,

Pengembangan Inovasi Produk Hilir Sawit di Indonesia Masih Sangat Menjanjikan

 

 

Warta Ekonomi, Jakarta – Penelitian dan dan inovasi produk hilir kelapa sawit di Indonesia masih sangat menjanjikan. Makin hilir produk sawit, nilai tambah dan profit yang dihasilkan akan makin tinggi. Tidak hanya itu, satu hal yang perlu dijaga dan sesuai tuntutan pasar dunia ialah menghasilkan minyak sawit itu harus ramah lingkungan (emisi karbon CO2 eq diarahkan makin rendah).

Hal ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga. Bukan tanpa alasan, GIMNI mengatakan, merujuk proyeksi volume ekspor pada 2022, produk hilir mencapai 27 juta ton dan produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berjumlah 1,6 juta ton.

Sementara, pasar sawit di dalam negeri atau konsumsi domestik mencapai 20,45 juta ton terdiri atas penggunaan untuk industri makanan/minyak goreng 9,48 juta ton serta pemakaian segmen nonmakanan (oleokimia dan gliserin) dan energi masing-masing 2,1 juta ton dan 8,8 juta ton.

Dikatakan Sahat, agar Indonesia dapat menjadi pemimpin sawit dunia dan menjadi price setter, pengembangan teknologi baru sangat dibutuhkan dapat menciptakan nilai tambah tinggi bagi produk sawit di Indonesia. Dengan demikian, investor bermunculan sehingga komposisinya menjadi sekitar 65 persen industri kelapa sawit dapat dikonsumsi di dalam negeri dan sisanya 35 persen sebagai bagian ekspor. Posisi pasar berbalik dari apa yang dicapai saat ini, yaitu sekitar 41 persen volume produksi sawit tersebut untuk domestik dan sisanya 59 persen untuk ekspor.

Lebih lanjut dikatakan Sahat, pengembangan sawit ini harus berbasis definisi sawit yang benar, yaitu bahan pangan minyak sawit didefinisikan sebagai bahan makanan (triglycerida) yang bernutrisi alami tinggi dan dikembangkan ke arah functional products terhadap komponen nutrisi dari sawit. Jadi, tidak mempertahankan konsep lama yang sudah 100 tahun berlangsung, yaitu terfokus kepada Trigliserida, sebagai sumber energi saja.

“Makin mengembangkan inovasi produk lebih ke hilir akan mendapatkan nilai tambah sebanyak 6 kali lipat. Makin ke hilir, makin tinggi nilainya,” kata Sahat.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

Begini Kemampuan Industri Perkebunan Sawit dalam Menurunkan Emisi Karbon

 

Warta Ekonomi, Jakarta – Kontribusi perkebunan sawit terhadap penurunan emisi diperkirakan makin besar seiring dengan perbaikan tata kelola perkebunan sawit. Laporan PASPI mencatat, tata kelola yang dimaksud yakni dengan mengimplementasikan Good Agricultural Practices (GAP); efisiensi penggunaan input kimia (pupuk dan pestisida); penggunaan teknologi methane capture untuk menangkap emisi gas rumah kaca (GRK) dari limbah cair sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME); sekaligus menghasilkan renewable energy berupa biogas/biolistrik sebagai sumber energi pada kebun dan pabrik kelapa sawit (PKS).

“Selain itu, peningkatan produktivitas juga akan makin memperbesar kemampuan menyerap gas karbondioksida (carbon sink) pada perkebunan sawit. Peningkatan produktivitas akan menurunkan beban emisi baik melalui peningkatan carbon sink pada proses fotosintesis maupun menurunkan carbon source per ton minyak yang dihasilkan,” catat laman Palm Oil Indonesia.

 

Tidak hanya pada lingkup perkebunan, industri sawit melalui produksi produk hilir pada jalur biofuel juga mampu berkontribusi dalam penurunan emisi dan mitigasi perubahan iklim. Carbon stock yang terdapat pada tanaman kelapa sawit baik dalam bentuk minyak maupun biomassa dan limbah juga dapat menjadi solusi alternatif penggunaan energi fosil. Penggunaan biofuel sawit mampu mengurangi emisi karbon yang disebabkan penggunaan energi fosil.

