Palm Oil Today

Harga CPO Menguat, TBS Kalbar Naik di Tengah Kendala Angkutan

21 Sep 2026

Tandan buah segar sawit di area pemuatan CPO dengan truk tangki dan angkutan sungai

Pergerakan harga minyak sawit pada pekan ketiga September 2026 memperlihatkan dua sisi rantai pasok. Harga CPO acuan global masih naik secara mingguan dan harga tandan buah segar (TBS) kemitraan di Kalimantan Barat berada pada tingkat yang dinilai relatif baik, sementara hambatan angkutan mulai menekan mobilisasi CPO dari sejumlah sentra produksi.

Tandan buah segar sawit di area pemuatan CPO dengan truk tangki dan angkutan sungai

Harga acuan bertahan setelah kenaikan mingguan

CNBC Indonesia, dengan mengutip data Refinitiv, melaporkan kontrak CPO acuan Malaysia untuk Desember 2026 ditutup turun 0,77 persen menjadi 4.898 ringgit per ton pada Jumat, 18 September. Meski terkoreksi pada akhir pekan, harga tersebut masih naik 1,74 persen secara mingguan.

Laporan itu menyebut pelemahan harian terjadi bersamaan dengan turunnya kontrak minyak nabati pesaing di Dalian dan Chicago. Pelaku pasar juga memantau kemungkinan perubahan tarif impor India yang dapat memengaruhi permintaan minyak sawit. Perkembangan harga referensi dan pungutan terkait CPO dapat dipantau melalui data harga CPO GIMNI.

TBS kemitraan Kalbar mencapai Rp3.696,64 per kilogram

Di Kalimantan Barat, ANTARA melaporkan harga tertinggi TBS petani yang bermitra dengan perusahaan pada periode II September 2026 mencapai Rp3.696,64 per kilogram untuk tanaman berumur 10–20 tahun. Tim Penetapan Indeks K dan Harga TBS Provinsi Kalimantan Barat menetapkan harga CPO sebesar Rp15.576,45 per kilogram dan harga inti sawit sebesar Rp13.298,33 per kilogram.

Harga TBS terendah untuk tanaman umur tiga tahun tercatat Rp2.775,42 per kilogram, sedangkan rata-ratanya mencapai Rp3.534,38 per kilogram. Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Kalimantan Barat, Indra Rustandi, menilai harga yang ditetapkan pemerintah daerah relatif baik bagi petani. Penetapan tersebut berlaku bagi perkebunan kemitraan serta petani swadaya yang telah bermitra dengan perusahaan.

Surutnya sungai menghambat mobilisasi CPO

Di balik tingkat harga tersebut, petani swadaya menghadapi kendala pemasaran karena sejumlah pabrik kelapa sawit mengalami keterbatasan daya tampung. Menurut Indra, tangki timbun di sejumlah pabrik penuh akibat perusahaan kesulitan memobilisasi CPO.

ANTARA menyebut kondisi itu terutama terjadi di wilayah Kalimantan Barat bagian timur, termasuk Sintang, Sekadau, dan Sanggau. Surutnya Sungai Kapuas menghambat pergerakan CPO dari kawasan tersebut. Situasi ini menempatkan kapasitas penyimpanan dan kelancaran logistik sebagai bagian penting dari arus komoditas di tingkat daerah.

Berita pasar lain yang terbit pada hari yang sama turut menunjukkan luasnya mata rantai harga minyak sawit. Bisnis.com membahas peluang Indonesia memperkuat pembentukan harga komoditas strategis, sementara Metro TV melaporkan variasi harga promosi minyak goreng antardaerah. Kedua laporan tersebut memberi konteks dari sisi kelembagaan pasar dan harga ritel, sedangkan perkembangan di Kalimantan Barat menunjukkan kondisi yang dihadapi pelaku di tingkat produksi dan pengangkutan.

Sumber pantauan