Harga Membaik, Ekspor Sawit Prospektif

Pekerja menimbang tandan buah segar kelapa sawit di Desa Kuala Air Hitam, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Kamis (14/2/2019). Harga TBS di tingkat petani naik menjadi Rp 1.050, namun produksi turun 50 persen karena musim trek.
KOMPAS/NIKSON SINAGA (NSA)
14-02-2019

 

JAKARTA, KOMPAS – Harga minyak sawit teras naik beberapa bulan terakhir dan mencapai angka tertinggi, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, pada awal 2021. Prospek produksi dan ekspor minyak sawit serta produk turunannya diprediksi terjaga seiring permintaan yang menguat di pasar dunia.

Mengutip data Trading Economics, harga kontrak minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) berjangka di Bursa Malaysia mencapai lebih dari 3.750 ringgit per ton sejak awal Januari 2021. Angka ini belum pernah terjadi sejak Februari 2011. Pada Kamis (7/1/2021), perdagangan CPO ditutup pada angka 3.817 ringgit per ton.

Kenaikan harga CPO terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak nabati lain, yaitu minyak kedelai, terutama didorong permintaan yang tinggi dari China Selain itu, kenaikan dipengaruhi pula oleh pasokan yang terganggu La Nina.

Direktur Eksekutif Gabung-* an Pengusahakelapa sawitIndonesia (Gapki) Mukti Sardjono, Kamis, mengatakan, tren harga di pasar dunia yang teras membaik bisa mendorong produksi minyak sawit dalam negeri. Pekebun lebih bersemangat memperbaiki produksi sehingga produksi diperkirakan meningkat tahun ini.

Selain produksi yang membaik, ia memprediksi ekspor CPO Indonesia tahun 2021 akan meningkat. “Dengan tren saat ini, ekspor masih akan bagus karena Covid-19 belum berakhir sehingga kebutuhan memproduksi cairan penyani-tasi dan produk oleokimia lain juga masih tinggi,” ujarnya.

Kenaikan harga dan permintaan dunia juga membuat peran ekspor sawit signifikan bagi neraca perdagangan Indonesia di triwulan 1-2021. Sebelumnya,

Gapki memprediksi, produksi CPO 2021 akan mencapai 49 juta ton dan menyumbang devisa ekspor di kisaran 20 miliar dollar AS. Sementara itu, ekspor CPO Indonesia tahun ini diperkirakan 7,5 juta ton (Kompas, 4/12/2020).

Badan Pusat Statistik mencatat, pada Januari-Oktober 2020, ekspor minyakkelapa sawitIndonesia mencapai 14,003 miliar dollar AS, naik 13,63 persen dibandingkan periode yang sama 2019 dengan nilai ekspor 12,32 miliar dollar AS. Ekspor minyakkelapa sawitberperan hingga 11,2 persen terhadap ekspor nonmigas pada periode tersebut

Bea keluar

Seiring naiknya harga minyak sawit, harga referensi CPO untuk penetapan bea keluar periode Januari 2021 ikut naik. Harga referensi itu 951,86 dollar AS per ton, naik 9,31 persen dibandingkan periode Desember 2020 yang 870,77 dollar AS per ton.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Didi Sumedi mengatakan, dengan kenaikan harga referensi, bea keluar CPO ikut naik. “Saat ini, harga referensi CPO telah jauh melampaui batas 750 dollar AS per ton. Karena itu, pemerintah mengenakan bea keluar 74 dollar AS per ton untuk periode Januari 2021,” katanya dalam keterangan tertulis.

Nilai bea keluar CPO Januari 2021 naik cukup signifikan dibandingkan Desember 2020 yang 33 dollar AS per ton. Penetapan- itu mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 166/PMK.010/2020. Menurut Didi, peningkatan harga referensi dan bea keluar CPO disebabkan oleh menguatnya harga CPO dunia.

