
JAKARTA- Ekspor minyak
sawit nasional pada November 2018 diperkirakan hanya 3,18 juta ton, atau turun sekitar 5% dari realisasi Oktober 2018 yang sebesar 3,35 juta ton. Kondisi pasar global diduga menjadi salah satu penyebab merosotnya ekspor minyak
sawit Indonesia tersebut. Di sisi lain, maraknya persaingan antara minyak
sawit dengan minyak nabati lainnya turut mempengaruhi kinerja ekspor komoditas perkebunan itu.
Produksi minyak
sawit Indonesia pada November 2018 juga diprediksi turun. Kondisi itu diyakini sebagai siklus alami produksi sawit, yakni menjelang akhir tahun hingga awal tahun berikutnya akan memasuki siklus penurunan produksi. Dalam catatan Gabungan Pengusaha Kelapa
sawit Indonesia (Gapki), produksi minyak
sawit nasional pada Oktober 2018 sebesar 4,51 juta ton atau naik 2,15% dari bulan sebelumnya.
Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) Sahat Sinaga memproyeksikan, pada November 2018, produksi minyak
sawit mentah {crude palm oil/CPO) nasional sebanyak 3,98 juta ton dan minyak kernel (CPKO) sebanyak 391 ribu ton. "Untuk pemakaian domestik kemungkinan 1,26 juta ton, termasuk FAME (biodiesel). Ekspor November bisa 3,18 juta ton atau menurun dibandingkan Oktober yang sebanyak 3,35 juta ton dengan 761 ribu ton di antaranya berupa CPO," kata Sahat di Jakarta, kemarin.
Sedangkan Wakil Ketua Umum III
Gapki bidang Urusan Perdagangan dan Keberlanjutan Togar Sitanggang memperkirakan, ekspor minyak
sawit November 2018 kemungkinan hanya 2,80-2,90 juta ton. Hal itu terjadi karena masih ada hambatan ekspor di negara tujuan, ekspor juga sempat tertahan karena menunggu peraturan menteri keuangan (PMK) terkait penghapusan sementara dana pungutan ekspor. "Secara umum, ekspor November turun, mungkin hingga Desember. Ekspor CPO bisa naik, menjadi 800-900 ribu ton, tapi porsi refined (olahan) turun. Produksi kemungkinan hanya 3,70 juta ton," kata Togar.
Secara terpisah, Ketua Umum Dewan Minyak
sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun mengestimasikan angka produksi yang lebih optimistis untuk CPO pada November, meski lebih rendah dari Oktober. "Untuk November 2018, produksi CPO sekitar 3,90 juta ton, ekspor produk minyak
sawit sebanyak 3 juta ton, konsumsi CPO di dalam negeri 1,40 juta ton (termasuk sebagai bahan baku biodiesel). Dengan demikian, stok CPO akhir November 2018 bisa sebesar 3,90 juta ton," kata Derom.
Direktur Pusat Penelitian Kelapa
sawit (PPKS) Medan Hasril Hasan Siregar memperkirakan, ekspor November 2018 turun ke level 3,09 juta ton, terdiri atas 769 ribu ton CPO yang naik sekitar 1% dari Oktober 2018 dan 2,33 juta ton lainnya produk minyak sawit. "Ekspor produk hilir turun karena persaingan atas stok minyak nabati yang masih berlebih. Desember ini banyak informasi stok mulai menurun sejalan dengan menurunnya produksi. Mudah-mudahan antara Januari-April 2019 akan normal kembali. Tapi, nggak tahunya kaitannya dengan tahun politik, bisa saja ada pengaruhnya," kata Hasril.
Ketua Umum
Gapki Joko Supriyono sebelumnya menyatakan, stok minyak
sawit nasional pada akhir Desember tahun ini tinggal 3,50-3,60 juta ton. Pelaku industri mulai melepas stok mereka menyusul kebijakan penghapusan sementara pungutan ekspor (PE)
sawit yang berlaku efektif per 4 Desember 2018. Stok akhir minyak
sawit pada Januari 2018 hanya sebesar 3,62 juta ton, namun pada Juli 2018 sempat melonjak hingga 4,90 juta ton.
Damiana Simanjuntak
Sumber: Investor Daily Indonesia