Petani Sawit Minta Pola PIR Dipertahankan

 

JAKARTA – Asosiasi Petani kelapa sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) menilai model kemitraan yang terbukti berhasil menyejahterakan petani adalah Pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR), sehingga program tersebut patut dipertahankan. Pola PIR merupakan pengembangan komoditas sawit yang sangat strategis dalam memacu ekonomi wilayah.

Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono menyatakan, beberapa bukti itu yakni mampu membuka isolasi wilayah. Pusat-pusat keramaian di beberapa daerah dulu adalah wilayah terpencil, ekonomi daerah menjadi terbangun sehingga kemiskinan berkurang dan lapangan kerja terbuka, daerah pelosok dibangun. “Secara umum ekonomi di daerah PIR yang dulu tidak ada apa-apanya sekarang terbangun dari semua aspek,” kata dia di Jakarta, kemarin.

Seperti dilansir Antara, perkebunan rakyat mulai berkembang pada 1980 dengan intervensi pemerintah melalui PIR/NES yang dibiayai oleh Bank Dunia dengan menunjuk PTPN sebagai inti dan petani sebagai plasma. Melalui Inpres No 1 Tahun 1986 pola tersebut diperluas yang dikaitkan dengan program Transmigrasi dengan PIR-Trans, inti tidak lagi hanya PTPN tetapi melibatkan Perkebunan Besar Swasta. Di wilayah sekitar perkebunan sawit dibuat PIR KKPA (Kredit Koperasi Primer untuk Anggota), konsep tersebut dibuat oleh tujuh kementerian dan Bank Indonesia sehingga semua tertata.

Saat ini, luas kebun plasma adalah 617.127 hektare (ha) terdiri atas PIR Trans 362.528 ha, KKPA 155.211 ha, PIR NES PIR SUS PIR LOK 153.388 ha, tersebar di 20 provinsi dengan peserta 335.500 KK “Sayangnya kemitraan yang sudah bagus ini sekarang sepertinya dikerdilkan. Lebih banyak upaya kemitraan yang polanya beda dengan pola PIR,” katanya.

Selain itu, beberapa petani PIR juga karena satu dan lain hal ada yang berpisah dari intinya terutama pada waktu replanting, sehingga nantinya pola inti plasma akan ditinggalkan. Menurut Setiyono, jika pemerintah tanggap dan konsep tersebut dilanjutkan maka tidak akan ada petani salah bibit, produksi rendah. Petani plasma sudah merasakan produksi sawit bagus, bibit bagus, hasilnya bagus tertata dengan baik.

Ketua Bidang Kemitraan dan Pembinaan Petani Gabungan Pengusaha kelapa sawit Indonesia (Gapki) Suryanto menyatakan, keberhasilan dan keberlanjutan kemitraan PIR tidak akan berakhir jadi harus dilanjutkan. Kesuksesan program PIR adalah mengubah kepemilikan kebun rakyat dari 6.175 ha pada 1980 menjadi 5.958.502 ha pada 2019.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia