Sedikitnya tujuh perusahaan sawit tertarik membangun kilang green diesel dengan kapasitas hingga 1,8 juta kilo liter (KL). Nilai investasi yang disiapkan tujuh perusahaan tersebut masih menunggu studi kelayakan (feasibility study/ FS). Green diesel merupakan bahan bakar solar yang berasal dari 100% minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

“Pengembangan green diesel bertujuan menekan impor bahan bakar minyak (BBM) solar. Selain Pertamina, kami dorong perusahaan swasta untuk masuk proyek tersebut. Mereka pun bersedia,” kata Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) FX Sutijastoto di Jakarta, Selasa (3/12).

Berdasarkan petajalan (roadmap) biojuel berbasis CPO yang dibuat pemerintah, kapasitas kilang pada 2022 mencapai 3,6 juta KL. Dari jumlah itu, separuh kapasitasnya digarap oleh pengembang swasta.

Sutijastoto enggan membeberkan ketujuh perusahaan sawit yang tertarik menggarap kilang green diesel. Begitu pula lokasi dan nilai investasinya. Ketika didesak lebih jauh, ia hanya menjawab, “Perusahaan itu berskala besar seperti Wilmar.”

Soal nilai investasi, Sutijastoto mengungkapkan, ada tahapan studi kelayakan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. “Pokoknya, kapasitas kilang akan dibangun bertahap hingga mencapai 1,8 juta KL. Mereka itu konsorsium dan sedang menyiapkan FS,” ujar dia.

Menurut Sutijastoto, meski green diesel berpotensi bisa menekan impor solar, harga jual green diesel per liter diperkirakan sekitar Rp 14.000 atau setara dengan solar nonsubsidi yang dijual Pertamina. Artinya, hanya masyarakat mampu yang bisa membeli green diesel. Adapun solar subsidi saat ini dibanderol Rp 5.150 per liter.

Dia menjelaskan, tingginya harga jual green diesel akan dibahas setelah konsorsium menyelesaikan FS.

“Saya belum tahu kapan FS selesai karena masih menunggu finalisasi pendanaan (financial closed),” tutur dia.

Dia menambahkan, sejumlah solusi sudah disiapkan agar harga green diesel terjangkau masyarakat. “Saya nggak berani ngomong sekarang karena info teknologi yang digunakan nanti balum tahu seperti apa. Dari FS nanti ketahuan berdasarkan simulasi data,” tandas dia.

Dirjen EBTKE mengakui, Indonesia banyak mengimpor minyak untuk menutupi kekurangan kebutuhan konsumsi. Soalnya, produksi minyak dalam negeri rata-rata hanya 770.000 barel per hari (bph), padahal konsumsinya mencapai 1,2 juta bph.

Pemakaian biodiesel untuk campuran BBM, kata Sutijastoto, akan terus ditingkatkan dari B20 ke B100. Ini dengan harapan 30% dari total produksi kelapa sawit sekitar 46 juta ton setahun akan terserap untuk program bauran bahan bakar nabati (BBN) dalam BBM.

Volume ekspor minyak sawit berupa CPO, biodiesel, oleochemical, dan produk turunannya mencapai 9,1 juta ton pada kuartal 1-2019, tumbuh 16% secara tahunan (year on year/yoy) dibanding periode sama tahun silam. Jumlah tersebut akan lebih tinggi lagi bila industri sawit tidak dihadang diskriminasi sawit Uni Eropa melalui rencana penerapan renewable energy Directive II (RED II).

Pada Maret 2019, Gabungan Pengusaha Kelapa sawit Indonesia (Gapki) mencatat ekspor CPO dan turunannya dari Indonesia ke India turun 62% menjadi 194,41 ribu ton dibandingkan 516,53 ribu ton per Februari. Penurunan terjadi akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi di India.

