Mendag Enggar Ungkap Penyebab Lamanya Perjanjian IE-EFTA

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengungkap penyebab di balik lamanya perjanjian dagang Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (lE-CEPA) hingga delapan tahun. Salah satu masalah utamanya adalah adanya penolakan terhadap minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke negara-negara European Free Trade Association (EFTA).

“Perjalnan ini delapan tahun. Sebenarnya hambatan utama yang terakhir itu adalah mereka (Norwey) menahan sawit CPO kita,” kata Mendag Enggar saat ditemui di Kantornta, Jakarta, Minggu (16/12).

Atas dasar itu, Indonesia pun kembali melakukan penahanan balik terhadap produk Ikan Salmon dari Negara Norwey. Sehingga, beberapa seranga-serangan balik antar kedua negara membuat perjanjian kerjasama ini lama terelaisasikan.

“Kemudian, Menteri Schneider Amman sebagai koordinator dari EFTA menjembatani hal tersebut. Itu sebenarnya yang proses cukup capek dan panjang diluar lain lainnya,” kata Menteri Enggar.

Melihat hal tersebut, pihaknya pun terus melakukan negosiasi terhadap beberapa negara Eropa agar produk komoditas sawit Indonesia bisa ditermia. Sehingga, perjanjian IE-CEPA yang tengah berjalan tersebut dapat segera dirampungkan.

“Untuk itu saya tidak mau mundur. Kenapa? saya bilang karena ini kan proses berjalan. Kalau prosesnya sudah berjalan hanya karena satu soal itu kan sia-sia. Itu lah cara bernegosiasi, cara kita melakukan pembicaraan. Saya bilang ini perjalanan sudah sekian banyak, anda diuntungkan sekian, dua-duanya saling menguntungkan,” jelas dia.

“Kalau anda tidak buka sawit kita, sudah kita lupakanlah apa yang kita jalankan ini, dan penduduk ekonomi lima negara ini akan sia-sia. Sebenarnya ada potensi kita baik, potensi pertumbuhan ekonomi positif, ada potensi kita buka lapangan kerja dan berbagai hal,” sambungnya.

Seperti diketahui, Indonesia secara resmi telah menjalin hubungan bilateral dengan empat negara yang tergabung dalam European Free Trade Association (EFTA), yaitu Swiss, Liechtenstein, Islandia, dan Norwegia. Ini dilakukan setelah Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita menandatangani perjanjian kerjasama lndonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (lE-CEPA).

“Kesimpulan adalah bahwa dengan kriteria yang sudah kita konsultasikan dengan stake holdernya maka akses sawit ke Norway bebas. Untuk itu silahkan salmon masuk. Kenapa sih salmon dipersilahkan masuk? siapa sih yang makan salmon? itu kan high end saja, kita enggak produksi itu, adanya di five star hotel, hotel saya aja enggak ada ya biarin saja,” pungkasnya.

 

Sumber: Merdeka.com