Pangkalan Bun – Gabungan Industri Minyak Nabati (GIMNI) mempunyai strategi untuk menghadapi kampanye negatif di pasar Uni Eropa.

“Sudah ada survei pasar di Eropa lewat big data dan menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat Eropa termakan isu kesehatan tentang produk makanan yang menggunakan kelapa sawit. Kondisi sekarang ini tidak mudah bagi para pelaku industri kelapa sawit,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga, di Jakarta.

Beberapa bulan yang lalu, menurut Sahat, minyak sawit diisukan mengandung senyawa kimiawi, yaitu MCPD dan Glycidyl Ester. Senyawa kimia tersebut, jika dikonsumsi terus menerus, dapat memicu penyakit degeneratif yang menimbulkan kerusakan jaringan atau organ tubuh, seperti kanker.

“Isu tersebut sebagai kampanye negatif untuk mematikan pasar industri kelapa sawit Indonesia. Maraknya kampanye negatif tersebut tentu berdampak pada anjloknya konsumsi olahan kelapa sawit di Eropa,” papar dia.

Sahat mengatakan, konsumsi olahan kelapa sawit, khususnya pada industri makanan di Eropa pada 2016 hanya sekitar 3,3 juta ton, turun dari tahun 2015 yang mencapai 4,3 juta ton.

“Meski diterpa kampanye negatif, kami tetap optimistis dan sudah menyiapkan tiga strategi untuk bertahan. Pertama, dalam urusan bisnis minyak kelapa sawit, Indonesia akan bekerjasama dengan Malaysia untuk biodiesel,” ujarnya.

Strategi kedua, lanjut Sahat, pihaknya akan melebarkan pasar ke negara lain, tidak hanya Uni Eropa, namun juga perkuat pasar Asean. Program ini juga kerjasama dengan Malaysia.

“Tidak hanya kawasan Asean yang jadi bidikan, dua kawasan seperti Timur Tengah dan Afrika juga potensial. Strategi ini digunakan agar bisnis ekspor kelapa sawit Indonesia tidak hanya bergantung pada pasar Eropa,” tutur Sahat.

Ketiga, produktivitas olahan kelapa sawit harus ditingkatkan. Jika di pasar Eropa tidak dapat menembus perusahaan makanan, olahan kelapa sawit bisa digunakan untuk biodiesel dan oleochemical maupun bahan kimia lainnya.

“Mau tidak mau, produktivitas olahan kelapa sawit kita harus ditingkatkan. Semakin banyak manfaatnya, maka kita tidak perlu bergantung pada satu industri saja,” kata Sahat. (NEDELYA RAMADHANI/m)

 

Sumber: Borneonews.com