Selain bea keluar, pemerintah juga sebelumnya telah menerbitkan aturan baru terkait skema pungutan ekspor produkkelapa sawitlewat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 191 Tahun 2020. Tarif pungutan ekspor diberlakukan progresif. Tarif 55 dollar AS per ton berlaku ketika harga CPO setara 670 dollar AS per ton atau lebih rendah.

Pungutan naik jadi 60 dollar AS per ton jika harga CPO di atas 670-695 dollar AS per ton dan menjadi 75 dollar AS per ton jika harga CPO di kisaran 696-720 dollar AS per ton. Adapun jika harga CPO teras naik 25 dollar AS per ton, nilai pungutan akan bertahap1 naik 15 dollar AS per ton. Terkait itu, Mukti berharap kebijakan tarif dan pungutan ekspor tersebut tidak sampai memberatkan pelaku usaha dan produsen sawit

Target batubara

Produksi batubara ditargetkan 550 juta ton tahun ini. Namun, jika harganya dinilai cukup menarik di pasar ekspor, pemerintah akan mengevaluasi target produksi. Tahun lalu, produksi batubara ditargetkan 550 juta ton, tetapi realisasinya 558 juta ton.

Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif, harga batubara pada awal 2021 yang lebih tinggi dari rerata harga 2020, terutama disebabkan oleh meningkatnya permintaan dari sejumlah negara yang mengindikasikan ada pemulihan ekonomi.

Koordinator Nasional Publish What You Pay (PWYP) Indonesia, Aryanto Nugroho, mengatakan, pemerintan sebaiknya konsisten dengan pembatasan produksi 400 juta ton per tahun. Produksi yang digenjot lebih tinggi dikhawatirkan mengganggu daya dukung lahan.

 

Sumber: Kompas

Mari Bergabung Dengan Indonesian Planters Society

 

InfoSAWIT, JAKARTA – Mungkin istilah Planter masih asing bagi sebahagian masyarakat umum di Indonesia, Planter sebenarnya sebuah Profesi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda seiring dengan dibukanya perusahan-perusahaan perkebunan di tanah air. Kala itu dengan istilah-istilah Belanda, para Planter lebih dikenal dengan jenjang jabatannya di kebun seperti Asisten,Asisten Kepala dan Administrateur (biasa disingkat ADM).

Planter sebenarnya orang-orang yang bekerja memanage (mengelola) suatu usaha perkebunan mulai dari aspek agronomis sampai aspek bisnisnya, berstatus karyawan leader (Pimpinan).  Planter itu biasanya tinggal di kebun, Lantas apakah saat ini ada wadah atau asosiasi untuk para Planter? Ini suatu pertanyaan yang menarik.

Lantaran profesi planter kini menjadi profesi yan menarik seiring dengan bertumbuhnya sektor komoditas perkebunan di Indonesia,  bisa saja berasal dari sektor  perkebunan Kelapa Sawit, Karet, Kakao, Tebu, Kopi, Teh, Kelapa dan komoditas lainnya.

Sebab itu guna memperkuat tali silaturahmi dan kerjasama yang erat diantara para planter maka, kini telah hadir Indonesian Planters Society (IPS) merupakan wadah resmi Planter Indonesia dan menjadi organisasi bagi profesi Planter Indonesia.

“Saat ini IPS telah berbadan hukum sesuai SK Menkumham RI Nomor AHU-0007108.AH.01.07 Tahun 2018 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan INDONESIAN PLANTERS SOCIETY,” tutur salah satu pengurus IPS, Hudan Wibijaksana kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Lantas bagai mana untuk bergabung dengan asosiasiplanters ini, ternyata cukup mudah, bila anda berprofesi planters maka bias bergabung dengan wadah resmi perkumpulan Planter Indonesia profesional dengan mengisi formulir pada link berikut : http://bit.ly/Pendaftaran_IPS_Planter  sementara bila untuk lebih jelasnya bisa hubungi di nomor: 081294491559. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com

,

PERTARUHAN TAJI HARGA CPO

 

Bisnis, JAKARTA – Minyak kelapa sawit dan produk turunannya digadang-gadang kembali sanggup menopang pembalikan kinerja ekspor nonmigas Indonesia pada 2021, selama Malaysia masih mengalami disrupsi stok minyak nabati tersebut.

