Jakarta - Dalam rangkaian Hari Batik Nasional 2022 Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk berkolaborasi dalam memajukan dan mempromosikan produk batik yang menggunakan bahan baku sawit berkelanjutan di Indonesia.
Dalam kesepakatan kerja sama tersebut, FPKBL akan bekerja sama dengan RSPO untuk mendorong perubahan sistemik dalam proses produksinya, dengan tujuan untuk menciptakan industri batik yang memperhatikan aspek kelestarian lingkungan.
Tujuan ini akan dicapai melalui empat pendekatan yaitu keanggotaan FPKBL di RSPO yakni peningkatan kapasitas dan kesadartahuan anggota FPKBL tentang kelapa sawit berkelanjutan, penggunaan produk sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO dan turunannya (termasuk namun tidak terbatas pada lilin berbahan dasar minyak sawit), dan pemasaran produk batik FPKBL yang menggunakan bahan baku dari sawit berkelanjutan dalam proses pembuatannya.
"Saya menyambut baik kesepakatan kerja sama antara RSPO dan Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan ini karena tidak hanya menciptakan keselarasan yang lebih erat antara dua industri besar yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi juga menjadi momen transformatif industri batik tanah air yang ikonik menuju produk batik yang keberlanjutan," kata Mahatma Windrawan Inantha, RSPO Deputy Director Market Transformation, Indonesia, perwakilan RSPO.
Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) adalah sebuah organisasi yang mengelola klaster Kampoeng Batik Laweyan yang terletak di Jawa Tengah, di mana masyarakat setempat memiliki kesamaan usaha sebagai produsen batik. FPKBL bertujuan menjadi pionir untuk mengarahkan industri batik yang menjunjung keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan pasar, keadilan sosial dan ekonomi, serta kelestarian lingkungan.