Palm Oil Today

Harga CPO Tertekan Jangka Pendek, Risiko Pasokan Menopang Prospek Akhir 2026

23 Sep 2026

Tandan buah sawit di depan tangki penyimpanan dan pelabuhan ekspor minyak sawit

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menghadapi tekanan dalam perdagangan harian pada Selasa, 22 September 2026. Di pasar domestik, tender KPBN Inacom berakhir withdraw, sementara kontrak acuan di Bursa Malaysia turun ke penutupan terendah sejak pertengahan Agustus.

Tandan buah sawit di depan tangki penyimpanan dan pelabuhan ekspor minyak sawit

InfoSAWIT melaporkan penawaran tertinggi CPO KPBN untuk Franco Kuala Tanjung berada di Rp15.621 per kilogram. Angka itu turun Rp100 per kilogram atau sekitar 0,64 persen dibandingkan harga pada Senin yang mencapai Rp15.721 per kilogram. Tender di sejumlah lokasi lain, termasuk Talang Duku dan Teluk Bayur, juga berakhir withdraw.

Tekanan serupa terlihat di Bursa Malaysia Derivatives Exchange. Kontrak CPO pengiriman Desember 2026 ditutup turun RM47 atau sekitar 0,97 persen menjadi RM4.810 per ton. Menurut laporan yang dikutip InfoSAWIT dari Reuters, pelemahan dipengaruhi ekspektasi kenaikan stok dan permintaan yang masih lesu.

Ekspor dan minyak nabati pesaing menekan pasar

Pergerakan minyak nabati lain turut membentuk arah harga. Kontrak minyak kedelai aktif di Bursa Dalian naik 0,54 persen, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian turun 0,49 persen. Di Chicago Board of Trade, minyak kedelai melemah 1,32 persen.

Dari sisi perdagangan, surveyor kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1–20 September 2026 turun antara 12,8 persen hingga 24,7 persen dibandingkan periode yang sama sebulan sebelumnya. Kombinasi permintaan ekspor yang melemah dan ekspektasi penambahan stok memberi tekanan pada kontrak jangka pendek.

Prospek akhir tahun masih ditopang risiko produksi

Di tengah pelemahan harian tersebut, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menyampaikan pandangan bahwa harga CPO dapat bertahan di atas RM4.700 atau sekitar US$1.154 per ton pada Oktober hingga akhir 2026. Proyeksi itu dilaporkan Kontan dengan mengutip Reuters pada Selasa.

MPOC menyebut tingkat stok yang tinggi saat ini berpotensi bersifat sementara karena produksi dan persediaan di Malaysia maupun Indonesia diperkirakan melandai dalam beberapa bulan mendatang. Persediaan Malaysia sebelumnya mencapai tingkat tertinggi dalam delapan bulan pada Agustus, ketika produksi meningkat dan ekspor menurun.

Faktor cuaca juga menjadi perhatian. Menurut MPOC, kondisi kering terkait El Niño makin terlihat di Malaysia dan Indonesia sejak awal Agustus dan berpotensi memengaruhi produksi dalam enam hingga sembilan bulan berikutnya. MPOC melaporkan curah hujan Indonesia berada sekitar 20 persen di bawah rata-rata pada Juli dan 60 persen di bawah rata-rata pada Agustus, sedangkan Malaysia sekitar 30 persen di bawah rata-rata pada Agustus.

Pergerakan jangka pendek dan proyeksi akhir tahun menunjukkan dua tekanan yang berjalan bersamaan: permintaan ekspor dan stok menentukan arah harga saat ini, sedangkan risiko cuaca serta produksi menjadi faktor penopang untuk bulan-bulan berikutnya. Perkembangan harga referensi, bea keluar, dan indikator pasar domestik dapat dipantau melalui data harga CPO GIMNI.

Sumber pantauan