Palm Oil Today

Permintaan India Menopang Prospek CPO di Tengah Pergerakan Kontrak yang Bervariasi

15 Aug 2026

Fasilitas penyimpanan CPO dan kapal tanker di terminal ekspor minyak sawit

Perdagangan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup bervariasi pada Jumat, 14 Agustus 2026. Kontrak jangka pendek cenderung tertekan, tetapi kontrak berjangka lebih panjang menguat ketika prospek permintaan dari India dan pengiriman ekspor Malaysia membaik.

Fasilitas penyimpanan CPO dan kapal tanker di terminal ekspor minyak sawit

Kontrak jangka pendek dan panjang bergerak berbeda

Laporan AchmadNurHidayat.id yang mengutip Investor Daily dan data Bursa Malaysia Derivatives mencatat kontrak pengiriman Agustus 2026 stabil di 4.528 ringgit Malaysia per ton. Kontrak September turun 32 ringgit menjadi 4.576 ringgit per ton, sedangkan kontrak Oktober melemah 14 ringgit menjadi 4.710 ringgit per ton.

Pada kontrak yang lebih panjang, pergerakannya berbalik menguat. Kontrak November naik 2 ringgit menjadi 4.807 ringgit per ton, kontrak Desember bertambah 17 ringgit ke 4.879 ringgit per ton, dan kontrak Januari 2027 meningkat 28 ringgit menjadi 4.936 ringgit per ton.

Data TradingView yang dikutip dalam laporan tersebut menempatkan minyak sawit berjangka Malaysia di kisaran 4.725 ringgit per ton. Posisi itu membuat harga CPO tetap berada dalam jalur kenaikan mingguan selama dua pekan berturut-turut.

Pengiriman Malaysia dan pembelian India menjadi penopang

Sentimen pasar mendapat dukungan dari penguatan minyak nabati di Bursa Dalian dan prospek ekspor Malaysia. Sejumlah surveyor kargo, sebagaimana dilaporkan sumber utama, memperkirakan pengiriman minyak sawit Malaysia pada 10 hari pertama Agustus tumbuh 2,6 persen hingga 14,8 persen dibandingkan periode yang sama pada Juli.

Dari India, impor minyak nabati pada Juli dilaporkan mencapai level tertinggi dalam 10 bulan. Perusahaan penyulingan di negara itu meningkatkan pembelian minyak sawit dan minyak kedelai untuk mengisi kembali persediaan menjelang musim festival. Solvent Extractors’ Association of India disebut mengonfirmasi peningkatan pembelian tersebut.

Perkembangan ini muncul setelah pasar pada awal Agustus sempat menyoroti pelemahan permintaan global, termasuk dari India, dalam penetapan Harga Referensi CPO Indonesia. Perubahan arah pembelian India karena itu menjadi salah satu data yang diperhatikan dalam perdagangan terbaru, bersamaan dengan perkembangan harga kontrak dan ekspor Malaysia.

Ringgit dan minyak kedelai masih membatasi kenaikan

Kenaikan harga minyak mentah ikut menopang CPO karena memengaruhi daya saing minyak nabati sebagai bahan baku. Namun, penguatan ringgit Malaysia membuat komoditas sawit lebih mahal bagi pembeli bermata uang lain. Pelemahan harga minyak kedelai di Bursa Chicago juga membatasi kenaikan karena komoditas tersebut merupakan produk substitusi utama di pasar minyak nabati.

Dengan faktor-faktor yang bergerak berlawanan itu, penutupan kontrak CPO belum menunjukkan arah yang seragam. Prospek permintaan India dan ekspor Malaysia menjadi penopang, sementara ringgit yang kuat serta pergerakan minyak kedelai tetap menjadi faktor penahan.

Pelaku industri dapat mengikuti perkembangan harga dan kebijakan terkait melalui data harga CPO GIMNI, termasuk Harga Referensi, bea keluar, dan pungutan ekspor yang berlaku.

Sumber pantauan