Seperti diketahui, performa harga minyak nabati global-termasuk minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO)-saat ini sedang menunjukkan taringnya.

Salah satu penyebabnya adalah gangguan pasokan dari Malaysia, selaku produsen CPO terbesar kedua dunia.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan gangguan pasokan di Malaysia membuka jalan bagi Indonesia untuk mendorong ekspor CPO dan produk turunannya karena produksi di Tanah Air cenderung tidak terganggu.

Untuk diketahui, stok minyak sawit di Malaysia pada awal 2021 diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu.

Data Malaysia palm oil Industry (MPOC) menunjukkan stok akhir CPO pada November berada di level terendah dalam 40 bulan terakhir dengan volume 1,56 juta ton.

Produksi minyak sawit di negeri jiran pun diperkirakan tetap terkoreksi setidaknya sampai Maret atau April 2021 akibat cuaca dan terbatasnya pergerakan pekerja di kebun.

“Peluang ekspor [CPO Indonesia] tetap besar karena produksi cenderung masih normal. Di Malaysia pembatasan ketat dan banyak pekerja di kebun mereka berasal dari Bangladesh dan Indonesia sehingga memengaruhi produksi,” kata Sahat kepada Bisnis, Kamis (7/1).

Selain gangguan pasokan CPO dari produsen tetangga, Sahat menjelaskan pasokan minyak nabati secara global memang ketat.

Terutama untuk kedelai dari negara-negara Amerika Selatan seperti Argentina dan Brasil yang produksinya terganggu akibat kekeringan yang terjadi.

“Harga kedelai memang terus naik dan diikuti pula oleh kenaikan harga CPO, tetapi harga CPO masih bersaing. Meski permintaan kedelai di pasar utama seperti China naik, pangsa minyak nabati tetap didominasi CPO,” kata dia.

Sahat memperkirakan ekspor CPO Indonesia tetap menguat pada 2021 dengan harga yang terjaga akibat kebijakan penyeimbang pasokan seperti mandatori bauran biodiesel 30%.

Analisis GIMNI memproyeksi ekspor pada 2021 tumbuh 8% menjadi sekitar 36,7 juta ton.

Sementara itu, produksi domestik ditaksir naik dari estimasi 56,34 juta ton pada 2020 menjadi 59,00 juta ton pada 2021.

Adapun, harga CPO berhasil menyentuh level tertingginya dalam 10 tahun terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO berjangka pada perdagangan Rabu (6/1) untuk kontrak teraktif di Bursa Malaysia berada di posisi 4.040 ringgit.

Harga ini merupakan yang tertinggi sejak 2008 dan sepanjang 2021, harga CPO telah terapresiasi 3,83%.

JAGA MOMENTUM

Pada perkembangan lain, Kementerian Perdagangan pun berjanji akan menjamin kebijakan untuk minyak sawit tahun ini sejalan dengan upaya untuk mengendalikan harga komoditas tersebut di level internasional.

Dengan demikian, dampak positif dari kinerja komoditas ini terhadap ekspor nonmigas dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Kemendag mencatat kelompok produk minyak nabati (HS 15) merupakan penyumbang surplus terbesar bagi RI sepanjang Januari sampai November 2020 dengan nilai US$17,91 miliar.

Harga rata-rata CPO yang menguat 27,95 % pada 2020 menyebabkan kontribusi komoditas terhadap ekspor nonmigas tumbuh pesat.

Nilai ekspor CPO dan turunannya naik 12,25% dari US$15,57 miliar pada Januari-November 2019 menjadi US$18,10 miliar pada Januari-November 2020.

Kenaikan nilai ini dirasakan meski volume ekspor CPO terkoreksi 7,56% dari 29,6 juta menjadi 27,36 juta ton.