Laporan PASPI juga mencatat, industri sawit mampu menghasilkan energi biofuel generasi pertama (biodiesel dan green fuel/biohidrokarbon) dari pengolahan minyak sawit (CPO/CPKO dan IVO); energi biofuel generasi kedua (biopremium/biogasoline/bioethanol, biopelet, biogas/biolistrik, biobara) dari biomassa sawit (tandan kosong, cangkang dan serat buah, batang dan pelepah); dan energi biofuel generasi ketiga (biogas/biolistrik dan biodiesel algae) dari limbah cair POME.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

SPKS: Peraturan Uni Eropa Terkait Deforestasi Untungkan Petani Sawit

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menilai peraturan Uni Eropa tentang produk dan komoditas terkait deforestasi menjadi peluang dan keuntungan bagi petani sawit Indonesia untuk memasarkan produk sawit dan turunannya ke pasar Eropa.

Sekretaris Jendral (Sekjen) SPKS Mansuetus Darto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (19/9/2022), mengatakan petani kelapa sawit Indonesia perlu dukungan dan bantuan dari pemerintah dan parlemen Uni Eropa, pemerintah Indonesia, serta perusahaan dan pembeli minyak sawit, dalam upaya memenuhi persyaratan yang diminta seperti menerapkan ketertelusuran dan tidak ada praktik deforestasi untuk memanfaatkan momentum dan keuntungan dari peraturan ini.

Peraturan Uni Eropa (UE) tentang produk dan komoditas terkait deforestasi pada tanggal 13 September telah di lakukan pemungutan suara oleh Parlemen Uni Eropa. Peraturan tersebut melarang berbagai produk yang dalam prosesnya berkaitan dengan perusakan hutan dan pelanggaran hak asasi manusia di berbagai belahan dunia. Peraturan baru ini tidak saja berlaku di dalam Uni Eropa, namun termasuk negara-negara pemasok produk di luar UE.

“Terkait dengan pemungutan suara dari parlemen atas peraturan Uni Eropa (UE) tentang produk dan komoditas terkait deforestasi, SPKS menilai peraturan ini bisa menjadi peluang besar bagi jutaan petani kelapa sawit Indonesia untuk mendapatkan keuntungan dari pasar UE dengan menyediakan produk kelapa sawit tanpa deforestasi dan dapat ditelusuri khususnya yang di kelola oleh petani sawit,” kata Mansuetus Darto.

SPKS juga mendukung kepemimpinan Parlemen UE dan masyarakat Eropa dalam mengambil tanggung jawab atas deforestasi dan degradasi hutan yang disebabkan oleh komoditas baik yang diimpor maupun diproduksi di UE.

Sebagai contoh, petani sawit di bawah anggota SPKS telah mampu untuk membangun data ketelusuran secara by name, by address, by spatial. Hal tersebut sejalan dengan Kementerian Pertanian yang membangun data petani sawit melalui kebijakan STDB (Surat Tanda Daftar Budidaya).

“Petani sawit anggota SPKS di Kalimantan juga sedang menerapkan Pendekatan Stok Karbon Tinggi,” katanya.

Mansuetus Darto mengatakan pihaknya berharap agar peraturan terbaru dari UE ini dapat memastikan ketahanan jangka panjang mata pencaharian petani sawit Indonesia dengan pemberian insentif kepada petani. “Untuk memastikan petani kecil adalah mitra yang adil di pasar UE, SPKS menginginkan perusahaan yang mengimpor minyak sawit menjamin dan berkomitmen untuk menerapkan 30 persen dari rantai pasokan berasal dari petani swadaya,” kata Darto.

Serikat petani kelapa sawit berharap isu petani kelapa sawit tidak dipolitisasi untuk kepentingan sektor swasta yang masih erat dengan praktek ilegal. Strategi defensif yang sering dilakukan hanya untuk melindungi dan memelihara kepentingan-kepentingan tertentu.

“Kami yakin, dengan proses ketertelusuran dapat ikut berkontribusi dalam perbaikan tata kelola sawit rakyat di Indonesia,” katanya.

 

Sumber: Republika.co.id

,

GIMNI: Pengembangan Riset Dan Inovasi Produk Hilir Sawit Terbuka Lebar

 

JAKARTA – Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) menilai peluang pengembangan riset dan inovasi produk hilir sawit masih terbuka di Tanah Air.

Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga dalam keterangannya di Jakarta, Senin (19/9) memaparkan berdasarkan proyeksi volume ekspor pada 2022, produk hilir mencapai 27 juta ton dan produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berjumlah 1,6 juta ton.

