Penggunaan sains dan teknologi dalam industri kelapa sawit adalah jawaban. Hal ini menjadi penting sebagai salah satu upaya peningkatan produksi sawit berkelanjutan.

Pesan ini sebagaimana siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat ini, adalah salah satu pokok bahasan pada perhelatan International Conference on Oil Palm and Enviropment (ICOPE 2018). Bali menjadi tuan rumah kegiatan yang berlangsung pada 25-27 April 2018.

“Konferensi ICOPE keenam ini akan membahas topik soal teknologi dengan tingkat akurasi yang tinggi untuk mencapai praktik keberlanjutan agar selaras dengan produksi dan konservasi,” kata Chairman ICOPE 2018, J.P Caliman dalam konperensi pers di Jakarta, hari ini.

Caliman menyebutkan, hal yang akan dilakukan berkenaan dengan pemanfaatan sains dan teknologi adalah penggunaan drone, pengggunaan kecerdasan buatan, integrasi lanskap, restorasi fungsi ekosistem, perbaikan dan penggunaan jejak karbon dan jejak air. “Semua diarahkan untuk keberlangsungan pada industri ini,” tambah Caliman.

“Ujungnya satu, agar industri kelapa sawit ini bisa berproduksi dengan maksimal dalam menjalankan konservasinya, sekaligus menetapkan tolok ukur industri secara keseluruhan,” tuturnya lagi.

Jawaban Teknologi adalah sebuah jawaban, tambah Caliman. Hal itu harus dibicarakan bersama, “Karena itu, kami menggandeng lembaga riset, LSM lingkungan dan sosial, WWF, pekebun, pabrik pengolah serta lembaga pemerintah, agar semua punya satu visi untuk  tingkat keberlanjutan yang tinggi sehubungan dengan konservasi dan produksi,” ujarnya.

Pihak WWF yang juga menjadi peyelenggara konferensi ini juga mengatakan bahwa ICOPE akan menjadi sebuah ajang yang powerfull, karena semua pemangku kepentingan terlibat untuk membicarakan solusi. “Sekarang sudah tidak saatnya untuk bicara soal larangan dan larangan, tapi sebaiknya duduk bersama dan mencari solusi sehingga menghasilkan argumen yang teruji,” kata Aditya Bayunanda Director Policy, Sustainability and Transformation WWF Indonesia.

Sedangkan, President Director PT SMART Tbk, Daud Dharsono mengatakan bahwa ICOPE akan memberikan kepada para pemangku kepentingan industri kelapa sawit solusi bersama untuk industri kelapa sawit yang berkelanjutan. “Konferensi ini amat penting, sehingga industri ini nantinya bisa berkelanjutan,” katanya sembari memberikan contoh bagaimana pemanfaatan burung hantu di lahan sawit untuk mengendalikan tikus.

ICOPE 2018 mengusung tema “Menuju Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan: Solusi untuk Produksi Lokal dan Perubahan Global”. Ada tiga penyelenggara kegiatan ini yakni WWF Indonesia, CIRAD, dan Sinar Mas Agribusiness and Food. Sebelumnya konferensi semacam ini dilakukan sejak 2007 hingga 2016 lalu.

 

Sumber: Kompas.com