Palm Oil Today

Ekspor Makanan dan Minuman Capai US$24,61 Miliar, Sawit dan Margarin Jadi Penopang

17 Sep 2026

Fasilitas pengolahan minyak sawit pangan dan area logistik ekspor

Industri makanan dan minuman Indonesia membukukan nilai ekspor US$24,61 miliar pada semester I 2026. Dalam laporan Kompas.com yang mengutip Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza, minyak kelapa sawit dan margarin termasuk komoditas utama yang menopang kinerja tersebut, bersama produk perikanan dan kakao olahan.

Fasilitas pengolahan minyak sawit pangan dan area logistik ekspor

Nilai impor industri makanan dan minuman pada periode yang sama dilaporkan sebesar US$7,04 miliar. Dengan demikian, surplus neraca perdagangan sektor ini mencapai US$17,57 miliar. Komposisi tersebut memperlihatkan peran produk berbasis hasil pertanian dan pengolahan dalam ekspor industri nasional.

Produk sawit hadir dalam rantai ekspor pangan

Masuknya minyak sawit dan margarin dalam daftar komoditas penopang menempatkan sawit bukan hanya sebagai bahan mentah, tetapi juga sebagai bagian dari rantai industri pangan. Perkembangan bahan baku komoditas ini dapat dipantau melalui data harga CPO GIMNI.

Gambaran tersebut sejalan dengan data yang dikutip RRI dari Kementerian Pertanian. Ekspor CPO dan produk turunannya pada Januari–Juli 2026 dilaporkan tumbuh 5,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, ekspor nonmigas Indonesia mencapai US$160,01 miliar atau meningkat 5,21 persen secara tahunan, sedangkan total ekspor mencapai US$167,03 miliar atau tumbuh 4,43 persen.

RRI juga melaporkan sektor industri pengolahan tumbuh 7,16 persen sepanjang Januari–Juli 2026. Pemerintah mendorong peningkatan produktivitas perkebunan, peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, perbaikan budi daya, dan pengembangan industri pengolahan agar ekspor sawit tidak hanya bertumpu pada bahan mentah.

Standar pasar menjadi bagian dari persaingan

Di tengah kinerja ekspor tersebut, pelaku industri menghadapi persyaratan pasar yang semakin ketat. PortalEnergi melaporkan bahwa Uni Eropa menerapkan persyaratan uji tuntas dan informasi geolokasi melalui European Union Deforestation Regulation untuk komoditas seperti sawit, kakao, kopi, dan karet. Pasar Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang juga disebut memperketat ambang batas residu pestisida serta residu kimia pada produk pangan.

Ketentuan yang memengaruhi perdagangan dan industri dapat ditelusuri melalui register regulasi GIMNI. Dalam laporan yang sama, perubahan preferensi konsumen turut menjadi perhatian karena pembeli global semakin mempertimbangkan harga, aspek lingkungan, dan produk berbasis nabati.

Dari sisi pasar bahan baku, CNBC Indonesia melaporkan kontrak acuan CPO pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup pada MYR4.884 per ton pada perdagangan 15 September 2026, naik 0,70 persen dari sesi sebelumnya. Laporan itu juga mencatat ekspor produk sawit Malaysia pada paruh pertama September diperkirakan turun, sementara impor minyak sawit India pada Agustus meningkat secara bulanan. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa harga, permintaan, dan pasokan minyak nabati tetap bergerak dinamis di pasar regional.

Pantauan lain dalam 24 jam terakhir memperlihatkan aktivitas di berbagai bagian rantai sawit dan pangan. Pemerintah Kota Batam menjalankan operasi pasar murah yang menempatkan MinyaKita sebagai salah satu komoditas paling dicari. Di Papua Selatan, Agrinas Palma Nusantara dan Universitas Cenderawasih menjalin kerja sama kajian dan penelitian untuk pengembangan perkebunan dan pangan, yang diharapkan mendukung pasokan bahan baku agroindustri.

Sumber pantauan