“Kebijakan Kemendag tentunya tidak akan terlepas dari kebijakan menyeluruh pemerintah seperti komitmen melanjutkan B30. Dengan kebijakan ini kami harap dapat membantu mengendalikan harga internasional sehingga dampak positifnya dapat terjaga secara berkelanjutan,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag Oke Nurwan saat dihubungi, Kamis (7/1).

Oke pun meyakini permintaan CPO tetap akan positif pada 2021 terlepas dari naiknya permintaan untuk kedelai dari destinasi utama minyak nabati Indonesia, yakni China.

Bagaimanapun, lanjut Oke, CPO masih memiliki keunggulan komparatif dari segi harga dengan pangsa ekspor terbesar.

Sekadar catatan, minyak sawit menyumbang 32% dari total produksi minyak nabati global.

“Peningkatan impor kedelai oleh China tidak akan memengaruhi kebutuhan CPO. Impor tersebut lebih karena kebutuhan pasokan kedelai lokal China menurun,” ujarnya.

Meski Kemendag bakal mendukung keberlanjutan penyerapan domestik lewat B30, Oke mengatakan perluasan ekspor ke pasar-pasar baru tetap tidak dikesampingkan.

Dia menjelaskan terdapat peluang ekspor ke negara-negara mitra nontradisional yang memperlihatkan kenaikan permintaan yang signifikan.

Hasil Pusat Kajian Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag menunjukkan kenaikan tertinggi terjadi di Kenya yang pada Januari-Oktober 2019 membukukan impor CPO senilai US$105 juta dan naik 123,8% menjadi US$235 juta pada periode yang sama tahun lalu. Peningkatan yang drastis pun diperlihatkan Vietnam dari US$171 juta menjadi US$337 juta pada Januari-Oktober 2020.

Di tempat terpisah, ekonom Bank Permata Jo sua Pardede memprediksi CPO Indonesia bisa
menguat sepanjang kuartal 1/2021 sebagai buntut dari tingginya harga kedelai global.

Masih terbatasnya pasokan kedelai dalam beberapa pekan ke depan dari pemasok utama seperti Argentina akibat kemarau yang dibawa La Nina disebut Josua akan mendorong negara-negara importir beralih ke minyak nabati lain yang lebih kompetitif.

“Harga kedelai yang tinggi secara tidak langsung akan ikut menopang harga CPO global. Hal ini disebabkan oleh proyeksi peralihan permintaan kepada CPO karena secara relatif, harga dari minyak kedelai lebih mahal. Peralihan ini akan ikut mendorong kenaikan volume ekspor CPO, terutama pada awal 2021,” kata Josua.

Dia pun memperkirakan harga CPO bakal stabil dan kuat sepanjang tahun sebagai imbas mandatori biodiesel yang dicanangkan pemerintah.

Di sisi lain, peningkatan produksi dia sebut akan menjadi penghambat utama reli harga komoditas tersebut.

Analisis dari Oil World memperkirakan produksi CPO Indonesia akan bertambah sekitar 3,5 juta ton, sementara produksi di Malaysia naik tipis 400.000 ton pada 2021.

“Dengan proyeksi kenaikan volume serta harga CPO, diperkirakan ekspor Indonesia masih akan ditopang oleh komoditas ini pada 2021,” lanjutnya.

Gangguan produksi di negara tetangga yang terjadi pada awal 2021 sebagai imbas La Nina, di sisi lain, bisa menjadi peluang bagi Indonesia.

Josua mengatakan permintaan untuk CPO asal Indonesia bisa meningkat karena terbatasnya pasokan dari Malaysia. Permintaan dari India dan China bakal memainkan peran penting bagi serapan produksi Indonesia.

“Dengan proyeksi tersebut, produksi CPO Indonesia yang diproyeksikan naik akan mengalami lonjakan permintaan. Hal ini tentunya akan mendukung produsen CPO di Indonesia,” kata dia.

