Universitas Goettingen dan IPB: Pelarangan Sawit Berdampak Negatif Bagi Perekonomian dan Beresiko Besar Bagi Lingkungan

 

JAKARTA, SAWIT INDONESIA – Kalangan peneliti memperingatkan bahwa larangan dan boikot kelapa sawit akan berdampak buruk bagi ekonomi dan lingkungan. Kelapa sawit dinilai tinggi produktivitas dan efisien penggunaan lahan dibandingkan minyak nabati lain seperti kedelai dan minyak bunga matahari.

Temuan ini diungkapkan peneliti Universitas Goettingen dan Institut Pertanian Bogor dalam jurnal akademik The Annual Review of Resource Economics. Melalui riset berjudul Environmental, Economic, and Social Consequences of the Oil Palm Boom.  (https://www.annualreviews.org/doi/10.1146/annurev-resource-110119-024922)

Ada empat peneliti yang terlibat dalam penyusunan riset ini yaitu Prof.Dr. Matin Qaim (Department of Agricultural Economics and Rural Development, University of Goettingen), Dr. Kibrom TSibhatu (Center of Biodiversity and Sustainable Land Use (CBL), University of Goettingen), Prof. Hermanto Siregar (Guru Besar Institut Pertanian Bogor), dan Prof. Dr. Ingo Grass (Department of Crop Sciences, University of Goettingen).

Latar belakang riset ini melihat melesatnya perkembagan industri kelapa sawit global terutama di Indonesia dan Malaysia. Yang menarik, pada 2017 kontribusi minyak sawit mencapai 40% dari total pasokan minyak nabati di seluruh dunia. Akan tetapi, minyak sawit paling hemat dari aspek penggunaan lahan sekitar 10% dari total lahan tanaman minyak nabati.

Namun, perspektif internasional memberikan stigma negatif kepada kelapa sawit baik dari aspek ekologis, ekosistem, dan deforestasi. Berangkat dari persoalan ini, empat peneliti mengambil data biodiversitas dan lingkungan di Jambi mulai dari 2012. Provinsi ini termasuk daerah sentra kelapa sawit yang booming dari 25 tahun lalu. Sampel menggunakan 24 plot dimana 8 plot hutan hujan yang dilindungi, 8 plot mengambil situasi lokasi terletak di perkebunan kecil kelapa sawit dan karet, dan 8 plot fungsi ekologis hutan agroforestry karet.

Faktanya, deforestasi di Jambi sudah lama berlangsung sebelum perkebunan sawit muncul. Pertengahan abad 20, hutan agroforestry karet menjadi andalan masyarakat setempat. Produksi kelapa sawit dimulai pada 1980-an yang dipelopori perusahaan swasta. Disusul petani melalui sistem perkebunan inti rakyat pada dekade 1990-an.

Riset menunjukkan petani  di Jambi mendapat manfaat signifikan dari budidaya  kelapa sawit. Kelapa sawit menghasilkan pendapatan lebih tinggi daripada karet yang sudah dibudidayakan lebih dahulu.  Alhasil, petani sawit mendapatkan nilai kalori dan nutrisi yang lebih baik sebagaimana tergambar dalam penelitian.

Kesimpulan dari riset ini adalah pelarangan total minyak kelapa sawit tidak hanya menghasilkan skala kerugian ekonomi yang besar tetapi sebenarnya bisa menyebabkan masalah lingkungan yang lebih besar. Apabila minyak kelapa sawit kemudian akan diganti oleh minyak nabati lainnya, maka kebutuhan lahan akan lebih besar per unit output.

Itu sebabnya, diperlukan kebijakan yang tepat untuk mengatasi persoalan lingkungan dan biodiversitas perkebunan sawit.  Salah satunya meningkatkan produktivitas di kelapa sawit. Ada kesuksesan petani sawit sangatlah penting dari perspektif sosial dan membutuhkan dukungan khusus untuk mengatasi modal, pengetahuan, teknologi, dan akses pasar

 

Sumber: Sawitindonesia.com