Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO berpotensi meningkat pada 2027. Proyeksi itu dikaitkan dengan bertambahnya penyerapan CPO di dalam negeri serta risiko berkurangnya volume ekspor Indonesia di tengah dinamika pasokan minyak nabati dunia.
Dalam laporan Sawit Indonesia yang terbit Jumat, 16 Oktober 2026, Sekretaris Jenderal GAPKI Hadi Sugeng Wahyudiono mengatakan minyak sawit menyumbang sekitar 35 persen dari pasokan minyak nabati dunia. Menurut dia, perubahan volume ekspor dari Indonesia sebagai produsen dan eksportir utama dapat memengaruhi keseimbangan permintaan dan penawaran global.
Hadi menyebut kenaikan penyerapan domestik dapat mempersempit alokasi ekspor. Tekanan harga juga berpotensi bertambah apabila panen minyak nabati lain di Eropa tidak berjalan baik. Namun, GAPKI belum menyampaikan angka pasti proyeksi kenaikan harga CPO untuk 2027.
Target produksi 2026 tetap 58,8 juta ton
Di sisi produksi, GAPKI masih optimistis target minyak sawit nasional sebesar 58,8 juta ton pada 2026 dapat dicapai. Optimisme tersebut, menurut laporan yang sama, ditopang oleh curah hujan yang baik dan pemupukan yang optimal pada tahun sebelumnya.
Besaran proyeksi harga 2027 dijadwalkan menjadi salah satu pembahasan dalam Indonesian Palm Oil Conference atau IPOC 2026. RiauPagi melaporkan konferensi akan berlangsung pada 11–13 November 2026 di Nusa Dua, Bali, dengan agenda yang mencakup ketahanan pangan, perdagangan dan geopolitik, serta prospek ekonomi dan tren pasar.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono, sebagaimana dikutip RiauPagi, berharap forum tersebut menghasilkan gagasan strategis dan rekomendasi kebijakan untuk memperkuat ketahanan industri sawit nasional di tengah perubahan perdagangan dunia.
Dampak ke minyak goreng dan pangan turunan
GAPKI juga mengingatkan bahwa pergerakan harga CPO global dapat merambat ke pasar dalam negeri. Hadi menyebut minyak goreng dan produk turunan lain termasuk bagian yang perlu dijaga karena pasar sawit sensitif terhadap perubahan pasokan dan permintaan.
Pantauan pangan pada Sabtu, 17 Oktober 2026 turut menempatkan minyak goreng sebagai salah satu komoditas dengan harga yang masih tinggi. Bloomberg Technoz menyusun pantauan tersebut berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Bank Indonesia pada pukul 07.00 WIB.
Perkembangan harga hulu dan hilir dapat dipantau melalui data harga CPO GIMNI serta tracker harga minyak goreng nasional GIMNI. Kedua rangkaian data itu memberi konteks untuk melihat hubungan antara pasar bahan baku dan harga produk pangan berbasis minyak nabati.
Di luar prospek harga, pemberitaan dalam 24 jam terakhir juga menunjukkan perhatian pada tata kelola hilir. DPRD Riau mulai menelusuri data produksi refinery, minyak goreng, dan MinyaKita untuk memetakan potensi penerimaan daerah. Di Maluku Utara, pemerintah provinsi dilaporkan melakukan intervensi distribusi MinyaKita, sementara pemantauan RRI di Sanggau menyebut harga telur dan minyak goreng stabil.
Rangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa prospek CPO tidak hanya berkaitan dengan pasar ekspor, tetapi juga bersinggungan dengan produksi, pengolahan, distribusi, dan keterjangkauan produk pangan di dalam negeri.
Sumber pantauan
- Sawit Indonesia — GAPKI Kaji Potensi Kenaikan Harga CPO 2027 di Tengah Target Produksi 58,8 Juta Ton Tahun Ini, 16 Oktober 2026.
- RiauPagi — IPOC 2026 Diharap Bisa Hasilkan Strategi Perkuat Ketahanan Industri Sawit Nasional, 16 Oktober 2026.
- Bloomberg Technoz — Harga Pangan Sabtu 17 Oktober: Harga Cabai-Minyak Masih Tinggi, 17 Oktober 2026.
- Sawit Setara — DPRD Riau Bongkar Potensi Pajak Industri Sawit, Produksi Refinery hingga MinyaKita Disorot, 16 Oktober 2026.
- RRI Ternate — Pemprov Malut Intervensi Distribusi MinyaKita, Haltim Menyusul, 16 Oktober 2026.
- RRI Sanggau — Harga Telur dan Minyak Goreng di Sanggau Stabil, 16 Oktober 2026.
- Poskota Kaltim — Sambut Hari Pangan Sedunia 2026, Disperindag Kukar Hadirkan Pangan Murah bagi Masyarakat, 16 Oktober 2026.