RRI melaporkan minyak goreng merek Kita yang didistribusikan oleh Perum Bulog mengalami kelangkaan di Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua. Laporan itu ditulis berdasarkan pantauan langsung di Pasar Aroro Iroro, Serui, pada Senin, 28 September 2026. Dalam laporan tersebut, kondisi kelangkaan disebut sudah berlangsung kurang lebih selama tiga bulan.
Pantauan di pasar itu menyoroti ketersediaan salah satu kebutuhan pokok yang selama ini dicari konsumen. Minyak goreng merek Kita disebut menjadi pilihan yang membantu masyarakat karena termasuk produk yang banyak dicari untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari. RRI menempatkan informasi tersebut sebagai laporan regional dari Serui, dengan sumber utama keterangan pedagang di lokasi pasar.
Salah seorang pedagang di Pasar Aroro Iroro, Farida, mengatakan minyak goreng merek Kita sudah cukup lama sulit ditemukan di pasaran. Ia menyebut kelangkaan tersebut terjadi di Kabupaten Kepulauan Yapen, khususnya di Pasar Aroro Iroro Serui. Keterangan Farida menjadi bagian utama dari laporan RRI mengenai kondisi pasokan di lapangan.
“Kurang lebih sudah tiga bulan minyak goreng merek Kita mengalami kelangkaan di Kabupaten Kepulauan Yapen, khususnya di Pasar Aroro Iroro Serui,” ujar Farida, sebagaimana dikutip RRI. Pernyataan itu menggambarkan lamanya periode ketika pedagang dan pembeli di pasar tersebut menghadapi keterbatasan ketersediaan produk yang dimaksud.
Farida juga menyampaikan bahwa minyak goreng merek Kita selama ini cukup membantu masyarakat. Menurut keterangan yang dimuat RRI, produk tersebut menjadi salah satu pilihan kebutuhan pokok yang banyak dicari konsumen. Karena itu, kondisi langka yang berlangsung berbulan-bulan menjadi perhatian bagi pedagang yang biasa melayani pembeli di pasar tersebut.
Dalam laporan yang sama, Farida berharap kondisi tersebut mendapat perhatian dari pihak terkait. Harapan itu disampaikan agar ketersediaan minyak goreng merek Kita di Kabupaten Kepulauan Yapen dapat kembali normal. RRI tidak memuat penjelasan mengenai penyebab kelangkaan, sehingga informasi yang dapat dikutip terbatas pada kondisi yang terpantau, lama kelangkaan, lokasi pasar, dan keterangan pedagang.
Artikel RRI tersebut juga menyebut konteks distribusi produk, yakni minyak goreng merek Kita yang didistribusikan oleh Perum Bulog. Namun, laporan itu tidak merinci data volume pasokan, jadwal distribusi, harga jual, maupun perbandingan dengan merek minyak goreng lain di Pasar Aroro Iroro. Informasi harga minyak goreng nasional dapat dilihat melalui tracker harga minyak goreng GIMNI sebagai rujukan data terpisah.
Batas informasi tersebut penting dicatat karena sumber hanya menyampaikan kondisi yang terlihat dan kesaksian pedagang. Tidak ada keterangan dalam artikel RRI mengenai hambatan distribusi, perubahan permintaan, kebijakan pasokan, atau faktor lain yang menyebabkan minyak goreng merek Kita sulit ditemukan. Dengan demikian, laporan ini tidak menambahkan dugaan penyebab di luar isi sumber.
Dari sisi lokasi, Pasar Aroro Iroro Serui menjadi titik pantauan yang disebut dalam berita RRI. Farida menyampaikan keterangannya sebagai pedagang di pasar tersebut, bukan sebagai perwakilan lembaga pemerintah atau distributor. Karena itu, kutipan yang tersedia mencerminkan pengalaman pedagang di lapangan dan harapan agar pihak terkait memperhatikan ketersediaan produk.
Dengan demikian, informasi yang tersedia dari sumber tersebut terutama mencatat adanya kelangkaan produk selama sekitar tiga bulan dan adanya permintaan perhatian dari pihak terkait. Laporan ini bersumber dari pantauan RRI di Pasar Aroro Iroro Serui pada 28 September 2026 serta keterangan Farida sebagai pedagang di pasar tersebut. Sumber pantauan tetap menjadi dasar utama penulisan.
\nSumber pantauan: RRI, “Minyak Goreng Merek Kita Langka di Yapen Selama Tiga Bulan”, 28 September 2026.