Meski prospek ekspor komoditas ini menjanjikan, tak semua produsen di Tanah Air langsung bergegas mengejar peningkatan ekspor.

Senior Vice President of Corporate Communication Public Affair PT Astra Agro LestariTbk. (AALI) Tofan Mahdi mengatakan proyeksi harga CPO harus disikapi dengan hati-hati karena kondisi perekonomian belum sepenuhnya stabil.

“Apakah permintaan akan terus naik atau justru turun? [Hal itu] akan bergantung pada efektivitas penggunaan vaksin dalam mengatasi pandemi,” ujarnya.

Tofan mengatakan perusahaan bakal tetap mencari pasar-pasar potensial untuk digarap mengingat 60% produksi CPO diekspor ke luar negeri.

Adapun, destinasi utama ekspor AALI mencakup China, India, Pakistan, Bangladesh, Filipina, Korea Selatan, Kenya, dan Singapura. “Kami tetap melihat pasar-pasar potensial yang bisa digarap, baik itu pasar ekspor maupun domestik,” kata Tofan.

 

 

Sumber: Bisnis Indonesia

Pemerintah Memompa Penggunaan Green Fuel

JAKARTA. Pemerintah terus memompa pengembangan green fiiel berbasis minyak sawit mentan. Kelak, Indonesia bisa menghasilkan Green Diesel (D100), Green Gasoline (G100) dan Bioavtur (J100) yang berbasis pada crude palm oil (CPO).

Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Andrian Feby Misna menyampaikan, peningkatan pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar ramah lingkungan merupakan upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan energi fosil.

Untuk memuluskan rencana itu, pemerintah mendorong PT Pertamina untuk mengembangkan green fuel di kilang Pertamina yang berada di sentra produksi sawit. Upaya itu baik secara co-processing di kilang existing maupun membangun kilang baru untuk green fuel.

“Produk green fuel ini mempunyai karakteristik yang mirip dengan bahan bakar berbasis fosil, bahkan untuk beberapa parameter kualitasnya jauh lebih baik dari bahan bakar berbasis fosil,” tutur Feby, Selasa (6/1).

Namun yang pasti, kata dia, Green Diesel atau Diesel Biohydrokarbon memiliki keunggulan dibandingkan diesel yang berbasis fosil maupun biodiesel berbasis fatty acid methyl ester (FAME). Keunggulan itu di antaranya adalah cetane number yang relatif lebih tinggi, sulfu r con ten t yang lebih rendah, dan oxidation stability-nya. juga lebih baik serta warna yang lebih jernih.

Co-processing merupakan salah satu cara untuk memproduksi green fuel melalui proses pengolahan bahan baku minyak nabati dengan minyak bumi secara bersamaan.

“Saat ini, Pertamina telah berhasil menginjeksikan Refined Bleached Deodorized palm oil (RBDPO) pada unit Distillate Hydrotreating Refinery Unit (DHDT) di beberapa kilang existing dengan menggunakan katalis Merah Putih hasil karya anak bangsa, yakni Tim ITB,” ungkap Feby.

 

Sumber: Harian Kontan

Harga CPO Tertinggi Sejak 2008

 

JAKARTA – Harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) berhasil menyentuh level tertingginya dalam lebih dari 10 tahun terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (6/1) hingga pukul 16.53 WIB harga CPO berjangka untuk kontrak teraktif di Bursa Malaysia berada di posisi 4.040 ringgit per ton, naik 1,87% atau 74 poin.

Level tersebut merupakan level tertinggi CPO sejak 2008. Sepanjang tahun berjalan 2021, harga CPO telah terapresiasi 3,83%. Pada 2020, harga CPO menguat hingga 27,95%.

Kepala Strategi Perdagangan dan Lindung Nilai Kaleesuwari Intercontinental Gnanasekar Thiagarajan mengatakan bahwa penguatan harga minyak sawit itu berhasil didorong oleh kenaikan harga rekan minyak nabati lainnya, minyak kedelai, dan minyak bumi.

