Seiring meningkatnya permintaan bahan bakar dan meningkatnya alokasi biodiesel dari tahun ke tahun, program peremajaan sawit rakyat memainkan peranan yang sangat penting

Jakarta (ANTARA) – Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mencatat realisasi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang dilakukan sejak 2016 hingga saat ini baru mencapai luasan 172.394 hektare dengan melibatkan 75.993 pekebun sawit swadaya dan plasma.

Dalam konferensi minyak sawit terbesar Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2020 Direktur Utama BPDPKS Eddy Abdurrachman menjelaskan dari realisasi tersebut, BPDPKS telah menyalurkan dana PSR sebesar Rp4,5 triliun. Ia menegaskan bahwa Program PSR ini berperan penting seiring dengan keberlanjutan mandatori biodiesel.

“Seiring meningkatnya permintaan bahan bakar dan meningkatnya alokasi biodiesel dari tahun ke tahun, program peremajaan sawit rakyat memainkan peranan yang sangat penting,” kata Eddy dalam IPOC 2020 yang diselenggarakan secara virtual, Rabu.

Khusus untuk tahun 2020 realisasi PSR mencapai luasan 67.018 hektare dengan melibatkan 28.794 pekebun sawit, serta penyaluran dana sebesar Rp 1,8 triliun hingga Oktober 2020.

Ada pun realisasi PSR, baik dari sisi penyaluran dana, maupun luasan lahan melonjak signifikan setelah tahun 2018. Hal itu dapat dicapai setelah adanya simplifikasi proses pengajuan permohonan PSR di Ditjen Perkebunan Kementan serta pemanfaatan teknologi informasi yang memudahkan proses tersebut hingga penyaluran dana.

Eddy menjelaskan pemerintah telah menetapkan target peremajaan sawit rakyat seluas 500.000 hektare dalam kurun waktu 2020–2022.

Target ini berbanding lurus dengan proyeksi peningkatan kebutuhan domestik, terutama dalam pemenuhan mandatori biodiesel yang dijalankan pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Tahun 2018 total produksi minyak sawit kebun rakyat tercatat sebesar 7,43 juta ton, sedangkan alokasi biodiesel sebanyak 3,07 juta ton. Kemudian tahun 2019, produksi minyak sawit kebun rakyat naik mencapai 8,33 juta ton, sementara alokasi biodiesel juga meningkat menjadi 5,39 juta ton.

Untuk tahun ini produksi kebun rakyat diprediksi turun tipis ke level 8,15 juta ton, sedangkan alokasi biodiesel kembali naik menjadi 8,35 juta ton.

Oleh karenanya Eddy menekankan bahwa peremajaan sawit rakyat berperan penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas Tandan Buah Segar (TBS) yang dihasilkan.

“Seluruh stakeholder harus bekerja sama dalam merealisasikan program PSR ini. Apabila program ini berjalan lambat, produktivitas sawit akan mengalami penurunan di tahun 2023 dan seterusnya,” kata Eddy.

 

Sumber: Antaranews.com