IPB

Guru BesarProf Dr Purwiyatno Hariyadi mengatakan bahwa kelapa sawit memiliki potensi dalam mendukung terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

“Terlebih Indonesia merupakan tempat produsen kelapa sawit. Produktivitas kelapa sawit sangat tinggi, dapat menghasilkan minyak nabati mencapai delapan ton per hektar per tahun. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan minyak dari kedelai dan biji bunga matahari yang hanya mampu menghasilkan 0,4 ton dan 0,5 ton minyak per hektarenya,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad.

Dalam konferensi Food Ingredient Asia Conference (FiAC) ke-6 yang diselenggarakan South East Asia Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), IPB University bekerjasama dengan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB University dan Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) .itu, ia menambahkan bahwa kelapa sawit juga memiliki umur produktif mencapai 25 tahun dengan biaya produksi relatif lebih murah.

Berdasarkan data yang dihimpun Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (GAPKI), kata dia, sepanjang tahun 2019 produksi minyak sawit Indonesia mencapai 51,8 ton crudepalm oil(CPO). Jumlah itu 9 persen lebih tinggi dari produksi tahun 2018.

Hal tersebut, katanya, menjadikan Indonesia layak disebut sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Dengan pertumbuhan populasi dan ekonomi dunia, permintaan terhadap minyak nabati selama satu dekade ke depan akan terus meningkat.

Komoditas minyak kelapa sawit telah bertumbuh secara kuat menyumbang produk domestik bruto (PDB) nasional sekitar 1,5 sampai 2,5 persen. Ini yang menjadikan pemerintah Indonesia menjadikan kelapa sawit sebagai faktor kunci perekonomian, tambahnya.

Tidak hanya sebagai penghasil devisa, kata dia,kelapa sawitjuga berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, termasuk kualitas pendidikan dan kesehatan. Karenanya, tak bisa dipungkiri bahwa minyak kelapa sawit memainkan peran yang signifikan dalam mencapai target SDGs.

Namun demikian, perlu beberapa strategi untuk menjawab berbagai tantangan seperti aspek keamanan pangan dan risiko kesehatan. Faktanya, sebanyak 85 persen minyak kelapa sawit digunakan untuk memasak makanan. Oleh karena itu, perlu dipastikan keamanan secara keseluruhan rantai pasoknya sejak tahapan produksi hingga akhir.

Purwiyatno Hariyadi juga menegaskan Indonesia perlu membangun kegiatan riset dan pengembangan agar menghasilkan nilai komposisi kelapa sawit yang lebih tinggi dan berkualitas. Termasuk minyak yang bebas lemak trans dan kaya akan fitonutrien.

Sementara itu Perwakilan IPB University, Dr Azis Boing Sitanggang, dalam sambutannya mengatakan, FiAC merupakan wadah untuk mendiseminasikan dan mendiskusikan hasil penelitian dan isu terkini terkait pangan di Indonesia dan dunia.

Sementara itu Kepala LPPM IPB University, Dr Ernan Rustiadi mengatakan populasi dunia yang terus bertambah seiring dengan terbatasnya lahan produktif merupakan tantangan bagi ketahanan pangan dunia.

“Ini harus diatasi dengan meningkatkan produktivitas lahan yang tersedia, meminimalkan food loss, serta mengelola konsumsi pangan substansial yang berkelanjutan, katanya.

 

Sumber: Antaranews.com