Sedangkan, pasar sawit di dalam negeri atau konsumsi domestik mencapai 20,45 juta ton terdiri atas penggunaan untuk industri makanan/minyak goreng 9,48 juta ton serta pemakaian segmen nonmakanan (oleokimia dan gliserin) dan energi masing-masing 2,1 juta ton dan 8,8 juta ton.

“Agar Indonesia dapat menjadi pemimpin sawit dunia dan menjadi price setter, pengembangan teknologi baru sangat dibutuhkan untuk dapat menciptakan nilai tambah tinggi bagi produk sawit di Indonesia,” katanya, dilansir dari Antara.

Dengan demikian, lanjutnya, investor akan bermunculan, sehingga sekitar 65% produk industri kelapa sawit dapat dikonsumsi di dalam negeri dan sisanya 35% diekspor. Atau, berbalik dari sekarang ini, yaitu 41% untuk domestik dan sisanya 59% untuk ekspor.

Sahat mengatakan pengembangan sawit ini harus berbasis definisi sawit yang benar, yaitu untuk bahan pangan. Minyak sawit didefinisikan sebagai bahan makanan (trigliserida) yang bernutrisi alami tinggi dan dikembangkan ke arah functional products kepada komponen nutrisi dari sawit.

“Jangan lagi mempertahankan konsep lama yang sudah 100 tahun berlangsung, yaitu terfokus kepada trigliserida, sebagai sumber energi saja,” katanya.

Ia juga menjelaskan pengembangan inovasi produk lebih ke hilir akan mendapatkan nilai tambah sebanyak enam kali lipat. “Semakin ke hilir, maka semakin tinggi nilainya,” ujarnya.

Sebagai contoh, produk derivatif surfaktan nilai tambah sebesar 300%. Selanjutnya, produk specialties antara lain kosmetika, parfum, detergen, dan cat mempunyai nilai tambah mencapai 600%.

Menurut dia, pengembangan riset produk hilir dan turunan kelapa sawit belum banyak dilakukan di perguruan tinggi, padahal semakin hilir produk sawit, maka nilai tambah dan profit yang dihasilkan akan semakin tinggi.

Dikatakan Sahat, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia dapat berkontribusi lebih besar dalam dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah sawit, baik melalui minyaknya dan demikian pula halnya dengan hasil samping biomassa sawit yang berlimpah.

“Pusat riset produk hilir sawit dapat dibangun di sini,” ujarnya dalam MIPAtalks Series 9 bertemakan “Inovation in Palm Oil Industry Makes Indonesia Leads in Fulfilling the Worlds Energy Crisis“, Kamis (15/9/2022).

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Dede Djuhana menyambut baik usulan GIMNI dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional melalui sawit, sebab ketahanan pangan menjadi prioritas riset nasional.

Berkaitan pengembangan riset produk sawit lebih ke hilir, FMIPA UI berencana mendirikan Pusat Riset & Inovasi Industri Sawit Nasional untuk mengembangkan riset produk turunan sawit bernilai tambah tinggi yang dapat diaplikasikan bagi masyarakat dan dunia industri.

 

Sumber: Validnews.id

,

Indonesia Bisa Jadi Pemain Utama Sawit Dunia Jika Pengembangan Tidak Hanya Fokus Minyak Goreng

 

Suara.com – Penelitian dan dan inovasi produk hilir kelapa sawit di Indonesia masih sangat menjanjikan. Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif GIMNI Sahat Sinaga.

Bukan tanpa alasan, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mengatakan, merujuk proyeksi volume ekspor pada 2022, produk hilir mencapai 27 juta ton dan produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) berjumlah 1,6 juta ton.

Sementara, pasar sawit di dalam negeri atau konsumsi domestik mencapai 20,45 juta ton terdiri atas penggunaan untuk industri makanan/minyak goreng 9,48 juta ton serta pemakaian segmen nonmakanan (oleokimia dan gliserin) dan energi masing-masing 2,1 juta ton dan 8,8 juta ton.

“Agar Indonesia dapat menjadi pemimpin sawit dunia dan menjadi price setter, pengembangan teknologi baru sangat dibutuhkan untuk dapat menciptakan nilai tambah tinggi bagi produk sawit di Indonesia,” kata dia.

Sehingga, ia menyebut, investor akan semakin banyak dan sekitar 65 persen produk industri kelapa sawit dapat dikonsumsi di dalam negeri dan sisanya 35 persen diekspor atau mungkin kebalikannya, 41 persen untuk domestik dan sisanya 59 persen untuk ekspor.

