Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) kembali melemah pada perdagangan awal pekan. Penurunan terjadi seiring tekanan dari berbagai sentimen global, mulai dari turunnya harga minyak mentah dunia, pergerakan minyak kedelai, hingga penguatan mata uang Malaysia yang membuat komoditas ini kurang kompetitif di pasar internasional.
Berdasarkan data dari Bursa Malaysia Derivatives, kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Maret 2026 ditutup turun 12 ringgit menjadi 4.051 ringgit per ton pada Senin (23/2/2026).
Kontrak April 2026 juga melemah 6 ringgit menjadi 4.081 ringgit per ton. Sementara kontrak Mei 2026 turun 9 ringgit menjadi 4.083 ringgit per ton, diikuti kontrak Juni 2026 yang turun 14 ringgit ke level 4.082 ringgit per ton.
Untuk kontrak Juli 2026, harga terkoreksi lebih dalam sebesar 26 ringgit menjadi 4.074 ringgit per ton, sedangkan kontrak Agustus 2026 juga melemah 26 ringgit menjadi 4.073 ringgit per ton.
Tekanan Global Masih Buat Harga CPO Melemah
Mengutip data dari TradingView, pelemahan harga CPO terjadi selama dua hari berturut-turut. Penurunan dipicu oleh melemahnya harga minyak mentah dunia serta pergerakan minyak kedelai di pasar global.
Seorang trader di Kuala Lumpur menyebut harga sawit dibuka lebih rendah karena penyesuaian spread terhadap minyak kedelai di Chicago Board of Trade.
Selain itu, penguatan ringgit Malaysia sebesar 0,31% terhadap dolar AS turut menekan harga. Mata uang yang lebih kuat membuat minyak sawit menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri, sehingga menurunkan daya tarik ekspor.
Pergerakan Minyak Nabati Pesaing Ikut Mempengaruhi
Harga minyak kedelai di Chicago naik tipis 0,73% setelah sebelumnya terkoreksi. Namun, pasar minyak nabati global masih dibayangi ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat setelah keputusan Mahkamah Agung yang membatalkan kebijakan tarif besar Presiden Donald Trump.
Di sisi lain, perdagangan di Dalian Commodity Exchange masih tutup karena libur Tahun Baru Imlek, sehingga likuiditas pasar minyak nabati Asia menjadi terbatas.
Karena minyak sawit bersaing langsung dengan minyak kedelai dalam pangsa pasar global, perubahan harga komoditas pesaing ini biasanya langsung berdampak pada pergerakan CPO.
Ekspor Malaysia Diperkirakan Turun
Melansir situs Investor, dari sisi fundamental telah terjadi tekanan tambahan yang datang dari proyeksi penurunan ekspor Malaysia.
Data survei kargo dari Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia menunjukkan ekspor produk sawit Malaysia pada periode 1–20 Februari diperkirakan turun antara 8,9% hingga 12,6%.
Penurunan ekspor ini menambah kekhawatiran pasar terhadap melemahnya permintaan global.
Harga Minyak Mentah Turun, Biodiesel Kurang Menarik
Harga minyak mentah dunia juga turun sekitar 1% setelah Amerika Serikat dan Iran kembali membuka jalur perundingan nuklir. Turunnya harga energi membuat minyak sawit kurang kompetitif sebagai bahan baku biodiesel.
Ketidakpastian ekonomi global akibat gelombang tarif baru juga berpotensi menekan permintaan bahan bakar dan komoditas energi, termasuk CPO.
Secara teknikal, harga minyak sawit berpotensi menguji level support di 4.064 ringgit per ton. Jika level ini ditembus, harga berisiko turun lebih lanjut menuju kisaran 3.999 ringgit per ton.