Palm Oil Today

Kredit Industri CPO dan Minyak Goreng Tumbuh 23,37 Persen, Hilirisasi Sawit Menguat

25 Jul 2026

Kredit Industri CPO dan Minyak Goreng Tumbuh 23,37 Persen, Hilirisasi Sawit Menguat

Penyaluran kredit perbankan ke sektor sawit tetap bertumbuh hingga Mei 2026, dengan laju yang lebih kuat pada industri pengolahan dibandingkan subsektor perkebunan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dilaporkan Kontan pada Jumat, 24 Juli 2026, mencatat kredit industri minyak mentah kelapa sawit (CPO) dan minyak goreng sawit tumbuh 23,37 persen secara tahunan.

Tandan buah sawit di depan fasilitas pengolahan CPO dan produk hilir

Pada periode yang sama, kredit untuk subsektor perkebunan buah kelapa sawit tumbuh 4,60 persen secara tahunan. Angka tersebut melambat dari pertumbuhan 6,79 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit industri CPO dan minyak goreng sawit juga sedikit termoderasi dari 28,60 persen setahun sebelumnya, tetapi tetap berada di level dua digit.

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, kredit perkebunan buah kelapa sawit mencakup 3,97 persen dari total kredit perbankan atau 59,56 persen dari kredit sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sementara itu, kredit industri CPO dan minyak goreng sawit mengambil porsi 1,98 persen dari total kredit perbankan atau 12,35 persen dari kredit sektor industri pengolahan.

Penyaluran pembiayaan masih terkonsentrasi di Sumatera. OJK mencatat wilayah tersebut menampung 40,25 persen kredit perkebunan buah kelapa sawit dan 51,43 persen kredit industri CPO serta minyak goreng sawit.

OJK juga menjelaskan bahwa sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) maupun Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) tidak ditetapkan sebagai persyaratan wajib pembiayaan perbankan. Keputusan kredit tetap menjadi kewenangan masing-masing bank dengan mempertimbangkan kebijakan internal, selera risiko, dan prinsip kehati-hatian.

Investasi hilir menjadi sorotan

Perkembangan pembiayaan tersebut muncul bersamaan dengan dorongan memperluas nilai tambah sawit di dalam negeri. Kontan melaporkan Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menilai investasi hilir sawit memerlukan dukungan insentif fiskal dan nonfiskal untuk menarik investasi. BeritaSatu juga memuat penilaian CORE bahwa percepatan hilirisasi berpotensi menambah nilai, investasi, dan lapangan kerja.

Dari sisi pasar, Investor Daily melaporkan harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives menguat ke level tertinggi dalam tiga bulan pada 24 Juli. Pergerakan pasar harian dapat dipantau bersama data harga CPO GIMNI sebagai rujukan perkembangan harga dan kebijakan terkait komoditas tersebut.

Teknologi harus menjangkau petani

Di tingkat hulu, Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) berharap riset yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan dapat menjawab kebutuhan nyata petani. ANTARA melaporkan Program Grant Riset Sawit sejak 2015 telah mendukung 466 kontrak penelitian yang melibatkan 109 lembaga penelitian, 1.873 peneliti, dan 383 mahasiswa, serta menghasilkan 395 publikasi ilmiah dan 84 paten.

Ketua SPKS Sabarudin mengatakan hasil penelitian perlu diwujudkan menjadi teknologi yang ekonomis dan mudah diterapkan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, kualitas panen, dan kesejahteraan petani. SPKS menyoroti kebutuhan teknologi pemetaan lahan, pendataan petani, mekanisasi, penguatan koperasi, serta dukungan ketertelusuran yang dapat dijangkau pekebun kecil.

Pantauan berita pada hari yang sama juga menunjukkan penguatan agenda pengolahan di berbagai daerah. RRI melaporkan rencana peresmian pabrik sawit milik KUD Sejahtera di Musi Banyuasin, sedangkan media di Kalimantan Barat menyoroti dorongan pembangunan fasilitas pengolahan dan produk turunan agar daerah tidak hanya menjual CPO.

Sumber pantauan