Ia menjelaskan,pengembangan sawit harus tepat, yaitu untuk bahan pangan, maka minyak sawit didefinisikan sebagai bahan makanan (trigliserida) yang bernutrisi alami tinggi dan dikembangkan ke arah functional products kepada komponen nutrisi dari sawit.

“Jangan lagi mempertahankan konsep lama yang sudah 100 tahun berlangsung, yaitu terfokus kepada trigliserida, sebagai sumber energi saja,” kata dia.

“Semakin ke hilir, maka semakin tinggi nilainya,” ujarnya.

Sebagai contoh, produk derivatif surfaktan nilai tambah sebesar 300 persen. Selanjutnya, produk specialties antara lain kosmetika, parfum, detergen, dan cat mempunyai nilai tambah mencapai 600 persen.

Menurut dia, pengembangan riset produk hilir dan turunan kelapa sawit belum banyak dilakukan di perguruan tinggi, padahal semakin hilir produk sawit, maka nilai tambah dan profit yang dihasilkan akan semakin tinggi.

Sahat mengatakan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia dapat berkontribusi lebih besar dalam dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah sawit, baik melalui minyaknya dan demikian pula halnya dengan hasil samping biomassa sawit yang berlimpah.

“Pusat riset produk hilir sawit dapat dibangun di sini,” ujarnya dalam MIPAtalks Series 9 bertemakan “Inovation in Palm Oil Industry Makes Indonesia Leads in Fulfilling the Worlds Energy Crisis”, Kamis (15/9/2022).

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Dede Djuhana menyambut baik usulan GIMNI dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional melalui sawit, sebab ketahanan pangan menjadi prioritas riset nasional.

Pengembangan Perkebunan Sawit Tidak Mengurangi Lahan Padi di Indonesia

 

Warta Ekonomi, Jakarta – Konversi lahan pangan utama, yakni lahan padi, yang luas dapat mengancam penyediaan beras nasional. Perkembangan luas kebun sawit di Indonesia pernah dituding sebagai salah satu penyebab berkurangnya luas areal padi di Indonesia. Padahal, perkebunan sawit yang hampir seluruhnya di luar Pulau Jawa ternyata tidak mengurangi luas areal padi.

Melansir laporan PASPI, data Kementerian Pertanian (2015) mencatat, areal pertanian padi di luar Pulau Jawa justru cenderung meningkat. Sebaliknya, lahan padi di Pulau Jawa justru menunjukkan kecenderungan yang menurun akibat konversi ke sektor nonpertanian seperti sektor industri, infrastruktur, dan perumahan.

“Namun, secara keseluruhan luas areal padi nasional masih relatif stabil pada sekitar 13 juta hektare dengan kecenderungan yang meningkat,” catat laporan PASPI.

Tentu saja pada level daerah/lokal terjadi konversi areal pertanian padi menjadi areal nonpadi termasuk untuk sawit rakyat. Hal ini lantaran petani merasa lebih menguntungkan mengembangkan usaha nonpadi. Pilihan petani untuk memilih komoditas/usaha yang menguntungkan baginya dilindungi Undang-undang No. 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman.

“Namun, secara keseluruhan ekspansi kebun sawit yang seluruhnya di luar Pulau Jawa, juga diikuti ekspansi areal tanaman padi,” catat laporan PASPI.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id

,

Akademisi Diminta Aktif Kembangan Hilirisasi Kelapa Sawit

 

Jakarta – Pengembangan riset produk hilir dan turunan Kelapa Sawit belum banyak dilakukan di perguruan tinggi. Padahal, semakin hilir produk sawit maka nilai tambah dan profit yang dihasilkan akan semakin tinggi,dansatu hal yang perlu dijaga dan sesuai tuntutan pasar dunia, yaitu menghasilkan minyak sawit itu harus ramah lingkungan! emisi karbon CO 2 eq diarahkan semakin rendah).

“Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan A-lam (FMIPA) Universitas Indonesia (Ul) dapat berkontribusi lebih besar dalam dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah sawit, baik melalui mi-nyanknya dan demikian pula halnya dengan hasil samping bio-mass sawit yang berlimpah. Pusat riset produk hilir sawit dapat dibangun disini,” tegas Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri MinyakNabati Indonesia (GIMNI).

Lebih lanjut, Sahat menjelaskan bahwa peluang pengembangan riset dan inovasi produk hilir sawit masih terbuka. Berdasarkan proyeksi volume ekspor di tahun 2022, produk hilir mencapai 27 juta ton dan produk Crude Palm Oil (CPO) berjumlah 1,6 juta ton.

