Palm Oil Today

Semprot Tepat Sasaran dari Udara: Drone untuk Mengendalikan Kumbang Tanduk Sawit Muda

13 Oct 2026

Drone menyemprot tepat sasaran pada pucuk sawit muda sementara operator berpelindung memantau dari jarak aman.

Drone penyemprot tidak otomatis menjadi jawaban tunggal untuk pengendalian kumbang tanduk pada sawit muda. Namun, studi terbaru di Journal of Oil Palm Research memberi gambaran yang lebih konkret: ketika penerbangan, volume semprot, dan titik sasaran dikalibrasi secara khusus, teknologi unmanned aerial vehicle point-to-point dapat menghasilkan cakupan semprot tinggi pada bagian tanaman yang memang menjadi target serangan Oryctes rhinoceros.

Drone menyemprot tepat sasaran pada pucuk sawit muda sementara operator berpelindung memantau dari jarak aman.

Artikel JOPR berjudul “Spray Coverage and Effectiveness of Unmanned Aerial Vehicle Point-to-Point Spraying Technology for the Control of Oryctes rhinoceros in Immature Oil Palm” membandingkan penyemprotan UAV point-to-point dengan dua pendekatan lapangan yang lebih konvensional, yaitu semi-mechanised FM ORYCT sprayer dan INTER knapsack sprayer. Fokusnya bukan sekadar apakah drone bisa terbang di atas blok sawit muda, melainkan apakah semprotan sampai ke bagian tanaman yang tepat dan apakah hasil pengamatan kerusakan segar setelah perlakuan berbeda secara bermakna dari alat pembanding.

Dalam pengujian itu, water-sensitive paper digunakan sebagai sampler untuk membaca spray coverage dan droplet density. Kertas peka air menjadi cara praktis untuk melihat apakah butiran semprot benar-benar menempel pada area sasaran, bukan hanya lewat di udara. Peneliti juga menyebut volume semprot per pokok ditentukan melalui metode kalibrasi khusus. Detail ini penting karena aplikasi berbasis UAV point-to-point berbeda dari penyemprotan hamparan luas: sasaran utamanya adalah titik tanaman tertentu, sehingga volume, posisi, lintasan, dan arah semprot harus dibaca sebagai satu sistem.

Bahan aktif yang digunakan dalam studi JOPR adalah cypermethrin, dan pengamatan efektivitas dilakukan dengan membandingkan kejadian fresh damage akibat serangan ORB sebelum dan sesudah perlakuan. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai petunjuk penggunaan pestisida. Dalam praktik kebun, penggunaan bahan kimia harus mengikuti label produk, registrasi dan regulasi setempat, serta hanya dilakukan oleh personel yang terlatih dan berwenang.

Hasil utama yang relevan bagi pengambil keputusan adalah cakupan semprot UAV point-to-point pada spears dan first spiral of fronds mencapai tingkat memuaskan di atas 80 persen. Bagi sawit muda, bagian tombak dan spiral pelepah awal merupakan area yang perlu diperhatikan karena kerusakan oleh kumbang tanduk sering tampak pada daun muda yang kemudian membuka. Karena itu, angka cakupan tersebut menunjukkan bahwa UAV dapat diarahkan untuk menempatkan semprotan pada zona tanaman yang dinilai penting dalam desain percobaan.

Namun, hasil efektivitas tidak boleh dibaca berlebihan. Setelah enam ronde penyemprotan pada tipe medan dan umur tanaman yang diuji, JOPR melaporkan tidak ada perbedaan signifikan pada fresh damage ORB antara UAV point-to-point, FM ORYCT semi-mechanised sprayer, dan INTER knapsack sprayer. Artinya, pada kondisi percobaan tersebut, drone tidak terbukti lebih unggul secara statistik dalam indikator kerusakan segar dibanding alat pembanding. Temuan ini lebih tepat dibaca sebagai dasar teknis untuk menimbang kelayakan operasional UAV, bukan bukti universal bahwa drone selalu lebih efektif di semua kebun.

Bagi pelaku sawit, nilai tambah studi ini terletak pada bahasa teknis yang lebih terukur. Drone sering dipromosikan sebagai solusi modern, tetapi keputusan lapangan memerlukan ukuran seperti coverage, droplet density, kalibrasi volume per pokok, jumlah ronde aplikasi, tipe medan, dan respons kerusakan tanaman. Informasi semacam ini membantu manajemen kebun, koperasi, maupun pendamping petani sawit rakyat menilai apakah investasi alat, operator, dan prosedur kerja sebanding dengan kebutuhan pengendalian hama di blok sawit muda. Pembaca dapat mengikuti tulisan edukatif lain di rubrik Wawasan GIMNI.

Di tingkat kebun, konteks medan menjadi variabel yang perlu dibaca bersama hasil penelitian. JOPR memasukkan kondisi flat dan terrace pada tanaman tahun pertama maupun tahun kedua, lalu tetap menemukan bahwa perbedaan fresh damage antar-alat tidak signifikan pada medan dan tahun yang diuji. Bagi kebun yang menghadapi topografi tidak seragam, informasi ini memberi arah bahwa uji coba lokal tetap diperlukan sebelum memperluas penggunaan drone. Cakupan semprot yang baik di titik sasaran harus dipadukan dengan penilaian akses, jarak antarbaris, tinggi tanaman, rintangan, waktu operasi, ketersediaan operator, dan kemampuan mencatat hasil aplikasi.

