JAKARTA – Asosiasi Petanikelapa sawit Indonesia (Apkasindo) mendukung kebijakan pungutan ekspor (PE) untuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya. PE memang mengurangi harga tandan buah segara (TBS) yang diterima petani sawit, namun asalkan dana tersebut digunakan lagi untuk meningkatkan banyak hal di subsektor perkelapasawitan maka petani sawit tidak akan keberatan dan selama ini petani sawit benar-benar ikut merasakan manfaat dari kebijakan PE itu.

Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Manurung mengatakan, ada beberapa pihak berpendapat bahwa PE akan membuat petani menderita dan tertekan namun yang terjadi petani sawit di Indonesia justru sangat mensyukuri manfaat dana PE. Memang benar, PE akan mengurangi harga TBS yang diterima petani sawit, hasil perhitungan Departemen Riset dan Sumber Daya Manusia (SDM) DPP Apkasindo adalah Rp 90-110 per kilogram (kg) TBS untuk setiap pungutan US$ 50 per ton CPO. \’Tapi kami tidak berkeberatan sepanjang dana itu digunakan kembali untuk meningkatkan banyak hal di subsektor perkelapasawitan dan kami petani sawit sangat merasakan itu,” kata Gulat Manurung di Jakarta, kemarin.

Gulat Manurung menuturkan, dana dari PE yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan kelapa sawit (BPDPKS) sangat bermanfaat bagi petani. Dana itu di antaranya dihibahkan ke petani melalui program bantuan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang sebelumnya hanya Rp 25 juta per hektare (ha) kini menjadi Rp 30 juta per ha, juga melalui dana bantuan sarana produksi (sapras). Melalui dana dari BPDPKS, saat ini petani sawit di Indonesia telah mampu masuk ke generasi kedua. “Di generasi kedua ini kami sudah bertekat menjadi petani yang smart dan berkelas, menjadi lebih baik dan berguna untuk bangsa dan negara ini. Kami petani sawit justru bangga berguna untuk negara melalui tetesan keringat kami sebagai petani yang menghasilkan TBS dan brondolan sawit untuk diolah di pabrikkelapa sawitdan 70% di antaranya diekspor, ekspor inilah yang menjadi juaranya devisa negara Rp 370 triliun pada 2019,” jelas Gulat.

Melalui dana PE itu juga saat ini banyak anak-anak petani dan buruh tani sawit yang sekolahnya dibiayai penuh oleh BPDPKS. Dalam tiga tahun terakhir, terdapat 1.200 alumni Program DI Sawit yang sudah tamat, Taruna Sawit Indonesia ini dididik di lima kampus terbaik bidang sawit dan tahun ini sudah menjadi enam kampus. Belum lagi yang masih sedang proses kuliah yang mencapai 1.000-an orang anak-anak petani dan buruh tani. Apalagi sejak 2018, tidak hanya D1 tapi sudah diperluas ke D3 dan D4 Kelapa Sawit, dari Keahlian Agro-nomis sampai ke prosesing. Sebanyak 89% alumni beasiswa BPDPKS itu tertampung di berbagai perusahaan dan sebagian diberdayakan di Program PSR

 

Sumber: Investor Daily Indonesia