“Sedangkan pasar sawit di dalam negeri,konsumsi domestik mencapai 20,-45 juta ton terdiri dari penggunaan untuk industri makanan/minyak goreng 9,48 juta ton. Pemakaian di segmen non makanan (oleokimia dan gliserin) dan energi masing-masing 2,1 juta ton daii 8,8 juta ton,” jelas Sahat

Dikatakan Sahat, agar Indonesia dapat menjadi pemimpin sawit dunia dan menjadi price-setter, pengembangan teknologi baru sangat dibutuhkan dapat menciptakan nilai tambah tinggi bagi produk sawit di Indonesia, dan dengan demikian investror bermunculan, sehingga jadi sekitar 65% industri Kelapa Sawit dapat dikonsumsi di dalam negeri, dan sisanya 35% sebagai bagian. “Dengan demikian posisi pasar akan terbalik dari apa yang dicapai sekarang ini, yaitu sekitar 41% volume produksi sawit itu untuk domestik dan sisanya 59% untuk eksporr terang Sahat

Sahat juga mengungkapkan, pengembangan sawit ini harus berbasis definisi sawit yang benar, yait untuk bahan pangan minyak sawit itu di definisikan adalah bahan makanan ( triglycerida) yang bemutrisi alami tinggi, dan dikembangkan ke arah ” functional products” kepada komponen nutrisi dari sawit. “Jangan lagi mempertahankan konsep lama yang sudah 100 tahun berlangsung, yaitu terfokus kepada Trigliserida, sebagai sumber energi saja,” himbau Sahat

Sahat juga menjelaskan semakin mengembangkan inovasi produk lebih ke hilir akan mendapatkan nilai tambah sebanyak 6 kali lipat. Semakin ke hilir maka semakin tinggi nilainya.

Sahat pun menerangkan bahwa FMIPA Universitas Indonesia dapat meneliti lebih detil mengenai teknologi SPOT (Steamless Palm Oil Technology) dan IRU (Impurities Removable Unit) yang mengolah buah sawit menjadi minyak makan bemutrisi tinggi.

Minyak sawit yang dihasilkan dari teknologi SPOT dan IRU dikenal SPO (Steamless Palm Oil) dengan kualitas yanglebih baik dibandingkan CPO.

 

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

,

GIMNI Minta UI Aktif Kembangkan Inovasi Produk Hilir Sawit

 

Agrofarm.co.id-Pengembangan riset produk hilir dan turunan kelapa sawit belum banyak dilakukan di perguruan tinggi. Padahal, semakin hilir produk sawit maka nilai tambah dan profit yang dihasilkan akan semakin tinggi, dan satu hal yang perlu dijaga dan sesuai tuntutan pasar dunia, yaitu menghasilkan minyak sawit itu harus ramah lingkungan( emisi karbon CO2 eq diarahkan semakin rendah).

“Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia dapat berkontribusi lebih besar dalam dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah sawit, baik melalui minyanknya dan demikian pula halnya dengan hasil samping bio-mass sawit yang berlimpah. Pusat riset produk hilir sawit dapat dibangun disini,” tegas Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) saat menjadi pembicara dalam MIPAtalks Series 9 bertemakan Innovation in Palm Oil Industry Makes Indonesia Leads in Fulfilling the Worlds Energy Crisis, Kamis (15 September 2022).

Sahat menjelaskan bahwa peluang pengembangan riset dan inovasi produk hilir sawit masih terbuka. Berdasarkan proyeksi volume ekspor di tahun 2022 , produk hilir mencapai 27 juta ton dan produk Crude Palm Oil (CPO) berjumlah 1,6 juta ton.

Sedangkan pasar sawit di dalam negeri, konsumsi domestik mencapai 20,45 juta ton terdiri dari penggunaan untuk industri makanan/minyak goreng 9,48 juta ton. Pemakaian di segmen non makanan (oleokimia dan gliserin) dan energi masing-masing 2,1 juta ton dan 8,8 juta ton.

Dikatakan Sahat, agar Indonesia dapat menjadi pemimpin sawit dunia dan menjadi price-setter , pengembangan teknologi baru sangat dibutuhkan dapat menciptakan nilai tambah tinggi bagi produk sawit di Indonesia , dan dengan demikian investror bermunculan, sehingga jadi sekitar 65% industri kelapa sawit dapat dikonsumsi di dalam negeri, dan sisanya 35% sebagai bagian. Dengan demikian posisi pasar akan terbalik dari apa yang dicapai sekarang ini, yaitu sekitar 41 % volume produksi sawit itu untuk domestik dan sisanya 59% untuk ekspor.

