Perajin Batik di Semarang Diajak Beralih Menggunakan Malam Berbahan Minyak Sawit

 

InfoSAWIT, SEMARANG – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mengajak para perajin atau pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) batik di Jawa Tengah untuk menggunakan bahan baku malam yang berbahan dari minyak sawit.

Sebelumnya BPPT telah mengembangkan produk turunan minyak kelapa sawit berupa parafine yang biasa digunakan dalam membatik yakni Bio Parafine Substitue (Bio-Pas), merupakan bahan baku malam untuk membatik, umumnya parafin dibuat dari minyak berbasis fosil.

“Selama ini produk turunan kelapa sawit hanya dibuat untuk minyak goreng, cokelat, margarin, sabun dan lainnya. Sementara, Indonesia memiliki kekayaan kelapa sawit yang berlimpah,” kata Perekayasa BPPT, Indra Budi, Minggu (21/3/2021), dalam keterangan tertulis diterima InfoSAWIT.

Lebih lanjut tutur Indra Budi, produksi minyak sawit mentah (CPO) di Indonesia sangat berlebih mencapai lebih dari 40 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan parafine bagi perajin batik Indonesia hanya sekitar 36 ribu ton.

“Tersedianya parafine yang mudah karena produksi minyak sawit berlebih, ini dapat mendukung para perajin batik. Makanya kami mengajak perajin batik menggunakan bahan dari minyak sawit Bio-Pas,” jelasnya.

BPPT dan BPDPKS telah menggelar sosialisasi dan workshop yang diikuti sebanyak 40 perajin batik di Jawa Tengah di Hotel Aston Inn Semarang. Dalam workshop tersebut, para perajin batik langsung diajak praktik menggunakan malam dari minyak sawit.

Peneliti Balai Besar Kerajinan dan Batik Yogyakarta, Agus Haerudin menuturkan, dengan parafine kelapa sawit ini, warna batik yang dihasilkan lebih bagus, tidak terdapat rembesan warna yang masuk (ditapak canting), hasil pewarnaan dihasilkan tajam dan cerah karena tahan terhadap larutan alkali dan asam akibat zat pewarna sintesis.

“Malam dari minyak sawit ini menjadi pilihan bagi perajin batik disaat pasokan malam dari minyak bumi mulai terbatas. Apalagi biaya produksi perajin batik mencapai 60%, oleh sebab itu dibutuhkan ketersediaan bahan baku yang mudah didapatkan dan murah,” ujarnya. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com