Sawit Bebas Pekerja Anak

 

Menteri Tenaga Kerja RI, Ida Fauziyah mencanangkan sektor perkebunan kelapa sawit bebas dari pekerja anak, dilakukan secara virtual pada Rabu (22/12/2021). Melibatkan berbagai pemangku kepentingan, baik itu dari organisasi buruh PBB (ILO), Pemerintah Kabupaten hingga Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Pada kesempatan tersebut  Ida Fauziyah menjelaskan agenda dunia dan nasional dalam upaya menurunkan angka pekerja anak, sementara Indonesia secara nasional, menargetkan pada 2030 Indonesia Bebas Pekerja Anak.

Pencanangan “Sawit Bebas Pekerja Anak” menjadi salah satu langkah penting dari agenda tersebut. Ini sejalan juga dengan upaya Indonesia mewujudkan sawit Indonesia berkelanjutan sesuai amanat Perpres No 44 tahun 2020 tentang Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan INPRES No. 6 Tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN KSB).

Coutry Director ILO Indonesia, Michiko Miyamoto dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada perusahaan perkebunan kelapa sawit yang tergabung dalam GAPKI atas aksi dan inisiatif kolaboratif yang sangat penting dalam upaya mengeliminasi pekerja anak khususnya di sektor pertanian.

“Saya mengapresiasi inisiatif yang baik termasuk kemajuan yang baik dalam penghapusan pekerja anak. Hari ini, saya menyambut baik langkah-langkah kolaboratif progresif yang dipimpin oleh Kementerian Tenaga Kerja dan berbagai pemangku kepentingan terkait serta organisasi masyarakat sipil terkait lainnya dan pengusaha, dalam hal ini GAPKI,” tutur Michiko.

Sementara diungkapkan Ketua GAPKI Bidang Ketenagakerjaan, Sumarjono Saragih, pihaknya akan selalu hadir dan komitmen dengan aksi nyata dalam mewujudkan Sawit Indonesia Ramah Anak.

 

“Sebagai perusahaan atau korporasi, kami taat dan patuh dengan regulasi yang melarang pekerja anak. GAPKI juga terbuka kolaborasi dengan semua pihak untuk mewujudkan Indonesia Bebas Pekerja Anak khususnya di ekosistim rantai nilai industri sawit,” katanya dalam acara tersebut.

Lebih lanjut tutur Sumarjono, langkah ini  sejalan dengan upaya perusahaan perkebunan kelapa sawit mewujudkan Sawit Indonesia Berkelanjutan. (T2)

 

Sumber: Infosawit.com