Lewati ke konten utama
Palm Oil Today
Harga CPO Melejit, Pengusaha Sawit Indonesia Untung
08 Mar 2026
Harga CPO melonjak tajam sepanjang pekan ini. Kenaikan tersebut menjadi kabar positif bagi industri sawit Indonesia, mengingat Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia.
Lonjakan harga CPO terjadi di tengah meningkatnya harga energi global serta pelemahan nilai tukar ringgit Malaysia yang membuat harga komoditas ini semakin kompetitif di pasar internasional.
Berdasarkan data Refinitiv, kontrak CPO acuan pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026) berada di level MYR 4.367 per ton, naik sekitar 3,8% dalam sehari. Harga tersebut menjadi yang tertinggi sejak 24 Oktober 2025.
Dalam sepekan terakhir, harga CPO tercatat melonjak 8,04%, menjadikannya kenaikan mingguan terbesar sejak November 2024.
CPO Jadi Minyak Nabati Paling Kompetitif
Selain dipengaruhi faktor eksternal, kenaikan harga CPO juga didorong oleh meningkatnya daya saing minyak sawit dibandingkan minyak nabati lainnya. Saat ini, harga minyak sawit relatif lebih rendah dibandingkan minyak kedelai, minyak rapeseed, maupun minyak bunga matahari.
Harga CPO bahkan bergerak mendekati harga gas oil, sehingga membuka peluang peningkatan permintaan, khususnya untuk sektor energi dan biofuel.
Baca juga: Reli Harga CPO Berlanjut, Sempat Tembus 4.628 Ringgit per Ton di Bursa Malaysia
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati potensi gangguan distribusi minyak nabati global. Konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi jalur pengiriman komoditas dan dapat berdampak pada stabilitas pasokan.
Permintaan Tiongkok Menguat
Dilansir dari CNBC Indonesia, sentimen positif lainnya datang dari pasar China. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif naik sekitar 1,13%, sementara kontrak minyak sawit melonjak 2,33%.
Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade justru turun sekitar 0,65%. Namun secara keseluruhan, pergerakan harga minyak nabati global masih memberikan dukungan terhadap kenaikan harga CPO karena komoditas tersebut saling bersaing dalam pasar internasional.
Pelemahan Ringgit Dorong Permintaan
Faktor lain yang turut mendorong penguatan harga CPO adalah pelemahan ringgit Malaysia sekitar 1,37% terhadap dolar AS sepanjang pekan ini. Mata uang yang lebih lemah membuat harga CPO menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing, sehingga meningkatkan daya tarik komoditas tersebut di pasar global.
Baca juga: Perkuat ISPO, Sawit Indonesia Tetap Kompetitif Global
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia juga ikut memberi dorongan. Harga Brent tercatat naik sekitar 28% dalam sepekan, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga 35%, menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak 1983. Karena komoditas energi saling menggantikan dalam beberapa sektor, kenaikan harga minyak mentah turut mendukung permintaan minyak sawit.
Proyeksi Pergerakan Harga CPO
Secara teknikal, analis Reuters Wang Tao memperkirakan harga CPO berpotensi menguji level resistensi di kisaran 4.260 ringgit per ton. Jika berhasil menembus level tersebut secara konsisten, harga CPO berpeluang melanjutkan penguatan menuju sekitar 4.337 ringgit per ton.
Dengan kombinasi faktor harga energi, pelemahan mata uang, serta meningkatnya daya saing di pasar minyak nabati global, prospek harga CPO dalam jangka pendek masih dinilai cukup positif bagi pelaku industri sawit.