Dia menilai penguatan harga kedua jenis minyak tersebut telah meningkatkan daya tarik minyak sawit di tengah gangguan pasokan yang terjadi di produsen CPO terbesar kedua di dunia, Malaysia.

“Stok yang rendah, banjir di Malaysia, harga kedelai yang kuat, dan bahkan harga minyak mentah yang lebih kuat mendukung sentimen untukkelapa sawitsaat ini,” ujar Thiagarajan seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (6/1).

Untuk diketahui, komoditas kedelai dan turunannya terpantau melonjak ke level terkuat sejak 2014 di bursa Chicago akibat bencana kekeringan yang semakin memburuk di Amerika Selatan.

Cuaca kering itu telah me-manggang ladang agrikultur Argentina dan beberapa bagian Brasil sehingga memberikan sinyal akan adanya gangguan produksi kedelai.

Di sisi lain, berdasarkan jajak pendapat Bloomberg, persediaan CPO Malaysia pada Desember 2020 diperkirakan terkontrak-si hingga 24% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, menjadi hanya sebesar 1,18 juta ton. Angka produksi itu merupakan posisi terendah sejak 2007.

Di tengah prospek pemulihan permintaan seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang semakin baik, gangguan pasokan akan menjadi katalis positif kuat untuk harga CPO bergerak naik. Apalagi, terjadi di produsen CPO terbesar kedua di dunia.

 

Sumber: Bisnis Indonesesia

,

Produksi CPO Malaysia Terganggu, Ekspor RI Bisa Terus Melaju

 

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia tetap memiliki peluang besar untuk memperkuat ekspor minyak sawit (CPO) dan turunannya di tengah tren harga minyak nabati global yang menunjukkan kenaikan.

Salah satu peluang tersebut datang dari disrupsi pasokan yang terjadi di Malaysia, produsen minyak sawit terbesar kedua.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga mengatakan gangguan pasokan di Malaysia membuka jalan bagi Indonesia untuk mendorong ekspor karena produksi di Tanah Air cenderung tidak terganggu.

Sebagaimana dilaporkan, stok minyak sawit di Malaysia pada awal 2021 diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu.

Data Malaysia Palm Oil Industry (MPOC) menunjukkan stok akhir CPO pada November berada di level terendah dalam 40 bulan terakhir dengan volume 1,56 juta ton. Produksi minyak sawit di negara itu pun diperkirakan tetap terkoreksi setidaknya sampai Maret atau April 2021 akibat cuaca dan terbatasnya pergerakan pekerja di kebun.

“Peluang ekspor kita tetap besar karena produksi cenderung masih normal. Di Malaysia pembatasan ketat dan banyak pekerja di kebun mereka berasal dari Bangladesh dan Indonesia sehingga memengaruhi produksi,” kata Sahat kepada Bisnis, Kamis (7/1/2021).

Selain gangguan pasokan CPO dari produsen lain, Sahat menjelaskan pasokan minyak nabati secara global memang ketat. Terutama untuk kedelai dari negara-negara Amerika Selatan seperti Argentina dan Brasil yang produksinya terganggu akibat kekeringan yang terjadi.

“Harga kedelai memang terus naik dan diikuti pula oleh kenaikan harga CPO, tetapi harga CPO masih bersaing. Meski permintaan kedelai di pasar utama seperti China naik, pangsa minyak nabati tetap didominasi CPO,” kata dia.

Sahat memperkirakan ekspor CPO Indonesia tetap menguat pada 2021 dengan harga yang terjaga akibat kebijakan penyeimbang pasokan seperti mandatori bauran biodiesel 30 persen. Analisis GIMNI memproyeksi ekspor pada 2021 tumbuh 8 persen menjadi sekitar 36,7 juta ton.

Sementara itu, produksi domestik ditaksir naik dari estimasi 56,34 juta ton pada 2020 menjadi 59,00 juta ton pada 2021.

