PT Pertamina akan memanfaatkan empat kilang minyak untuk mengolah minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar minyak jenis gasolin dan Solar yang lebih ramah lingkungan untuk menggantikan energi fosil.

PT Pertamina (Persero) telah melakukan uji coba pengolahan minyak sawit (crude palm oil/CPO) di Kilang Plaju yang berlokasi di Palembang, Sumatra Selatan pada pertengahan bulan ini. Tiga kilang lainnya yang akan diuji coba adalah Kilang Cilacap, Kilang Dumai, dan Kilang Balongan.

Metode pengolahan bahan bakar nabati seperti CPO menjadi Energi Terbarukan untuk menyubstiiusi bahan bakar minyak dari fosil disebut dengan co-processing.

Pertamina berpotensi menghemat devisa US$500 juta per tahun jika pengolahan minyak sawit di empat kilang itu dapat diimplementasikan secara komersial.

Direktur Pengolahan Pertamina Budi Santoso Syarif mengatakan bahwa pihaknya berencana memperluas implementasi uji skala komersial pengolahan minyak kelapa sawit di tiga kilang lainnya, yakni Kilang Cilacap, Kilang Balongan, dan Kilang Dumai.

Uji coba pengolahan CPO untuk bahan bakar minyak ramah lingkungan telah dilakukan di Kilang Plaju pada Desember 2018. Pengujian terdekat selanjutnya akan dilaksanakan di Kilang Cilacap dan Dumai pada 2019.

“Rencananya Februari 2019 di Dumai dengan kapasitas 20.000 barel per hari dengan komposisi minyak sawit 20%. Diharapkan September [2019] di Cilacap, itu sama kapasitasnya,” ujarnya, Kamis (27/12).

Berbeda dengan pengolahan CPO di Kilang Plaju yang menghasilkan gasolin (Premium, Pertalite, dan seri Pertamax), Kilang Dumai nantinya akan menghasilkan Solar dan di Kilang Cilacap akan menghasilkan avtur ramah lingkungan.

Uji coba di Kilang Balongan, berdasarkan data Pertamina, akan menghasilkan produk Solar dari bahan bakar nabati atau green diesel yang kemudian akan dicampur dengan diesel menjadi Green Pertadex Turbo.

Rencananya BUMN tersebut memulai uji coba pengolahan minyak sawit di Kilang Balongan bisa dilakukan pada 2020.

Melalui metode co-processing, CPO yang telah diolah dan dibersihkan getah dan baunya atau refined bleached deodorized palm oil (RBDPO) dicampur dengan sumber bahan bakar fosil di kilang dan diolah dengan proses kimia sehingga menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan.

Menurutnya, implementasi co-processing tersebut dapat memberikan kontribusi positif bagi perusahaan dan negara.

Dia menambahkan, penggunaan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada proyek ini sangat tinggi karena CPO yang diambil bersumber dari dalam negeri.

Selain itu, transaksi yang dilakukan menggunakan rupiah sehingga mengurangi defisit anggaran negara.

Pada pengujian co-processing di Kilang Plaju telah menghasilkan gasolin dari bahan bakar nabati dengan kandungan oktan (research octane number/RON) 90 sebanyak 405.000 barel per bulan atau setara dengan 64.500 kiloliter per bulan dan produksi elpiji (liquefied petroleum gas/LPG) ramah lingkungan sebanyak 11.000 ton per bulan.

Dengan menggunakan injeksi RBDPO sebanyak 7,5%, Pertamina dapat menghemat impor minyak mentah sebesar 7.390 barel per hari (bph) atau menghemat anggaran mencapai US$160 juta per tahun.

Pertamina pun memproyeksikan bila co-processing diimplementasikan pada tiga kilang, yakni Plaju, Cilacap, dan Balongan, penghematan impor minyak mentah dapat mencapai 23.000 bph atau US$500 juta per tahun. Namun, Budi menegaskan implementasi uji komersial co-processing di Kilang Cilacap dan Balongan saat ini terkendala dengan rantai pasok dan ketersediaan bahan bakunya, yaitu produk turunan darisawitberupa RBDPO.

“Untuk Cilacap dan Balongan, selama ini kami belum diskusi dengan pengusaha RBDPO karena di Plaju untuk sediakan minyak sawit yang kami perlukan mereka perlu nambah produksinya lebih tinggi lagi. Jadi, nanti kami diskusi dulu dengan asosiasi sawit,” katanya.

BEDA B20

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) Subagjo menjelaskan bahwa coprocessing CPO itu berbeda dengan pencampuran 20% minyaksawit20% ke Solar atau B20.

“Biodiesel [B20] masih ada oksigennya sehingga sifatnya berbeda dengan Solar bila diterapkan di kendaraan. Kalau coprocessing, oksigennya tidak ada, jadi bisa langsung dipakai,” kata Subagjo.

Co-processing menghasilkan bahan bakar dengan angka cetane lebih tinggi dibandingkan dengan B20. Cetane green diesel hasil pengolahan CPO di kilang minyak dapat mencapai 70-90, sedangkan B20 hanya sebesar 50-65. Hal itu menunjukkan bahwa bahan bakar semakin berkualitas dan efisien. Semakin tinggi cetane, akan lebih mudah terbakar dalam kompresi.

RBDPO merupakan minyak sawi tyang telah mengalami proses penyulingan untuk menghilangkan asam lemak bebas serta penjernihan untuk menghilangkan warna dan penghilangan bau.

Andriah Feby Misna, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, mengatakan bahwa pengujian pengolahan minyak sawit mentah BBM 1 jenis gasolin melalui metode co-processing telah berhasil dilakukan.

Pengolahan CPPO tersebut diimplementasikan di fasilitas Residue Fluid Catalytic Cracking Unit (RFCCU) Kilang Plaju berkapasitas 20.000 barel per hari.

“Namun, memang masih kecil [campuran CPO) 7,5%. Kita kan punya kilang, selama itu yang masuk crude, sepenuhnya crude 100%. Sekarang crude oil dan 7,5%-nya itu CPO, yaitu RBDPO. Hasilnya green gasoline,” ujarnya.

Feby menjelaskan bahwa uji coba pengolahan CPO melalui kerja sama Pertamina dan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut masih memerlukan pengujian lebih lanjut guna ditingkatkan menjadi skala komersial. Masih banyak aspek yang perlu dianalisis lebih lanjut, mulai dari spesifikasi produk, optimasi pencampuran dan hal-hal teknis lainnya serta kelayakan ekonomi.

“Pertamina akan mencoba-coba sampai di titik mana yang paling ideal, tidak mengganggu sistem, investasinya tidak terlalu besar, harganya layak,” katanya.

 

Sumber: Bisnis Indonesia