Menakar Peluang Perdagangan Sawit Ditengah Ancaman Corona

 

Pandemi Corona atau Covid-19 telah menyebar di 188 negara dengan jumlah kasus 308.659 sampai 22 Maret 2020. Dampak virus ini begitu luar biasa karena mampu menghentikan aktivitas sosial dan membuat perekonomian berjalan stagnan. Lalu bagaimana dampaknya terhadap perdagangan sawit global?

Kebijakan Lockdown yang dijalankan Malaysia dikhawatirkan berdampak kepada suplai sawit di pasar global. “Jika Malaysia  malaysia (atau Indonesia) secara keseluruhan melakukan stop operasi di kebun, maka bahaya terbesar terhadap kelangsungan tanaman dalam jangka panjang akan terganggu jika tidak dilakukan panen. Maka buah akan busuk,” kata Kanya Lakshmi Sidarta, Sekjen GAPKI, saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Dari aspek perdagangan dengan  asumsi buah tetap dipanen, dikatakan Kanya, stok sawit akan menumpuk di tanki. “Tinggal kita lihat akan berapa lama stop dagangnya. Apabila dua minggu masih  bisa teratasi dengan stok di tempat buyer.”

Kanya Lakshmi mengatakan apabila jalur perdagangan dari Indonesia  terganggu akibatnya pasokan dunia juga terganggu juga, seluruh supply chain lambat laun akan terkena dampaknya.

“Memang dampaknya terjadi  gangguan yang membuat bisnis menjadi wait and see. Hingga sekarang  belum ada cancelation, hanya ada penundaaan,” jelas Kanya.

Sebagai informasi, pemerintahan Malaysia tetap memberikan kelonggaran kepada perkebunan sawit untuk beroperasi. Hal ini berdasarkan pertemuan dengan Malaysian Palm Oil Association (MPOA) pada pekan lalu. Jika aktivitas operasi perkebunan dihentikan selama dua minggu, akibatnya produksi Tandan Buah Segar (TBS) sawit bisa membusuk yang berimbas kepada pendapatan petani setempat. Dampak lebih lanjut, pasokan dan stok sawit Malaysia turun drastic di pasar global.

Berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board, ekspor sawit Malaysia ke Tiongkok turun menjadi 156,805 ton pada Februari dibandingkan Januari 2020 sebesar 176,830 ton. Begitupula ekspor ke Belanda merosot menjadi 78,346 ton pada Februari daripada bulan sebelumnya berjumlah 110,873 ton. Pengapalan sawit dari Malaysia ke India juga tergerus menjadi 21,130 ton pada Februari daripada Januari berjumlah 46,876 ton.

Di Indonesia, sejumlah perkebunan kelapa sawit tetap beroperasi. Kendati, pihak perusahaan tetap mengikuti anjuran Bekerja dari Rumah atau Work From Home (WFH) untuk beberapa divisi. Tofan Mahdi, Senior Vice President of Corporate Communication & Public Affair PT Astra Agro Lestari Tbk, mengatakan secara prinsip perusahaan mendukung bekerja dari rumah dengan mempertimbangkan jenis pekerjaan sehingga kegiatan operasional di kebun tidak terganggu.

“Sebagai contoh, tim public relation di kantor pusat sudah menerapkan WFH di kantor. Untuk operasional kebun, kami tidak melakukan WFH mengingat site (red-kebun) yang lebih restricted dan self isolating. Yang kami lakukan membatasi interaksi dengan pihak luar secara ketat menerapkan standar protokol sesuai panduan Kementerian Kesehatan,” kata Tofan.

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk juga memberlakukan Work From Home (WFH) kepada seluruh karyawan di Kantor Perwakilan Jakarta. Caranya membuat mekanisme pembagian shift A dan B tujuannya menjaga kelangsungan operasional kantor perwakilan Jakarta. Sedangkan, kantor Pusat dan operasional perkebunan SSMS di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah tetap beroperasi normal dengan memberlakukan prosedur pencegahan virus dan standarisasi lebih ketat terhadap kesehatan Karyawan.

Derom Bangun, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) menuturkan bahwa industri sawit mematuhi kebijakan pemerintah Indonesia yang menganjurkan “social distancing”. Di sisi lain, tetap ada memberi peluang bagi petani dan perusahaan untuk tetap melakukan kegiatan panen dan perawatan kebun yang lain.

“Dalam hal ini semua pihak perlu mengikuti anjuran pemerintah itu dengan sebaik-baiknya untuk bersama-sama memutus rantai penyebaran virus Corona,” jelasnya.

Dikatakan Derom bahwa dengan mengikuti anjuran pemerintah itu dengan baik dapat diyakini bahwa para pekerja di lingkungan perkebunan dan industri kelapa sawit terhindar dari penyebaran virus Corona Covid 19  dan dapat terus mempertahankan produksi.

 

Sumber: Sawitindonesia.com