Palm Oil Today

Produksi Sawit Juli 2026 Naik, Serapan Pangan dan Oleokimia Menurun

29 Sep 2026

Buah sawit, minyak nabati, fasilitas pengolahan, dan logistik ekspor dalam satu rantai pasok

Produksi minyak sawit Indonesia meningkat pada Juli 2026, tetapi pergerakan konsumsi domestik menunjukkan arah yang berbeda antarsegmen. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang dilaporkan Sawit Indonesia pada Senin, 28 September 2026, mencatat kenaikan produksi dan total konsumsi dalam negeri, bersamaan dengan penurunan serapan untuk kebutuhan pangan dan oleokimia.

Buah sawit, minyak nabati, fasilitas pengolahan, dan logistik ekspor dalam satu rantai pasok

Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono menyampaikan bahwa produksi minyak sawit mentah atau CPO pada Juli mencapai 4,90 juta ton. Angka itu naik 1,68 persen dibandingkan Juni 2026 yang sebesar 4,82 juta ton. Produksi minyak inti sawit atau PKO juga meningkat dari 449.000 ton menjadi 466.000 ton.

Jika digabungkan, produksi CPO dan PKO pada Juli mencapai 5,37 juta ton, tumbuh 1,87 persen secara bulanan dari 5,27 juta ton pada Juni. Secara kumulatif, produksi kedua komoditas tersebut selama Januari–Juli 2026 mencapai 35,65 juta ton, atau 6,45 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 33,49 juta ton.

Serapan domestik bergerak tidak seragam

Total konsumsi sawit di dalam negeri pada Juli 2026 dilaporkan sebesar 2,27 juta ton, naik 3,35 persen dari sekitar 2,20 juta ton pada Juni. Namun, kenaikan tersebut tidak terjadi merata pada seluruh sektor pengguna.

Serapan CPO untuk biodiesel naik 13,59 persen menjadi 1,28 juta ton dari 1,13 juta ton. Pada saat yang sama, penyerapan untuk kebutuhan pangan turun 8,31 persen menjadi 805.000 ton. Konsumsi sektor oleokimia juga terkoreksi 3,65 persen menjadi 185.000 ton.

Perubahan komposisi konsumsi ini merupakan bagian dari data bulanan yang dilaporkan GAPKI. Dalam berita terpisah pada hari yang sama, pembahasan mengenai industri hilir juga menyoroti kepastian pasokan CPO, efisiensi pengadaan bahan baku, biaya operasional, dan peluang perluasan pasar ekspor. Sorotan tersebut disampaikan anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini dalam kunjungan kerja ke fasilitas industri pengolahan di Serang, Banten.

Ekspor bulanan turun, nilai kumulatif tetap tumbuh

GAPKI mencatat volume ekspor produk sawit pada Juli berada di level 3,18 juta ton, turun 2,67 persen dibandingkan Juni yang mencapai 3,27 juta ton. Ekspor CPO mentah turun 25,70 persen menjadi 249.000 ton, sementara ekspor olahan minyak inti sawit turun 14,60 persen menjadi 99.000 ton. Produk oleokimia menjadi segmen yang tumbuh, dengan volume ekspor naik 14,94 persen menjadi 537.000 ton.

Nilai ekspor sawit pada Juli dilaporkan turun 2,89 persen secara bulanan menjadi US$3,81 miliar. Meski melemah dibandingkan bulan sebelumnya, nilai ekspor kumulatif Januari–Juli 2026 mencapai US$23,26 miliar, naik 10,92 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar US$20,97 miliar.

Menurut laporan tersebut, Uni Eropa mencatat kenaikan permintaan bulanan tertinggi pada Juli, yakni 104.000 ton atau meningkat 40 persen. Kenaikan juga terjadi pada ekspor ke Amerika Serikat, Afrika, dan China. Secara kumulatif tahunan, ekspor ke China dilaporkan naik 30 persen, sedangkan ekspor ke India turun 20 persen.

Dengan memperhitungkan stok awal tahun, produksi, konsumsi domestik, ekspor, dan impor, GAPKI mencatat stok akhir minyak sawit Indonesia pada penghujung Juli 2026 sebesar 2,75 juta ton. Pergerakan harga dan indikator perdagangan CPO juga dapat dipantau melalui data harga CPO GIMNI.

Sumber pantauan