,

Mendag Promosikan CPO Indonesia di Amerika, Samakan Pentingnya dengan Industri Boeing

 

Produk minyak kelapa sawit atau CPO Indonesia kini sedang menghadapi tantangan di luar negeri. 

Padahal, sebagaian besar masyarakat Indonesia menggantungkan hidup dari kelapa sawit.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita berkunjung ke ke Washington DC, AS.

Kedatangan Mendag Enggartiasto Lukita ini dalam angka mempromosikan produk minyak kelapa sawit Indonesia.

AS sendiri merupakan salah satu negara tujuan ekspor Indonesia untuk CPO.

Promosi itu disampaikan saat Enggar membuka Indonesia Palm Oil Forum yang diselenggarakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di AS.

Dalam forum itu turut hadir berbagai pelaku usaha, antara lain Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDB-KS).

Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi).

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Hingga Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI). 

Enggar mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi dan perdagangan global, kolaborasi dan kemitraan sangat penting untuk meningkatkan investasi dan perdagangan secara berkelanjutan.

“Minyak kelapa sawit (CPO) merupakan salah satu fokus khusus dalam rangkaian kunjungan kerja kami ke AS,” ujar Enggar dalam keterangan tertulis, Senin (21/1/2019).

Enggar berharap lewat forup tersebut terjadi dialog antara para pelaku usaha untuk memperkuat kemitraan, khususnya komoditas CPO.

CPO dan produk turunannya dianggap memainkan peranan penting dalam perekonomian Indonesia.

Dia menyebutkan, CPO berkontribusi pada pengentasan kemiskinan dan pengembangan daerah pedesaan, serta mendukung pembangunan ekonomi nasional secara umum.

Upaya mengembangkan sektor CPO untuk mempromosikan pembangunan pedesaan dan mengatasi kemiskinan di Indonesia dimulai sejak akhir 1990-an.

Hal itu jauh sebelum  adopsi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada 2015.

Pada tahun 2001-2010, sektor CPO di Indonesia telah membantu 10 juta orang keluar dari kemiskinan dan 1,3 juta penduduk desa diangkat dari garis kemiskinan.


Selain itu lanjut Enggar, budidaya kelapa sawit dapat menghasilkan pendapatan yang tinggi dan  stabil untuk petani kecil.

Sektor tersebut juga menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 5,5 juta orang dan mata pencaharian 21 juta orang.

“Indonesia bergantung pada industri ini. Perkebunan kelapa sawit juga berkontribusi pada pengembangan sekolah dan rumah sakit, serta pusat budaya, agama, dan olahraga di wilayah perkebunan kelapa sawit,” kata Enggar.

Dengan produksi mencapai 35,36 juta metrik ton pada 2017, CPO Indonesia menjadi industri raksasa yang menghasilkan pendapatan ekspor sebesar 22,8 miliar dollar AS.

Oleh karena itu, kata Enggar, tepat dikatakan jika industri CPO adalah salah satu sektor yang paling penting bagi ekonomi Indonesia.

Dia menyamakannya seperti Boeing yang penting bagi AS atau Airbus bagi Uni Eropa.

Menurut Enggar, produksi CPO yang tinggi dapat melestarikan cadangan minyak global.

“Indonesia berupaya meningkatkan produktivitas CPO sekaligus mengatasi tantangan sosial dan lingkungan sehingga produksi CPO Indonesia tidak akan merusak alam,” lanjut dia.

Sementara itu dari sektor kesehatan, banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi asam lemak jenuh dari minyak kelapa sawit tidak meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Untuk itu, Enggar menekankan pentingnya perdagangan yang adil terhadap minyak kelapa sawit dan menghapus praktik perdagangan diskriminatif yang merugikan sektor minyak kelapa sawit demi kepentingan komersial semata. (*)

Sumber: Tribunpontianak.co.id