Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali tertekan pada penutupan perdagangan pekan ini. Berdasarkan data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, kontrak acuan CPO ditutup pada posisi 4.672 ringgit Malaysia (MYR) per ton pada Jumat (25/9/2026), anjlok 2,10 persen dibanding penutupan sehari sebelumnya sebesar MYR4.772 per ton. Posisi itu sekaligus menjadi level penutupan terendah dalam lebih dari tujuh pekan.
Secara mingguan, tekanan harga bahkan lebih dalam. Harga CPO tercatat merosot 4,61 persen dibanding penutupan Jumat sebelumnya (18/9/2026) yang berada di MYR4.898 per ton. Penurunan terjadi setelah harga CPO sempat menembus MYR5.018 per ton pada 21 Agustus 2026 sebelum berbalik turun hingga ke posisi saat ini.
Stok Malaysia di Ambang 3 Juta Ton
Tekanan utama datang dari kekhawatiran meningkatnya persediaan minyak sawit Malaysia. Produksi CPO Malaysia masih meningkat secara bulanan pada September, sementara permintaan ekspor justru melemah. Data Intertek Testing Services (ITS) menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang 1–25 September turun 15,1 persen menjadi 887.557 ton, dari 1,05 juta ton pada periode yang sama bulan sebelumnya.
Pelemahan terutama terlihat dari sejumlah pasar utama. Ekspor ke Uni Eropa turun menjadi 184.372 ton dari 284.061 ton, sedangkan pengiriman ke China turun menjadi 55.000 ton dari 94.800 ton. Ekspor ke India dan kawasan anak benua justru naik tipis menjadi 199.630 ton dari 193.620 ton.
Kombinasi produksi yang masih tinggi dan ekspor yang melemah membuat persediaan berpotensi kembali meningkat. Pelaku industri memperkirakan stok Malaysia dapat menembus 3 juta ton pada akhir September, dari 2,82 juta ton pada Agustus yang sudah merupakan level tertinggi dalam delapan bulan. Reuters mencatat stok bulanan Malaysia hanya lima kali menembus 3 juta ton. Kepala Riset Sunvin Group Anilkumar Bagani bahkan memperkirakan stok dapat melampaui 3,1 juta ton apabila produksi tetap tinggi dan ekspor tetap lemah.
India Pangkas Bea Masuk, Belum Mampu Angkat Harga
Dari sisi permintaan, terdapat katalis positif setelah India memangkas bea masuk minyak nabati menjelang musim festival. Pemerintah India memangkas bea masuk dasar (basic customs duty) CPO menjadi 5 persen dari sebelumnya 10 persen, sementara tarif minyak sawit olahan diturunkan menjadi 27,5 persen dari 32,5 persen. Kebijakan tersebut mulai berlaku 24 September 2026 dan ditujukan untuk menekan harga minyak nabati domestik.
Namun, sentimen tersebut belum cukup mengimbangi kekhawatiran pasar terhadap tingginya persediaan. The Edge Malaysia memperkirakan pembelian India akan melambat setelah negara tersebut melakukan pembelian agresif pada Agustus dan September. Selisih harga minyak sawit terhadap minyak kedelai dan minyak bunga matahari yang semakin menyempit juga memberi insentif lebih besar bagi pembeli India untuk beralih ke minyak nabati alternatif.
Pasar Domestik Ikut Tertekan
Tekanan harga juga terlihat di pasar domestik. Berdasarkan informasi tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) yang dikutip InfoSAWIT, harga CPO Franco Belawan dibuka Rp15.300 per kilogram pada Jumat (25/9/2026) sebelum mengalami withdraw dengan penawaran tertinggi Rp15.000 per kilogram, turun Rp515 per kilogram atau sekitar 3,32 persen dibanding harga Kamis (24/9/2026) sebesar Rp15.515 per kilogram. Bagi pelaku usaha dan petani sawit, perkembangan harga CPO menjadi indikator penting karena memengaruhi pembentukan harga tandan buah segar (TBS). Data harga acuan dan referensi CPO terkini dapat dipantau melalui data harga referensi CPO GIMNI.
El Niño Bisa Jadi Penopang Jangka Menengah
Meski sentimen jangka pendek masih menekan harga, risiko El Niño dapat menjadi faktor penopang CPO dalam jangka menengah. Badan meteorologi memperkirakan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia baru dimulai pada awal November, lebih lambat dibanding proyeksi sebelumnya, dengan sekitar 61 persen wilayah diperkirakan mengalami keterlambatan. Seorang analis minyak sawit memperkirakan produksi sawit Indonesia pada 2027 berpotensi turun sekitar 2–8 persen akibat kekeringan tahun ini.
MBSB Investment Bank mempertahankan proyeksi rata-rata harga CPO 2026 sebesar MYR4.400 per ton. Bank investasi itu menilai kondisi kering yang berkelanjutan berpotensi menekan produktivitas tandan buah segar dan memperketat pasokan CPO pada 2027. Dengan demikian, sentimen CPO saat ini terbagi dua: dalam jangka pendek, kenaikan produksi, lonjakan stok Malaysia, lemahnya ekspor, dan penurunan harga minyak nabati pesaing masih menjadi tekanan; sementara dalam jangka menengah, risiko penurunan produksi akibat El Niño berpotensi kembali memperketat pasokan dan menjadi penopang harga.
Sumber pantauan
1. CNBC Indonesia, “Harga CPO Merosot, Kabar Baik dari India Tak Mampu Jadi Penopang”, 27 September 2026 — https://www.cnbcindonesia.com/research/20260927053106-128-771178/harga-cpo-merosot-kabar-baik-dari-india-tak-mampu-jadi-penopang
2. InfoSAWIT Sumatera, “Harga CPO Melemah, Pasar Sawit Sumatera Ikut Jadi Sorotan”, 27 September 2026 — https://sumatera.infosawit.com/2026/09/27/harga-cpo-melemah-pasar-sawit-sumatera-ikut-jadi-sorotan/
3. InfoSAWIT, “Nilai CPO Malaysia Oktober 2026 Naik, Harga Acuan Bea Keluar Ditetapkan RM4.452,66 per Ton”, 27 September 2026 — https://www.infosawit.com/2026/09/27/nilai-cpo-malaysia-oktober-2026-naik-harga-acuan-bea-keluar-ditetapkan-rm4-45266-per-ton/
4. Bisnis.com, “Harga Pangan Hari Ini (27/9): Beras Naik, Cabai Rawit Tembus Rp85.000 per Kg”, 27 September 2026 — https://ekonomi.bisnis.com/read/20260927/12/2007525/harga-pangan-hari-ini-279-beras-naik-cabai-rawit-tembus-rp85000-per-kg
5. Sawit Indonesia, “Ancaman Stok Malaysia 3,1 Juta Ton Tekan Harga CPO Turun 2 Persen ke MYR4.666 per Ton”, 25 September 2026 — https://sawitindonesia.com/ancaman-stok-malaysia-3-1-juta-ton-tekan-harga-cpo-turun-2-persen-ke-myr4-666-per-ton