Musim Semi Saham Perkebunan

JAKARTA. Harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) belakangan ini merangkak naik. Kenaikan harga CPO merupakan sentimen pasitif bagi saham emiten sektor perkebunan.

Pergerakan indeks sektor perkebunan sejak awal tahun memang masih minus 10,02%. Namun, dalam sebulan terakhir, indeks saham kebun naik 4,21%. Kemarin, Rabu (20/11), indeks ini ditutup pada level 1.407,7.

Sejalan dengan hal tersebut, harga saham emiten perkebunan mayoritas kompak menguat. Hanya sedikit saham yang harganya minus tahun ini {lihat tabel).

Analis Jasa Utama Capital Sekuritas Chris Apriliony mengatakan, kenaikan harga komoditas CPO tak lepas dari sentimen permintaan komoditas tersebut. Terlebih, perayaan imlek kian dekat. Umumnya, permintaan CPO meningkat di momen ini.

Setali tiga uang, analis MNC Sekuritas Jessica Sukimaja menjelaskan, meningkatnya permintaan CPO didorong oleh faktor eksternal. Kenaikan harga kedelai turut mendorong permintaan CPO. Sebab, CPO merupakan substitusi kedelai.

Peluang jangka panjang

Selain itu, Malaysia mulai tahun depan juga akan menerapkan program bahan bakar campuran biodiesel 20% (B20). Sementara, dari dalam negeri, program B30 bakal dilaksanakan pada awal tahun depan.

Kedua hal tersebut turut mendorong sentimen kenaikan permintaan CPO yang berujung pada naiknya harga saham emiten di sektor perkebunan.

Di sisi lain, penawaran CPO juga berkurang karena late monsoon yang terjadi di Indonesia dan Malaysia. Ini turut memengaruhi produksi tandan buah segar (TBS) pada semester 11-2019.

Analis menilai, akibat dua faktor tersebut, inventori CPO berpotensi turun. “Hal ini dapat mendukung kenaikan harga CPO. Itu yang jadi katalis positif utama saat ini,” kata Nugroho Fitriyan-to, analis Artha Sekuritas Indonesia, Rabu (20/11).

Dia melihat, kenaikan harga CPO berpotensi terjadi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Sebab, secara historis, mandat B20 di Indonesia cukup signifikan meningkatkan konsumsi domestik. Jika hal ini terjadi, kinerja keuangan emiten CPO bakal membaik.

Nugroho merekomendasikan saham AALI. Kinerja emiten ini akan terbantu program biodiesel. Sebab, yield produksi TBS AALI paling tinggi dibanding yang lain. Pilihan kedua adalah LSIP, karena utangnya relatif rendah.

Secara valuasi, saham emiten CPO sudah cukup murah, dengan rata-rata price to book value (PBV) hingga 1,5 kali. Ini di bawah rata-rata lima tahunan. AALI dan LSIP memiliki PBV masing-masing 1,32 kali dan 1,15 kali.

 

Sumber: Harian Kontan