Palm Oil Today

Bungkil Inti Sawit untuk Pakan: Mengapa Pembersihan dan Fermentasi Perlu Dibedakan?

23 Oct 2026

Dua nampan berisi pecahan cangkang dan inti sawit serta bahan bungkil cokelat di meja pengujian.

Bungkil inti sawit merupakan hasil samping pengolahan inti sawit yang diteliti sebagai bahan pakan. Namun, istilah “peningkatan mutu” dapat menunjuk pada dua pekerjaan yang berbeda. Satu penelitian di Journal of Oil Palm Research menguji pembersihan inti dari cangkang sebelum minyak diekstraksi; penelitian lainnya memfermentasi residu inti setelah ekstraksi untuk mengamati perubahan komposisi nutrisinya. Titik proses, bahan uji, dan keluaran yang diukur tidak sama. Membaca keduanya secara terpisah membantu menjaga agar hasil penelitian tidak berubah menjadi klaim bahwa satu perlakuan otomatis menyelesaikan semua kendala pakan.

Dua nampan berisi pecahan cangkang dan inti sawit serta bahan bungkil cokelat di meja pengujian.

Pembersihan dimulai dari mutu inti sebelum ekstraksi

Rohaya Mohamed Halim dan rekan-rekan meneliti sistem pre-cleaning di pabrik pengolahan inti. Sistem ini menggunakan tiga kolom pemisahan dengan aliran udara untuk mengeluarkan serpihan cangkang dari pasokan inti sawit. Inti yang lebih bersih kemudian masuk ke proses ekstraksi minyak mekanis; bungkil yang dihasilkan dalam penelitian tersebut disebut Purafex. Jadi, perlakuannya bukan membersihkan bungkil yang sudah jadi, melainkan memperbaiki bahan baku sebelum minyak diambil.

Tim peneliti menganalisis pasokan inti dari 21 pabrik kelapa sawit. Kandungan gabungan kotoran dan cangkang pada sampel tercatat 3,48%–5,18%. Dalam pemantauan sistem, cangkang lepas berkurang sekitar separuh dan konsisten berada di bawah 3% setelah pembersihan. Akan tetapi, angka cangkang lepas tidak identik dengan seluruh cangkang: buah utuh dan buah yang baru pecah sebagian masih dapat lolos bersama inti. Peneliti mencatat kandungan total cangkang sempat berada pada kisaran 3,4%–4,4%, sedikit melewati sasaran di sebagian pengamatan. Mereka juga menyebut kehilangan inti tidak lebih dari 1,6% pada sampel yang diuji.

Perbedaan antara sasaran dan hasil aktual itu penting ketika angka “kurang dari 4%” dikutip. Angka tersebut adalah target cangkang pada inti yang dibersihkan, bukan jaminan setiap pasokan selalu mencapainya. Menurut peneliti, agar target itu tercapai, kadar awal gabungan kotoran dan cangkang pada inti tidak boleh melebihi 5%. Studi tersebut melaporkan kadar cangkang dalam Purafex sekitar 4%–5%, dibandingkan lebih dari 12% pada bungkil komersial yang dijadikan pembanding. Serat kasar Purafex kurang dari 12%, sedangkan pembanding komersial lebih dari 15%; protein kasarnya berada pada rentang 16,0%–17,8%.

Apa yang benar-benar diuji pada ayam broiler?

Penelitian pembersihan itu juga menguji Purafex dalam ransum ayam broiler, bukan pada semua jenis ternak. Sebanyak 300 anak ayam broiler jantan dibagi ke dalam empat perlakuan ransum dengan kadar Purafex 0%, 15%, 30%, dan 45%, masing-masing dengan tiga ulangan berisi 25 ekor. Pengamatan berlangsung 35 hari. Ransum tetap diformulasikan dengan bahan lain, termasuk jagung dan bungkil kedelai; persentase Purafex adalah bagian dari formulasi, bukan satu-satunya makanan yang diberikan.