Harga CPO dilaporkan berhasil menyentuh level tertingginya dalam 10 tahun terakhir. Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO berjangka pada perdagangan Rabu (6/1/2021) untuk kontrak teraktif di Bursa Malaysia berada di posisi 4.040 ringgit. Harga ini merupakan yang tertinggi sejak 2008 dan sepanjang 2021, harga CPO telah terapresiasi 3,83 persen.

 

Sumber: Bisnis.com

Hore! Harga CPO Tembus Rekor Terus Dekati RM 3.900

 

Jakarta, CNBC Indonesia – Tren penguatan harga kontrak futures (berjangka) minyak sawit mentah (CPO) Malaysia membawanya dekati level tertinggi dalam 10 tahun di RM 3.900/ton. Namun karena naiknya sudah terlalu kencang, harga komoditas unggulan RI dan Malaysia tersebut terkoreksi hari ini, Kamis (7/1/2021).

Harga kontrak yang aktif ditransaksikan di Bursa Malaysia Derivatif Exchange tersebut turun 0,23% dibanding posisi penutupan perdagangan kemarin. Harga kontrak CPO yang kadaluwarsa pertengahan Maret tersebut dibanderol di RM 3.868/ton. Padahal kemarin harga CPO ditutup di RM 3.877/ton.

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters juga memperkirakan penurunan di kisaran yang sama. Apabila hal tersebut terjadi, stok CPO akan berada di level terendahnya dalam 13 tahun terakhir.

Kendati ada kenaikan pungutan ekspor minyak sawit tetapi ketatnya pasokan akibat cuaca ekstrem dan hujan lebat akan tetap mendongkrak harga. Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOC) memperkirakan harga CPO bisa menyentuh level tertingginya di RM 3.850/ton pada kuartal pertama tahun ini.

Reuters melaporkan rata-rata harga CPO untuk kuartal pertama tahun ini akan berada di RM 3.650. Proyeksi tersebut disampaikan oleh CEO MPOC Datuk Dr Kalyana Sundram dalam acara Malaysian Palm Oil Trade Fair and Seminar Digital 2021.

Lebih lanjut Sundram mengatakan harga CPO baru akan mulai turun pada kuartal kedua dan ketiga. Sehingga secara rata-rata harga CPO tahun ini diperkirakan berada di RM 3.217/ton.

Faktor yang mempengaruhi pergerakan harga CPO masih terkait dengan fenomena iklim La Nina yang menyebabkan hujan lebat, pandemi Covid-19, stimulus ekonomi dan tensi geopolitik.

Kenaikan harga CPO yang tinggi hari ini juga tak terlepas dari melesatnya harga minyak mentah menyusul pemberitaan bahwa Arab Saudi bersedia secara sukarela untuk memangkas produksi minyaknya sebesar 1 juta barel per hari (bph).

CPO merupakan salah satu bahan baku biodiesel yang menjadi bahan bakar substitusi minyak, sehingga pergerakan harga minyak akan turut berpengaruh terhadap fluktuasi harga minyak nabati unggulan RI dan Negeri Jiran.

Beralih ke Indonesia, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memprediksi produksi CPO tahun ini mencapai 49 juta ton atau naik 3,5% dibanding tahun lalu.

Permintaan ekspor minyak sawit diperkirakan tembus mencapai 55,2 juta ton atau megalami kenaikan sebesar 11,5% dibanding tahun lalu. Konsumsi biodiesel juga berpotensi naik 11% tahun ini.

 

Sumber: Cnbcindonesia.com

,

Pemanfaatan Minyak Jelantah Didominasi untuk Daur Ulang

Duh, Masih Mau Pakai Minyak Jelantah Setelah Tahu Bisa Datangkan Malapetaka Ini Buat Tubuh? Pikir-pikir Lagi Deh Sebelum Beli - Semua Halaman - Grid.ID

 

TNP2K dan  Traction Energy Asia mengolah data dari BPS dan GIMNI mengenai pemanfaatan minyak jelantah di Indonesia pada 2019. Dari olahan data tersebut, pemanfaatan minyak jelantah di Indonesia per 2019 masih didominasi untuk minyak goreng daur ulang.