Ia mengatakan pengembangan sawit ini harus berbasis definisi sawit yang benar, yait untuk bahan pangan minyak sawit itu di definisikan adalah bahan makanan ( tri-glycerida) yang bernutrisi alami tinggi , dan dikembangkan ke arah ” functional products” kepada komponen nutrisi dari sawit. Jangan lagi mempertahankan konsep lama yang sudah 100 tahun berlangsung, yaitu terfokus kepada Trigliserida, sebagai sumber energi saja.

Sahat menjelaskan semakin mengembangkan inovasi produk lebih ke hilir akan mendapatkan nilai tambah sebanyak 6 kali lipat. Semakin ke hilir maka semakin tinggi nilainya. Sebagai contoh, produk derivatif surfaktan nilai tambah sebesar 300 persen. Selanjutnya, produk specialties antara lain kosmetika, parfum, detergen, cat mempunyai nilai tambah mencapai 600 persen.

Sahat juga menjelaskan bahwa FMIPA Universitas Indonesia dapat meneliti lebih detil mengenai teknologi SPOT (Steamless Palm Oil Technology) dan IRU (Impurities Removable Unit) yang mengolah buah sawit menjadi minyak makan bernutrisi tinggi. Minyak sawit yang dihasilkan dari teknologi SPOT dan IRU dikenal SPO (Steamless Palm Oil) dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan CPO.

“FMIPA UI dapat terlibat dalam pengembangan aplikasi produk SPO (Steamless Palm.Oil) untuk functional energy dalam mengatasi malnutrisi dan stunting melalui clinical test – bekerjasama dengan PT.NGE (Nusantara Green Energy),” ungkap dia.

Dede Djuhana, Ph. D, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menyambut baik usulan Sahat Sinaga dalam rangka mendukung ketaanan pangan nasional melalui sawit. Sebab, Ketahanan pangan menjadi prioritas riset nasional.

“Berkaitan pengembangan riset produk sawit lebih ke hilir, FMIPA UI akan menjadi garda terdepan dalam science. Mungkin kami bagian terkecil dari pengembangan palm oil tapi UI ingin berkontribusi bagi kemajuan industri sawit Indonesia di bidang pangan dan energi,” ujarnya.

Salah satunya rencana FMIPA UI mendirikan Pusat Riset & Inovasi Industri Sawit Nasional untuk mengembangkan riset produk turunan sawit bernilai tambah tinggi yang dapat diaplikasikan bagi masyarakat dan dunia industri.

Prof. Jatna Supriatna, Direktur Lembaga Sains Terapan FMIPA UI, menjelaskan bahwa Indonesia berkontribusi terhadap lebih dari 50 persen produksi minyak sawit dunia. Oleh karena itu, FMIPA UI dapat terlibat baik dari bidang kimia, biologi khususnya berkaitan bio-composting.

“Jadi sekitar 50 paten kelapa sawit, sebagian besar dimiliki oleh negara lain. Padahal, Indonesia produsen terbesar sawit dunia. Hal ini menjadi tantangan bagi kita semua. Saya yakin UI bisa mengembangkan riset sawit karena memiliki sumberdaya dan ilmunya,” kata Jatna. Bantolo

 

 

Sumber: Agrofarm.co.id

Bebas Pungutan Ekspor CPO Hingga Oktober, Bagaimana Nasib Dana BPDPKS?

 

Bisnis.com, JAKARTA – Nasib dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS menjadi pertanyaan seiring langkah pemerintah menggratiskan pungutan ekspor (PE) crude palm oil (CPO) sampai 31 Oktober 2022. Pasalnya, dana BPDPKS berasal dari pungutan ekspor tersebut.

Adapun, pemberlakuan kebijakan tersebut diharapkan dapat memperlancar keran ekspor CPO yang sebelumnya tersendat. Setidaknya, eksportir terbantu dengan bebas PE dari US$200 per ton menjadi US$0 sehingga dapat membeli tandan buah segar (TBS) di petani dengan harga normal.

Sebelumnya, pada awal kebijakan berlaku pada pertengahan Juli 2022, BPDPKS mengklaim bahwa penghapusan sementara PE CPO dan turunannya tidak akan banyak berpengaruh terhadap dana kelolaan.