Penurunan permintaan juga diikuti negara Afrika 38%, Amerika Serikat 10%, Tiongkok 4%, dan Uni Eropa 2%. Di tengah berbagai tantangan tersebut, di luar dugaan, ekspor minyaksawitke negara lain naik 60% dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan permintaan CPO dan produk turunannya dari Indonesia yang cukup signifikan datang dari Asia, khususnya Korea Selatan, Jepang, dan Malaysia.

Di sisi lain, penyerapan biodiesel di dalam negeri turun. Sepanjang Maret lalu, penyerapan biodiesel di dalam negeri mencapai 527 ribu ton atau turun 19% dibandingkan Februari lalu.

Bisnis Pertamina

Menanggapi hal itu, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, masuknya swasta dalam bisnis green diesel sangat positif karena bisa mengurangi impor solar yang akhirnya membantu pemerintah mengurasi defisit necara migas.

Selain itu, kata Komaidi, green diesel memiliki tingkat emisi yang lebih rendah dibanding BBM fosil, sehingga lebih ramah lingkungan.

Yang harus menjadi perhatian adalah masalah harga. “Saat ini harga CPO sedang turun. Dengan posisi saat ini saja, hargajual biofuel diperkirakan masih tinggi. Apalagi nanti jika harga CPO naik. Jadi, harus benar-benar dikalkulasi,” tandas dia.

Untuk itu, menurut Komaidi, perlu dukungan pemerintah dalam bentuk insentif. Hanya saja, insentif sebaiknya diberikan cukup dalam tahap pembangunan kilangnya, bukan pada produk BBM-nya.

“Ini harus dikalkulasi secara bisnis. Pemerintah cukup men-drive dari sisi penyediaan kilangnya saja. Jadi, subsidi diberikan tidak terlalu dalam karena nanti sama saja, akan memberatkan keuangan negara,” papar dia.

Meski nantinya ketujuh kilang ini beroperasi, Komaidi yakin mereka tidak akan menggerus bisnis Pertamina. Pasalnya, Pertamina juga sudah menyiapkan kilang-kilangnya untuk menghasilkan produk ramah lingkungan.

“Keberadaan green diesel pun tidak akan menggerus bisnis solar Pertamina. Ke depan, demand terus bertumbuh,” ujar dia.

Data Pertamina menunjukkan, PT Pertamina Refinery Unit (RU) II Dumai telah berhasil memproduksi green diesel atau solar nabati D-10 dengan kandungan 87,5% solar minyak bumi dan 12,5% minyak sawit. Keberhasilan ini berkat Katalis Merah Putih yang dikembangkan Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis Institut Teknologi Bandung (TRKK ITB) dan diproduksi PT Pupuk Kujang.

Tahun ini, uji coba pengolahan CPO dengan metode co-processing sudah dilakukan di Kilang Dumai di Riau dan Kilang Cilacap di Jawa Tengah. Pada 2020, uji coba direncanakan di Kilang Balongan. Jawa Barat. Jika pengolahan CPO tersebut bisa direalisasikan dengan baik, impor minyak mentah dapat dikurangi. Program ini diperkirakan mampu memangkas konsumsi minyak mentah sebanyak 23.000 bph atau setara US$ 500 juta per tahun.

Terdapat tiga kilang Pertamina yang nantinya menghasilkan green gasoline dangreen LPG, yakni Kilang Plaju, Cilacap, dan Balongan. Pengolahan CPO di Kilang Dumai akan menghasilkan green diesel atau solar hijau. Khusus untuk Kilang Cilacap, Pertamina memproyeksikan mampu menghasilkan green avtur atau avtur hijau.

Dari program co-processing, produksi green gasoline diproyeksikan mencapai 487 ribu kl per bulan. Sedangkan proyeksi produksi green LPG 104 ribu ton per bulan. Adapun proyeksi produksi green diesel dan green avtur, sesuai data Pertamina, masing-masing mencapai 17.500 barrel steam per day (BSD) dan 11.700 BSD.

 

Sumber: Investor Daily Indonesia