Jumlah pemanfaatan minyak jelantah untuk minyak goreng daur ulang sebanyak 2,4 juta kilo liter. Jumlah ini 11 kali lipat dibanding minyak jelantah yang diekspor dan 4 kali lipat dibanding gabungan pemanfaatan untuk biodiesel dan lainnya.

 

Sumber: Katadata.co.id

Peluang untuk Jutaan Orang Bekerja dan Berusaha dari Perkebunan Sawit

Peluang untuk Jutaan Orang Bekerja dan Berusaha dari Perkebunan Sawit

 

Indonesia sudah tercatat menjadi raja minyak sawit dunia sejak tahun 2006 setelah berhasil menggeser posisi Malaysia. Minyak sawit merupakan salah satu jenis minyak nabati yang paling banyak diproduksi dan dikonsumsi oleh masyarakat dunia.

Hampir seluruh produk-produk yang kita gunakan setiap hari dalam bentuk oleofood, oleokimia, hingga bahan bakar yang menggunakan minyak sawit dalam proses pembuatannya.

Melihat potensi ini, rasanya wajar saja jika kelapa sawit masih saja menjadi ‘bulan-bulanan’ pihak antisawit. Namun tak dapat dipungkiri, permintaan dunia akan minyak sawit menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun yang sejalan dengan populasi penduduk dan pendapatan dunia yang bertumbuh sehingga meningkatkan konsumsi produk-produk dengan bahan baku minyak sawit.

Kehadiran perkebunan kelapa sawit juga telah membuka dan memberikan peluang bagi ribuan orang di seluruh dunia untuk dapat bekerja dan berusaha pada bisnis ini. Hal ini dikarenakan bisnis perkebunan kelapa sawit merupakan usaha yang luas dan beragam sehingga membutuhkan banyak SDM dengan beragam keahlian yang terdidik dan terampil.

Banyak posisi yang dibutuhkan di masing-masing perusahaan perkebunan kelapa sawit, mulai dari manager kebun, manager pabrik, asisten kebun, asisten pabrik, asisten hama dan penyakit dan lainnya. Belum termasuk industri-industri pengolahan dan perdagangan seperti, industri minyak goreng, mentega, minyak salad, sampo, pasta gigi, produk kosmetik, dan sebagainya.

Selain masyarakat perkotaan, kehadiran perkebunan kelapa sawit juga dinikmati oleh masyarakat pedesaan dimana sektor ini berada. Masyarakat di pedesaan menikmatinya melalui keikutsertaan dalam berkebun atau menjadi supplier bahan makanan, pakaian, dan barang dagang lainnya untuk kebutuhan karyawan kebun sawit.

Dalam laporan PASPI Monitor dituliskan “dapat dikatakan bisnis ini adalah bisnis yang amanah. Amanah karena jika kita (masyarakat yang tinggal di kota) ikut berbisnis pada produk-produk minyak sawit, secara tidak langsung juga kita ikut menolong masyarakat yang terlibat dalam kebun sawit di kawasan pedesaan.”

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

Harga CPO Awal Tahun Ini Meningkat

Harga referensi produk minyak kelapa sawit mentah (CPO) untuk penetapan bea keluar periode Januari 2021 sebesar 951,86 dollar t per ton. Harga referensi ini meningkat 81,09 dollar AS per ton atau 9,31 persen dari Desember 2020 yang sebesar 870,77 dollar AS per ton. Penetapan harga referensi ini tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 105 Tahun 2020 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar. “Saat ini harga referensi CPO telah jauh melampaui ambang batas 750 dollar AS per ton. Oleh karena itu, CPO dikenai bea keluar sebesar 74 dollar AS per ton untuk Januari 2021,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Didi Sumedi dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (5/1/2021). Pada Desember 2020, CPO dikenai bea keluar sebesar 33 dollar AS per ton.

 

Sumber: Kompas