Meski berarti jumlah dana BPDPKS akan menurun, Kepala Divisi Perusahaan BPDPKS Achmad Maulizal saat ini belum memberikan informasi terkini seberapa aman dana kelolaan dengan perpanjangan insentif tersebut, namun hal terpenting adalah kesejahteraan petani dengan harga TBS yang normal.

“Yang utama adalah terjaganya harga TBS yang berujung kesejahteraan petani kelapa sawit,” ungkapnya, Minggu (18/9/2022).

Sebagai informasi, BPDPKS menggunakan dana PE untuk melakukan penelitian dan pengembangan sawit, serta subsidi produk turunan minyak sawit untuk stabilisasi harga seperti minyak goreng dan biodiesel.

Selain itu, Achmad juga mengungkapkan bahwa adanya kebijakan tersebut menjadi momentum bagi BPDPKS untuk meningkatkan layanannya dari sisi SDM hingga insentif biodiesel.

“Perubahan kebijakan penyesuaian tarif Pungutan ekspor ini juga merupakan momentum bagi BPDPKS untuk meningkatkan layanannya,” lanjutnya.

Harga TBS

Harga TBS sudah cukup terangkat dari sebelumnya pada Juni-Juli anjlok di bawah Rp1.000 per kg. Berdasarkan data Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) per 14 September 2022, rata-rata harga TBS nasional berada di angka Rp1.724/kg.

Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) membenarkan dengan penghapusan sementara PE telah memulihkan harga TBS. Terbukti untuk harga TBS petani swadaya di Kalimantan Barat yang dalam satu minggu terakhir naik rerata Rp100-Rp150/kg.

“Di Sekadau, Kalimantan Barat, dari 6 September hingga 14 September [harga TBS] rata-rata naik Rp100-Rp150,” ungkap Sekretaris Jenderal SPKS Mansuetus Darto, Minggu (18/9/2022).

Bukan kali pertama pemerintah memberikan insentif tersebut. Darto mengungkapkan pada 2018, harga TBS juga tergerus. Kemudian pungutan di nol kan saat itu dan diberlakukan lagi pasca Pilpres pada 2019 akhir.

“Dan setelah dinolkan, harga mulai membaik. Sekarang Pun demikian. PE di nol kan, harga TBS mulai meningkat,” jelasnya.

Untuk itu, petani meminta agar pungutan tersebut dihapus karena dengan kata lain, petani memberikan subsidi bagi pengusaha biodiesel.

Sementara dari sisi pengusaha, mereka meminta perpanjangan lagi untuk pembebasan tarif pungutan ekspor (PE) di tengah harga CPO dunia yang cenderung stagnan bahkan menurun.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Eddy Martono mengungkapkan saat ini harga global tengah melandai akibat pasar yang masih lesu. Untuk itu, Eddy mewakili para pengusaha CPO meminta pemerintah untuk memperpanjang insentif tersebut agar menjaga harga di tingkat lokal dan petani sawit.

“Kalau harga cenderung stagnan seperti saat ini sebaiknya pembebasan PE diperpanjang terlebih dahulu, sebab apabila harga seperti sekarang kemudian diberlakukan kembali PE maka harga lokal akan turun dan harga TBS petani juga akan turun lagi,” kata Eddy, Kamis (15/9/2022).

 

Sumber: Bisnis.com

,

Perguruan Tinggi Harus Aktif Dalam Pengembangan Inovasi Produk Hilir Sawit

 

JAKARTA, Pengembangan riset produk hilir dan turunan kelapa sawit belum banyak dilakukan di perguruan tinggi. Padahal, semakin hilir produk sawit maka nilai tambah dan profit yang dihasilkan akan semakin tinggi, dan satu hal yang perlu dijaga dan sesuai tuntutan pasar dunia, yaitu  menghasilkan minyak sawit itu harus  ramah lingkungan( emisi karbon CO2 eq diarahkan semakin rendah).

“Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia dapat berkontribusi lebih besar dalam  dan inovasi untuk meningkatkan nilai tambah sawit, baik melalui minyanknya dan demikian pula halnya dengan hasil samping bio-mass sawit yang berlimpah. Pusat riset produk hilir sawit dapat dibangun disini,” tegas Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) saat menjadi pembicara dalam MIPAtalks Series 9 bertemakan ”Innovation in Palm Oil Industry Makes Indonesia Leads in Fulfilling the Worlds Energy Crisis”, Kamis (15 September 2022).

