Palm Oil Today

Reli Harga CPO Berlanjut, Sempat Tembus 4.628 Ringgit per Ton di Bursa Malaysia

13 Mar 2026

Reli Harga CPO Berlanjut, Sempat Tembus 4.628 Ringgit per Ton di Bursa Malaysia
Harga kontrak berjangka crude palm oil (CPO) melanjutkan tren penguatan dan mencatat reli dalam lima dari enam sesi perdagangan terakhir. Kenaikan harga CPO ini didorong oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus level US$100 per barel, sehingga meningkatkan prospek permintaan bahan baku biofuel. Dilansir dari Bisnis Indonesia, berdasarkan data Bloomberg, harga CPO kontrak pengiriman Mei 2026 sempat melonjak 2,9% menjadi 4.628 ringgit per ton di Bursa Malaysia Derivatives pada jeda tengah hari perdagangan Kamis (12/3/2026). Setelah itu, harga mengalami konsolidasi dan bergerak di kisaran 4.582 ringgit per ton. Penguatan harga minyak sawit juga sejalan dengan kenaikan harga minyak nabati lainnya di pasar global. Di Chicago, harga minyak kedelai kontrak Mei naik 0,8% menjadi 67,72 sen per pon. Sementara itu di Dalian Commodity Exchange, harga minyak sawit olahan kontrak Mei meningkat 2,8% menjadi 9.790 yuan per ton, sedangkan harga minyak kedelai kontrak Mei naik 1,5% menjadi 8.696 yuan per ton.

Lonjakan Harga Minyak Dunia Dorong Permintaan CPO

Reli harga CPO terjadi seiring lonjakan harga minyak mentah global yang meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biofuel. Harga minyak Brent bahkan sempat melonjak hingga 10% setelah Oman mengevakuasi seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utamanya, serta adanya serangan terhadap dua kapal tanker di perairan Irak. Gejolak di pasar energi akibat konflik di Timur Tengah juga membuat harga minyak sawit semakin mendekati paritas dibandingkan premi rata-rata sekitar US$313 per ton dalam satu tahun terakhir. Rajesh Modi, trader di Sprint Exim Pte di Singapura, mengatakan penyempitan selisih harga tersebut membuat margin produksi biofuel menjadi semakin menarik bagi produsen energi. “Volume besar minyak sawit kini dialihkan ke bahan bakar berbasis tanaman, terutama di Indonesia sebagai produsen terbesar,” ujarnya.

Program Biodiesel Indonesia Jadi Penopang Permintaan

Indonesia saat ini mewajibkan pencampuran 40% biodiesel berbasis sawit dalam bahan bakar (program B40). Pemerintah bahkan menargetkan peningkatan mandat tersebut secara bertahap hingga 50% biodiesel. Direktur Jenderal Energi Baru dan Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Eniya Listiani Dewi, menyatakan pemerintah masih melakukan uji coba untuk tingkat pencampuran yang lebih tinggi. Uji jalan kendaraan untuk program tersebut diperkirakan rampung pada Juni 2026.

Konflik Timur Tengah Picu Risiko Produksi Biofuel

Namun demikian, konflik geopolitik di Timur Tengah juga menimbulkan risiko baru bagi industri biofuel. Perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan lonjakan harga metanol di Asia Tenggara. Metanol merupakan bahan penting dalam proses pengolahan tanaman menjadi bahan bakar. Indonesia sendiri masih bergantung pada pasokan impor metanol dari kawasan Timur Tengah. Jika konflik berlanjut, kondisi ini berpotensi menghambat produksi biofuel dan memperburuk tekanan terhadap pasokan energi di kawasan.