Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) meramalkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit akan terus meningkat pada 2021. Namun, pertumbuhan ekspor minyak mentah kelapa sawit (crude palmoil/CPO) tahun depan diprediksi akan mulai melambat.

Ketua Umum Apkasindo Gulat Manurung mencatat harga TBS telah menembus level RM2.100 per ton dari posisi tahun lalu sekitar RM1.500 per ton. Menurutnya, angka tersebut akan terus tumbuh pada 2021 dengan adanaya peluncuran program B40 oleh pemerintah.

“Kalau predisi saya, [harga] TBS petani kelapa sawit akan mendekati RM2.500 per taon. Apalagi tahun depan akan launching program B40. Harga TBS petani sejak ada [program] biodiesel tidak pernah di bawah RM1.500 per ton lagi,” katanya kepada Bisnis, Jumat (27/11/2020).

Walakin, pertumbuhan ekspor CPO pada 2021 hanya akan tumbuh melambat yakni sekitar 1-5 persen dari realisasi 2020. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh adanya pemulihan perekonomian global dari pandemi Covid-19.

Gulat menilai peningkatan ekspor CPO sepanjang 2020 disebabkan oleh diberlakukannya protokol lockdown di negara produsen CPO, salah satunya Malaysia. Alhasil, produktifitas perkebunan kelapa sawit negeri jiran itu merosot lantaran kekurangan tenaga kerja untuk memanen kelapa sawit.

Namun, hal tersebut akan berubah seiring pembukaan protokol lockdown di Malaysia. Dengan kata lain, persaingan pasar CPO global akan kembali normal pada 2021.

Gulat menilai program replanting perkebunan kelapa sawit bukan tidak menjadi faktor penurunan pertumbuhan tersebut. Pasalnya, program replanting sampai saat ini baru mencakup sekitar 200.00 hekater dari total luas kebun sawit nasional yang mencapai 7 juta hektar.

Gulat mengingatkan agar pemangku kepentingan mewaspadai program replanting tersebut yang akan rampung pada 2025. Pasalnya, produktifitas kebun sawit nasional diramalkan akan meningkat secara eksponensial. “Ini yang harus dicari solusinya, karena produksi petani akan meningkat 2-2,5 kali lipat dari rata-rata yang ada.”

Terpisah, Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga meramalkan volume produksi CPO akan meningkat hingga 8 persen secara tahunan pada 2021 menjadi sekitar 35,8 juta ton. Di samping itu, harga CPO diramalkan akan stabil di kisaran US$700-US$800 per ton.

Price ekspor akan tetap stabil di atas,” ucapnya.

Pada awal 2020, Gimni menargetkan produksi oleopangan nasional dapat mencapai 7,1 juta ton. Namun, pandemi Covid-19 membuat asosiasi tersebut mengubah proyeksi menjadi sekitar 6,4 juta ton hingga akhir 2020.

Sahat menyatakan pendorong utama penurunan produksi tersebut disebabkan oleh melemahnya permintaan terhadap minyak curah. Dengan kata lain, permintaan minyak untuk warung makan kecil dan pedagang kecil berkurang selama pandemi.

Sahat meramalkan produksi minyak goreng curah hingga akhir tahun akan turun sekitar 35 persen menjadi 2,1 juta ton. “[Produksi minyak goreng curah] ini terendah 5 tahun terakhir.”

 

Sumber: Bisnis.com