Pada keseluruhan periode, bobot akhir dan pertambahan bobot kelompok 15% serta 30% tidak berbeda nyata dari kontrol tanpa Purafex. Kelompok 45% mencatat bobot akhir dan pertambahan bobot paling rendah. Konsumsi pakan pada kelompok 30% dan 45% justru lebih tinggi daripada pada kontrol dan kelompok 15%. Dengan demikian, pernyataan bahwa 15%–30% menunjukkan hasil lebih baik daripada 45% perlu dibaca sebagai perbandingan antardosis dalam percobaan ini, bukan bukti bahwa Purafex pasti mengungguli ransum kontrol atau bahwa kadar tersebut berlaku universal. Pada fase awal, rasio konversi pakan kelompok 30% dan 45% juga lebih tinggi daripada kontrol.

Fermentasi bekerja pada residu setelah minyak diambil

Penelitian Mohd Firdaus Othman dan rekan-rekan mengambil titik masuk yang lain. Mereka melakukan fermentasi keadaan padat memakai kapang lokal Rhizopus oryzae ME01 pada dua substrat: palm kernel expeller (PKE), hasil pengepresan mekanis, dan palm kernel cake (PKC), hasil ekstraksi pelarut menurut definisi studi tersebut. Keduanya sudah merupakan residu setelah minyak diekstraksi. Perlakuan fermentasi pada penelitian ini bukan pengganti pemisahan cangkang pada inti sebelum ekstraksi.

Peneliti menambahkan sejumlah kecil garam mineral, menyiapkan substrat dalam bioreaktor, lalu mengamati perubahan komposisi sepanjang percobaan fermentasi sepuluh hari. Mereka mengukur antara lain protein kasar, serat kasar, abu, lemak terekstraksi, karbohidrat, dan energi. Berbeda dari studi Purafex, artikel fermentasi ini tidak melaporkan uji pemberian PKE atau PKC hasil fermentasinya kepada ayam broiler. Hasilnya adalah pengukuran komposisi bahan, bukan bukti langsung perbaikan pertumbuhan, kecernaan, atau kesehatan hewan akibat produk fermentasi tersebut.

Pada tabel perbandingan komposisi, protein kasar PKE naik dari 17,25% menjadi 19,44%, sedangkan PKC naik dari 20,31% menjadi 21,59%. Dalam kondisi yang diuji, respons kadar protein PKE lebih kuat daripada PKC. Artikel juga menekankan bahwa perubahan protein PKC umumnya tidak berbeda nyata dari kontrol tanpa fermentasi, kecuali pada hari keempat.

Protein naik tidak berarti seluruh indikator membaik

Ada batas lain yang tidak boleh hilang dari ringkasan riset fermentasi. Tabel yang sama mencatat serat kasar PKE naik dari 11,97% menjadi 16,99% dan PKC dari 10,77% menjadi 12,35%; energi terhitung keduanya menurun. Dalam pembahasan, penulis bahkan menyatakan kapang ini bukan kandidat yang baik untuk menguraikan sifat antinutrisi pada kedua substrat berdasarkan hasil serat kasar. Dengan kata lain, peningkatan kadar protein kasar tidak identik dengan penurunan serat atau pembuktian nilai pakan yang lebih tinggi pada hewan.

Dua makalah ini karena itu menjawab pertanyaan yang berlainan: penelitian Purafex menelusuri dampak pemisahan cangkang pada mutu bungkil dan performa broiler dalam formulasi tertentu, sementara penelitian fermentasi mengukur respons komposisi dua residu ekstraksi terhadap satu kapang dalam kondisi percobaan. Kedua pendekatan tidak diuji sebagai rangkaian gabungan dalam makalah-makalah tersebut. Pembaca dapat menelusuri tulisan terkait di rubrik Wawasan GIMNI, sambil tetap memisahkan bukti tentang kebersihan bahan baku, komposisi nutrisi, dan hasil uji pakan pada hewan.

Sumber pantauan