Sahat menjelaskan bahwa peluang pengembangan riset dan inovasi produk hilir sawit masih terbuka. Berdasarkan proyeksi volume ekspor di tahun 2022 , produk hilir mencapai 27 juta ton dan produk Crude Palm Oil (CPO) berjumlah 1,6 juta ton.

Sedangkan pasar sawit di dalam negeri, konsumsi domestik mencapai 20,45 juta ton terdiri dari penggunaan untuk industri makanan/minyak goreng 9,48 juta ton. Pemakaian di segmen non makanan (oleokimia dan gliserin) dan energi masing-masing 2,1 juta ton dan 8,8 juta ton.

Dikatakan Sahat, agar Indonesia dapat menjadi pemimpin sawit dunia dan menjadi price-setter , pengembangan teknologi baru  sangat dibutuhkan dapat menciptakan nilai tambah tinggi bagi produk sawit di Indonesia , dan dengan demikian investror bermunculan , sehingga jadi sekitar 65% industri kelapa sawit dapat dikonsumsi di dalam negeri, dan sisanya 35%  sebagai bagian. Dengan demikian posisi pasar akan terbalik dari apa yang dicapai sekarang ini, yaitu sekitar 41 %  volume produksi sawit itu untuk domestik dan sisanya 59% untuk ekspor.

Ia mengatakan pengembangan sawit ini harus  berbasis definisi sawit yang benar, yait  untuk bahan pangan minyak sawit itu di definisikan adalah bahan  makanan ( tri-glycerida) yang bernutrisi alami tinggi , dan dikembangkan  ke arah ” functional products” kepada komponen nutrisi dari sawit.  Jangan lagi mempertahankan konsep lama yang sudah 100 tahun berlangsung, yaitu  terfokus kepada Trigliserida, sebagai sumber energi saja.

Sahat menjelaskan semakin mengembangkan inovasi produk lebih ke hilir akan mendapatkan nilai tambah sebanyak 6 kali lipat. Semakin ke hilir maka semakin tinggi nilainya. Sebagai contoh, produk derivatif surfaktan nilai tambah sebesar 300 persen. Selanjutnya, produk specialties antara lain kosmetika, parfum, detergen, cat mempunyai nilai tambah mencapai 600 persen.

Sahat juga menjelaskan bahwa FMIPA Universitas Indonesia dapat meneliti lebih detil mengenai teknologi SPOT (Steamless Palm Oil Technology) dan IRU (Impurities Removable Unit) yang mengolah buah sawit menjadi minyak makan bernutrisi tinggi. Minyak sawit  yang dihasilkan dari teknologi SPOT dan IRU dikenal SPO (Steamless Palm Oil) dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan CPO.

“FMIPA UI dapat terlibat dalam pengembangan aplikasi produk SPO (Steamless Palm.Oil)  untuk functional energy dalam mengatasi  malnutrisi dan stunting  melalui clinical test – bekerjasama dengan PT.NGE (Nusantara Green Energy),” ujarnya.

Dede Djuhana, Ph. D, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) menyambut baik usulan Sahat Sinaga dalam rangka mendukung ketaanan pangan nasional melalui sawit. Sebab, Ketahanan pangan menjadi prioritas riset nasional.

“Berkaitan pengembangan riset produk sawit lebih ke hilir, FMIPA UI akan menjadi garda terdepan dalam science. Mungkin kami bagian terkecil dari pengembangan palm oil tapi UI ingin berkontribusi bagi kemajuan industri sawit Indonesia di bidang pangan dan energi,” ujarnya.

Salah satunya rencana FMIPA UI mendirikan Pusat Riset & Inovasi Industri Sawit Nasional untuk mengembangkan riset produk turunan sawit bernilai tambah tinggi yang dapat diaplikasikan bagi masyarakat dan dunia industri.

Prof. Jatna Supriatna, Direktur Lembaga Sains Terapan FMIPA UI, menjelaskan bahwa Indonesia berkontribusi terhadap lebih dari 50 persen produksi minyak sawit dunia. Oleh karena itu, FMIPA UI dapat terlibat baik dari bidang kimia, biologi khususnya berkaitan bio-composting.

“Jadi sekitar 50 paten kelapa sawit, sebagian besar dimiliki oleh negara lain. Padahal, Indonesia produsen terbesar sawit dunia.  Hal ini menjadi tantangan bagi kita semua. Saya yakin UI bisa mengembangkan riset sawit karena memiliki sumberdaya dan ilmunya,” pungkas Jatna.

 

Sumber: Majalahhortus.com