Wapres RI: Sawit Dorong Pengentasan Kemiskinan

 

Sektor kelapa sawit mengangkat 10 juta orang keluar dari garis kemiskinan. KH. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden RI, juga meminta perbaikan pendataan kepada petani sawit untuk membantu mereka keluar dari garis kemiskinan.

“Sawit ini anugerah  Tuhan Yang Maha Esa kepada Indonesia karena kelapa sawit dapat tumbuh subur. Dapat diibaratka seperti kurma yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakat jazirah Arab. Jika negara-negara Timur Tengah punya kurma sebagai salah satu penghasil devisa terbesarnya. Maka, Indonesia memiliki sawit yang menjadi sumber devisa,” ujar Ma’ruf Amin dalam pidatonya.

Ia menjelaskan bahwa  pembangunan perkebunan kelapa sawit yang di daerah terpencil dan minim sarana dan prasarana ekonomi, telah mampu mendorong berkembangnya wilayah dengan sentra ekonomi berbasis kelapa sawit. Wilayah sentra sawit berlokasi di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Barat. Daerah tersebut telah berkembang karena ekonomi kelapa sawit hal itu sesuai dengan upaya membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Ma’ruf Amin menuturkan sebagai Ketua Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), tercatat peranan kelapa sawit dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Berdasarkan riset dari Universitas Stanford dan TNP2K, sejak tahun 2010 sampai tahun 2016, sektor ini mampu mengangkat 10 juta orang keluar dari garis kemiskinan. Itu sebabnya,  faktor-faktor yang terkait dengan ekspansi kelapa sawit dan secara langsung mengangkat 1,3 juta orang yang tinggal di pedesaan keluar dari garis kemiskinan, terutama di wilayah-wilayah ekspansi kelapa sawit.

Komoditas ini berperan strategis dalam pencapaian tujuan pembangunan millennium atau Sustainable Development Goals (SDGs). Tercatat,  sektor ini berperan pada goal pertama yaitu   penanggulangan kemiskinan. Lalu, goal dua adalah menghilangkan kelaparan, yang salah satu indikatornya adalah pengurangan prevalensi stunting. Untuk goal 7 (Energi Modern, Bersih dan Terjangkau), sektor sawit telah berperan melalui peningkatan pemanfaatan energi terbarukan; dan untuk goal 8 (pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi) sektor sawit juga berperan dalam penciptaan lapangan kerja.

Nilai strategis perkebunan kelapa sawit menghasilkan devisa ekspor dari komoditi sawit tahun 2018 sebesar US$ 20,5 miliar  atau lebih dari Rp. 270 trilyun yang merupakan ekspor komoditi terbesar dari Indonesia. “Tingginya ekspor sawit ini menjadikan neraca perdagangan Indonesia bisa lebih baik,” jelasnya saat menyampaikan pidato pembukaan di IPOC 2019, Nusa Dua, Bali, 31 Oktober 2019.

Tahun lalu, dikatakan Ma’ruf Amin, presiden mengeluarkan 5 pesan yaitu pengembangan sektor kelapa sawit ke depan yaitu memaksimalkan kemajuan teknologi, peremajaan perkebunan sawit rakyat, perluasan pasar ekspor, hilirisasi, dan implementasi program B20.

Terkait perbaikan tata kelola dan peningkatan produktivitas tanaman serta daya saing, program Peremajaan Sawit Rakyat diminta supaya dapat dioptimalkan. Ia telah meminta  Kementerian Pertanian untuk segera merealisasikan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang didukung pendanaannya dari Badan Pengelola DanaPerkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Target peremajaan dipatok seluas 185 ribu hektare per tahun perlu segera direalisasikan.

“Saya minta berbagai hal yang masih menghambat (PSR) seperti administrasi, harus dapat diselesaikan,” pintanya.

Ia mengatakan upaya menangkal kampanye negatif  kelapa sawit di Indonesia dapat dilakukan  melalui sertifikasi IndonesiaSustainable Palm Oil (ISPO). “Saya menyambut baik komitmenGAPKI yang seluruh anggotanya akan menyelesaikan sertifikatISPO pada akhir tahun 2020. Melalui sertifikasi ISPO diharapkanakan mengurangi kesan negatif tentang kelapa sawit Indonesia,” jelas Pria kelahiran Tangerang 76 tahun silam ini.

Menurutnya kampanye perlu dilakukan  untuk memberikan pemahaman masyarakat untuk menghilangkan berbagai kesalahpahaman mengenai sawit juga perlu terus dilakukan.

Dalam pandangannya, hilirisasi adalah jawaban dari kelebihan produksi kelapa sawit. Pengembangan investasi industri sawit jangan berhenti, terutama di industri hilirnya. Berbagai industri hilir berbahan baku sawit masih sangat terbuka, seperti industri biofuel, industri makanan, dan oleokimia.

Ma’ruf Amin mendorong agar para petani swadaya dapat bermitra dengan perusahaan agar dapat meningkatkan produktivitas. Selain itu,  perlu dilakukan konsolidasi data sawit melalui perbaikan metodologi harus dilakukan agar kita dapat melakukan perencanaan lebih baik. Pendataan petani sawit diharapkan juga harus dilakukan agar kita dapatmeningkatkan ketepatan sasaran dalammemberikan dukungan bagipetani sawit, terutama petani sawit yang berasal dari kelompokmasyarakat miskin.

Indonesia memiliki sawit sebagai sumber devisa dan peran kelapa sawit yang semakin penting tersebut tentunya dapat tercapai karena kerja keras dari para pelaku usaha perkebunan baik pekebun maupun perusahaan perkebunan kelapa sawit, khususnya anggota Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Kedepan, peran kelapa sawit akan semakin penting, terutama berkaitan dengan tuntutan yang semakin meningkat akan penyediaan food, feed dan fuel secara berkelanjutan.

Terkait program biodisel, dikatakannya, program ini mendorong penggunaan  minyak sawit dalam negeri akan meningkat sehingga memperkuat pasar domestik dan sekaligus akan mengurangi impor minyak bumi. Ini terbukti, program  B20 tahun 2019 sampai saat ini telah menyerap lebih dari 4 juta ton minyak sawit dan sampai akhir tahundiperkirakan akan terserap 6,4 juta ton.

Selanjutnya, program B30 ditargetkan akan mulai awal Januari 2020 dan akan dapat menyerap tambahan konsumsi minyak sawit sekitar 3 juta ton sepanjang tahun 2020. Terkait dengan pemanfaatan sawit sebagai sumber energi terbarukan, Pemerintah juga berkomitmen untuk mengembangkan kebijakan green fuel untuk mengkonversi sawit langsung menjadi green gasoline, green diesel bahkan green avtur.

 

Sumber: Sawitindonesia.com