Dari sisi perdagangan, data ekspor menunjukkan pelemahan signifikan. Perusahaan survei kargo melaporkan bahwa pengiriman minyak sawit Malaysia pada periode 1–10 Februari turun antara 10,5% hingga 14,3% dibandingkan bulan sebelumnya. Permintaan dari China juga diperkirakan melemah, karena pembeli beralih ke minyak kedelai dan kanola yang harganya lebih kompetitif.
Meski demikian, penurunan harga CPO tidak berlangsung lebih tajam karena adanya faktor penahan dari sisi pasokan. Data bulanan Malaysian Palm Oil Board menunjukkan bahwa persediaan minyak sawit Malaysia turun 7,7% pada Januari, seiring produksi yang merosot 13,8% menjelang periode Ramadan dan Idulfitri.
Di sisi lain, permintaan dari India memberikan dukungan terbatas terhadap harga. Impor minyak sawit negara tersebut melonjak sebesar 51% secara bulanan ke level tertinggi dalam empat bulan terakhir, setelah sebelumnya turun tajam pada Desember. Peningkatan ini terjadi karena kilang-kilang melakukan restocking untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik.
Dari fenomena ini dapat dilihat bahwa pergerakan pasar global masih sangat dinamis tergantung dari perkembangan permintaan pasar, adanya kebijakan energi, dan kondisi negara-negara produsen penghasilnya.