Ancaman Resesi, Pengusaha Yakin Perdagangan Sawit Tidak Akan Kendur

JAKARTA – Pengusaha optimistis pasar minyak sawit tahun depan tidak akan menurun meski banyak negara diproyeksikan bakal mengalami resesi. Salah satu sebabnya pasar Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) atau Green Diesel, produk biofuel generasi kedua dari Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil (RBDPO) terus mengalami peningkatan. Direktur Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga mengatakan bahwa minyak sawit (crude palm oil/CPO) untuk produksi HVO sendiri minimal 2 juta ton per tahun. Produk tersebut terus membanjiri Eropa lewat industri Singapura.

“Dengan resesi dunia yang muncul kita harus jadikan kesempatan. Melihat pemakai sawit terbesar itu terdiri dari Amerika Serikat, Jerman, Italia, sedangkan Singapura tidak menjadi masalah karena industri HVO pemakai sawit sekitar 2 juta ton per tahun itu adalah produsen HVO untuk pasar Eropa. Dilihat dari sini kebutuhan sawit tidak akan menurun,” ujar Sahat dalam webinar bertajuk “Optimalisasi Ekspor Sawit Sebagai Antisipasi Dampak Resesi”, Rabu (14/12/2022).

Sahat mengatakan bahwa dari perspektif industri sawit tahun depan permintaan masih akan kuat. Menurutnya, ada tiga alasan hal itu bisa terjadi. Pertama, terus melakukan aksi ramah lingkungan atau bersifat tidak merusak mulai dari produk, pembuaatan dan juga bahan produksi. “Kita dalam hal environmental friendly harus terus menerus perjuangkan dan perbaiki dan saya yakin bisa. Kemudian teknologi inovasi. Sawit Is only about carbon, hydroge, sedikit oksigen. Ini kalau main mainkan, seperti anak anak main game itu bisa. Begitu hebat sawit. Bedanya denan fosil cuma dua, karbon dan hidrogen. Jadi kalau hilangkan oksigen jadi fosil. Kita harapkan ke universitas untuk kembali menggali teknologi berkembang,” jelas dia.

Kemudian dia berharap Indonesia menjadi rujukan harga. “Saat ini kita ibarat tinju kita Mike Tyson, fisik besar, tapi tinjunya masih kalah dengan Malaysia, kelas layang. Inilah kita perbaiki lah. Supaya kita bisa jadi price setter, masa kita terus mengacu ke Roterdam bahkan Kuala Lumpur lagi,” ungkapnya. Di samping itu, dia berharap pemerintah tidak memberlakukan kebijakan yang tidak konsisten. Sahat merujuk pada langkah pemerintah yang beberapa waktu lalu memberlakukan pelarangan ekspor sawit dan menerapkan domestic market obligation (DMO) buntut dari tingginya harga minyak goreng dalam negeri. Lebih lanjut, Sahat tantangan perdagangan sawit ke depan juga masih berkutat pada sentiment terhadap industri sawit Indonesia, mulai dari Barat, bahkan dari dalam negeri sendiri. “Saya engga ngerti kenapa para pejabat kita itu melihat pengusaha sawit sinis. Ini adalah cermin dari kita untuk memperbaiki. Padahal, apa yang dilakukan, kerja kan baik, tapi itulah image yang ada di sawit,” tutur Sahat.

sumber: https://ekonomi.bisnis.com/read/20221214/12/1608572/ancaman-resesi-pengusaha-yakin-perdagangan-sawit-tidak-akan-kendur