,

Di Tengah Harga TBS yang Tinggi, Ini Saran GIMNI agar Tahun Depan Tak Gigit Jari

Di Tengah Harga TBS yang Tinggi, Ini Saran GIMNI agar Tahun Depan Tak Gigit Jari

Harga tandan buah segar (TBS) di Provinsi Riau yang sebesar Rp2.762,7 per kg untuk sepekan ke depan memang menghembuskan kabar baik bagi pekebun sawit di wilayah tersebut. Direktur Ekesekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, memaklumi jika tren harga TBS sawit tersebut cenderung naik lantaran harga minyak sawit hingga akhir tahun masih bertengger di level Rp11.500 per kg.

“Baguslah pekebun menikmati harga bagus itu. Saran saya, mulai awal bulan depan, ada baiknya pekebun bergegas melakukan revitalisasi tanaman biar ke depan bisa lebih produktif, bisa menghasilkan 20 ton per hektare per tahun,” ungkap Sahat seperti dikutip dari Elaeis.co.

Adapun langkah-langkah revitalisasi yang dimaksud Sahat disebutnya dengan Panca Krida. Pertama, pekebun harus mengusahakan agar dalam setiap hektare, jumlah pohon kelapa sawit mencapai 135–140 batang. “Jadi, kalau jumlah pokok tanaman belum segitu, segera sisip dengan tanaman baru,” kata Sahat.

Kedua, jika pekebun menanam tanaman baru, pastikan bahwa tanaman yang ditanam berasal dari benih bersertifikat. Ketiga, lakukan pemupukan yang benar dan lengkap dengan dosis 8–10 kg pupuk per pohon per tahun. Dosis ini dibagi dalam dua kali memupuk dalam satu tahun tersebut.

Keempat, hindari pohon-pohon kelapa sawit dari rerumputan yang berpotensi menumpang (menghabiskan) pupuk. Kelima, saat panen, pelepah dilepas dari pohonnya dan ditaruh di sekitar pohon untuk mulching atau pemulsaan yang bertujuan untuk menambah bahan organik mentah di permukaan tanah.

“Ingat, pohon kelapa sawit itu adalah benda hidup. Kalau dipelihara dengan baik, dia akan tertawa dan lalu memberikan buah yang banyak,” kata Sahat.

Dikatakan Sahat, “Jadi, kalau misalnya harga TBS kelapa sawit terjungkal di awal tahun depan, pekebun sudah siap menghadapi badai yang ada meski margin masih berada di level yang bagus walau harga minyak sawit melorot di angka Rp8.100 per kg.”

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan harga tersebut melorot, menurut Sahat, antara lain kasus Covid-19 yang mulai mereda sehingga berdampak pada aktivitas menanam rapeseedsoybean, dan sunflower yang kembali semarak dan mengakibatkan produksi minyak nabati meningkat.

“Dengan begitu, terjadilah hukum alam, supply vs demand yang akan selalu seimbang,” papar Sahat.

 

Sumber: Wartaekonomi.co.id