Pemerintah mengidentifikasi minyak kelapa sawit mentah atau CPO dan produk olahannya sebagai komoditas Indonesia yang masih memiliki ruang untuk memperluas pasar di Maroko. Potensi tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan hubungan dagang kedua negara dan pembukaan akses yang lebih luas menuju kawasan Afrika, Eropa, dan Mediterania.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti, seperti diberitakan ANTARA pada Jumat (28/8/2026), menyatakan CPO mentah dan olahan termasuk produk Indonesia yang memiliki potensi ekspor belum terealisasi secara maksimal di pasar Maroko. Selain kelompok minyak sawit, daftar itu mencakup amonia anhidrat, besi dan baja setengah jadi, serta udang beku.
Penguatan akses pasar menjadi salah satu dasar pemerintah mendorong percepatan perundingan Perjanjian Perdagangan Indonesia–Maroko. Pemerintah menargetkan kesepakatan tersebut dapat diselesaikan secara komprehensif pada 2027. Dalam pertemuan bilateral secara daring pada 27 Agustus, kedua pihak membahas kelanjutan negosiasi berdasarkan draf yang telah tersedia, penyusunan jadwal kerja, serta akses pasar yang seimbang.
Maroko diposisikan sebagai pintu masuk ke pasar yang lebih luas
Menurut keterangan Kementerian Perdagangan yang dikutip ANTARA, Maroko dinilai strategis sebagai pintu gerbang produk Indonesia menuju pasar Afrika, Eropa, dan Mediterania. Sebaliknya, Indonesia dapat menjadi jalur bagi produk Maroko untuk menjangkau ASEAN dan kawasan Indo-Pasifik.
Nilai perdagangan Indonesia dan Maroko pada 2025 dilaporkan mencapai 235 juta dolar AS, naik 33 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Januari–Mei 2026, nilainya mencapai 180 juta dolar AS atau tumbuh 37 persen secara tahunan. Ekspor Indonesia ke Maroko pada 2025 tercatat 154,9 juta dolar AS, sedangkan impor dari Maroko sebesar 80,1 juta dolar AS.
ANTARA melaporkan bahwa lemak dan minyak hewani maupun nabati, margarin, serta olahan makanan telah masuk dalam kelompok ekspor utama Indonesia ke Maroko pada 2025, bersama kopi, ban pneumatik baru, dan batu bara. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa produk minyak nabati dan pangan olahan sudah memiliki pijakan dalam perdagangan bilateral, sementara CPO dan turunannya masih dipandang memiliki ruang ekspansi.
Bagi industri sawit dan minyak nabati, pembukaan pasar baru akan bergantung pada hasil perundingan akses pasar dan tindak lanjut perdagangan kedua negara. Pergerakan indikator komoditas yang menjadi konteks perdagangan dapat dipantau melalui data harga CPO GIMNI.
Sumber pantauan
- ANTARA — RI bidik CPO hingga udang beku untuk perluas ekspor ke Maroko, 28 Agustus 2026.
- ANTARA — WWF nilai pasar domestik RI strategis bagi sawit berkelanjutan, 28 Agustus 2026.
- GAPKI — Tanpa Percepatan PSR, Indonesia Berisiko Kekurangan Produksi Sawit Tahun Depan, diperbarui 28 Agustus 2026.
- Kontan — IEU-CEPA Berlaku 2027, Ekspor Sawit Indonesia ke Eropa Bisa Makin Deras, 28 Agustus 2026.
- Katadata — Produksi Sawit RI Terancam Susut 3 Juta Ton Imbas El Nino, Harga Berpotensi Naik, 28 Agustus 2026.
- InfoSAWIT — Stok Sawit Malaysia Tembus 2,63 Juta Ton, Harga CPO Tetap Kokoh Dibayangi Risiko El Niño, 29 Agustus 2026.
- Sawit Setara — APKASINDO Dorong Perlindungan Tata Niaga Sawit, 29 Agustus 2026.