Ada pula batasan interpretasi yang perlu dijaga. Studi JOPR memberi hasil pada rancangan, lokasi, musim, alat, operator, dan kondisi pengamatan tertentu. Bila teknologi yang sama dipakai di kebun lain, hasilnya dapat dipengaruhi oleh umur tanaman, kepadatan populasi kumbang, kebersihan sanitasi, keberadaan tempat berkembang biak, kualitas pemetaan titik, serta disiplin monitoring setelah aplikasi. Karena itu, drone sebaiknya dilihat sebagai komponen alat kerja dalam pengendalian terpadu, bukan pengganti pengamatan hama dan keputusan agronomi di lapangan.

Panduan FAO dan WHO 2024 tentang aplikasi pestisida dari udara memberi konteks keselamatan yang tidak kalah penting. Dokumen itu membedakan un-crewed aerial system sebagai platform udara dan un-crewed aerial spraying system sebagai sistem yang memang dirancang untuk mengaplikasikan pestisida. Panduan tersebut juga menekankan bahwa aplikasi udara harus diputuskan dalam kerangka pengelolaan hama terpadu, memperhatikan alternatif pengendalian, serta tunduk pada ketentuan nasional tentang pestisida dan penerbangan.

Dalam panduan FAO/WHO, salah satu perhatian utama adalah drift atau perpindahan semprotan ke area bukan target. Mitigasinya mencakup pemilihan droplet yang memberi cakupan memadai tetapi menekan potensi hanyut, penggunaan teknologi seperti GPS, nozzle rendah drift, pemetaan target, serta penetapan buffer zone atau no-spray area di sekitar permukiman, badan air, habitat sensitif, tanaman non-target, dan area lain yang berisiko. Untuk UASS, panduan juga mencatat bahwa data empiris dan aturan spesifik masih berkembang, sehingga kehati-hatian menjadi bagian dari tata kelola teknologi.

Persiapan sebelum aplikasi tidak berhenti pada rencana terbang. FAO/WHO menekankan survei lapangan untuk mengenali rintangan, permukiman, badan air, ternak, penyerbuk, area sensitif, topografi, cuaca aktual, dan batas target. Peralatan semprot harus diperiksa, diuji, dan dikalibrasi; sistem GPS, flow controller, peta, nozzle, filter, katup, selang, dan sambungan perlu dipastikan berfungsi. Kalibrasi menjadi kunci karena hasil biologis dan keselamatan lingkungan sama-sama bergantung pada kecocokan antara alat, pola semprot, volume aplikasi, ukuran droplet, dan kondisi cuaca.

Aspek paparan operator juga berubah ketika penyemprotan dilakukan dengan drone. FAO/WHO menyebut operator UASS terpisah dari awan semprot saat aplikasi, sehingga paparan saat penyemprotan dapat lebih rendah daripada penyemprot ransel. Tetapi risiko terbesar sering berada pada tahap pencampuran dan pengisian, ketika produk masih pekat dan dapat mengenai kulit, mata, atau terhirup. Karena itu, panduan menekankan pelatihan, personal protective equipment sesuai label, komunikasi risiko kepada pekerja dan masyarakat sekitar, serta prosedur darurat bila terjadi tumpahan atau kontaminasi.

Sesudah aplikasi, pekerjaan belum selesai. FAO/WHO memasukkan peringatan pasca-perlakuan, pembersihan dan dekontaminasi peralatan, penanganan sisa semprot, pembuangan limbah secara aman, perawatan alat, serta pencatatan sebagai bagian dari praktik aplikasi udara. Catatan lapangan setidaknya mencakup waktu, lokasi, cuaca, produk, area sasaran, operator, pesawat atau drone yang digunakan, konfigurasi nozzle, serta data GPS atau log semprot bila tersedia. Rekam jejak seperti ini penting untuk audit, evaluasi efektivitas, dan penelusuran bila muncul keluhan drift atau dampak lingkungan.

Dengan membaca JOPR bersama panduan FAO/WHO, pesan yang muncul cukup seimbang. UAV point-to-point menunjukkan kemampuan teknis untuk mencapai cakupan tinggi pada titik sasaran sawit muda, dan dalam percobaan tersebut kinerjanya pada indikator fresh damage tidak berbeda signifikan dari alat pembanding setelah enam ronde. Tetapi keputusan memakai drone untuk Oryctes rhinoceros tetap harus ditempatkan dalam sistem: diagnosis hama yang benar, kepatuhan label dan regulasi, operator terlatih, kalibrasi terdokumentasi, cuaca yang sesuai, zona penyangga, perlindungan pekerja, serta evaluasi hasil di kebun masing-masing. Teknologi udara membuka opsi baru; tata kelola lapangan menentukan apakah opsi itu benar-benar tepat sasaran.

Sumber pantauan: